Kata Bijak, racun dari Pendukung Hare Krishna

No comment 113 views

Kata Bijak, racun dari pendukung Hare Krishna

Kata Bijak, racun dari pendukung Hare Krishna

Kata bijak sangat sering disampaikan atau di kemukakan di muka umum. Terutama bagi mereka yang ingin mendapat predikat orang bijaksana, malah agar atribut pakaian seorang suci yang dikenakannya, bisa mengangkat dirinya betul-betul dianggap sebagai orang suci.

Salah satu yang sering disampaikan adalah mudahnya orang Bali pindah agama karena kurangnya memahami Weda. Dan orang masuk kelompok Hare Krsna (HK) karena Hare Krishna memfocuskan diri dalam pengajaran Wedha..... dstnya....

Mungkin tidak salah apa yang dikatakan, tapi sejatinya mereka menuding dirinya sendiri, dan lebih tragis adalah mereka sendiri keliru memahami apa itu “Weda” dan apa itu “Sanatana Dharma”.

Dan para missionaris keyakinan, terutama seperti kelompok Hare Krisna dan juga sampradaya selalu membesar besarkan hal ini. Yang lebih parah adalah orang-orang yang beratribut orang suci terus bilang, bahwa Hare Krishna adalah nyama bali, kenapa harus ribut sesama nyama Bali.

Orang Bali yang menganut ajaran Hare Krsna adalah orang yang tidak memahami ajaran adiluhung “Siwa Budha” yang menjadi dasar Agama Hindu Bali. Karena mereka tidak paham sama sekali, makanya mereka masuk Hare Krisna. Tujuannya sederhana, yaitu untuk mendapat predikat suci, tanpa perlu melakukan diksa yg sejati, tanpa harus menjalani Dwija Aty. Tapi mereka ini, demi kata suci melekat pada dirinya, rela mengorbankan Agama, Adat, Tradisi dan Budaya Bali, untuk di konversi menjadi Hare Krsna. Inilah tragisnya, dan ini disebut degradasi spiritual.

Memahami Agama Hindu Bali, tidak cukup hanya membaca sloka suci Bhagavad Gita. Apalagi Bhagavad Gita yg di interpretasikan oleh Srilla Prabupada, yang jelas-jelas memberikan pemahaman yang jauh dari kebenaran yang terkandung didalamnya. Kata as it is dalam cover buku tersebut hanyalah gaya pemasaran penjual kecap, yang selalu mengatakan asli dan nomer satu.

Pertanyaannya, pembuktian asli tidak jelas, dan nomer satupun tidak pernah ada ajang kompetisi.

Yang lucu, adalah dongeng yang ditulis seorang Bhakta Hare Krishna, yang meminta masyarakat tidak perlu ragu lagi, bahwa Prabupada saat hidupnya telah bertemu Dewa Siwa, yang dia sebut Dewa Siwa adalah penyembah Krisna sejati.

Dongeng murahan seperti ini, tidak akan pernah ditemukan dalam ajaran Agama Hindu Bali. Hindu Bali mengajarkan empat step kehidupan, yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan hidup manusia, yaitu Brahmacari, Grehasta, Wanaprasta dan Biksuka.

Saat Brahmacari pemahaman terhadap Agama Hindu lebih dominan melalui Agama Pramana, yaitu memahami melalui buku dan guru suci. Meningkat di Grehasta sudah mulai berimbang Agama Premana dan Anumana Premana, disamping melalui buku dan guru suci sudah meningkat ke Anumana Premana, peningkatan kemampuan batin untuk menganalisa ajaran dari buku dan guru suci. Di tingkat Wanaprasta sudah meninggalkan Agama Premana dan masuk dalam dunia Anumana dan Praktiyasa. Kontemplasi batin untuk ke arah pelepasan keterikatan dan kesempurnaan kebahagian sejati. Sampai akhirnya masuk ke pemahaman Praktiyasa, melihat, merasa dan mengalami secara langsung ajaran kebenaran abadi atau Sanatana Dharma ini. Disini seorang telah menjadi Brahmana dalam tataran Catur Warna sejati.

Dilevel Biksuka ini seorang manusia sudah ngajegang Siwa didalam dirinya, atau “Nyiwa Raga” yg didasari batin ke Buddha-an, manusia yang sudah tercerahkan. Dan bila saatnya kembali ke Sunia Loka atau seorang Waisnawa/Bujangga menyebut Wisnu Loka, untuk manunggal dengan Narayana atau Parama Siwa atau Hyang Buddha. Inilah ajaran Hindu Bali yang telah menyatukan dalam senyawa yg begitu kuat synergitasnya antara ajaran Siwa, Budha dan Waisnawa. Inilah Sanatana Dharma sejati.

Lantas bagaimana dikatakan “as it is” bila mengatakan diri sebagai Waisnawa tapi hanya di level Penyembah?
Yaitu level Brahmacari yang sangat tidak sempurna.
Artinya bila sebagai siswa, mereka itu siswa yang bodoh, tapi merasa pintar serta ditambah dg keras kepala.

Kembali lagi kepada orang bijak yang mengatakan bahwa mereka penganut Hare Krisna adalah nyama. Lantas dimana “nyama” nya? Atau mereka yang berbicara bijak tersebut sejatinya belum mencapai batin yang bijak. Atau 11/12 dengan penganut Hare Krsna.

author