Ketidakadilan bagai nyebit tali tiying

No comment 892 views

Ketidakadilan bagai nyebit tali tiing

Tali, yang di Bali digunakan untuk keperluan upacara adat dan agama, umumnya dibuat dari tiying (bambu). Teknik membuat tali dari bambu disebut menyebit atau lebih dikenal dengan istilah "nyebit tali".

Tidak sembarang orang bisa nyebit-tali. Diperlukan keterampilan (pengalaman dan latihan) yang memadai untuk itu, karena tali yang dihasilkan mestilah lemuh (lentur) dan tipis. Untuk itu diperlukan pisau atau blakas (pisau tebal, sejenis badik) yang tajam. Bambu yang digunakan untuk membuat tali juga bukan sembarang bambu. la adalah bambu (khusus) untuk tali (tiying tali). Bila digunakan bambu lain, tali yang dihasilkan jelek dan renyah (getas). Di Bali, bambu (tiying) dibedakan jenisnya menurut kegunaannya dalam menunjang kegiatan yang ada.
Misalnya;
ada tiying semat, karena bambu ini khusus membuat biting untuk merangkai janur untuk canang. yang lainnya ada tiying jelepung, tiying kuning, tiying sunari, tiying dui (duri), dan lain sebagainya.

Tali bambu atau Tali tiying kecuali tali palpalan yang digunakan untuk mengikat "bubu celeng" (casing pengangkut babi potong), dibuat tipis-tipis dan memang cenderung mempertipis yang sudah tipis. Itulah esensinya, bahwa ada terkandung kesan pilu dibalik kegiatan membuat tali tersebut.

Kegiatan nyebit tali temyata dikonotasikan negatif dalam kehidupan nyata, sebagai mempermiskin orang yang (sudah) miskin, memojokkan (lagi) orang yang terpojok dan kisah-kisah sedih lainnya. Bila kita berbuat seperti itu, maka kita dikatain orang seperti nyebit tali

Berkaitan dengan sebit-menyebit-tali ini, di Bali ada sebuah sesonggan (pepatah) yang berbunyi:

"cara nyebit tali, ngambis kacerikan"
(seperti membuat tali, mempertipis yang tipis)

Esensi dari sesonggan ini seperti yang diuraikan sebelumnya. Untuk membuat lebih terang arti sesonggan diberikan suatu ilustrasi seperti berikut ini.
hanya sebagai contoh perumpamaan saja...
Nyoman Limbak misalnya, adalah krama (warga) yang tiwas (miskin), dan kurang dalam segalanya. Pendek kata, dia melarat.
Selama ini, Limbak yang tiwas ini merasakan ada aturan-aturan (awig) di desa pekraman (desa adat) yang justeru lebih mempersulit orang kecil seperti dia, sedangkan orang-orang sugih (kaya) dan mempunyai akses ke kelompok pimpinan (peduluani) kurang "disentuh" oleh aturan tersebut.
Limbak dan orang-orang senasibnya menyebut keadaan seperti itu sebagai : cara nyebit tali, ngambis kacerikan (seperti membuat tali, menipiskan yang sudah tipis).

Ngambis kacerikan ini boleh jadi ada di masyarakat Bali, tetapi merupakan fenomena umum di tengah-tengah masyarakat yang lebih luas, bahkan mungkin di manapun.

Walaupun dalam kegiatan membuat tali ada ungkapan miris yang menyertainya, namun kegiatan membuat tali dalam kehidupan sehari-hari (di Bali) itu tetap ajeg karena dalam setiap acara apapun (adat dan agama) kehadiran tali bambu ini senantiasa diperlukan. Tali dibutuhkan untuk membuat bangunan upacara, seperti tetaring (tenda) dan bahkan sampai mengikat kue bantal.

Selain digunakan dalam kegiatan upacara adat dan agama, tali tiying (bambu) juga digunakan dalam kegiatan lainnya, misalnya bagi petani peternak, tali-tali tiying yang tipis ini bisa dipintal menjadi "tali palpalan". Tali pintalan ini digunakan untuk mengikat sapi agar tidak terumbar, bahkan untuk menelusuk (mencocok) hidungnya. Sayang sekali, tali tradisional yang artistik ini kini sudah jarang dibuat orang. Kehadiran tali plastik telah membuat tali palpalan menjadi masa lalu.

Pesan Kebijaksanaan Mutiara dari Bali

Ada nuansa ketidakadilan pada aktivitas menyebit tali.
Daripadanya, ada pelajaran yang berharga yang dapat diambil dari sesonggan (pepatah) cara nyebit tali ini. Ketidakadilan selalu menyisakan kepedihan, tentu saja bagi yang menjadi korban ketidakadilan itu.

Berlaku adil, mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan.
Meskipun demikian, setidaknya mesti senantiasa belajar berbuat adil. by udayana

"Saat para pemimpin menjalankan hukum menegakkan keadilan dan memenuhi kebutuhan hidup rakyatnya dengan baik, saat itu juga para pemuka yang bijaksana bersama-sama menegakkan kebenaran" (Atharvaveda XX.1 38.2)

author