India-Bali dan Dewa ‘Impor’

No comment 145 views

India-Bali dan Dewa ‘Impor’

India-Bali dan Dewa ‘Impor’

Liat pada tulisan berikutnya pada judul Kata ASU sebagai asli nusantara

Ada yang menarik tentang peta studi agama di India, setidaknya terus terjadi perdebatan dan spekulasi tentang jejak sejarah agama purba di sana. Pendekatan antropologis evolusionis, arkeologis, juga menjadi dasar studi kebudayaan prasejarah suku India.

Pada awal tahun 1872 W.W Hunter mengamati India seolah-olah sebuah tempat umat manusia dapat dipelajari sampai di tingkat budaya terendah hingga tertinggi. Sebaliknya, Sir William John yang membangun pondasi modern studi agama Veda di tahun 1786 diejek lantaran mengatakan bahwa orang Hindu telah mencapai tingkat peradaban yang tinggi. Tak sedikit peneliti akhirnya sampai pada peradaban pra Vedik—bahkan zaman batu. Mengidentifikasi keaslian India tentu sangat sulit, karena India dibangun melalui percampuran kultural yang cukup lama.

Pada tahun 1893, G. Oppert—sebagaimana diulas N.N Bhattacharyya dalam bukunya Indian Religious Historiography—bahkan dengan tegas menyatakan bahwa Vedisme dan Brahmanisme telah menyerap banyak kepercayaan dan praktik keagamaan dari apa yang disebut masyarakat pra arya, penduduk asli India, dan fakta-fakta tentang suku terbelakang masa lalu.

Bloomfield berkata: “Bahkan sihir menjadi bagian dari religi Hindu; ia telah masuk dan begitu kuat mewarnai ritus-ritus Veda yang paling suci. Bisa dikatakan bahwa para pendeta tersebut tidak mampu memurnikan keyakinan religinya dari macam-macam kepercayaan rakyat yang mengelilinginya.”

Hal ini juga dibahas oleh S. Radhakrisnan. Dalam Indian Philosophy ia menjelaskan bahwa sejak awal religi Arya bersifat ekspansif, berkembang dengan sendirinya dan toleran. Hal tersebut terus berlangsung sambil membuka dirinya terhadap kekuatan-kekuatan baru yang dijumpai di dalam perkembangannya.

Ia memperlihatkan hasil dari semangat kompromi yang ditunjukkan orang-orang Arya Vedik setelah menjumpai tuhan-tuhan dan berhala baru yang dipuja oleh orang-orang pribumi negeri itu. Ini menunjukkan tipologi adaptif kaum Arya saat itu.

Tidak hanya itu saja, di India sendiri telah lama terjadi pertentangan melibatkan para dewa mereka. Suku yang menang, sekaligus memenangkan dewa-dewa yang mereka puja.

S. Radhakrisnan menjelaskan dalam kitab Purana yang lebih belakangan berbicara tentang pertentangan antara Indra dan Krsna. Ia mencurigai Krsna adalah tuhan suku pedusunan yang dikalahkan oleh Indra dalam periode Rg-Veda, meskipun pada zaman Bhagavadgita Krsna mendapatkan kembali sebagian besar pijakannya yang hilang dan mendapatkan kekuatan kembali karena disamakan dengan Vasudeva-nya suku Bhagavata dan Visnu-nya orang-orang Vaisnava.

Samkya dan Yoga—yang menjadi bagian Sad Darsana— dikatakan tak berakar langsung pada Vedisme. Bahkan Samkya disebut anti Vedis (baca N.N Bhattacharyya)—dan mewakili peradaban materialisme kuno India. Chattopadhyaya menulis banyak tentang materialisme India ini. Dalam sebuah diskusi di Pascasarjana UNHI, Andrea Acri juga sepakat telah terjadi ‘Hinduisasi atas ajaran Yoga”. Begitulah kerja peradaban dan sejarah.

Bagaimana dengan Bali?

Saya rasa tak jauh berbeda, ada percampuran kultural yang cukup lama. Sebelum Hinduisme masuk ke Bali, masyarakat Bali punya konsep ketuhanan tersendiri. Selain masih memuja roh-roh leluhur, mereka juga mengenal dewa lokal yang memiliki aneka peran sesuai kebutuhan sehari-hari.

Tradisi memuja dewa lokal di Bali bisa ditelisik di beberapa daerah pegunungan yakni Kintamani, Trunyan, dan To Langkir. Sedangkan di daerah pesisir seperti desa Sembiran, Buleleng. Di desa Trunyan, masyarakat agraris punya banyak dewa lokal yang berperan sesuai posisi masing-masing. Masyarakat Trunyan selalu menghadirkan entitas-entitas mitis tertinggi itu manakala dirajam masalah dalam hidup.

Dewa tertinggi di Trunyan adalah Ratu Gede Pancering Jagat yang diformulasikan dalam bentuk arca setinggi 4 meter terletak di Pura Turun Hyang. Ratu Gede Pancering Jagat memiliki istri bernama Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar dan anaknya Ratu Gede Dalem Dasar. Sesuai catatan antropolog James Danandjaja, gerakan erotis kedua dewa tertinggi mampu mendatangkan hujan dan kesuburan. Lantas, gerakan itu dijadikan sebuah tarian bernama Bhatara Berutuk yang dipentaskan saat upacara ritual Saba Gede.

Tak hanya itu saja, ternyata. Masyarakat Trunyan juga memiliki banyak dewa lain di bawah garis koordinasi Ratu Gede Pancering Jagat, seperti Ratu Sakti Wayan Manik Gaduh dikatakan sebagai dewa pembuat gempa, Ratu Ketut Gunung Ning Wisesa dewa pemberi obat, Ratu Wayan Purus Mundi berperan sebagai jaksa, dan Ratu Wayan Basang Bedel sebagai hakim. Manakala masyarakat Trunyan ada yang terjerat kasus hukum, Ratu Wayan Basang Bedel yang akan memberi vonis secara niskala.

Selain desa Trunyan, pemujaan dewa lokal juga bisa ditemui di desa Sembiran dan Cempaga, Buleleng. Di Sembiran masyarakat memuja Bhatara Segara sebagai penguasa laut. Sedangkan di Cempaga, sebagaimana riset yang pernah dilakukan oleh Wayan Budi Utama, masyarakat memuja sesuhunan desa bernama Dewa Manik Galih, Dewa Manik Merta, Dewa Rambut Sedana, Dewa Ratu Bagus Cili, dan Ratu Gede Pasek. Tradisi pemujaan dewa lokal di atas mencirikan masyarakat Bali kala itu punya sistem religi otonom warisan nenek moyang. Dewa-dewa lokal Bali ini kelak mendapat pesaing dari luar. Terutama semenjak Hinduisme menyeruak sampai ke pelosok-pelosok Bali. Di titik itu mulai muncul nama dewa-dewa “impor”. Bahkan Bali pernah dihadapkan pada munculnya sekte-sekte. Ini adalah titik mulai ditemukan sistem pemujaan kepada dewa-dewa “impor”. Dalam amatan R. Goris, sekte yang membawa gaya pemujaan itu kian melebar menjadi kelompok kecil subsekte sekitar pada abad ke-9 atau ke-10.

Di titik sekte-sekte mulai menyeruak inilah muncul nama seorang senapati pada masa pemerintahan Airlangga dari Jawa Timur (1019-1042) bernama Empu Kuturan. Empu Kuturan mempersatukan sekte-sekte yang ada dan mengembangkan konsep Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) di setiap desa, konsep Kahyangan Catur Loka Pala, dan jenis-jenis pedagingan (dikoreksi jika keliru). Dengan kata lain Mpu Kuturan membentuk model baru untuk orang Bali kala itu: pemujaan terhadap Dewa Trinitas.

Walau demikian, meski sistem pemujaan pada dewa “impor” mulai muncul di Bali, pengaruhnya belum sampai di Besakih saat itu. Terbukti di Pura Penataran Agung Besakih, pada masa pra-padmasana, pinjam istilah Stuart Fox, masih terdapat nama dewa lokal seperti Ratu Bukit, Ratu Pusaring Jagat, Ratu Geng, Ratu Maspahit, dan Ratu Sunaring Jagat. Entah beberapa lama kemudian, dalam catatan David Stuart Fox, Ratu Pusaring Jagat baru diidentifikasikan menjadi Dewa Siwa dan Bhatara Wisesa diidentifikasikan dengan Dewa Raditya. Selanjutnya muncul juga konsep tripartit: Siwa, Sada Siwa, dan Paramasiwa yakni pemujaan secara vertikal. Walau dewa ‘impor” itu secara periodik muncul di tengah-tengah masyarakat Bali, tak serta-merta begitu saja bisa menggeser peran dewa lokal orang Bali. Walau kondisi dewa mereka sedikit terpinggirkan—penyeragaman pasca diterimanya Hindu menjadi agama resmi Negara cukup mempengaruhi interpretasi mereka terhadap konsep ketuhanannya, dan di sini terjadi penyesuaian formil.

Di titik itu bisa dilihat betapa orang Bali terbuka terhadap pembaharuan. Hal ini tak terlepas dari tipologi religio kultural orang Bali yakni sinkretis. Sebenarnya ini menarik, ketika ada cerdik pandai yang mencoba menulis sejarah Tuhan orang Bali (ini menarik dikaji) —dan di situ akan ditemukan identitas orang Bali yang kaya akan lapis-lapis kebudayaan, sebuah hibridasi kultural secara periodik. Hinduisme sendiri adalah salah satu pelapisnya. Di titik ini, sulit menyimpulkan manakah identitas Bali yang paling purba, paling original yang layak kita sebut “Bali yang murni”, “Bali yang Asli” kecuali memang mengakui telah terjadi evolusi secara kultural dan mempertahankan pandangan dunia (isi) yang bisa menjawab tantangan zaman di masa depan. Tabik (oleh I Gusti Agung Paramita)

author