Kontroversi Pura lempuyang madya

No comment 52 views

Kontroversi Pendiri Pura Lempuyang

Pura Lempuyang di Desa Adat Gamongan, Desa Tiyingtali, umumnya disebut Pura Lempuyang Madya adalah stana Mpu Gnijaya, perlu ditinjau lebih lanjut. Ada dua versi yang menyebutkan tentang penggunaan nama Gnijaya sebagai pemancang tonggak sejarah berdirinya Pura Lempuyang, yakni versi Jawa dan versi Bali, berikut komparasi antara:

Versi Jawa,

Mpu Gnijaya, dalam Bancangan Pasek Gelgel, alih aksara lontar Kantor Dokumentasi Budaya Bali menjelaskan :

…. kemudian Mpu Lampita berputra 5 orang laki-laki, lahir dari panca bayu, susunan namanya, yang tertua, sang Brahmana Pandita, saudara yang kedua Mpu Semeru, yang ketiga Mpu Ghana, yang keempat Mpu Kuturan, yang bungsu Mpu Bradah, selanjutnya Mpu Brahmana Pandita, beristrikan putri Sang Hyang Putrajaya yang bergelar Bhatari Manik Gni, di situ Mpu Brahmana Pandita ganti nama, Mpu Gnijaya sebutan beliau.

Dalam prasasti tembaga Pasek Gelgel Saka 1749/1827 Masehi, disimpan di Desa Tampekan, Banjar, Buleleng, alih-aksara oleh Putu Budiastra, tahun 1979, menjelaskan, dari ketiga belas lembar tembaga yang tebalnya tidak kurang dari 1 melimeter itu pada tiap-tiap halamannya digoresi enam baris huruf Bali lumrah serta bahasa Bali yang diselingi bahasa Jawa tengahan belakangan, tergolong kelompok paling muda, yaitu kelompok prasasti kelas tiga yang dapat disejajarkan dengan kelompok babad atau pun pamancangah lainnya, seperti berikut:

Iti kawitan i pasek gelgel, bhatara brahma mayoga, hana sang ratu sareng ring sang bhujangga, nga, mpu wittadharma, mabatur ring kuntuliku, mpu wittadharma mahanak mpu wiradharma, mabatur ring kuntuliku, ki mpu wiradharma, mahanak wayah, nga, maharan ki mpu lampita, ne manngah, ki mpu adnyana, pamuruju, ki mpu pastika, sira anukla brahmacari, ki mpu lampita mahanak ki mpu kuturan, ari mpu baradah.....

[Ini kawitan I Pasek Gelgel, bhatara brahma mayoga, lahir sang ratu bersama sang bujangga, bernama, Mpu Wittadharma, bertempat tinggal di Kuntuliku. Mpu wittadharma menurunkan putra Mpu Wiradharma, bertempat tinggal di Kuntuliku. Mpu Wiradharma menurunkan putra yang sulung bernama Ki Mpu Lampita, yang menengah Ki Mpu Adnyana, yang bungsu Ki Mpu Pastika, beliau tidak menikah. Ki Mpu Lampita menurunkan putra Ki Mpu Kuturan, Ari Mpu Baradah .....]

Jadi dalam prasasti ini tidak muncul nama Mpu Semeru, Mpu Ghana, dan Mpu Gnijaya.

Sedangkan dalam babad Pasek diungkapkan tentang Mpu Gnijaya bersanak saudara sama seperti tersebut di atas, berasal dari Desa Lemah Tulis, Jawa Timur, tiba di Bali tahun Saka 971/1049 Masehi berasal dari keturunan Mpu Lampita, dan Mpu Lampita berasal dari keturunan Mpu Wiradharma. Sedangkan Mpu Wiradharma berasal dari keturunan Mpu Withadharma.

Menurut prasasti Dadya Pajenengan dan prasasti Pasek Bandesa, alih-aksara lontar Kantor Dokumentasi Budaya Bali tahun 1998, dari Batara Brahma lahir seorang putra bernama Brahmana Pandita nama lain Mpu Witadharma, menurunkan seorang putra bernama Mpu Wiradharma, yang menurunkan tiga orang putra. Yang sulung bernama Mpu Lampita, yang menengah Mpu Adnyana, bungsu bernama Mpu Pastika.

Mpu Lampita melahirkan dua orang putra, yang sulung bernama Mpu Pakuturan dan adiknya bernama Mpu Pradah. Jadi, prasasti ini bertentangan dengan Bancangan Pasek Gelgel di atas, dimana Mpu Lampita menurunkan lima orang putra yaitu Brahmana Pandita (Mpu Gnijaya), Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, Mpu Bradah.Sedangkan dalam prasasti Dadya Pajenengan dan Prasasti Pasek Bandesa tidak muncul nama Mpu Ghana, Mpu Semeru, dan Mpu Gnijaya.

Dalam prasasti Dadya Pajenengan dan prasasti Pasek Bandesa Mpu Witadharma (Brahmana Pandita) adalah kumpi dari Mpu Kuturan dan Mpu Pradah, bukan saudara kandung Mpu Gnijaya (Brahmana Pandita) seperti dalam Bancangan Pasek Gelgel. Jadi, Brahmana Pandita mempunyai dua nama lain: dalam Bancangan Pasek Gelgel ia disebut Mpu Gnijaya, sedangkan dalam Dadya Prasasti Pajenegan dan Prasasti Pasek Bandesa ia disebut Mpu Witadharma. Mpu Lampita dalam Bancangan Pasek Gelgel menurunkan lima orang putra, sedangkan dalam Prasasti Dadya Pajenengan dan Prasasti Pasek Bandesa Mpu Lampita menurunkan dua orang putra.

Oleh para penekun sastra, Mpu Wthadharma ini di-identik-kan dengan Sri Mahadewa Pu Withadarma, saudara kandung Sri Gnijaya (versi Bali) yang menjadi raja Bali tahun 1150. Terdapat perbedaan tahun yang sangat bertentangan antara Mpu Withadharma leluhur dari Panca Resi berasal dari Bali, keberadaannya sekitar abad ke-8, sedangkan Sri Mahadewa Pu Withadarma adik kandung Sri Gnijaya keberadaanya abad ke-11. Tahun kedatangan Mpu Gnijaya Isaka 971/1049 Masehi adalah zaman pemerintahan raja Sri Haji Hungsu yang dicandikan di Pura Gunung Kawi.

Dalam pemerintahan raja-raja Bali-Kuno, apabila sang raja wafat di kala menjalani roda pemerintahan, tradisi pengangkatan seorang raja biasanya langsung ke putra kandung atau ahli waris. Tapi, bila putra kandung masih kecil, belum cukup umur untuk memerintah, biasanya akan diganti oleh adik sang raja, atau kerabat dekat raja yang lain. Dalam hal ini, seandainya Mpu Withadharma (versi Jawa) saudara kandung dengan Sri Gnijaya (versi Bali) seharusnya keturunan beliau pernah menduduki tapuk pemerintahan Bali-Kuno.

Siapakah keturunan Mpu Witadharma dan Mpu Gnijaya yang pernah memegang tapuk pemerintahan di Bali? Mungkinkah Mpu Gnijaya setelah membangun Pura Lempuyang beliau langsung balik ke Jawa, dan keturunan beliau Sang Sapta Rsi hidup di Jawa, dan siapakah keturunan beliau yang melanjutkan di Lempuyang?

Dalam buku tafsir sejarah Nagara Kretagama ditulis oleh Slamet Muljana (2006:26) secara tegas menyebutkan tidak muncul pendeta Kuturan saudara kandung Mpu Gnijaya dalam dinasti Dharmodayana Warmadewa. Disamping itu periode kedatangan Mpu Gnijaya ke Bali tahun Isaka 971/1049 Masehi dengan adik kandung Mpu Kuturan yang tiba lebih awal tahun Isaka 923/1001 Masehi, terdapat tenggang waktu selama 48 tahun. Apakah saat itu sang pendeta belum uzur dan apa yang terjadi pada kedua Brahmana Agung itu selama tenggang waktu 48 tahun, sehingga sang kakak baru tiba di Bali.

Versi Bali, Sri Gnijaya

Sri Gnijaya dalam Piagem Dukuh Gamongan, juga dalam Prasasti Pura Puseh Sading, Kapal, Badung, disebutkan Sri Gnijaya bersanak saudara yang nomor dua bernama Sri Maha Sidhimantra Dewa, yang ke tiga Sri Mahadewa Pu Withadarma, yang ke empat Sri Maha Kulya Kulputih, yang ke lima Ratu di Jawa, Madura.

Pura Lempuyang yang terletak di Desa Adat Gamongan, Tiyingtali, Karangasem, sekarang dikenal sebagai Pura Lempuyang Madya, adalah bekas tempat pertapaan raja Sri Jaya Sakti, yang memerintah Bali tahun Saka 1055/1133 Masehi. Setelah mengakhiri kekuasaan, ia melakukan wanaprasta atau mendirikan pedharman (tempat suci) di Gunung Lempuyang sesuai tertulis dalam Prasasti Pura Puseh Sading, Kapal, Badung, dan didukung oleh salinan Lontar Piagem Dukuh Gamongan, milik Ida Padanda Gede Jelantik Sugata dari Griya Tegeh Budakeling, Karangasem, alih aksara oleh I Wayan Gede Bargawa. Lontar ini menyebutkan, pada tahun Saka 1072/1150 Masehi, bulan Hindu kesembilan, pada tanggal dua belas  bulan paro terang, wuku julungpujut, pada hari itulah saatnya Sri Paduka Sri Maharaja Jaya Sakti menyidangkan para senapati, terutama para rakyan Mahapatih dan para Tandra Mantri di balai istana raja untuk memperbincangkan hasrat baginda Sri Maharaja Jaya Sakti bersama permaisurinda, hendak beranjangsana ke desa-desa di Bali yang ada di Gunung Karang. Adapun minat baginda datang ke sana karena melaksanakan tugas perintah dari ayahanda, yaitu Sanghyang Guru, yang hendaknya supaya mendirikan tempat suci (pedharman) di Gunung Lempuyang.

Setelah itu, pertapaan dilanjutkan oleh anaknya yang pertama, yaitu Sri Gnijaya, menjadi raja di Bali tahun 1150-1155, dan dilanjutkan oleh adik Sri Gnijaya, yaitu Sri Maha Sidhimantra Dewa, dan dilanjutkan oleh anak dari Sri Maha Sidhimantra Dewa, yaitu Sri Indra Cakru, yang menjadi raja Bali tahun 1250. Pemerintahan dilanjutkan oleh anak Sri Indra Cakru yang bernama Sri Pasung Grigis. Karena Pasung Grigis tidak menikah (nyukla brahmacari) dan tidak mempunyai keturunan, diangkatlah keponakannya, yaitu Sri Rigis (anak Sri Jaya Katong) untuk ngamong (bertanggung jawab) di Desa Gamongan, Gunung Lempuyang. Selanjutnya ia diganti oleh anak Sri Rigis, yaitu Sri Pasung Giri, dilanjutkan oleh anak Sri Pasung Giri, yaitu Dukuh Sakti Gamongan dan keturunannya. Raja Sri Gnijaya menurunkan seorang putra bernama Sri Jaya Pangus, menjadi raja Bali pada tahun 1177 Masehi.

Pada zaman pemeritahan raja-raja Bali-Kuno, jabatan seorang pendeta disebut dang acaryya untuk pendeta sekte Siwa dan dang upadhyaya untuk pendeta sekte Buddha, bhujangga sebutan pendeta untuk sekte Waisnawa, pitamaha sebutan pendeta sekte Brahma, bhagawan sebutan pendeta untuk sekte Bhairawa. Masing-masing sekte/agama yang ada di Bali saat itu mempunyai pendeta dengan gelar atau sebutan dan idenditas diri masing-masing.

Kata-kata Pu, Mpu, Umpu, Mpungkwing selalu mengikuti pada awal penyebutan nama seseorang, tuan, para ahli, misalnya, mpungkwing binor dang acaryya rsi taruna (tuanku yang terhormat di binor pendeta siwa rsi taruna), mpungkwing kutihanar dang upadhyaya antaraga (tuanku yang terhormat di kutihanyar pendeta budha bernama antaraga), atau sang senapati balembunut pu anakas (sang mahapatih di balembunut yang terhormat bernama anakas), sang senapati kuturan mpu wahita (sang mahapatih di kuturan yang terhormat bernama wahita), dan sebagainya. Tetapi, khusus untuk penyebutan nama awal seorang pendeta selalu diikuti kata mpungkwing bukan menggunakan kata Mpu, Pu. Dalam purana Pura Pucak Bukit Gede, Purana Bali Dwipa, dikisahkan Sri Jayasakti/Sri Gnijaya Sakti adalah seorang raja Bali, yang membangun pertapaan suci di Gunung Lempuyang, raja yang gagah berani, berbudi luhur, dermawan, berpikiran suci.

Para pendeta selalu diutamakan dan diajak menata pemerintahan di Bali. Ia taat melakukan tapa, brata, semadhi memuja Hyang Widhi dan tak lupa memuja para leluhur. Sri Gnijaya Sakti sebagai panutan dalam pengembangan desa-desa termasuk menemui para warga, dan sang prabhu selalu dituruti oleh rakyatnya.

Setelah berakhirnya pemerintahan Bali-Kuno, terjadi penataan pemerintahan baru, yang dulunya seorang pendeta mewakili dari agama/sekte yang dianut, walaupun dari kelompok keturunan manapun dia, sekarang seorang pendeta mewakili masing-masing kelompok warga (gotra). Misalnya, Ida Padanda sebutan pendeta bagi warga Ida Bagus, Sri Mpu sebutan pendeta untuk warga Pasek, Dukuh sebutan pendeta bagi warga Bali-Kuno, Rsi Bhagawan sebutan pendeta untuk warga para Gusti, Rsi Bhujangga sebutan Pendeta untuk warga Sengguhu, Sira Mpu sebutan pendeta untuk warga Pande, dan lain sebagainya.

Sri Jaya Sakti sebagai pencetus pertapaan di Gunung Lempuyang, dilanjutkan oleh keturunannya, yaitu Sri Gnijaya, Sri Maha Sidhimantra Dewa, Sri Indracakru, Sri Pasung Grigis, Sri Rigis, Sri Pasung Giri, Dukuh Sakti Gamongan, menjadi orang suci di Lempuyang tanpa amari aran (ganti nama) yang diberikan oleh guru nabe dalam acara madiksa (pentahbisan). Berdasarkan uraian di atas, yang menjadi pertanyaan adalah,

  • siapakah yang merintis dari awal sejarah keberadaan Pura Lempuyang Gamongan, antara Mpu Gnijaya dan Sri Gnijaya?
  • Yang manakah nama beliau satu diantara dua nama tersebut? 

Walaupun mempunyai data awal berupa piagem, prakempa, babad sebagai pedoman kelompok warga MGPSSR tetapi tidak tercantum kisah leluhurnya terdahulu dalam purana dan prasasti yang ada di pura Lempuyang, maka isi naskah itu diragukan kebenarannya alias mengambang.

Begitupun sebaliknya bila prasasti tembaga dan prasasti batu yang dikeluarkan oleh raja pada zamannya, dan menjadi pedoman pura tetapi tidak tertulis namanya dalam purana dan piagem maka teks itu perlu dianalisis keberadaannya. Dan yang terakhir bila mempunyai purana sebagai data awal keberadaan sejarah pura dan mengisahkan nama-nama raja dan turunannya, tetapi tidak muncul namanya dalam prasasti yang dikeluarkan sebagaimana raja-raja yang lain, serta tidak tercantum nama leluhur warga dalam purana, mengakibatkan kebingungan dalam menguraikan tinggalan naskah itu. Dengan demikian naskah satu dengan naskah yang lain mesti saling menceritakan antara teks prasasti dan purana milik pura tertentu dengan piagem, prakempa, babad milik suatu kelompok warga.

Bila tidak terdapat saling keterkaitan dan berdiri sendiri atau saling tumpang tindih isi naskah satu dengan naskah lain maka dapat menimbulkan pembelokan sejarah. Disamping menjadi acuan munculnya palinggih atau pura baru.

DAFTAR PUSTAKA

Beberapa data sekunder yang dipakai pedoman dalam penulisan atikel ini dapat dibagi dalam beberapa klasifikasi, sebagai berikut:

  1. Prasasti, adalah aturan resmi yang dikeluarkan oleh raja pada zamannya sendiri disaksikan strukturisasi pemerintahanya. Teks prasasti jarang menjelaskan tentang asal usul keturunan para raja itu. Prasasti umumnya ditulis diatas tembaga, batu, perunggu, tahan ribuan tahun, sangat disucikan dan di stanakan di pura.
  2. Purana, isinya menceritakan kejadian yang telah lewat tentang kisah para raja serta keturunannya dan dikaitkan dengan mitos para dewa yang berstana di gunung sekitarnya. Purana ditulis diatas daun lontar menjadi pedoman untuk kelanjutan dari pangemong dan pangempon pura itu. Dalam purana tercatat nama leluhur warga yang merintis keberadaan sejarah pura. Purana pun disimpan di pura.
  3. Piagem, adalah pegangan dari kelompok warga (klen) yang isinya menceritakan kisah leluhur mereka terdahulu dan keterkaitan dengan keberadaan purana dan prasasti dari pura tertentu.
  4. Prakempa, adalah pegangan dari klompok warga (klen) yang isinya menceritakan sekelumit jejak leluhur mereka yang hanya ada di desa setempat.
  5. Babad adalah cerita yang didengar, dari mulut ke mulut, bisa bersumber dari nak kerauhan (trance) atau hasil perenungan seseorang lalu ditulis dan dikait-kaitkan dengan nama tertentu, tanpa sumber sejarah yang jelas, menjadi milik pribadi.
  6. Hasil deskripsi seseorang dalam persyaratan memperoleh gelar kesarjanaan di perguruan tinggi. Ironisnya jika para akademisi memakai acuan babad dalam menulis suatu karya ilmiah lalu dijadikan pedoman oleh umat kebanyakan maka hasilnya bertentangan dengan apa yang tercantum dalam prasasti dan purana.

Walaupun mempunyai data awal berupa piagem, prakempa, babad sebagai pedoman kelompok warga tetapi tidak tercantum kisah leluhurnya terdahulu dalam purana dan prasasti yang ada di pura, maka isi naskah itu diragukan kebenarannya alias mengambang.

Begitupun sebaliknya bila prasasti tembaga dan prasasti batu yang dikeluarkan oleh raja pada zamannya, dan menjadi pedoman pura tetapi tidak tertulis namanya dalam purana dan piagem maka teks itu perlu dianalisis keberadaannya. Dan yang terakhir bila mempunyai purana sebagai data awal keberadaan sejarah pura dan mengisahkan nama-nama raja dan turunannya, tetapi tidak muncul namanya dalam prasasti yang dikeluarkan sebagaimana raja-raja yang lain, serta tidak tercantum nama leluhur warga dalam purana, mengakibatkan kebingungan dalam menguraikan tinggalan naskah itu.

Dengan demikian naskah satu dengan naskah yang lain mesti saling menceritakan antara teks prasasti dan purana milik pura tertentu (Pr Lempuyang) dengan piagem, prakempa, babad milik suatu kelompok warga (MGPSSR) Bila tidak terdapat saling keterkaitan dan berdiri sendiri atau saling tumpang tindih isi naskah satu dengan naskah lain maka dapat menimbulkan pembelokan sejarah. Disamping menjadi acuan munculnya palinggih atau pura baru.

Tadinya tidak ada palinggih Mpu Kuturan, palinggih Mpu Ghana, palinggih Mpu Semeru, palinggih Bradah sekarang ini muncul palinggih baru karena BABAD (oleh Pak Bawa)

author