Ilmu Leak Bali

No comment 10196 views

Ilmu Leak Bali

Ilmu Leak adalah salah satu tehnik tantris bairawa yang condong ke pengiwa, tetapi dalam hal ini arti pengiwa spiritual agama bukanlah kiwa (kiri) yang artinya jahat. pengiwa dalam hal ini diartikan bahwa penekun leak adalah "bhakta durga bairawi" yang menjalankan ritualnya dengan jalan "Catur Marga Yoga". Dengan menjalankan yoga tersebut, penekun leak sebagian besar lebih condong untuk menikmati indahnya dunia dari segi sisi spiritual.

Efek dari menikmati sisi spiritual sendirian di lokasi-lokasi yang memiliki aura spiritual tinggi dan kebanyakan para penekun ilmu leak memulai ritualnya di malam hari. karena kebiasaan tersebut maka mereka para praktisi/penekun ilmu leak lebih condong dimasukkan ke zona pengiwa dalam artian negatif. ini sebenarnya dilandasi rasa iri pribadi yang "kurang" menyukai orang-orang yang berbuat sendiri-sendiri, dan terkesan aneh karena semua dilakukan sendiri.

Leak Bali Durga Berawi

 

ilmu Leak Penengen dan Ilmu Leak Pengiwa

secara harafiah kiwa artinya kiri dan tengen artinya kanan. kiwa sering diidentikkan lebih mendekati unsur negatif dan tengen diidentikkan sebagai unsur positif. tetapi dalam hal spiritual kiwa-tengen itu suatu hal yang sama, bagai sebuah koin yang memiliki dua sisi yang berbeda.
ini perbedaan ilmu leak kiwa-tengen dalam hal spiritual:

jadi, pangiwa dan panengen itu sama-sama aliran spiritual yang murni sebagai perwujudan bentuk dari YOGA itu sendiri.

Berbagai Macam Sarana Pangleakan

Berhubungan dengan pangleakan yang memiliki sifat baik dan buruk, kalau kita menggunakan pangleakan untuk kebaikan ada yang disebut dengan Satwika, Tamasika, Rajasika, kalau kita menggunakan pangleakan yang identik dengan Rajasika dan Tamasika watak dari Rajasika sangat mirip dengan watak seorang raja yakni ingin menguasai segala sesuatunya dengan paksa waluaupun dengan cara tidak baik, diantara Rajasika setiap kita membicarakan masalah pangleakan apalagi digunakan untuk hal yang buruk cepat sekali dipengaruhi dengan sifat yang namanya TRIMEDA, itu tertuang dalam ilmu pangiwa salah sati ajaran yang Aje Wera (dirahasiakan) ada sifat Trimeda, yang dijabarkan ada tiga sifat yang tidak baik yaitu;

  1. Sasar yang berarti sesat,
  2. Lobha yang berarti serakah, dan
  3. Murka yang berarti pamurtian dengan jalan ngeleak, ngeleakin dan ngelekas (berubah menjadi leak).

Berhubungan dengan hal itulah maka pangleakan dibenci oleh masyarakat banyak karena sering sekali pangleakan tersebut disalahgunakan atau ngewegig untuk mencelakai orang bahkan membunuh orang, memasang guna-guna, cetik, pengasih-asih dan Anesti Aneluh Anerangjana.

Mantra Ilmu Leak

Mantra merupakan sebuah kata yang sangat sakral dan religus, diucapkan oleh banyak orang terutama yang meyakini mantra tersebut. Jika seseorang memantra dengan pikiran ditujukan terhadap sebuah objek, maka mantra tersebut akan hidup, begitu pula sebaliknya, sehingga orang yang mengucapkan mantra harus memiliki pikiran yang fokus.

Mengucapkan mantra dapat berupa weda maupun bahasa sehari-hari, sebab "inti dari pengucapan sebuah mantra adalah fokusnya pikiran", meskipun pengucapan mantranya sampai membuat orang gembira, tapi tidak diimbangi dengan fokusnya pikiran, maka tak akan ada gunanya mantra tersebut. Mantra dan pikiran merupakan satu kesatuan yang wajib dipelajari dan dilatih oleh para penekun kediatmikan, sebab kedua hal tersebut ibarat korek api dan pematiknya, jika korek tersebut tidak dipatik, maka tak akan mengeluarkan api begitu pula sebaliknya.

Mantra-mantra terdapat dalam ilmu Leak mantra-mantra dipergunakan hampir sama dengan mantra yang sering diucapkan para rohaniawan, mantra dalam ilmu leak menyebutkan beberapa istilah-istilah dalam Gama Bali terutama Dewa dan butha, serta paling terpenting adalah kesiapan diri seseorang untuk mempelajari ilmu leak ini.

Mantra-mantra dalam ilmu leak, memiliki ciri-ciri khusus, yaitu hampir semuanya menyebutkan istilah-istilah tentang kemarahan, keangkuhan, kesombongan, ingin menguasai, paling hebat, paling kuasa dan semuanya bersifat keakuan atau ego yang sangat tinggi, bahkan Dewa pun diperintahkan untuk menyembah. Jadi "ilmu leak ini merupakan pembangkitan kekuatan dalam tubuh seseorang, sehingga menjadi lebih percaya diri dan memotivasi seseorang untuk membangkitkan kekuatan diri dalam tubuh manusia".

Ciri-ciri tersebut, memang benar adanya, sebab kekuatan dalam diri yang ada dalam mantra-mantra ilmu leak, sebenarnya motivasi dalam diri untuk "kebangkitan rasa superior dalam diri" yang dibentuk ego manusianya,

Kekuatan mantra ilmu leak hampir semuanya berisikan tentang pengider-ider, atau arah mata angin. Hal ini dilakukan agar kekuatan alam semesta dari berbagai penjuru dengan kekuatan berbeda-beda dapat merasuk dalam diri seseorang tersebut, sehingga akan menambah magis atau kegaiban yang memicu seseorang mencapai kesidhian,

Berdasarkan hal tersebut di atas mantra-mantra dalam ilmu leak memakai mantra-mantra Gama Bali dengan penyebutan beberapa ajaran-ajaran yang memang diajarakan dalam teologi lokal masyarakat Bali oleh leluhur masyarakat Bali, contohnya pengider-ider, dewa-dewa, aksara suci dan lain sebagainya.

Aksara-aksara suci dalam Ilmu Leak

Konsep Teologi Weda - Gama Bali merupakan sebuah konsep tentang ketuhanan yang meliputi banyak unsur, salah satunya adalah aksara-aksara suci. Disebut aksara suci karena memang aksara ini mempunyai kekuatan gaib atau magis religius untuk menyucikan atau membersihkan sesuatu. Aksara ini pada umumnya dopergunakan sewaktu ada upacara agama atau dalam pengobatan. Aksara suci terdiri dari 1). Aksara Wijaksara dan 2). Aksara Modre (Nala, 2006: 27).

Dewa-dewa dalam ilmu Leak

Konsep ajaran agama Hindu khususnya pada teologi pastilah berpedoman Pada kekuatan Tuhan atau manifestasi-Nya. Kekuatan manifestasi tersebut terdapat beberapa sebutan kemahakuasaan beliau, seperti Bhattara/bhattari, Dewa-dewa, rerencangan, pepatih dan lain sebagainya, semuanya ini terdapat dalam teologi lokal suatu daerah.

Selain sebutan Tuhan secara khusus, Tuhan juga memiliki sebutan umum, seperti Tuhan mahakuasa, maha pengasih, maha penyayang, maha pengampun dan lain sebagainya, berdasarkan sebutan tersebut Tuhan akan memberikan anugrah kepada siapapun yang berbhakti lebih khusuk dibandingakan orang lainya, sehingga Tuhan juga akan memberikan anugrah kepada umatnya, meskipun permintaan umatnya menyimpang dari ajaran agama, karena tujuanya agar orang yang disakiti lebih sadar menjalankan ajaran dharma, hal tersebut terdapat dalam beberapa lontar, salah satunya lontar kalatattwa:

"Tuhan dalam wujudnya berbentuk sinar adalah maha pemberi dan maha pengasih", jadi ketika seseorang meminta sebuah penyakit untuk dikirim ke dalam tubuh orang lain, Tuhan pasti mengabulkan, asalkan dilakukan dengan penuh hati dan cinta dan karma tetap berjalan dan ditanggung dalam kehidupanya. Meskipun demikian tidak sembarang orang bisa disakiti, tentu orang tersebut memiliki kesalahan, berbuat jahat, berdosa, sehingga dengan adanya penyakit menyerang orang tersebut, diharapkan agar sadar dan tidak mengulangi perbuatanya lagi, inilah pesan moral luar biasa, yaitu mengajarkan orang untuk meminta maaf dan bertaubat.

Agama Hindu mengenal manifestasi Tuhan yang disebut Dewa-dewa, Dewa ini merupakan sinar Tuhan yang menguasai alam semesta, diantara para dewa, sembilan dewa sangat terkenal dan sering disebutkan dalam beberapa teks ilmu Leak sembilan dewa itu disebut Dewata Nawa Sanga penguasa 9 penjuru mata angin. Dewata Nawa Sanga merupakan sembilan dewa utama dalam agama Hindu, beliau memiliki peran penting di dunia ini,

Kekuatan Dewata Nawa Sanga ini merupakan kekuatan Tuhan yang menguasai alam semesta dengan kekuatan penjuru mata angin, kekuatan Dewata Nawa Sanga sering dipergunakan dalam berbagai macam yajna di Bali, bahkan dalam ilmu kediatmikan sering dipergunakan untuk menambah kekuatan, sehingga semakin berguna ilmu yang sedang dipelajari, bahkan para pendeta di Bali pasti memakai kekuatan Dewata Nawa Sanga untuk melindungi diri beliau sebelum melaksanakan swadharmanya. Hal ini dibenarkan dalam teks Pudak Sategal.

Dewa-dewa dalam ilmu Leak sering dipergunakan dalam ajaran Pangiwa, seperti: Yogan Hyang Siwa Andakaru, Sang Hyang Siwa Tiga, Sang Hyang Siwa Bhuwana, Sang Hyang Raja Pinulah, Sang Hyang Rampetagu, Bhagawan Pu Ceranggah, Sang Hyang Tukuping-bhuana, Durga maya-maya, Durga-werawa, Sang Hyang Lingga Bhuwana, Sang Hyang Durga Catur Wisesa, Sang Hyang Mertyu Wisesa, Sang Surya Ketu

Berdasarkan hal tersebut diatas, dapat disimpulkan kekuatan para dewa juga terdapat dalam kekuatan Pangiwa yang merupakan ajaran ilmu leak. Hal ini menunjukan kekuatan para dewa tersebut, akan berguna dan bermanfaat asalkan sang pemakai mempercayai dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh. Hal ini menunjukan kekuatan para dewa, selalu dipergunakan karena kekuatan tersebut merupakan ciptaan Tuhan beserta manifestasinya, bertujuan agar manusia dapat sadar dan eling tentang adanya kekuatan besar lainya, selain dirinya sendiri. Jika seseorang tersebut mampu membuka rahasia alam semesta ini dengan sastra-sastra yang ada dan dipergunakan dengan baik tentu akan menambah kesucian kita, sehingga ilmu leak dapat mengantarkan manusia menuju kalepasan menyatu dengan Tuhan dan manifestasi-Nya.

Sarana-sarana dalam Ilmu Leak

Kekuatan sebuah ajaran pada intinya bermula dari konsentrasi pikiran dan fokus mencapai tujuan. Oleh karena itu dipergunakanlah sarana-sarana dalam ritualnya, sarana-sarana tersebut telah disebutkan dalam

secara umum sarana-sarana dalam ritual pangleakan, tentu sama dengan sarana upacara lainya di Bali, karena semuanya produk Bali yang telah dimodifikasi, jadi semuanya ada tingkatanya, yaitu Nista, Madya, Utama dan penjelasan lainya. Kalau utama, maka tebusan dan lain sebagainya pun lebih banyak, karena ini telah menjadi hukum alam.

Dari dua mantra tersebut diatas dapat diperhatikan, bahwa semakin tinggi tujuan yang akan dicapai, maka sarana yang dipergunakan pun semakin besar, karena labaan yang di berikan semakin banyak untuk mencapai cita-cita penekun ilmu leak tersebut.

Belajar Menjadi Leak

Menurut Jro Mangku Pekandelan (2006: 24-25), Tata cara menjadi Leak Sari ini, berbeda dengan tata cara untuk menjadi Leak Pamoroan, Leak Ugig. Pada malam tanggal apisan, yakni hari pertama terang bulan, diperempatan jalan dihaturkan sajen berupa nasi Tumpeng barak (nasi tumpeng merah), ayam panggang buik (bulu merah), kelapa beras dan uang kepeng yang jumlahnya masing-masing 9 buah. Sajen ini ditaruh di sanggah cukcuk yang ditancapkan diperempatan jalan tersebut. Orang yang akan mempelajari ajaran ini, berdiri menghadap ke selatan, tempat kedudukan Dewa Brahma dan mengucapkan

Mantra ini diucapkan tiga kali. Tubuh dilemaskan, napas ditahan beberapa saat, ujung lidah dilipat ke langit-langit. Bayangkan Dewa Brahma bersemayan di hati. Kemudian berputar kekiri (putar kiwa) sambil membaca mantra, mula-mula kearah utara, lalu ke barat kemudian ke timur. Seterusnya tengadahkan kepala ke atas dan kemudian menunduk ke bawah. Ingat, pada setiap arah pandangan itu, mantra tersebut diatas diucapkan sebanyak tiga kali. Selanjutnya bayangkan Dewa Brahma keluar dari hati naik ke atas dan keluar lewat mata kanan atau mulut. Dia memancarkan sinar yang terang benderangmenuju kearah tenggara, tempat kedudukan Dewa Sangkara yang bersenjatakan dupa murub,

Berdasarkan hal itu, sarana upacara yang diperlukan dalam proses pelaksanaan ritual pangleakan sama dengan upacara Hindu di Bali, namun tujuanya yang berbeda-beda, sebab sarana adalah sebuah jembatan untuk mencapai sesuatu, termasuk penyatuan terhadap Tuhan melalui proses Ilmu Leak.

 

Ilmu Leak Pangiwa menjadi Kambing Hitam perbuatan jahat

mungkin, karena leak pangiwa menyukai kesendiriannya dan lebih tertutup, itu sebabnya banyak orang-orang yang kurang bertanggungjawab "mengkambing-hitamkan leak pangiwa", akibat dari desti yang disebarkan oleh orang ugig.
jadi, sebenarnya leak pangiwa tidaklah seperti pandangan umum orang awam, yang menyatakan bahwa setiap perbuatan buruk dilakukan oleh penganut leak pangiwa, yang suka berbuat jahat serta suka irihati dan suka menyakiti melangar norma umum agama adalah "orang Ugig dengan jalan Desti".

Cara belajar Ilmu Leak

ilmu leak adalah ilmu spiritual, jadi untuk belajar ilmu leak tidaklah segampang belajar ilmu tenaga dalam ataupun ilmu-ilmu lainnya.

ilmu leak merupakan bagian spiritual hindu, dimana setiap ajarannya adalah jalan Yoga. karena ilmu leak adalah Yoga, maka penerapan Catur Marga Yoga harusnya dilakukan. 

dengan menjalankan ajaran Catur Marga Yoga tersebut secara disiplin, maka ilmu leak akan dapat dengan cepat dikuasai, dan jangan lupa, diatas langit masih ada langit, ilmu leak adalah spiritual, tidak ada yang lebih sakti daripada beliau sang Sakti Durga Dewi yang merupakan Dewi Pujaan para praktisi leak bali. demikian sekilas tentang Ilmu Leak Bali, yang harusnya setiap Orang Bali mengetahui hal tersebut. semoga bermanfaat.