Ilmu Leak dan Aplikasinya Saat Ini

No comment 45 views

Ilmu Leak
dan Aplikasinya Saat Ini

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel "Mengenal Ilmu Leak dan Aplikasinya Saat Ini" yang dalam artikel kedua ini akan secara khusus dibahas mengenai kondisi batin ideal yang menjadi syarat kunci dalam melakukan visualisasi dan prosesi ngelekas yang sejatinya merupakan proses meditasi terstruktur dan dalam Yoga dikenal dengan samyama, artikel ini juga akan mulai memberi pemahaman pada anda bahwa sejatinya ilmu Pengleakan tersebut merupakan sebuah jalan spiritual yang bukan hanya akan meningkatkan kesadaran spiritual namun juga sangat berguna untuk kehidupan sehari-hari.

Berbicara tentang meditasi adalah berbicara mengenai konsep yang sangat luas. Ada ribuan teknik meditasi mulai dari yang diwariskan dari jaman kuno, sampai berbagai teknik yang diciptakan di jaman modern ini, dengan berbagai tujuan spesifik dan dengan metodelogi serta pendekatan yang berbeda-beda. Namun bicara tentang meditasi, jika dikaitkan dengan ajaran Hindu maka perlu dilakukan telaah yang lebih mendalam, sebab dalam Hindu sendiri ada berbagai macam jenis meditasi yang menggunakan berbagai macam istilah yang menunjukkan kondisi yang berbeda-beda.

Misalkan, jika menggunakan Yoga Sutra Patanjali sebagai landasan pembahasan, maka saat seseorang sedang duduk bermeditasi dia sebenarnya sedang berada dalam kondisi yang berbeda-beda intensitas kedalamannya, berada dalam kondisi mental yang berbeda-beda, yang kesemua kondisi mental ini berada dalam satu kesatuan yang disebut samyama.

Pertama, seseorang perlu memusatkan perhatian pada satu titik, memegang satu konsep tertentu di pikiran, baik dengan memusatkan perhatian pada nafas, mengulang-ulang mantra tertentu, atau memvisualisasikan sosok ishtadevata atau yantra atau simbol tertentu. Upaya pemusatan pikiran pada satu titik konsentrasi ini disebut dengan dharana.

Proses darana dan titik konsentrasi yang dijadikan objek pemusatan pikiran ini senantiasa menggunakan elemen visual, auditori dan kinetis, baik secara internal maupun eksternal. Visual eksternal misalkan anda melihat patung istadewata anda atau berbagai simbol, atau di Bali dengan berbagai rerajahan, bebantenan dan media lain seperti petapakan ida bhatara. Sementara visual internal yaitu membayangkan aksara suci, membayangkan para dewa dan gambaran mental lainnya. Auditori eksternal misalkan dengan gambelan, genta atau mantra yang dilantunkan secara keras, sedangkan auditori internal misalkan dengan mantra yang anda ulang-ulang dan ucapkan secara mental (manasa). Sementara objek yang bersifat kinestetik misalkan fokus pada nafas, pada bagian tubuh tertentu atau pada sensasi-sensasi di tubuh. Apapun objek konsentrasi yang digunakan, semua itu baru permulaan, baru tahapan kondisi mental pertama.

Lalu kondisi mental kedua yaitu, saat pikiran anda terpusat pada satu titik tertentu maka pikiran anda menjadi stabil, maka objek yang anda pusatkan tersebut menyeimbangkan gerak pikiran anda dari semua gejolak dan gangguan eksternal dan berada dalam satu titik secara penuh, tidak lagi terganggu oleh berbagai suara dan kondisi eksternal, atau teralihkan oleh berbagai bayangan dan imajinasi pikiran. Kondisi pikiran yang sudah sepenuhnya terpusat pada satu titik ini disebut dengan dyana.

Kemudian ketiga, saat anda sudah memegang sebuah konsep atau objek di pikiran anda secara konstan sehingga pikiran anda menjadi tenang dan terfokus pada objek tersebut, maka objek tersebut menjadi semakin nyata, transformasi kesadaran mulai terjadi dan anda berada dalam kondisi yang disebut dengan samadhi.

Sri Svami Niranjanananda dalam Bukunya Darana Darshana: Tantric and Upanishadic Practices of Concentration and Visualization memberikan perumpamaan yang menawan yang menggambarkan proses samyama ini. Beliau mengumpamakan proses samyama dalam proses anda membayangkan sebuah objek yaitu bunga. Anda membayangkan warnanya, anda membayangkan bentuknya dan berbagai detail lainnya. Jika anda baru berada dalam tahap ini, maka anda sedang melakukan dharana.

Dalam tahap dharana kita masih sadar dengan tubuh kita sendiri, kita masih sadar dengan tempat dan waktu kita, sementara kita membayangkan bunga tersebut. Kemudian setelah beberapa lama anda memegang gambaran bunga tersebut di kepala anda sampai anda tidak sadar lagi dengan tubuh anda, anda tidak sadar lagi dengan proses meditasi yang anda lakukan atau tempat dimana anda bemeditasi, maka kondisi tersebut disebut dengan dyana. Kemudian, setelah lama berada dalam kondisi dyana maka bunga yang tadinya hanya anda bayangkan tersebut akan sudah sepenuhnya anda alami sebagai realitas, sehingga anda tidak lagi membedakan antara bunga yang anda bayangkan atau bunga asli, anda mengalami visualisasi anda seolah sebagai realitas yang sebenarnya dan menikmatinya secara penuh, maka anda sudah berada dalam tahapan samadhi.

Beliau kemudian menambahkan,

“saat anda bisa melatih ketiga tahapan samyama tersebut secara sempurna maka pikiran anda akan menjadi sangat kreatif, konstruktif dan kompeten… saat pikiran anda telah bisa melakukan samyama secara sempurna maka anda akan berbagai kemampuan supranatural atau sidhis… dengan kemampuan pikiran yang sudah bisa mengalami secara nyata secara internal apa yang tadinya hanya ada secara internal, maka anda bahkan bisa menggunakan kemampuan pikiran ini untuk merubah takdir anda, merubah kualitas karir, kondisi kehidupan dan berbagai macam hal lain. Kondisi pikiran dimana anda sudah bisa mengkondisikan diri anda seperti ini disebut dengan supermind, yang mana supermind ini adalah produk dari latihan konsentrasi”.

Saya sengaja mengutip kalimat dari seorang svami yang pemahaman beliau dilandasi oleh teks berusia ribuan tahun, bukan dari ilmu atau ilmuan Barat. Namun, jika anda analisa kata-kata Svami Niranjananda tersebut maka beliau sedang memaparkan ilmu mengenai kekuatan pikiran (mind power) yang belakangan ramai di barat; yang pada intinya mengajarkan bagaimana pikiran bisa memiliki kekuatan yang sangat besar dalam merubah kehidupan anda. Prinsip yang sama juga telah diterapkan selama ribuan tahun oleh para Yogi dan praktisi Tantra, sementara histeria konsep tersebut baru berkembang belakangan di barat dan disampaikan di Indonesia oleh para motivator, trainer, dan praktisi pemberdayaan diri.

Dalam ilmu-ilmu tradisional Bali, baik yang bersifat pengiwa maupun penengen, proses samyama ini sebenarnya sudah dilakukan. Misalkan dalam Ilmu Peng-leak-an (ilmu yang biasa dikonotasikan dengan hal negatif) sebenarnya adalah sebuah ilmu yang isinya adalah pemanfaatan kekuatan pikiran, bukan hanya dengan satu titik konsentrasi (darana) namun dengan ketiga sistem pemprosesan informasi otak, yaitu visual, auditori dan kinestetis (baik internal maupun eksternal).

Sebagaimana saya bahas dalam artikel sebelumnya, Ilmu Leak adalah ilmu yang memanfaatkan kekuatan pikiran, dan untuk bisa secara optimal mengarahkan kekuatan pikiran maka anda perlu berada dalam kondisi mental yang sesuai, yang jika memakai kutipan dari Svami Niranjananda sebagai acuan pembahasan, maka anda perlu berada dalam tahap samadhi, yang dalam hal ini berarti apa yang tadinya anda bayangkan di pikiran anda telah menjadi pengalaman hidup yang anda alami sepenuhnya sebagai realitas, bukan sekedar imajinasi kosong, bukan berada di tahapan darana atau dyana, namun untuk benar-benar bisa ngelekas anda perlu berada di tahapan samadhi, sebagaimana dicontohkan oleh Svami Niranjananda, yang anda bayangkan di kepala anda bukan lagi hanya sekedar bayangan, namun sudah menjadi dan sudah anda alami sebagai realitas tidak terbantahkan.

Tahapan samadhi ini, tahapan dimana objek yang tadinya dipakai untuk memfokuskan pikiran dan kemudian membuat pikiran terkondisikan disana sampai anda lupa dengan kesadaran personal anda (terhadap tubuh, terhadap proses, dll) ini memungkinkan anda menjadi sakti sidhi ngucap, tahapan dimana anda bisa mengarahkan kekuatan pikiran secara optimal dengan visualisasi dan afirmasi. Tahap ini adalah tahap yang oleh orang Bali biasa disebut “api di dalam diri sudah hidup”.

Kalau dibahas dengan menggunakan terminologi hipnotis, untuk anda yang sudah belajar hipnotis, proses samyama ini merupakan sebuah proses pendalaman trance, dari light trance sampai anda sepenuhnya ter-associate dengan objek visualisasi anda, sampai apa yang anda visualisasikan menjadi realitas bagi anda. Jika dikaitkan dengan Hipnotis, pernyataan Svami Niranjananda yang mengatakan kalau pikiran akan menjadi kreatif dan produktif dan mendatangkan perubahan pada karir dengan proses samyama ini menjadi sangat ilmiah, sebab saat anda sepenuhnya associate dengan suatu pekerjaan, suatu aktifitas maka anda akan mencapai performa optimal anda (peak performance), anda sepenuhnya mengarahkan energi anda pada hal tersebut sehingga dari proses sampai ke hasil semua akan sangat optimal.

Terlepas dari performa dan kreatifitas yang kemudian meningkat akibat proses dan latihan samyama ini, artikel ini juga menjawab mengenai kondisi mental yang tepat yang dibutuhkan dalam merealisasikan imajinasi menjadi kenyataan, yang dalam ilmu tradisional Bali dikenal dengan teluh, desti, nerangjana. Dan uniknya, dalam tradisi Tantra ala Bali atau Ilmu Pengeleakan ada proses dan struktur bagaimana melakukan ketiga tahapan dalam samyama ini agar mendatangkan hasil yang optimal, yang (mungkin) akan saya bahas dalam artikel berikutnya, metodelogi terstruktur yang memiliki dampak hipnotis yang sangat tinggi, metode induksi yang bukan membuat anda sekedar berada dalam deep trance namun induksi ala ultra height hypnosis, salah satu teknik hipnotis canggih yang membuat anda trance sangat mendalam namun sekaligus bisa memfungsikan pikiran secara sangat optimal, metodologi yang mendatangkan dampak sama dengan Yoga Nidra.

author