Ida Banyak Wide bertemu Mpu Sedah

No comment 55 views

Ida Banyak Wide bertemu Mpu Sedah

Pada hari yang baik, Ida Bang Banyak Wide mohon diri kepada saudaranya berdua, seraya berangkat.

Diceriterakan perjalanan Ida Bang Banyak Wide, demikian banyaknya desa, perumahan serta hutan dilewatinya, lembah dan jurang yang dituruninya, jarang sekali berjumpa dengan manusia. Banyak sekali kesulitan yang ditemuinya di jalan tak usah diceriterakan, namun Ida Bang Banyak Wide, walau masih jejaka muda-belia, demikian teguhnya kepada tekadnya, tidak pernah takut dan khawatir menghadapi kesulitan dan hambatan di jalan.

Pada siang hari beliau berjalan, di mana beliau merasa lesu, di sana berhenti untuk beristirahat. Kalau hari sudah menjelang malam, beliau bermalam di mana saja beliau mendapatkan tempat. Kalau kemalaman di desa, berupaya beliau menum­pang di tempat orang, namun seringkali beliau berada di tengah hutan, dan ter­paksa tidur di pohon-pohon kayu. Setiap kali beliau berjumpa dengan orang, tidak lupa beliau menanyakan di mana negeri Daha itu.

Singkat ceritera, sampailah beliau di perbatasan negeri Daha. Terkesan beliau akan keadaan negeri itu yang demikian ramai dan indah. Berbeda sekali kalau dibandingkan dengan desa Besakih, yang sedikit bangunannya. Bangunan di sana semua besar-megah serta memakai tembok yang tinggi dari batubata. Orang di sana semuanya memakai pakaian yang bagus-bagus. Jalannya juga lebar, setiap beberapa meter ada lampu yang berderet di sisi jalan.

Setelah tenggelam sang mentari, kala itu nampak oleh beliau ada sebuah bangunan seperti Jero, bertembok bata dengan memakai pintu gerbang kori agung. Di bagian luar dari bangunan yang serupa jero itu, ada balai-balai kecil: bale patok, layaknya seperti tempat orang berteduh dan beristirahat. Di sana lalu beliau berteduh dan beristirahat. Demikian gembiranya beliau, sebab mendapatkan tempat beristirahat yang nyaman.

Tidak lama, karena demikian lesunya, sekejap beliau sudah terlelap. Tempat itu ternyata sebuah Griya -tempat seorang pendeta yang bernama Ida Mpu Sedah. Di sana, di bagian luar dari Griya Ida Pandita terdapat sebuah batu ceper yang ber­ukuran besar, sebagai tempat Pendeta Mpu Sedah duduk-duduk tatkala beliau beran­jangsana. Konon, dahulunya, di tempat batu itu, tak seorangpun berani bermain atau lewat di sana, apalagi untuk mendudukinya. Walau hanya seekor capung-pun, kalau hinggap di tempat itu, langsung akan hangus terbakar.

Singkat ceritera, ketika hari itu Ida Pandita keluar untuk berjalan-jalan di luar, tiba-tiba beliau berhenti sejenak ketika melihat ada seorang jejaka duduk di batu ceper itu. lalu didekatinya seraya berkata :

“Uduh kaki, ndi sang kayeng tuan, agia tung­gal-tunggal, eman-eman warnanta masmasku. Mwang siapa puspatanira? Warah duga-duga kawongane sira, dadine sira Kaki pasti maweruha.
Nah, anakku, dari mana gerangan sebenarnya ananda ini datang sendirian ke mari. Kagum kakek menyaksi­kan prabawamu. Siapa namamu, serta apa keluarga dan kelahiran ananda? Coba jelaskan agar kakek mengetahuinya”

Kemudian Ida Sang Bang Banyak Wide berkata, seraya menghaturkan sembah bakti :

”Singgih pukulun Sang Pendeta, hamba adalah cucu dari Sang Pendeta Siddhimantra, ayahanda hamba adalah Sang Pendeta Angkeran. Nama hamba Sang Banyak Wide, maksud tujuan hamba adalah ingin bertemu dengan kakek-Kakiyang hamba di Griya Daha, Ida Sang Pendeta Siddhimantra itu”.

Baru didengar hatur Ida Sang Banyak Wide demikian, menjadi sangat terharu perasaan Ida Pandita, seraya berkata :

”Aum cucuku tercinta, kalau demikian maksud tujuan cucunda, ketahuilah bahwa kakek cucunda ini memiliki hubungan saudara dengan kakekmu itu yang kini sudah tiada. Karena itu sekarang yang paling baik, dengarkan kakekmu ini, jangan dilanjutkan keinginan cucunda pulang ke Griya kakekmu. Di sini saja cucunda berdiam, mendampingi kakekmu ini yang sudah tua renta. Cucuku menjadi pewaris keturunanku, sebab kakekmu ini tidak memiliki ketu­runan atau anak. Dulu putera kakek ada laki-laki seorang, bernama Sira Bang Guwi. Sudah dibunuh oleh sang raja, dosanya karena membangkang kepada raja. Sebab itu sekarang putung -tidak berketurunan kakekmu ini, semoga berkenan cucunda menjadi sentana-keturunan pewarisku, yang akan memelihara tempat kediaman ini kelak di kemudian hari. Sekarang cucunda yang memerintah di kawasan ini. Di samping itu ada petuah Kakek, sebab cucunda memakai pegangan Ke-Budhaan, sementara kakekmu ini melaksanakan Ke-Siwaan, karena itu sekarang cucunda jan­ganlah Iagi menggelar Kebudhaan, gelaran Siwa yang cucunda jadikan pegangan”.

Demikian wacana Ida Mpu Sedah kepada Ida Bang Banyak Wide yang memahami dan menyetujui kehendak Ida Pandita, sehingga akhirnya Ida Bang Banyak Wide diresmikan sebagai putera angkat-kadharma putera.

Sangatlah sukacita perasaan Sang Pendeta, sangat dimanja putranya Ida Bang Banyak Wide. Singkat ceritera, sekarang telah berdiam Ida Sang Bang Banyak Wide di Griya Daha mendampingi kakeknya Ida Mpu Sedah.

author