I dan Ni, Nama Depan Orang Bali

No comment 24 views

I dan Ni
Nama Depan Orang Bali

Kenapa Malu mengisi atau mencantumkan nama I atau Ni didepan nama kita, padahal I dan Ni merupakan Gelar kehormatan selain menunjuk jenis kelamin pada nama orang Bali

I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic.

I dan Ni adalah honorific;

  • I semacam Mr (Bapak, saudara, inisial lelaki) dan
  • Ni semacam Ms (ibu, saudari, inisial perempuan)

dalam aplikasinya, memanggil orang bali haruslah memilih... misalnya; namanya " i wayan", akan menjadi aneh bila dipanggil "bapak i wayan", karenanya dipanggil dengan "bapak wayan" atau "i wayan" saja.

sejarah honorific I dan Ni di Bali

Spiritual di Bali terlihat dari penamaan. misalnya, menyebut seorang MANUSIA dengan istilah "I Manusa".

Kata " I " dalam penjelasan mantram adalah utpeti

ini diambil dari mantra dasaksara: I A Ta..........dst artinya Sang Hyang Parama Siwa menciptakan kehidupan, dimana " I " merupakan sang hyang purusha mulai diciptakan ruang yang disebut "akasa". Mantram tersebut urutan penciptaan berakhir dgn penciptaan pertiwi, ini diambil dalam sastra puja argha patra.

Nama Ida terbagi dua I dan Da

  • " I " adalah menunjuk pada tercipta yakni manusia,
  • " Da " bermakna menghampiri, datang..

dalam pengabungan kata " IDA " adalah beliau, yang menghampiri, yang mendatangi atau beliau atau menunjuk kata "gelar kehormatan"

Kata Ni sesuai yang dijabarkan diatas menujuk pada kata orang kedua yakni wanita.. gelar nama wanita..

seperti halnya kata Anak agung..

  • kata anak menunjukan pada penyebutan orang
  • agung merujuk pada makna mulia, besar,

untuk menunjuk pada nama anak agung artinya orang yang mempunyai jabatan atau keturunan raja.

Pada huruf " I " banyak penyebutan, bukan berarti " I " itu laki laki..
contoh : I ratu.. disini tdk jelas apakah wanita atau laki laki.. I ratu disini menunjuk pd orang suci atau kata ucapan halus yakni sesuatu yg sifatnya suci, contoh I ratu betara........

Kedua I manusia.. disini juga tdk bs kita katakan bahwa I itu laki atau perempuan karena manusia..
contoh nama I gusti.. ada nama i gusti ayu

Namun, secara umum awalan " I " yang menunjukan penghormatan kepada yang pertama ada didunia ini yakni sang purusa, maka kata I disematkan pada Manusia yang berstatus sebagai purusa dalam hal ini umumnya pada lelaki.

I dan Ni bukan hanya dicantumkan di depan Gede atau Putu, juga di depan Dewa dan Gusti, menjadi I Dewa dan I Gusti. I di depan Da menjadi I-Da (Ida). Ni dicantumkan di depan gelar lama seperti Ni Dyah Tantri. Ni-hyang menjadi Niyang.

Dalam Melayu Kuno dan Bali Kuno ada gelar Da, seperti dalam gelar Raja Sriwijaya Da-punta, gelar sungsungan di Trunyan Da-Tonta.

Pejabat desa adat Bungaya dan desa-desa yang termasuk Bali Aga juga bergelar Da (Da Salah, Da Kebayan, Da Manten). Kemungkinan I-Da (Ida) sekarang gabungan dari honorific I + Da. Lama-lama menjadi Ida. Zaman Gelgel dan Majapahit raja bergelar I-Da Dalem. Da Hyang menjadi I-Da Hyang (Ida Hyang). Varian lain dari Da adalah Dang, ini berlaku ketika diikut oleh horific Hyang, menjadi Dang Hyang.

Pejabat Kuturan yang menjabat tahun 1001 di Er Bang (Batur) namanya I Dyah Kayup. Dyah bukan hanya gelar untuk perempuan tapi laki dan perempuan zaman dahulu. Hayam Wuruk juga gelarnya Dyah. Di depan gelar Dyah jika dipakai oleh perempuan maka ditambah Ni, jika laki ditambah I.

Jaman sekarang ingatan dan kemauan memahami sejarah tergolong rendah, honorific I dan Ni yang fungsi awalnya untuk memuliakan semua golongan dan bahkan para dewa serta leluhur di Bali terlupakan.

author