Lampit, Lampita dan Pralampita

No comment 1228 views

Lampit, Lampita dan Pralampita

LAMPIT umumnya adalah tikar dari rotan. Atau dari bambu, kadang-kadang. Di Bali "LAMPIT" adalah papan untuk meratakan lumpur sawah setelah dibajak.

LAMPIT menjadi instrumen penting meratakan. Rata adalah lembaran bertanam dan menulis, juga lembar duduk. LAMPIT di sawah meratakan, tikar lampit rata menjadi tempat duduk. Duduk (melinggih) sangat penting dalam "proses spiritualitas manusia Bali. Sebelum duduk (melinggih) "berdasar LAMPIT", pencari dan pejalan spiritual tidak akan bisa "de-deg" (kekeruhan air bisa diendapkan). Jika sawah telah dilampit, baru bibit ditanam. Jika sudah rata, sang bibit maksimal bertumbuh.

Dalam bahasa Jawa Kuno ada istilah yang jarang dipakai: LAMPITA berarti ucapan, kiasan, perumpamaan, atau TANDA atau bisa juga tulisan. Pra-lampita dan pra-lambang bermakna sejalan berarti karya sastra kakawin atau pusaka.

PRALAMPITA disebutkan sebagai PUSTAKA atau kitab pralambaṅ dalam Kakawin Korawāśrama:

36.10: maṅkana liṅ niṅ pralampita;

36.22: liṅ iṅ lĕpihan tanah pralampita;

96.24: acĕṅilan ikaṅ pralampita maṅke;

100.18: pralampita ṅaran iṅ pustaka;

112.25: maṅke pwa pralampita mami patut denta;

168.4: (Pāṇḍawa) makatulis iṅ bhuwana ... pinaka-isi niṅ pralampita.

PRALAMPITA adalah kitab ilmu tanda dan pralambang, pustaka pedoman memahami sesuatu yang lebih dalam dan sublim.

Dalam Lontar Usana Bali disebutkan salah satu Empu/Rsi dari PANCA RSI di Bali Kuno bergelar EMPU LAMPITA (beliau yang ahli tanda? beliau sang pembaca? ahli kitab?). Tabik pikulun, beliau EMPU LAMPITA bergelar juga EMPU TUNUHUN (Sinuhun? Nuhun? Tuhun?), berstana di Puncak Batukaru. Sang guru jagat, guru nabe Jawa Kuno dan Bali Kuno, dalam tradisi besar spiritualitas di Bali.

LAMPIT (baik alat pertanian untuk mempersiapkan lahan sebelum menanam benih, dan juga tikar lampit tempat duduk tenang), LAMPITA (lambang tanda dan metafora, serta tabik pikulun SINUHUN EMPU LAMPITA), serta PRALAMPITA (pustaka, kitab pralambang), ketiganya adalah warisan leluhur menuju pintu-pintu kehidupan yang lebih sungguh.

Oleh: Sugo Lanus

author