Kajian Filosofi Kisah Mahabharata

No comment 859 views

Kajian Filosofi Kisah Mahabharata

MAHABHARATA merupakan sastra klasik India yang besar sekali pengaruhnya terhadap khasanah sastra Jawa Kuna, disamping Ramayana. Mahabharata disebut juga Astadasaparwa karena ceritanya dibagi kedalam 18 parwa. kisah Mahabharata, adalah yang terbesar, terpanjang dan salah satu dari dua epos Sansekerta utama dari India kuno, yang lainnya adalah Ramayana. Dengan lebih dari 74.000 ayat, ditambah ayat-ayat prosa yang panjang, atau 1,8 juta kata dalam jumlah, adalah salah satu puisi epik terpanjang di dunia. Mahabharata berisi delapan belas Parwa (astadasaparwa) atau bagian, yaitu.,

  1. Adi Parwa, Pendahuluan, kisah Raja Manu dan lahir serta dibesarkan Keturunan Manu (Pandawa-Korawa).
  2. Sabha Parwa, Pandawa membangun istana indraprasta, permainan judi, dan hidup di pengasingan. Diceritakan pula Saat yudistrira menyelamatkan para saudaranya dari kematian diuji dengan pertanyaan tentang Dharma kehidupan oleh Dewata.
  3. Wana Parwa, Dua belas tahun di pengasingan di hutan
  4. Wirata Parwa, Tahun dalam pengasingan dihabiskan di kerajaan Wirata.
  5. Udyoga Parwa, negosiasi serta Persiapan perang
  6. Bhishma Parwa, Bagian pertama dari pertempuran besar, dengan Bisma sebagai komandan untuk Kaurawa. Dan juga bagian dimana Kitab Bhagawad gita di turunkan oleh Sri Khrisna kepada sang arjuna, yang disaksikan oleh kusir kereta prabu Dhritarastra yang diangkat menjadi mentri raja, beliau bernama Sanjaya.
  7. Drona Parwa, Pertempuran berlanjut, denga n Drona sebagai panglima.
  8. Karna Parwa, Pertempuran lagi, dengan Karna sebagai panglima.
  9. Shalya Parwa, Bagian terakhir dari pertempuran dengan Salya sebagai panglima.
  10. Sauptika Parwa, Bagaimana Ashwattama dan sisanya Kaurawa membunuh tentara Pandawa dalam tidur mereka sehingga meninggalnya Panca kumara putra dari panca Pandawa.
  11. Stri Parwa, Gandari dan para istri ksatria meratapi suami mereka yang meninggal / Orang Mati.
  12. Shanti Parwa, Yudistira menjadi Raja Hastina
  13. Anusasana Parwa, Pesan terakhir dari Bisma kakek dari Pandawa dan Kowara
  14. Ashwamedhika Parwa, Upacara kerajaan ashwamedha yang dilakukan Oleh Yudistira.
  15. Ashramawasika Parwa, Dretarastra, Gandari dan Kunti pergi ke ashram, dan akhirnya meninggal Di Hutan.
  16. Mausala Parwa, pertikaian antara bangsa Yadawa karena senjata mausala serta kisah kematian sri krisna sekeluarga.
  17. Mahaprasthanika Parwa, Bagian pertama perjalanan "besar" menuju kematian dari Yudistira dan saudara-saudaranya.
  18. Swargarohana Parwa, Pandawa kembali ke dunia spiritual (swarga).

Buku indah ini disusun oleh Sri Byasa (Krishna Dwaipayana) yang merupakan kakek dari pahlawan epos. Dia mengajarkan epik ini kepada anaknya Suka dan murid Wesampayana beserta murid lainnya. Raja Janamejaya, anak Parikesit, cucu dari para pahlawan kisah, melakukan pengorbanan (yadnya) besar. epik itu dibacakan oleh Wesampayana untuk Janamejaya atas perintah Byasa. Kemudian, Suta membacakan Mahabharata sebagai dilakukan oleh Wesampayana pada Janamejaya, untuk Saunaka dan lain-lain, selama Yadnya yang dilakukan oleh Saunaka di Naimisaranya, yang dekat Sitapur di Uttar Pradesh.

Nilai yang terkandung dalam Astadasaparwa (Mahabharata)

Adapun nilai-nilai yang terkandung di dalam teks Astadasaparwa diantaranya adalah: Nilai ajaran dharma, nilai kesetiaan, nilai pendidikan dan nilai yajna (korban suci). Nilai-nilai ini kiranya ada manfaatnya untuk direnungkan dalam kehidupan dewasa ini.

Makna Filosofis Astadasaparwa (Mahabharata)

Jadi pada pertempuran antara materialis dan spiritualis, antara materi kasar dan materi halus, Yudhisthira tetap tak terpengaruh. "Yudhi sthirah Yudhisthirah" artinya "Orang yang tetap tenang/diam saat pertempuran dinamakan Yudhisthira".

Krisna terdapat pada cakra sahasrara. Jadi ketika kundalini (Keagungan yang tertidur) terbangkitkan, naik dan menuju perlindungan Krsna dengan bantuan Pandawa, maka Jiwa (diri) bersatu dengan Kesadaran Agung. melalui meditasi mengenal chakra (Pandawa dan krisna) dapat menyelamatkan jiwa dan membawanya ke perlindungan Tuhan (Atma).

Sanjaya adalah menteri-nya Dhritarastra. Sanjaya adalah wiweka (Nalar/pertimbangan). Dhritarastra bertanya kepada Sanjaya, karena ia sendiri tidak bisa melihatnya, "Oh Sanjaya, katakan padaku, dalam perang Kuruksetra dan Dharmaksetra, bagaimana keadaan pihak kita?"

Keseratus putra Dhritarastra, pikiran yang buta, mencoba menguasai jiwa, yang diselamatkan oleh Pandawa melalui pertempuran. Akhirnya kemenangan ada di pihak Pandawa, mereka membawa jiwa ke perlindungan Dharma yang terwujud dalam tokoh Krisna.

Inilah arti filosofis dari Mahabharata.

Kuruksetra adalah dunia tempat melakukan aksi, dunia eksternal, yang menuntut kita terus bekerja. Bekerja adalah perintah. "Kuru" artinya "bekerja", dan ksetra artinya "medan", Dharmaksetra adalah dunia psikis internal. Disini Pandawa mendominasi.

author