Kajang

No comment 485 views
Kajang,5 / 5 ( 1votes )

Kajang

apa itu kajang?

  • Kajang berasal dari bahasa kawi yang artinya penutup, atau kerudung.
  • Kajang adalah salah satu piranti upacara Pitra Yadnya, yaitu Pengabenan.
  • Kajang ini terbuat dari selembar kain putih dengan panjang kurang lebih satu setengah meter (3 hasta). Dalam lembaran kain tersebut ditulisi dengan gambar-gambar tertentu dan aksara-aksara modre yang memiliki nilai-nilai magis sebagai simbol kelepasan.
  • Kajang dibuat oleh tidak sembarang orang, Orang yang berhak membuat adalah Sang Sulinggih (dwijati), orang yang ditunjuk/mendapat anugrah dari Sulinggih untuk nyurat kajang, atau pemangku kawitan. -- Sane wenang nyurat KAJANG tur ngarga TIRTHA PENGENTAS, niki ke surat/kearga ring hari H, ten dados inepan, wantah Sang Meraga Putus tur sang me tri jati medwe hak tur wewenang,Ida sane nyurat,Ida sane ngurip (masupati ) tur Ida sane pacang ngatepan/menyatukan kajang punika kejasad/kewatangan manut Weda Pitra Puja,tur kelaksanayang ngajum sawa, kesuksmane selobang jarum sareng akeh sane memberikan pemargi ke sang lampus,(tusuk-tusuk sareng jarum),mangda ipun polih genah sane becik manut karma asuba karma,Yan Mangku/anak welaka tan kewenangan nyurat KAJANG, santukan sangat sakral pigunan ipun, santukan kantun leteh,.(bisa teken dadi mesiosan),sampunan pisan melaksana niki karena kepentingan pribadi,bisnis semata,karana niki panugrahan yg sangat sakral, mangda nenten tren yg salah tetep dilaksanakan karena kepentingan,ila-ila dahat,gumi jadi sanggar,tur Sang Hyang Atma sulit mendapatkan tempat yg layak,yan ipun mewali ke marca pada manumadi akan ngusak asik ring keluarga.
  • Kajang merupakan simbol atman yang dilukiskan dengan aksara dan gambar-gambar suci, penggunaan kajang ini dalam upacara pengabenan adalah diletakkan diatas jenazah/petinya seperti selimut. Sebelum dapat digunakan sesuai dengan nilai spiritualnya harus dilaksanakan upacara Ngajum Kajang, mengenai upacara ini akan diulas khusus pada artikel selanjutnya. Setelah selesai ngajum kajang barulah kajang ini dinyatakan telah memiliki nilai spiritual atau daya magis, pada saat pemberangkatan jenazah menuju kuburan (Setra/Patunon) kajang ini diletakkan di atas jenazah yang diusung menggunakan wadah/bade, dan nantinya akan dibakar bersama jenazah.
  • Kajang adalah salah satu dari sekian banyak unsur - unsur kelengkapan yang digunakan dalam upacara pitra yadnya pengabenan. Di dalam lontar disebutkan bahwa kajang adalah surat walung kepala. Jika ingin memahami tentang kajang maka harus dipahami tentang tata cara upacara pengabenan. Dalam upacara pengabenan, banyak terdapat kelengkapan atau sarana – sarana upacara yang secara simbolis melambangkan tubuh manusia beserta unsur – unsurnya. Dalam upacara pengabenan tubuh manusia ada yang disimbolkan dan dibentuk dari tumbuh - tumbuhan misalnya dari tukon pisang jati. Disana juga disimbulkan utu adalah kepala, telor adalah mata serta bagian lainnya. Ada juga yang menggunakan uang kepeng yang disebut ukur, serta ada juga perlambangan tubuh manusia dalam bentuk gambar, yang dalam lontar maya tatwa disebutkan sebagai lambang unsur manusia dan unsur alam. Sedangkan Kajang adalah simbol tubuh manusi beserta unsur - unsurnya dalam bentuk sastra atau huruf. Kajang sebagian besar terdiri dari sastra atau huruf bali, disamping juga biasanya terdapat beberapa rerajahan seperti rerajahan bedawang nala, naga dan yang lainya. Sastra di dalam kajang tersebut umumnya berisi tentang unsur – unsur panca maha bhuta di dalam tubuh manusia serta darimana unsur tersebut berasal dan kemana ia akan menyatu setelah manusi mati.
  • Kajang adalah sebuah pemaknaan bahwa manusi itu selain dibangun dari unsur panca maha bhuta, unsur atma atau ketuhanan juga dibentuk dari sastra. Sehingga setiap manusia hendaknya semasa hidupnya menyempatkan diri untuk mempelajari sastra agama sebagai bekal dikehidupan kelak. Selain itu kajang juga merupakan simbolis dari roh atau atma dari manusia. Kajang tidak boleh dibuat oleh sembarang orang. Kajang dibuat dan dipelaspas oleh sang sulinggih atau sang dwijati yang mana untuk membuat sebuah sastra suci dan sakral seperti kajang diperlukan kesucian bathin dari yang membuatnya.

Kajang dalam Kakawin Bharatayudha

diceritakan dalam kakawin tersebut Dewi Hidimbi meminta sebuah kerudung kepada Dewi Drupadi untuk menutup diri dalam perjalanan yang panas untuk menemui nenek moyang (leluhur) agar tidak mendapat rintangan dalam perjalannya menuju Swarga. Dalam kisah ini tersirat nilai yang sangat mendalam tentang fungsi, dan makna penggunaan kajang dalam upacara ngaben.

Kajang disebutkan sebagai anugrah Bethara Siwa yang merupakan kawitan semua makhluk hidup.  Kita sebagai manusia memiliki 4 kawitan, diantaranya:

  1. Kawitan ring Bhur yakti Swarga.
    Sang pencipta/Sanghyang Widi Wasa, inilah kawitan kita yang pertama, kawitan asal kata dari wit/asal-usul, yang menjaikan semua ini ada, sekancan sarwa tumbuwuh ring jagat, meduluran antuk sabda bayu idep yaitu :
    a) Sabda:punyan-punyanan/tumbuh-tumbuhan.
    b) Sabda,bayu : buron/binatang.
    c) Sabda,bayu,idep : manusia itu sendiri.
    Punyan-punyanan dan buron merupakan saudara kita lahir ke bumi, makanya kita disebut mahluk yang paling sempurna, dari yg kurang sempurna,makanya kita tdk boleh memandang rendah orang lain (tat twam asi), jangankan sesama agama hindu, karena semua umat beragama didunia merupakan saudara kita, termasuk yang tidak percaya dengan agama sekalipun merupakan saudara kita..
  2. Kawitan Bwah yakni ring Dalem
    inilah kawitan kita setelah sanghyang Widhi, itulah sebabnya apabila mendak kawitan purusa perdana dilaksanakan mendak ke pura  dalem (manut lontar tutur Anda tattwa). Bila Keluarga hendak membangun Kamulan-kemimitan haruslah mendak kawitan di Pura Dalem tempatnya).
  3. Kawitan Swah ring Rong tiga
    linggih kawitan Siwa guru, Bathara hyang guru, dasarnya Brahma, Wisnu, Siwa/Paraatma, Siwatma, Sanghyang Susudatma/purusa, perdana, bancih. (pedagingan tetiga, barak, selem, putih)
  4. Kawitan secara sekala,
    beliau yang menjadikan fisik kita ada didunia ini (kedua orang tua yang melahirkan dan membesarkan kita). Ada kisah dimana tiada manusia sakti didunia ini, diceritakan Bathara.Brahma memperlihatkan kesaktiannya dengan terbang setinggi-tingginya, sedangkan Bathara Wisnu memperlihatkan kesaktian dengan turun seturunnya menuju dasar pertiwi (bumi), kemudian Sang Suyasa bertanya kepada Gurunya, trus siapakah yang lebih hebat/sakti? jawabannya, tiada yang lebih hebat dari kedua orang tua, karena hanya beliaulah yang dapat melahirkanmu. (tutur dialog Sang Suyasa sareng gurune Ida Rsi Darma Kerti).

Kajang ini sesungguhnya ada dua macam, yaitu :

  1. Kajang Siwa
    Kajang Siwa adalah kajang yang diperoleh dari Sang Sulinggih (Pedanda, Sri Empu, Dukuh, Bhagawan, dll) yang muput upacara bersangkutan.
  2. Kajang Kawitan
    Kajang Kawitan adalah kajang yang diperoleh dengan cara nunas kepada Bhatara Kawitan, di Pura Kawitan warga masing-masing. Kajang Kawitan ini akan berbeda antar setiap soroh/clan, seperti misalnya Kajang Pasek yang ada di gambar di atas, dan Kajang Pande yang ada di gambar dibawah.
    Kajang memiliki nilai spiritual sebagai tanda restu dari sanak keluarga, Sang Sulinggih, dan Bhatara Kawitan terhadap kepergian Sang Lina (mati) untuk manunggal kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Identitas persaudaran di alam sana tidak ditentukan lagi oleh kelahiran dari ibu yang sama, dadia yang sama, melainkan dari kajang kawitan tersebut. Identitas kajang kawitan yang mempersatukan kita nanti dengan saudara-saudara kita. Selain itu, kajang kawitan juga menuntun supaya orang kembali ke hakikatnya. Sekecil apapun upacara pengabenan, kajang menjadi sebuah keharusan karena merupakan sebuah identitas.

AKSARA SUCI DI DALAM KAJANG

Aksara suci yang ada dalam lukisan rerajahan kajang disebutkan adalah tanda legisigns, karena secara konvensional memiliki bentuk dan makna tertentu, yang dalam aktivitas sosial religius (upacara ngaben) berfungsi sebagai simbol komunikasi, secaraimmanent dan transendental yang dipedomani oleh masyarakat Hindu di Bali.

Bentuk aksara suci pada kajang dibedakan menjadi empat, yaitu :

  • Bentuk, berdasarkan kesejarahan aksara Bali (semua aksara suci tersebut tergolong bulat/bundar);
  • Struktur aksara, aksara suara, pengangge aksara suara, aksara pangangge aksara wyanjana);
  • Macam aksara wyanjana / wijaksara, dibedakan menjadi delapan, yaitu
    · ekaksara | Ongkara,
    · dwiaksara,| Purusha Prakerti
    · triaksara, | Pranawa "OM"
    · panca brahma.
    · panca aksara,
    · dasaksara,
    · catur dasaksara,
    · saddasaksara;
    · Aksara sebagai singkatan;atau berdasarkan tata letak/komposisi.

Beberapa fungsi aksara suci kajang :

  1. Fungsi referensial yaitu fungsi bahasa yang mereferensikan objek sebagai acuan makna.
  2. Fungsi emotif / ekspresif, yakni mengekspresikan bahasa sesuai dengan keinginan seperti pembuat kajang (pendeta / sulinggih) dan pengguna kajang (orang yang mengadakan upacara ngaben). Ada beberapa penggolongan kajang masing-masing memiliki aksara suci sebagai ciri pembeda:
    · Kajang Brahmana,
    · Kajang Ksatrya,
    · Kajang Wesya,
    · Kajang Sudra,
    · Kajang Pasek,
    · Kajang Pande,
    · dll.
  3. Fungsi metalinguistik merupakan fungsi bahasa yang dikaitkan dengan faktior di luar bahasa, dalam aksara suci tersebut secara metalinguistik fungsi bahasa dikaitkan dengan hakikat kehidupan, manusia sesuai keyakinan umat Hindu di Bali. Terlihat dari aksara suci yang dijadikan kode/sandi terkait dengan badan manusia (sarira kosha).
  4. Fungsi magis, yaitu aksara suci yang dikaitkan dengan sesuatu yang sakral (nama-nama dewa sebagai manifestasi Tuhan).

Makna akasara suci APK meliputi:

  • Makna pemujaan kepada Tuhan yang tunggal (esa), Tuhan sebagai pencipta Purusa Pradana, sebagai Tri Murti, sebagai Panca dewata, sebagai Siwa, dan sebagai Dewata Nawa Sanga;
  • Makna permohonan kepada Tuhan yaitu untuk mencapai kesucian, kebahagiaan abadi, dan mendapat perlindungan Tuhan.
Niki KAJANG sane jangkep manut lontar Pitra puja tur lontar Sawa Wedana, niki sarat ngangge kajang, sarat kedua tirtha pengentas/penglambung, sarat ketiga tirta penglepas, medaging kitir 2, kesurat Ong Ung Mang Ang, raris medaging arca dana mesurat manut kulit / Wangsa, kertas kitir sareng Arca dana kesurat ring kertas daluwang atawi kertas Ulantaga, tan kwenangan ngangge kertas biasa, tur medaging pesikepan sang lampus kesurat Ong I A Ka Sa Ma Re La We Ye Ung medasar tembaga.

 

author