ilmu spiritual bali kuno untuk orang modern

No comment 18 views

Ilmu Spiritual Bali Kuno
untuk orang modern

Spiritualitas di Bali adalah spiritualitas bersistem, sebuah metodelogi spiritual yang terdiri dari beberapa komponen yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Ajaran spiritual yang diwarisi di Bali bukan hanya menyangkut manusia dan Tuhannya semata, namun menyangkut manusia lain, bahkan menyangkut alam dan seluruh ciptaan. Semua itu kemudian menjadikan ajaran spiritual Bali sebagai salah satu ajaran yang sangat unik, lengkap dan mendalam, yang bukan “memisahkan”manusia dengan kehidupannya atas nama spiritual, namun membaurkan manusia dengan kehidupannya.

Banyak ajaran spiritual yang mengajarkan pentingnya menjauhi bahkan meninggalkan kehidupan duniawi demi mencapai apa yang diyakini sebagai pencerahan. Mendedikasikan diri untuk melakukan yoga atau puja dan melupakan semua hal lainnya. Namun tidak demikian halnya di Bali, ajaran spiritualnya yang selain bersistem juga sangat sistematis dengan struktur yang indah mengajarkan agar kita hidup sesuai tahapan perkembangan ke-manusia-an kita; mulai dari menuntut ilmu (brahmacari), berkeluarga (grahasta) sampai pada saatnya kemudian baru melepas semua ikatan duniawi (biksuka dan sanyasin).

Keduniawian tidak dipandang sebagai hal yang “nista” dan “rendah” dalam spiritualitas di Bali yang merupakan hasil asimilasi local genius penduduk Pulau Dewata dengan ajaran Hindu yang berasal dari India. Sebaliknya, pemenuhan dan pencapaian berbagai keinginan duniawi atau materiil (artha dan kama) merupakan sebuah tahapan sendiri dalam kehidupan yang memang perlu  dijalani, hanya saja dijalani dengan dilandasi sikap meditatif (darma) yang mengantarkan pada kesadaran spiritual yang lebih tinggi (moksha).

Sistem spiritual yang “membumi” ini bertujuan untuk mengantarkan pada kebahagiaan duniawi (jagathitta) dan peningkatan kesadaran spiritual (moksartam), sebagaimana tertuang dalam sloka Weda, moksartham jagadhita ya ca iti dharma.

Moksartam dan jagathitta bukanlah dua hal yang terpisah, namun saling menunjang satu dengan yang lain, dan sebagaimana kita masih manusia biasa maka kehidupan kita adalah di dunia ini dengan segenap elemen keduawiannya, dan yang secara kasat mata dan jelas kita bisa lihat usaha dan hasilnya adalah hal-hal yang menyangkut jagathitta, atau bagaimana manusia bisa hidup bahagia selama di bumi baik secara internal (bahagia dengan dirinya sendiri, secara psikologis), berbahagia dan harmonis dengan sesama manusia dan tentu saja dengan alam yang merupakan “rumah” hidup kita selama di dunia.

Dan salah satu ajaran yang bisa membantu kita menjadi bahagia selama di dunia ini adalah melalui keharmonisan. Kemarmonisan antara anda dengan Tuhan (parahyangan), keharmonisan antara anda dengan sesama manusia (pawongan) serta keharmonisan antara anda dengan alam (palemahan). Anda tidak akan bisa hidup bahagia selama anda belum harmonis dengan manusia lain, karena bagaimana anda bisa bahagia jika kemanapun anda pergi ada yang membenci dan memusuhi anda, bagaimana anda bisa bahagia pula jika anda selalu membenci dan memusuhi orang lain. Lalu bagaimana pula anda bisa hidup dengan bahagia jika alam mengalami kerusakan? Jika banjir terjadi dimana-mana karena sungai yang tidak terpelihara, jika tanah longsor karena hutan dibabat dan bentuk pengrusakan alam lainnya.

Ajaran leluhur yang sudah sangat kuno ini bisa menjadi pegangan yang sangat berarti dalam menjalani dinamika kehidupan sebagai manusia modern, telebih karena demikian banyak masalah yang terjadi dewasa ini baik di tataran personal maupun di tataran global adalah akibat kurangnya keharmonisan.

Ketidakharmonisan anda dengan rekan kerja secara tidak langsung (disadari atau tidak) akan mempengaruhi performa kerja anda, kurangnya keharmonisan anda dengan rekanan bisnis akan mempengaruhi kinerja bisnis anda, kurangnya keharmonisan antara anda dengan customer akan membuat mereka tidak puas, dan contoh-contoh lain baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, sosial kemasyarakatan, kehidupan bernegara dan bahkan secara global. Terlebih, manusia yang bukan hanya mahluk personal atau mahluk sosial semata, namun kebutuhan untuk menjalin hubungan secara harmonis dengan manusia lain sudah tertanam kuat dalam otak manusia dari jaman primitif, sudah menjadi salah satu kebutuhan mendasar di otak reptil manusia. Mau tidak mau, jika anda secara sosial tidak mengalami keharmonisan (baik dengan pasangan, keluarga, lingkungan kerja dan setting sosial lainnya), maka secara personal pun anda akan merasa tidak tenang dan ujung-ujungnya akan merembet ke berbagai hal lainnya.

Kemudian, hubungan harmonis dengan “Tuhan” adalah landasan dari tercapainya semua keharmonisan lain, sebab dengan anda sadar bahwa dalam diri setiap orang ada Tuhan, maka anda akan menghormati setiap orang, dan dengan anda sadar bahwa dalam setiap elemen alam merupakan stana Tuhan, maka seluruh elemen alam tersebut akan menjadi sakral dan dihormati sedemikian rupa, sebab semua yang ada adalah perwujudan Tuhan itu sendiri, sarvam kalvidam brahma.

Bayangkan akan betapa indahnya kehidupan di atas bumi ini jika setiap manusia mampu melihat manusia lain sebagai perwujudan Tuhan, bayangkan pastinya alam akan tetap dengan keindahan dan keutuhannya jika manusia menyadari bahwa semua adalah Tuhan.

Di Bali, penyadaran bahwa semua adalah Tuhan ini dilakukan bukan hanya dengan filosofi, namun juga dengan berbagai ekspresi dinamis berbagai ritual dan berbagai eksperimen metafisik yang sangat terstruktur seperti Kanda Pat dan Dasaksara yang secara prinsipil mengajarkan bahwa dalam diri manusia (dalam diri anda dan dalam diri setiap manusia lainnya) berstana Para Dewa, seolah menjadikan tubuh manusia sebagai kuil suci-Nya.

Secara ritual manusia Bali memiliki ritual untuk hewan peliharaannya (Tumpek Kandang) dan ada hari raya khusus dimana kebun dan sawah disembahyangi (Tumpek Uduh), di Bali bukan hanya ke hadapan Tuhan dan segala manifestasinya yadnya dilakukan (dewa yadnya) namun juga terhadap manusia itu sendiri (manusa yadnya dan pitra yadnya) demimikian pula dengan ciptaan yang lebih “rendah”, dan setiap upacara keagamaan tidaklah bersifat egois dan eksklusif (hanya menyangkut manusia dengan Pujaannya) namun juga bersifat sosial, dimana manusia lain terlibat secara intens sehingga membentuk sistem kekerabatan dan kekeluargaan dengan anggota masyarakat lain, menjadikan semua manusia sebagai keluarga, vasudaiwah kutumbakam.

Ajaran spiritual Bali ini kemudian menjadikannya sebagai ajaran yang “membumi”, bukan hanya menyangkut ajaran “Yang Di Atas” namun bagaimana kita bisa hidup selarasdan harmonis dengan semua mahluk penghuni bumi dan bahkan dengan bumi itu sendiri. Ajaran spiritual yang menjadikan manusia lebih manusia (yang akan dibahas dalam artikel berikutnya), bukan hanya bersifat kedewan-dewan sampai-sampai lupa kalau kaki masih menginjak tanah, lupa kalau masih hidup di bumi bersama manusia lain, dan tentu saja masih memerlukan manusia lain dan bumi, baik untuk pertumbuhan personal maupun spiritual. Dan sangat patut disayangkan jika ajaran spiritual yang sangat “membumi” ini, yang sederhana namun sangat mendalam dan diperlukan manusia modern ini,  kemudian ditinggalkan dengan berbagai alasan, hanya karena belum banyak yang mengeksplorasi bagaimana semua nilai-nilai kehidupan luhur dari pandangan spiritualitas ala Bali ini bisa sangat membantu kehidupan manusia kekinian, baik secara personal maupun secara global.

author