Kisah Kematian Sri Krisna

No comment 14579 views

Kisah Kematian Sri Krisna

Menurut kitab Mahabharata, wafatnya Sri Krisna disebabkan oleh kutukan Gandari, kejadian ini tercatat dalam "Stri Parwa". Kemarahannya setelah menyaksikan kematian putera-puteranya menyebabkannya mengucapkan kutukan, karena Kresna tidak mampu menghentikan peperangan. Setelah mendengar kutukan tersebut, Kresna tersenyum dan menerima itu semua, dan menjelaskan bahwa kewajibannya adalah bertempur di pihak yang benar, bukan mencegah peperangan. Wejangan Kresna tentang kewajiban sebagai berikut :

Sreyan svadharmo vigunah, paradharmat svanusthitat. Svadharme nidhanam sreyah. Paradharmo bhayavahah

Lebih baik menjalankan kewajiban sendiri meskipun tidak sempurna, daripada menjalankan kewajiban orang lain dengan sempurna. Lebih baik mati ketika menjalankan kewajiban sendiri, karena menjalankan kewajiban orang lain itu bahaya

Kurukan itu terbukti 36 tahun kemudian, dengan terjadinya kehancuran bangsa Yadawa dan berakhirnya hidup Sri Krisna, yang dtercatat dalam "Moksala Parwa", dimana seorang pemburu yang keliru melihat sebagian kaki Kresna seperti rusa kemudian menembakkan panahnya dan menyebabkan Kresna mencapai keabadian.

Kisah Kematian Sri Krisna berdasarkan Parwa inilah yang paling valid, karena secara umum, sosok Sri Krisna hanya ada dalam setting Itihasa Mahabharata. namun belakangan, setelah bangkitnya jaman Weda di india sesaat setelah dua kali dihantam arus perubahan besar yakni ajaran budha yang sempat mengikis ajaran weda dan kemudia diikuti oleh datangnya bangsa Mugal dengan ajaran Islamnya, para cendikiawan wedantis berupaya bangkit dengan terobosan-terobosannya, kemudian mulai dibangkitkannya purana. semenjak itu, mana Krisna muncul dalam beberapa purana, seperti Wisnu Purana dan Srimad Bhagawata atau Bhagawata Purana, yang diusung belakangan oleh kelompok Hare Krisna.

.

berikut ini alur cerita kematian Sri Krisna:

Stri parwa

 

Mosala parwa

Mosala parwa atau Mausala parwa mengisahkan musnahnya para Wresni, Andhaka dan Yadawa, sebuah kaum di Mathura-Dwaraka (Dwarawati) tempat Sang Kresna memerintah. Kisah ini juga menceritakan wafatnya Raja Kresna dan saudaranya, Raja Baladewa.

 

Versi Buddhis

dalam versi agama budha, wafatnya krisna tercatat dalam Jataka no.454, Ghaṭapaṇḍitajātakavaṇṇanā. Jataka di Khuddaka Nikaya hanya berisi syair, sedangkan narasi berasal dari atthakata

Yang menarik dari beberapa versi catatan kematian Krisna, yang kemudian ditafsirkan oleh banyak kalangan yang menyebutkan bahwa Krisna adalah sosok TUHAN yang menjelma sebagai "manusia". nah, dari kata sebagai manusia, itu membuktikan bahwa Krisna bukan Tuhan, tetapi manusia seutuhnya yang memperoleh pencerahan sebagai akibat karma positif yang menyelimuti sebelumnya, silahkan baca Bhagawad Gita IV.5, yang mengindikasikan Krisna hanyalah Manusia yang tercerahkan, bukan tuhan yang dikonfirmasi dalam Mosala Parwa. hal ini juga dterkonfirmasi dalam Aswamedha Parwa, dimana Sri Kresna dikisahkan lupa dengan Wejangannya sendiri (Bhagavad Gita) ketika Arjuna ingin mengulanginya lagi.

kemudia ada yang memaksakan menafsirkan sebagai berikut:
Bangsa Yadawa terkenal tidak terkalahkan sehingga menjadi sombong, arogan kasar dan gemar mabuk-mabukan dan di sekitar hutan saat itu, justru sedang terjadi perang dashyat yang berujung musnahnya bangsa Yadawa.

bagaimana mungkin ada seorang Pemburu yang begitu santainya tak terusik dan masih berburu?

ingatlah, dan baca ulang kisahnya di mosala parwa...

"...Akhirnya para keturunan Wresni, Andhaka dan Yadu tewas semua di Prabhasatirtha, dan disaksikan oleh Kresna..... Sri Krisna kemudian pergi ke hutan tempat dimana Balarama menunggunya... Kresna kemudian duduk... Kemudian ia memulai menutup panca indrianya..."

itu setting cerita setelah usai perang, dan tentu saat seperti itu beliau pasrah... dan tentu saja ini buah dari kutukan sebagai jalan kematian krisna, krisna itu sosok manusia seperti para maharesi sebelumnya, yang bisa terlahir kedunia dan pasti mati kemudian untuk menutup hidupnya.

pertanyaan kedua,

Sebagai seorang pemburu rusa, tentunya ia mengerti prilaku rusa yang sangat waspada dan gampang terkejut, maka bagaimana mungkin masih terdapat rusa disekitar perang besar bangsa Yadawa tersebut?.

ingat setting ceritanya di hutan...

sudah tentu banyak kemungkinan yang terjadi, mungkin saja pemburu sedang mengejar buruannya, tetapi yang jelas pemburu melepaskan anak panahnya ke arah sasarannya. dan ternyata yang terkena itu krisna. ini namanya hukum karma, apapun bisa terjadi dan ingat hukum karma itu universal, jangankan sosok manusia krisna, para dewa saja terkena lingkar hukum universal ini. silahkan simah kembali Adi Parwa, bagaimana para dewa Wasu di hukum, begitu pula dewa-dewa lainnya dalam purana.

nah, pertanyaan berikutnya,

Satu kebetulan menarik lainnya adalah arti nama Jara adalah usia tua, Sehingga ada pendapat juga bahwa kematian Krisna yang di panah pemburu bernama Jara adalah sebuah metaphora? yaitu wafat karena usia tua.

bila sebuah kejadian di Parwa adalah metafora, mungkinkah parwa lainnya bukan metafora...?

bila kejadian wafatnya Sri Krisna dianggap sebuah kiasan, maka kelahirannya juga merupakan kiasan, dan semua kejadian dalam Mahabarata juga merupakan kiasan. jadi Itihasa bukan sejarah yang beranr-benar terjadi, karena isinya hanyalah metaforik. ini membuktikan bahwa segala asumsi untuk menyatakan Ketuhanan Krisna tidak valid. sebab Itihasa itu bukan kiasan, tetapi realita sejarah.

sumber:

Stri Parwa 11.15, http://www.sacred-texts.com/hin/m11/m11024.htm

Mosala Parwa 16, http://www.sacred-texts.com/hin/m16/

Ananda Marga, home.online.no/~pandava/indrekamp.htm

jataka 454, www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/ghata-jataka-2/

Kitab Bhagawad Gita

Bhagawad Gita IV.5

author