Kontroversi Mpu Kuturan dengan Senapati Kuturan

No comment 52 views

Kontroversi Mpu Kuturan dengan Senapati Kuturan

Ada argumen menyebutkan Mpu Kuturan datang di Bali pada zaman pemerintahan Sri Dharmmodayana Warmadewa. Ia banyak membangun tempat suci (pura) di Bali, juga terdapat beberapa silang interpretasi.

Versi Jawa 

Mpu Kuturan adalah seorang pendeta atau rohaniwan berasal dari Majapahit (Usana Bali). Referensi lain menyebutkan, keberadaan Mpu Kuturan yang bersaudara kandung dengan Mpu Genijaya, Mpu Ghana, Mpu Semeru, Mpu Bharadah hidup pada zaman pemerintahan Airlangga tahun 1019.

Mungkinkah seorang resi membangun pura pura yang ada di Bali? Karena seorang resi (pertapa) berusaha hidup melepaskan keterikatan duniawi dan hidup dari hasil pajak kerajaan. Mengapa konsep yang dibuat oleh Mpu Kuturan dalam penataan tempat suci (pura) yang ada di Bali tidak lazim terdapat di Jawa, seperti ada Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem, Pura Panti, Pura Segara, Pura Tambak Kurung. Dengan perkataan lain, terdapat pemujaan berdasarkan atas karakteristik atau sifat kekhasan dari pura tersebut, yaitu ada pura umum (sad kahyangan, Kahyangan Jagat), pura teritorial (kahyangan desa), pura fungsional (pura subak, pura melanting, pura sagara, dll), pura kawitan (sanggah kamulan, pura ibu, pura panti, pura dadya).

Pada zaman pemerintahan raja-raja Bali-Kuno, pertapaan para pendeta hidup dari tunjangan hasil pajak yang diberikan oleh raja. Para pendeta kerajaan diangkat dan diberikan wewenang untuk mengurus pertapaan dan tempat pemujaan raja oleh raja yang berkuasa saat itu. Begitu sebaliknya, seorang raja akan diangkat dan disahkan serta diberikan gelar ke-dewa-an oleh para pendeta kerajaan. Raja Bali-Kuno pada akhir pemerintahan bersifat konsisten menjalani kehidupan wanaprasta, yaitu melepaskan keterikatan dunia materi, dengan hidup menyepi atau pergi ke tempat yang lebih tinggi (gunung) untuk mencari keagungan Tuhan. Sedangkan Mpu Kuturan banyak disebut-sebut dalam Usana Bali yang ditulis setelah Bali ditaklukkan oleh Majapahit.

Prasasti Dadya Pajenengan dan Prasasti Pasek Bandesa, alih aksara lontar Kantor Dokumentasi Budaya Bali tahun 1998, menjelaskan, dari Batara Brahma lahir seorang putra bernama Brahmana Pandita nama lain Mpu Witadharma, menurunkan seorang putra bernama Mpu Wiradharma, menurunkan tiga orang putra, yang sulung bernama Mpu Lampita, yang menengah Mpu Adnyana, paling bungsu bernama Mpu Pastika.

Mpu Lampita melahirkan dua orang putra, yang sulung bernama Mpu Pakuturan dan adiknya bernama Mpu Pradah. Jadi prasasti ini bertentangan dengan Bancangan Pasek Gelgel di atas, dimana Mpu Lampita menurunkan lima orang putra yaitu Brahmana Pandita (Mpu Gnijaya), Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, Mpu Bradah. Dalam prasasti Dadya Pajenengan dan prasasti Pasek Bandesa dinyatakan menurunkan dua putra, Mpu Pakuturan dan Mpu Pradah, tidak muncul nama Mpu Ghana, Mpu Semeru, dan Mpu Gnijaya.

Dalam Babad Pasek yang disusun Jro Mangku Ketut Soebandi (2004:20,36), Mpu Kuturan muncul dua periode, yaitu zaman pemerintahan Raja Sri Udayana Warmadewa tahun Saka 923/1001 Masehi dan pada zaman pemerintahan Raja Sri Masula Masuli tahun Saka 1246/1324 Masehi.

Dalam lontar Raja Purana Pura Lempuyang, Gamongan, muncul Mpu Kuturan bersama keturunan Sri Pasung Grigis dan Sri Jaya Katong sekitar tahun 1324 Masehi, dan banyak opini masyarakat yang mengungkapkan Mpu Kuturan identik dengan Senapati Kuturan (versi Bali).

Dalam serat Calonarang yang digubah tahun 1540, menceritakan kejadian lima ratus tahun lalu, Mpu Baradah diutus oleh raja Erlangga ke Bali untuk menawarkan salah satu anaknya menjadi raja di Bali, karena anaknya mempunyai hak waris menjadi raja Bali. Sebelum Mpu Baradah menemui sang raja, secara protokoler, seorang tamu wajib mengikuti aturan-aturan yang ditentukan oleh penguasa Bali saat itu. Proses Mpu Baradah sebelum menemui sang raja diwajibkan menghadap sang senapati (mahapatih) sebagai panglima perang saat itu. Saat itu ia diterima oleh sang Senapati Kuturan. Tidak secara tegas menyebutkan siapa nama pejabat Senapati Kuturan saat itu.

Dalam buku Sejarah Bali Dwipa oleh ND. Pandit Shasri (1963:53) tertulis, hal yang perlu diingat ialah bahwa prasasti-prasasti yang berhubungan dengan diri Mpu Bharada yang dihubungkan dengan diri Mpu Kuturan, tidak ada dikeluarkan pada zamannya. Prasasti yang didapatkan di Jawa Timur (Aksobyah) berangka tahun 1289 Masehi bertentangan dengan keterangan yang menyatakan bahwa ia datang pada zaman pemerintahan Raja Sri Udayana.

Kalau dicermati, periode tahun kedatangan Mpu Kuturan di Bali, Isaka 923/1001 Masehi dan dihubungkan dengan kedatangan Mpu Gnijaya pada tahun Isaka 971/1049 Masehi, terdapat tenggang waktu yang sangat mencolok sekali selama 48 tahun. Mungkinkah periode selama 48 tahun pendeta Mpu Gnijaya baru tiba di Bali?

Dalam bagan silsilah MGPSSR, Mpu Bharadah yang datang ke Bali pada era keberadaan Mpu Kuturan tahun Isaka 923/1001 Masehi, menurunkan putra Mpu Bahula, menurunkan putra Mpu Tantular (Mpu Wiranatha), menurunkan putra Danghyang Smaranatha, menurunkan putra Mpu Nirarta yang tiba di Bali tahun Isaka 1382/1460 Masehi. Jadi interval waktu selama 460 tahun, mungkinkah Mpu Baradah hanya menurunkan empat generasi saja?

Dalam catatan prasasti raja-raja Bali-Kuno, belum ditemukan Mpu Kuturan menjadi pendeta kerajaan Sri Dharmma Udayana Warmadewa yang berkuasa saat itu. Jabatan pendeta hanya dikeluarkan oleh para sekte/agama yang berkembang pada zaman itu, misalnya disebut dang acharya (sekte Siwa), dang upadyaya (sekte Budha), rsi bhujangga (sekte Waisnawa) dan sebagainya. Disamping itu, untuk menjadi orang suci berdasarkan garis keturunan (sapinda) misalnya, raja Sri Gnijaya setelah memerintah melakukan hidup suci (wanaprasta) di Lempuyang tetap memakai nama Gnijaya, begitu pun yang melanjutkan pertapaan setelahnya, yaitu Sri Maha Sidhimantra Dewa, Sri Indracakru, Sri Pasung Grigis, Sri Rigis, Sri Pasung Giri tanpa amari aran atau berganti nama..

Versi Bali 

Senapati Kuturan adalah sebuah jabatan mahapatih kerajaan (bukan nama yang menjabat, pejabat), secara stuktural langsung di bawah raja dan bertanggung-jawab atas tempat pemujaan raja yang ada di wilayah Kuturan / Kutur.

Kata senapati berasal dari bahasa sanskerta sena dan pati. Sena berarti tentara sedangkan pati berarti raja. Jadi senapati berarti raja atau pemimpin tentara. Terdapat beberapa jabatan senapati yang dikenal pada masa pemerintahan Bali-Kuno antara lain, Senapati Balembunut, Senapati Dinganga, Senapati Denda, Senapati Mahiringin, Senapati Sarbwa, Senapati Kuturan, Senapati Waransi, Senapati Wrasanten.

Beberapa kutipan prasasti yang menjelaskan Kuturan adalah nama tempat/wilayah, adalah salinan Prasasti Bwahan dialih aksara dan diterjemahkan oleh Putu Budiastra pada kelompok III A4 tahun Saka 1068/1146 Masehi, yang dikeluarkan oleh raja Sri Jayacakti, berbunyi;

..... lawan karaman i wikang ranu maser Kedisan, Bwahan, Air Hawang, tan ategen wilwangharepa salwiran i pamuja nira Sri Maha Raja mare Kutur mwangngi Turunan, apan . . .
[..... selanjutnya krama desa-desa di tepi danau yaitu Kedisan, Bwahan, Air Abang, tidak dipaksa untuk ikut melakukan penghormatan terhadap pemujaan paduka Sri Maha Raja yang ada di Kutur maupun di Turunan karena .....]

Prasasti Pengotan Saka 1103/1181 Masehi, dikeluarkan pada zaman pemerintahan Sri Jaya Pangus, berbunyi:

..... mangkana yan hana kapamwatan ri tani karaman i udanapatya tan parabyaparan denira ri padecyannya, makadi sirakmitan Kuturan tan kna pabharu, lawan wnanga yanawunga .....
[..... demikian pula apabila ada yang membebani penduduk desa di udanapatya tidak boleh mengganggu penduduk desa seperti umpamanya mereka menjaga di Kuturan tidak dikenakan pabharu (iuran) dan diperkenankan mengadakan sabungan ayam .....]

Dalam salinan prasasti Selat, Saka 1103/1181 Masehi dikeluarkan oleh Raja Sri Jaya Pangus, halaman 4 b berbunyi:

..... ngawineh wnang wiku rsi momah sumlaping ring karaman tan katempahana denda waci ring Kuturan..... 
[....alasan diijinkan seorang resi berumah samping krama tidak dikenakan iuran (kewajiban) yang tinggal di Kuturan ....]

Salinan Prasasti Selumbung, Saka 1250/1328 Masehi dikeluarkan oleh Raja Sri Maha Guru, halaman II a 4 berbunyi:

....tan kna padeci ring Kuturan, lawan karaman ing Salumbung ...
[....tidak kena iuran (kewajiban) tinggal di Kuturan, juga warga di Selumbung ....]

Dalam prasasti Batuan, tahun Saka 944/1022 Masehi, dikeluarkan oleh raja Sri Marakata Pangkaja Tunggadewa, dikatakan: bahwa untuk kesejahteraan penduduk desa, terdapat sawah paduka raja yang tidak ada yang mengerjakan, itulah sebabnya sawah tersebut diberikan (punya) kepada salah satunya untuk Sang Senapati yang ada di Kuturan, dijadikan pelaba pura, yang terletak di perbatasan Batuan.

Ada dua Senapati Kuturan yang muncul pada zaman pemerintahan Sri Dharmodayana yaitu: dalam Prasasti Serai tahun Saka 915/993 Masehi, muncul De Senapati Kuturan Dyah Kuting dan Prasasti Batur Pura Abang tahun Saka 933/1011 Masehi muncul De Senapati Kuturan Dyah Kayop (Goris, R,1954:82, 89). Dengan demikian, kalau dihubungkan Mpu Kuturan (versi Jawa) adalah seorang Brahmana, yang datang dari Jawa dan mendapat jabatan menjadi Senapati Kuturan (versi Bali) dalam pemerintahan Raja Sri Dharmodayana atau menjadi seorang ksatria Bali, lalu yang manakah nama satu di antara dua nama tersebut di atas?

Konsep meru dikatakan dibangun pada era Mpu Kuturan sebagai bagawanta kerajaan Sri Udayana, Isaka 911/989 M, perlu ditinjau lebih lanjut, karena era itu bentuk palinggih atau konsep ”meru” belum ada, Meru = merumah artinya tempat kediaman para pendeta zaman Bali Kuno. Hal ini diperkirakan dari nama-nama dewa dan tempat suci pada awal sejarah Bali antara lain, Hyang Danawa = Dewa Danau (tempat suci yang ada di pinggir danau yang dipuja dewa danau. Hyang Gunung = Dewa Gunung, menjadi setiap gunung ada Pura Pengayatan, Hyang Api = Dewa Api menjadi Pura Hyang Api, Hyang Pertiwi = Dewa Bumi dan lain sebagainya.

Masing-masing tempat ada dewa yang distanakan.

Sekarang nama tempat suci pada awal sejarah Bali antara lain, salunglung sekarang persesuaian bunyi menjadi sanggah selumbung. Satra = setra, (tempat suci kuburan). Katyagan = Kahyangan (Pura Dalem Kahyangan), Sma = semadi, tempat semadhi, Karangasem asal kata Karang Sma atau tempat semadi raja Sri Gnijaya, Padmak menjadi padma, panglumbyagan, mandala, wihara dan lain sebagainya.

Raja setelah memerintah konsisten melakukan hidup suci ke tempat yang lebih tinggi (gunung) melakukan hidup sederhana, lepas dari keterikatan dunia materi, melakukan tapa, brata, yoga, semadi, dengan spirit alam sekitarnya. Misalnya, Pura Tirta Empul, Tampaksiring dibangun oleh raja Sri Candrabhaya Warmadewa jadi raja bali Isaka 889/967 M, di halaman tersuci ada palinggih utama bebaturan “tanpa atap” yang disebut palinggih Tapasana, hanya ditumbuhi padang ilalang tumbuh di atasnya. Juga di Pura Lempuyang berupa batu bekas tempat duduk raja Sri Gnijaya di kala melakukan semadi, berupa batu bulitan yang tidak boleh dipindahkan, sekarang ini dikurung dengan pacek saji. Hal ini artinya, konsep bentuk, personifikasi dewa, dan tempat suci tuhan di awal peradaban Bali belum ada. Mereka hanya datang ke tempat tinggi, sunyi, duduk tepekur menyatukan pikirannya dengan spirit alam sekitarnya.

Itu tadi konsep mencari Tuhan ke tempat yang lebih tinggi (ke atas) dan sekarang konsep menurun alias nga-neben (ke tanah). Pada zaman dahulu dikiaskan kalau ke tempat menurun adalah menuju kuburan, contoh, Pura Gunung Kawi adalah bekas perabuan raja Sri Marakata dan Sri Aji Hungsu yang hidup tahun 1011, bentuk simbul mahkota raja (meru) masih menempel di ceruk/ tebing menyebar di Tukad Pakerisan, Pura Pengukur-ukuran tempat perabuan raja Sri Jaya Pangus, Pura Durga Kutri tempat perabuan Sri Mahendradatta yang letaknya sangat berjauhan dengan kerajaannya di Bali Utara dan semua bekas tempat pertapaan dan tempat perabuan para raja, dan prasasti prasasti raja yang ditinggalkan sekarang berdiri sebuah pura kahyangan jagat.

Di zaman pemerintahan Raja Sri Masula-Masuli yang menjadi raja Bali Isaka 1250/1328 M, muncul konsep Sapta Giri, konsep meru di ceruk/tebing dan beberapa candi batu di aplikasikan di desa desa, dan distanakan di Pura Puseh dengan bentuk palinggih utama berupa meru tumpang 7 (pitu), adalah lambang tujuh gunung yang dipuja saat itu, yaitu Gunung Lempuyang, Andakasa, Batukaru, Agung, Batur, Tulukbyu, Mangu, Puseh kemunkinan persesuaian bunyi pusat, tujuh gunung sebagai pusat kahyangan jagat pada era itu. Pura kuno umumnya terdapat palinggih pangayatan salah satu gunung, berupa meru, misalnya, palinggih gunung agung, palinggih gunung lebah, palinggih gunung lempuyang dan sebagainya. Karena alasan tranportasi dan letak gunung berjauhan, maka dari pura puseh saja diyakini sudah cukup untuk memuja-Nya.

Dalam prasasti-prasasti yang dikeluarkan raja-raja Bali-Kuno, Senapati Kuturan muncul dalam berbagai zaman pemerintahan, yaitu mulai zaman pemerintahan Sri Dharmmodayana Warmadewa (Prasasti Serai Saka 915/993 Masehi) sampai akhir pemerintahan Bali-Kuno, Sri Astasura Ratna Bumi Banten (Prasasti Langgahan Saka 1259/1337 Masehi). Selama 344 tahun terdapat 18 (delapan belas) jabatan Senapati Kuturan dengan berbagai nama yang mejabat berikut:

  1. De Senapati Kuturan Dyah Kuting (Prasasti Serai Saka 915/993 Masehi, Raja Sri Udayana).
  2. De Senapati Kuturan Dyah Kayop (Prasasti Batur Pura Abang Saka 933/1011 Masehi, Raja Sri Udayana).
  3. De Senapati Kuturan Pu Gawaksa (Prasasti Sembiran Saka 938/1016 Masehi, Raja Sri Ajnadewi).
  4. Sang Senapati Kuturan Mpu Angdona Menang (Raja Sri Ragajaya).
  5. Sang Senapati Kuturan Pu Angurucuk (Prasasti Depa, dan Prasasti Bwahan Saka 1068/1146, Raja Sri Jayasakti).
  6. Sang Senapati Kuturan Wirika Raga (Prasasti Tjampetan Saka 1071/1159 Masehi, Prasasti Sading B Saka 1072/1160 Masehi, Raja Sri Jayasakti). 
  7. Sang Senapati Kuturan Pu Jagahita (Prasasti Babandem, Raja Sri Jayasakti).
  8. Sang Senapati Kuturan Pu Angga Menang (Prasasti Dausa, Raja Sri Jayasakti).
  9. Senapati Kuturan Pu Nirjanma (Prasasti Sembiran, Prasasti Kediri, Prasasti Bwahan, Prasasti Sukawana, Prasasti Selat, Prasasti Batunya, Prasasti Cempaga, Prasasti Sukawati, Prasasti Serai, Prasasti Tonja, dll, Saka 1103/1181 Masehi, Raja Jaya Pangus).
  10. Senapati Kuturan Pu Wahita (Prasasti Pengotan).
  11. Senapati Kuturan Pu Waning Tengah (Prasasti Kintamani D).
  12. Senapati Kuturan Pu Jita Yoga (Prasasti Pengotan D Saka 1103/1181 Maswehi, Raja Sri Jaya Pangus).
  13. Senapati Kuturan Pu Nijasa (Prasasti Pengotan D Saka 1103/1181 Masehi),
  14. Senapati Kuturan Pu Raga Dira (Prasasti Pangsan).
  15. Sang Senapati Kuturan Pu Kandara (Prasasti Pura Kehen B).
  16. Sang Senapati Kuturan Pu Bodhisatwa (Prasasti Pengotan A II dan Prasasti Ubung A, Raja Anak Hungsu).
  17. Senapati Kuturan Makakasir Dalang Camok (Prasasti Cempaga Saka 1246/1324 Masehi, dan Prasasti Tumbu Saka 1247/1325 Masehi, Prasasti Selumbung Saka 12501328 Masehi).
  18. Senapati Kuturan Makakasir Mabasa Sinom (Prasasti Langgahan Saka 1259/1337 Masehi, Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten).

Interelasi dari dua versi di atas, Sang Senapati Kuturan sebuah istilah, jabatan mahapatih kerajaan Bali-Kuno secara stuktural langsung di bawah raja dan berkewajiban memelihara tempat suci paduka raja yang ada di wilayah kuturan/kutur. Para senapati bertugas mengimplementasikan perintah raja ke rakyatnya dalam pembangunan di segala bidang, termasuk pembangunan tempat-tempat suci. Pada era itu sebutan atau gelar seorang pendeta bukan Mpu. Kata-kata Mpu, Pu, Umpu, Mpukwing, dipakai bagi setiap orang yang mempunyai keahlian pada bidangnya/para ahli, misalnya, Mpu Gandring seorang ahli di bidang keris dan persenjataan. Mpu Tantular ahli dalam bidang kesusastraan. Mpu Prapanca ahli dalam bidang politik pemerintahan. Khusus untuk penyebutan seorang pendeta selalu diawali dengan kata Mpungkwing, contoh, mpungkwing binor dang acharya resi taruna = yang terhormat di binor gelar pendeta siwa bernama resi taruna dan sebagainya. Kemungkinan kata Mpu ini menajdi kata Ipun dalam bahasa Bali sekarang. Karena data sejarah belum mendukung atau kurang lengkap sehingga Senapati Kuturan ini diasumsikan oleh masyarakat awam identik dengan Mpu Kuturan, seorang pendeta dari Jawa yang diceritakan banyak membangun tempat-tempat suci di Bali. 

author