Kita tidak sedang Membenci India, Kita Tengah Memuliakan India

Kita tidak sedang Membenci India, Kita Tengah Memuliakan India

Membaca George Coedes - Jejak Indianisasi di Nusantara

Siapa saja yang berminat mendalami sejarah klasik Asia Tenggara tentu tidak bisa melupakan nama George Coedes. Sebagai sejarawan yang getol meneliti sejarah Asia Tenggara, karya-karyanya tak bisa dilupakan begitu saja. Di Asia, Coedes adalah peneliti Prancis terkemuka— dalam kurun waktu 62 tahun (1904-1966), ia hampir menerbitkan 800 artikel mengenai kebudayaan Asia Tenggara klasik.

Coedes tak cuma meminati bidang linguistik dan filologi. Sebagai arkeolog dan ahli efigrafi ia meneliti langsung sumber primer data-data kebudayaan klasik Asia Tenggara. Jasa penting Coedes tentang Asia Tenggara adalah menelusuri kanal-kanal perkembangan Hindu-Budha di wilayah yang teramat luas ini. Sebelum peneliti lain melanjutkan usaha Coedes, ia boleh dibilang peletak dasar studi kuna Asia Tenggara.

Berkat ketekunan itu, pada tahun 1964, terbitlah studinya yang masyur, berjudul: Les Etats hindouises d’Indochine et d’Indonesie. Menyajikan penelusuran yang luas tentang pengaruh Hindu-Buddha di Asia Tenggara. Buku ini akhirnya menjadi rujukan mendasar bagi mereka yang berminat mendalami kebudayaan kuna Asia Tenggara—serta-merta mengantarkan Coedes sebagai peneliti Prancis terkemuka di abad ke-20.

Dalam rangka kerja sama Pusat Kebudayaan Prancis di Indonesia, kendati buku ini sudah terbilang klasik, karya rintisan ini kembali diterbitkan dalam terjemahan bahasa Indonesia, dengan judul: Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha (2010). Mereka yang berminat mempelajari dasar-dasar kebudayaan Asia Tenggara, buku ini tentu tak bisa dilewatkan—pembaca setidaknya mendapat gambaran bagaimana proses indianisasi itu berkembang ke tanah seberang.

Memang buku setebal 436 halaman ini dimulai dari pembicaraan bagaimana indianisasi itu terjadi di Asia Tenggara. Menurut Coedes, pelaut-pelaut India yang berlayar ke Indocina dan Nusantara pertama-tama tak hendak menyebarkan agama. Awalnya pelaut-peluat itu cuma kepincut emas dan rempah-rempah. Tapi dalam perjalanan yang panjang, serta-merta disambut kesadaran lokal, indianisasi tak terhindarkan, akhirnya. Proses ini sekaligus memberi warna dasar bagi kebudayaan dan kepercayaan rakyat Asia Tenggara.

Tersebarnya peradaban India ke kawasan pulau-pulau timur bersamaan waktunya dengan ekspansi peradaban Cina, dan merupakan kejadian terpenting dalam sejarah dunia, salah satu kejadian yang telah menentukan nasib sebagaian besar manusia. “Sementara India sebagai tempat yang telah melahirkan kebijaksanaan,” tulis Sylvain Levi sebagaimana dikutip Coedes.

India, tulis Sylvain Levi, memberikan ilmunya kepada negeri-negeri tetangga yang akan menyebarkannnya ke seluruh dunia. Sebagai tempat yang melahirkan iman dan falsafah, India memberikan dewa, suatu agama, suatu doktrin, dan suatu kesenian kepada tiga perempat benua Asia. Bahasa saktinya, sastranya, pranata-pranatanya, dibawanya ke Nusantara sampai ke batas dunia yang dikenal, dan dari situ beralih ke Madagaskar, mungkin sampai ke pantai Afrika, di mana kedatangan orang India sekarang rupanya mengikuti jejak-jejak yang kabur (hlm-10).

Sebagaimana amatan Coedes, indianisasi ini telah melahirkan sejumlah kerajaan yang pada mulanya betul-betul menjadi negeri-negeri serupa dengan negeri India, kemudian berubah mengikuti lokal jenius tersendiri akibat pengaruh kebudayaan setempat. Tetapi semua negeri ini mirip dari segi kebudayaan karena asal-usulnya sama: Kamboja, Champa, negeri-negeri kecil di Semenanjung Tanah Melayu, kerajaan-kerajaan di Sumatra, di Jawa dan di Bali, kerajaan Burma dan kerajaan Thai. Yang terakhir ini menerima kebudayaan India melalui bangsa Mon dan bangsa Khemer.

Anehnya, tulis Coedes, India cepat melupakan bahwa kebudayaan sampai ke kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Cendekiawan-cendekiawan India tidak mengetahuinya sampai baru-baru ini, ketika sekelompok kecil di antaranya, yang belajar bahasa Prancis dan Belanda, dapat mengikuti kuliah profesor-profesor di Universitas Paris dan Lieden. Dengan membaca hasil penelitian dari Prancis, Belanda, dan Jawa, mereka menemui sejarah suatu kawasan yang dengan kebanggaan yang wajar sekarang dinamakan “Greater India” oleh mereka.

Dalam penulisan buku ini Coedes merujuk sebagian besar prasasti yang tersebar di Asia Tenggara, di samping dengan teliti membaca juga babad-babad setempat, serta sumber-sumber asing, asal Cina, Arab, maupun Eropa. Menurutnya, sumber-sumber ini penting karena kronologinya terperinci, walau di sana-sini ada banyak kelemahan. Sebelum melebar berbicara tentang indianisasi, Coedes mengawali bab pertamanya dengan melukiskan “Kawasan dan Penduduknya, memuat gambaran geografis, ringkasan pengetahuan tentang prasejarah dan atropologi Indocina dan Nusantara. Menurutnya penting menjelaskan beberapa garis besar tentang dasar yang menerima peradaban India. Rupanya Coedes sengaja memilih cara penulisan buku ini sesuai periode zaman, serta pelukisan kawasan geografi—tentang cara bagaimana lekuk liku kebudayaan India itu sampai di negeri seberang.

Dengan penjelasan ini Coedes sampai pada satu penjelasan, bahwa indianisasi itu pada pokoknya harus dipahami sebagai tersebarnya suatu kebudayaan yang terorganisir, yang berlandaskan konsep India tentang kerajaan, yang ciri-ciri khasnya adalah agama Hindu atau agama Buddha, mitologi Purana, kepatuhan pada Dharmasastra, dan yang cara pengungkapannya adalah bahasa Sansekerta. Alih-alih “indianisasi” orang kadang cenderung menggunakan istilah “Sansekertanisasi.”

Sudah tentu peradaban India yang dipindahkan ke Asia Tenggara itu harus dilacak melalui sumber-sumber epigrafi dan arkeologi sesuai negeri masing-masing. Karenanya sumber-sumber itu mesti dibedakan, diberi nama sebagai Hindu Khmer, Hindu Jawa, Hindu Thai, dan sebagainya. Sumber-sumber ini sekaligus memetakan bahwa Hindu yang berkembang di Asia Tenggara adalah bentuk-bentuk yang telah menyesuaikan diri dengan kearifan lokal.

Menurut Gabriel Ferrand, sebagaimana dikutip Coedes, mulanya orang India merupakan perantau di tanah yang belum dikenal itu tidak mempunyai juru bahasa. Jadi mereka harus belajar bahasa pribumi. Menyusul perkawinan mereka dengan anak penguasa setempat—dan baru saat itulah pengaruh peradaban dan agama orang asing dapat berdampak dengan kemungkinan akan berhasil. Istri mereka yang pribumi diberi pelajaran untuk itu, menjadi perantara paling baik untuk menyebarluaskan pemikiran-pemikiran dan kepercayaan baru. Sebagai putri penguasa, tentu ia dapat menyebarkan kepercayaan itu lebih leluasa.

Sebagaimana penelitian Coedes, sejarah kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha awal di Asia Tenggara bermula pada abad ke-2 Masehi. Yang paling kuno dan yang paling banyak diketahui berkat para sejarawan Cina, adalah Fu-nan dan Lin Yi. Fu-nan, pendahulu kamboja di lembah Mekong Hilir, dalam abad ke-2 Masehi memperluas penaklukan-penaklukannya sampai ke Semenanjung Tanah Melayu, dan agaknya merupakan semacam kemaharajaan atau serikat negeri-negeri kecil yang diindianisasikan, dan rajanya memakai gelar “Raja Gunung” atau “Sailendra” (hlm-331).

Dalam paruh kedua abad ke-6 Masehi, kemaharajaan Fu-nan runtuh, menyusul bangkitnya kerajaan Hindu Khmer atau Kamboja—kemudian pada akhir abad ke-7 muncul perluasan begitu cepat kerajaan Sriwijaya di Sumatra. Di Sriwijaya Buddhisme ternyata berkembang pesat. Catatan perjalanan dari Pendeta I-tsing (634-713) memperjelas, bahwa dalam perjalanannya dari Cina ke India tahun 671 I-tsing singgah di negeri Sriwijaya enam bulan lamanya untuk mempelajari Sabdawidya (tata bahasa Sansekerta) sebagai persiapan kunjungan ke India. Lalu ketika pulang dari India pada tahun 685 I-tsing bertahun-tahun menetap di Sriwijaya untuk menerjemahkan naskah-naskah agama Buddha ke dalam bahasa Cina.

Begini I-Tsing mencatat sebagaimana kemudian dibicarakan kembali sejarahawan Nia Kurnia Sholihat Irfan (1983), “Ketika angin timur laut mulai bertiup, kami berlayar meninggalkan Kanton menuju selatan. Lebih kurang dua puluh hari berlayar, kami sampai di negeri Sriwijaya. Di sini kami berdiam selama enam bulan belajar sabdadwipa. Sri baginda sangat baik pada saya. Beliau menolong mengirimkan saya ke negeri Malayu.” Demikian catatan I-tsing, saat pertama kali ia menginjakkan kaki di negeri Sriwijaya. Kala itu tahun 671— di mana selama enam bulan pendeta Cina asal Kanton ini belajar tata bahasa Sansekerta, sebelum nantinya ia belajar ke India.Menurut I-tsing, di Sriwijaya berdiam seorang guru agama Buddha yang masyur, bernama Sakyakirti. Dalam kota Sriwijaya yang berbenteng itu, terdapat lebih dari seribu pendeta Buddha yang tengah mempelajari dan meneliti ajarannya. Mereka mempelajari seluruh masalah secara nyata di Madhyadesa, India. Aturan dan upacara semuanya tidak berbeda dengan India. Oleh karena itu jika ada pendeta Cina yang ingin pergi ke India untuk mendengarkan kuliah atau membaca naskah-naskah Buddha asli, alangkah baiknya jika ia berdiam di Sriwijaya selama satu atau dua tahun untuk berlatih atauran-aturan umum, dan sesudah itu baru berangkat ke India.

Begitulah catatan I-tsing tentang negeri Sriwijaya lebih dari seribu tahun silam. Setelah sekian abad meredup kota ini diberi nama Palembang. Namun negeri yang juga disebut Swarnadwipa ini tak lekang dari ingatan sejarah. Kota landai yang dikitari rawa ini memang meninggalkan banyak jejak peradaban Hindu-Buddha. Berlayar di Sungai Musi yang dikitari rumah-rumah terapung, melongok ke Benteng Kota Besak di pinggiran Jembatan Ampera, berziarah ke Bukit Siguntang tempat di mana banyak peninggalan situs Buddha, atau melancong ke Candi Bumi Ayu di Muara Enim, nyata bahwa di abad ketujuh, wilayah ini pernah menjadi pusat kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Asia.

Dan hampir sezaman dengan Sriwijaya, Jawa menjadi pusat-pusat pertumbuhnya kerajaan-kerajaan Hindu-Budha paling marak. Sayang sebagimana dilaporkan Coedes, pada tahun 1478, Majapahit mengalami serbuan yang asalnya diperdebatkan, dan mulai tahun 1486 muncul suatu dinasti baru, yaitu dinasti Girindrawardana, yang masih berkebudayaan Hindu-Buddha seperti terbukti dari prasasti-prasastinya. Utusan terakhir dari Jawa ke Cina dikirim pada tahun 1499. Dan Islam keburu berkembang cepat di tahun itu.

Antara tahun 1513-1528 tidak ada lagi kabar tentang kerajaan Majapahit. Akan tetapi tidak dapat dikatakan telah terjadi kejatuhan secara tiba-tiba dari hantaman kaum muslim. Lebih tepat dikatakan bahwa ibu kota merosot secara perlahan saat pemukiman-pemukiman di pelabuhan berada di tangan kaum Muslim, mengalami kemakmuran dan kekuasaan yang bertambah besar. Dan kebudayaan Hindu-Budha mengungsi ke daerah-daerah tertentu di sebelah timur Jawa dan terutama di Bali. Maka pulau ini menjadi pusat kecendekiawanan yang sampai sekarang menyimpan inti kesusastraan Hindu-Buddha. Dan di titik ini Bali pemegang peran penting untuk Nusantara, pemegang sinkritisme Siwa-Buddha, sama halnya seperti Tibet untuk masa India beragama Budha, demikian tulis Coedes dengan hati-hati. (pleh I Wayan WestaPenulis, Pekerja Kebudayaan)

author