Kritik untuk Kembali pada Kitab Suci

No comment 727 views

Kritik untuk Kembali pada Kitab Suci

Idaanim dharma pramaanaanyaa.
Wedo'khilo dharma mulam Smrtisile ca tadvidam
Aacaaracaiva saadhuunaam Aatmanastustireva ca. (Manawa Dharmasastra II.6).
Seluruh pustaka suci Weda (Sruti dan Smrti) sumber dari Dharma. Kemudian barulah Sila (tingkah laku yang suci). Lalu kemudia muncul Acara (kebiasaan Weda) dan kepuasan Atman.

SLOKA Manawa Dharmasastra tersebut adalah sistem penerapan Dharma atau sistem pembumian kebenaran Weda. Ia benar-benar nyata menjadi penuntun kehidupan umat Hindu. Umat manusia yang mengamalkan ajaran Weda itu berada pada lingkup kekuasaan ruang dan waktu. Adanya perubahan ruang dan waktu itu maka ia mengalami perubahan secara terus-menerus dalam pentradisinya.

Tradisi Hindu, acara itu harus terus-menerus dikembalikan pada sumbunya yaitu kitab Sruti dan Smrtinya. Setiap perubahan kalau ada yang dirasakan menyimpang dari sumbernya maka carilah sumbernya yang lebih tinggi. Apabila ia acara (tradisi Weda), sumbernya adalah Sila. Sila itu sumbernya adalah Smrti. Sumber yang tertinggi adalah Weda Sruti. Demikianlah menurut Sloka Manawa Dharmasastra yang dikutip diatas.

Dinamika pengamatan Weda, tentunya tidak akan menimbulkan permasalahan kalau dinamika perubahan itu selalu bersumber pada dharma atau kebenaran Weda. Masalah akan muncul kalau dinamika pengamalan dharma dari Weda itu sudah semakin jauh dari sumbunya. Konflik pasti akan timbul kalau dinamika itu tidak berjalan diatas relnya dharma. Kalau dinamika itu ada di luar rel dharma pasti akan ada yang dirugikan atau disengsarakan.

Demikianlah halnya umat Hindu di Indonesia. Pada zaman Majapahit, agama Hindu dianut di seluruh Nusantara. Dalam proses perkembangan Hindu, ada kesalahan menerapkan ajaran suci Weda, akhirnya umat Hindu merosot drastis dan tinggal di Bali. Di Bali kehidupan beragama Hindu hanya dipelihara dengan adat-istiadat atau tradisi yang pada umumnya tidak dipahami arti dan makna dengan baik.

Dengan kemajuan zaman, banyak umat yang daya nalarnya meningkat dalam bidang Agama. Dari mereka ada yang makin paham bahwa banyak adat-istiadat yang bertentangan dengan sumbernya. Bagi umat Hindu yang peduli akan ajaran agamanya tentu menginginkan agama Hindu yang mereka anut diluruskan dari penyimpangan-penyimpangan tersebut. Mereka sering malu karena dicemooh oleh umat lain. Misalnya umat Hindu kok membeda-bedakan harkat dan martabat manusia dengan sistem Kastanya.

Pada hal dalam sumber ajarannya di Sruti, Smrti maupun dalam kitab Sastranya tidak ada konsep kasta itu. Yang ada adalah sistem Catur Varna yang sangat mulia. Demikian juga sistem Kepanditaannya tidak ada diajarkan dalam ajaran Hindu bahwa Pandita itu harus dari Wangsa tertentu saja. Tradisi Hindu yang bertentangan dengan sumber ajarannya sampai saat ini dirasakan masih sangat sulit mengembalikan pada sumber ajaran.

Oleh karena itu, kritik konstruktif dari dalam diri umat Hindu itu harus terus disalurkan. Jangan takut dikritik. Tidak ada kemajuan tanpa kritik. Kritik memang penting, tetapi autokritik jauh lebih penting. Asalkan kritik itu dilakukan dengan cara yang tidak membabi buta.

Sebelum kritik disampaikan, perlu didahului tahapan proses, dengan pengamatan dan analisis yang mendalam dan ilmiah. Hal ini untuk menggulirkan pembaruan dalam kehidupan beragama Hindu. Proses pembaruan dalam kehidupan beragama Hindu memang sudah digulirkan sejak lahirnya Piagam Campuan tahun 1961. Tetapi, dalam praktiknya banyak hal yang sudah ditetapkan dalam Piagam Campuan tersebut jalannya tersendat-sendat.

Memang ada kelompok tertentu yang sudah kadung mendapatkan kenikmatan sosial dan keuntungan material sangat sulit diajak melakukan perubahan kehidupan beragama yang makin mengarah pada terlaksananya agama Hindu sesuai dengan ajaran Weda. Mengembalikan berbagai tradisi yang menyimpang pada konsep Weda dan mempertahankan tradisi yang masih relevan tentu menimbulkan pro dan kontra.

Hal itu hendaknya dianggap sesuatu yang biasa dalam suatu proses sosial. Janganlah konflik seperti itu dianggap sebagai perpecahan. Masyarakat itu selalu berproses ada yang menuju asosiatif integratif dan ada juga yang mengarah disosiatif menuju deferensiatif. Semua proses sosial itu memiliki aspek negatif dan positif masing-masing. Ke mana pun arah proses sosial itu hendaknya menuju pada penegakan sumbu agama Hindu yaitu kitab suci Weda dan Sastra-sastranya. Atmanastuti bersumber dari tradisi Weda atau Acara. Acara bersumber dari Sila. Sila bersumber dari Smrti, dan Smrti bersumber dari Sruti.
ditulis oleh: I Ketut Gobyah
source: BaliPost

author