Kanda Pat dan Vedanta

No comment 41 views

Kanda Pat dan Vedanta

Kanda Pat adalah salah satu ajaran yang telah mengakar di Bali, yang secara sederhana berarti saudara empat selain juga mengenai Ilmu Leak dan Dasa Aksara. Dalam perspektif Kanda Pat, diuraikan secara rinci bagaimana kita sedari dalam kandungan, baru lahir, perkembangan dan pertumbuhan kita beberapa bulan sebelumnya, remaja, dewasa dan bahkan sampai ke alam kematian pun keempat saudara niskala tersebut senantiasa menemani keberadaan kita.

Namun yang menarik adalah, keempat saudara kita tersebut bukan hanya berwujud niskala namun juga memiliki aspek-aspek sekala, aspek nyata dan kasat mata yang bisa disaksikan secara langsung. Hal menarik kedua yaitu, Kanda Pat tidak hanya mengajarkan “persaudaraan” kita dengan para dewa dan para bhuta kala, namun juga dengan semua manusia dan bahkan dengan semesta.

Ajaran Kanda Pat yang telah diwarisi secara turun temurun di Bali merupakan implementasi dari salah satu mahavakya dalam Mahopanishad, yang berbunyi sebagai berikut:

ayam bandhurayam neti ganana laghuchetasam udaracharitanam tu vasudhaiva kutumbakam

Artinya: hanya orang yang berpikiran kerdil yang mengatakan bahwa satu orang adalah kerabat dan yang lainnya adalah orang asing. Bagi mereka yang hidup dalam keagungan menyadari bahwa seluruh semesta adalah keluarga.

Ajaran “persaudaraan semesta” ini di Bali bukan sekedar hanya menjadi semboyan, namun terimplementasikan dalam berbagai aktifitas keagamaan dan sosial, dan salah satu akar dari cara hidup ini di Bali adalah ajaran Kanda Pat.

Misalkan saja, dalam hari raya tumpek pengatag, manusia Bali diingatkan kembali untuk menghormati tumbuh-tumbuhan, dan pada hari Tumpek Kandang, penghormatan diberikan pada binatang. Kedua hari raya ini bukan sebatas “menyembahyangi pohon” atau “memuja binatang”, sama sekali bukan. Meski sepintas kelihatannya demikian, namun spirit di balik ritual tersebut adalah sebuah pengakuan terhadap kekerabatan dan kekeluargaan dengan seluruh semesta.

Bukan hanya melalui kedua tumpek tersebut, manusia Bali adalah manusia yang sangat “memuja alam”, yang mana persembahan serta penghormatan tidak hanya diarahkan ke langit, pada para dewa dan berbagai keagungan yang dianggap lebih dari manusia, namun juga diarahkan di bawah, pada mahluk-mahluk yang “lebih rendah”.

Dalam Kanda Pat Sari disebutkan bahwa Beliau-beliau selain memiliki kuasa dan aspek niskala juga merupakan “penguasa” dari berbagai aspek sekala di alam;

  • Ratu Ngurah Tangkeb Langit secara sekala merupakan dewanya dari tumbuh-tumbuhan, hewan dan sebagai dewanya sawah.
  • Ratu Wayan Tebeng secara sekala merupakan dewa jalan, setra, sungai, jurang
  • Ratu Made Jelawung secara sekala merupakan dewanya di pekarangan
  • Ratu Nyoman Sakti Pengadangan secara sekala merupakan dewanya pepohonan besar dan tempat-tempat yang dipercaya angker.
  • Ratu Ketut Petung secara sekala merupakan dewatanya pasar.

Secara “tersirat” ajaran tersebut mengemukakan pada kita bahwa setiap elemen di alam merupakan aspek lain yang “saudara gaib” kita yang bersifat “nyata” atau sekala, sehingga menghormati setiap bagian dari aspek sekala saudara-saudara gaib kita tersebut merupakan cara lain untuk senantiasa menghubungkan diri dengan Beliau-Beliau.

Namun, banyak yang menganggap kalau ajaran Kanda Pat tidak lebih hanya sekedar ajaran kedyatmikan yang memberi banyak angan-angan dan imajinasi kesatian serta sejenisnya, lalu luput menjadikan ajaran tersebut sebagai salah satu “cara hidup” atau way of life yang diwariskan oleh leluhur-leluhur kita terdahulu, sebuah cara hidup yang sangat mengedepankan keharmonisan dengan seluruh semesta karena sejatinya seluruh semesta adalah saudara, dan bahkan di tataran kesadaran yang lebih tinggi, seluruh “semesta adalah aku” sebagaimana disampaikan dalam mahavakya Vedanda.

Dalam salah satu ceramahnya, Bruce Lipton seorang profesor Biologi dan penulis Buku Biology of Belief mengatakan kalau salah satu karakter yang menandai tingginya tingkat kesadaran spiritual sebuah masyarakat adalah bagaimana mereka memperlakukan alam. Leluhur kita terdahulu tentu memperlakukan alam dengan penuh penghormatan, menjadikan alam sebagai bagian keluarga, bukan sebaliknya disiksa, disakiti, diekploitasi dengan semena-mena. Prinsip-prinsip semacam itu yang kemudian memberikan Bali predikat pulau terbaik.

Sayangnya, seiring perkembangan jaman rupanya nilai-nilai luhur tersebut semakin tergerus, spirit di balik setiap ritual dan pemujaan terus mengendap sehingga pemujaan yang dilakukan pun menjadi semakin kering dari makna.

Bukankah suatu hal yang ironis, jika di masa silam dimana leluhur kita sangat sulit mempelajari Veda, yang bahkan mengenal Veda pun jarang (kecuali golongan Brahmana Pandita atau golongan elit) namun cara hidup dan ekspresi kehidupannya justru sangat Vedik, cara hidup dan prinsip-prinsip hidupnya merupakan implementasi nyata dari Veda itu sendiri. Sebaliknya, di saat sekarang agama telah menjadi komoditas yang tidak sulit lagi diakses, yang Veda bisa dibaca dan dibeli dengan mudah oleh semua golongan, yang sumber belajar terhampar di deretan toko buku sampai jutaan artikel di internet, tayangan televisi dan radio, sosial media dan banyak lagi, justru di saat semua orang memahami veda dan agama tapi sungai-sungai penuh limbah, sawah hilang, pepohonan terus berkurang, manusia dengan manusia penuh pertikaian dan hal-hal lain yang menandakan sangat jauhnya kita dari konsepsi mengenai vasudaiwah kutumbakan.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menilai dan menghakimi, namun hanya sebagai bahan refleksi semata, agar sama-sama djadikan bahan renungan kalau mungkin ada yang perlu diperbaiki dari cara kita menjalani kehidupan, apakah sudah sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para leluhur terdahulu dan kitab-kitab suci, atau malah sebaliknya perilaku kita jauh dari semua itu karena terlalu sibuk memperkaya diri dengan bahan bacaan yang lupa kita praktikkan.

Tags:
author