Hari Raya Kuningan

No comment 635 views

Hari Raya Kuningan

Galungan dan Kuningan menjadi satu-kesatuan, namun seolah keduanya berbeda, karena memiliki jarak 10 hari dari Hari Raya Galungan.  Tertuang dalam lontar Sundarigama dinyatakan bahwa:

"Saniscara Kliwon Kuningan, tumurun mwah wateking Dewata kabeh, mwah Sang Dewa Pitara, nayuci laksana"

"neher amuktya banten Widhi Wedhanania sega ring selangi, tebog, saha raka, dena sangkep pasucian, canang wangi-wangi saruntutania, angantungana sawen amyang mwang gegantungan candiga ring treptepan sarwa wewalungan....."

"kunang pangacining manusa, sasayut prayascita luwih, ngaran sega jenar, iwak itik putih, panyeneng, tatebusan pakenania angeningaken cita nirmala, tan pegating samadi, wehakna pasuguh ring natar pasuguh agung 1..."

hari Saniscara (Sabtu) Kliwon wuku Kuningan, turunlah lagi para dewata sekalian beserta sang dewa pitara (leluhur) untuk melakukan pensucian. Oleh karena itu, umat pun telah menyiapkan sarana upakara yang dipersembahkan kepada dewata dan pitara. Adapun upakara yang tertera dalam lontar tersebut adalah: mempersembahkan sega di selanggi, tebog, beserta raka-raka selengkapnya, pabersihan, canang wangi-wangi dan runtutannya. Di antara sarana upakara tersebut, yang tidak kalah penting adalah menggantungkan sawen tamiang dan gagantungan caniga di berbagai tempat hingga kandang ternak yang dipelihara. Bahkan umat juga biasanya menggantungkannya pada sarana transportasi seperti mobil dan sepeda motor. Oleh karena itu jutaan tamiang dan gagantungan caniga menghiasi segala tempat di Bali pada momen Hari Raya Kuningan ini, mulai dari palinggih, rumah, hingga kendaraan yang berseliweran di jalan.

Untuk mendoakan diri dan keluarga dipersiapkan sarana upacara banten berupa; sasayut prayascita luwih, yaitu segajenar, dagingnya bebek putih, panyeneng, tatebus, yang gunanya untuk mohon kesucian pikiran. Selain itu ada pula pasegehan berupa segehan agung diletakkan di natar rumah. Masing-masing individu juga dianjurkan untuk tetap melakukan semadhi guna memusatkan pikiran kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta para leluhur.

Adapun waktu yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan upacara dalam perayaan hari raya kuningan adalah tidak boleh melewati tengah hari, atau matahari lewat dari jam 12 siang, berikut ini kutipannya:

"Haywa amuja bebantenan kalangkahang tajeg Sang Hyang Adhitya, esuk juga kawenangania, apan yan kunirajeg Sang Hyang Surya, Dewata mor ring Swargha"

Pada Hari Raya Kuningan atau Tumpek Kuningan, suasana agak sedikit berbeda, terutama dari segi hiasan tempat suci dan sarana upakara yang cenderung berwarna kuning seluruhnya. Kuningan adalah bagian dari sebuah proses peningkatan kualitas diri. Sesungguhnya rentetan Galungan dan Kuningan adalah proses pendakian spiritual yang dilaksanakan secara bertahap. Rentetan Galungan dan Kuningan adalah proses Yoga. seperti halnya Yoga, tidak bisa dilakuknan dan dilaksanakan seketika, ada prosesnya. Karena itu, setiap bagian dari rentetan Hari Raya Galungan dan Kuningan adalah tahapan yang selain dirayakan secara ritual, juga dimaknai secara spiritual sehingga umat benar-benar paham.

Warna kuning merupakan melambangkan kecemerlangan dan kemuliaan. Oleh karena itu, pada Hari Raya Kuningan umat secara filosofi mendapat pencerahan dari para dewata dan leluhur. “Karena pada saat Kuningan ini kan dikatakan bahwa Bhatara turun kabeh (Bhatara turun semuanya) seperti saat Galungan. Kuning melambangkan kecemerlangan".

Warna kuning itu juga simbol kebahagiaan dan kesejahteraan. Aksaranya TANG, Mahadewa dewanya, di barat arahnya. Cahaya kebahagiaan itu adalah kuning. Kalau dilihat dari aura warna kuning yang cemerlang seperti emas, itulah cahaya kebahagiaan. Orang yang yakin dengan tuntunan para leluhur dan punya sanggah kamulan akan selalu diberi cahaya kesuksesan dan kebahagiaann yang disimbolkan dengan warna kuning tersebut.

Kuningan juga dikonotasikan dengan kata uning, nguningan, dan hning.

  • Uning berarti tahu, yakni umat hendaknya sadar dengan dirinya melalui introspeksi diri atau mulat sarira sehingga siap menerima pengetahuan sejati dari Tuhan dan leluhur.
  • Nguningan artinya memberitahukan yang mengarah pada penyampaian berbagai hal kepada Tuhan dan leluhur. Melalui semadhi, umat “curhat” kepada dewata dan pitara tentang berbagai hal yang dialami dalam kehidupannya.
  • Hning yang berarti hening atau jernih. Pada saat Hari raya Kuningan ini umat menyucikan badan dan pikiran dalam keheningan atau ketenangan untuk melakukan persembahyangan yang khusuk.

Esok hari setelah Hari Raya Kuningan, ada rahina Umanis Kuningan yang jatuh pada Redite (Minggu) Umanis wuku Pahang. Meskipun dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan, namun seperti halnya Umanis Galungan, masyarakat cenderung melakukan silaturahmi, jalan-jalan atau matirthayatra ke berbagai pura. “Manis kuningan, manis hidupe (manis hidup ini)". dipersilahkan sembahyang ke pura yang lainnya.

author