Makanan Satwika

No comment 86 views

Makanan Satwika
Sattvic foods

Makanan Satwika

Makanan Satwika (Sattvic foods) merupakan makanan-makanan yang menunjang kesehatan. Menurut Bhagawad Gita, makanan satwik tidak mengacu kepada salah satu menu. Bhagawad Gita memiliki pandangan universal kepada semua jenis makanan dengan syarat-syarat tertentu. Tiada ketentuan harus vegetarian ataupun wajib olahan daging, karena satwika mengacu pada kenikmatan dan kesehatan. Setiap makanan yang sehat dan nikmat untuk dilihat serta disantap merupakan makanan satwika.

Bhagawad Gita begitu umum memberikan pandangan satwika pada makanan. Sehingga pandangan ini berlaku universal, bagi daerah penduduk yang kesulitan mendapatkan tumbuhan, tentu makanan satwika di daerah tersebut mengacu pada olahan daging, entah itu daging mentah maupun daging yang sudah dimasak. berikut ini 7 syarat makanan yang bisa dimasukan kedalam "Makanan ENAK dan Satwika" menurut Bhagawad Gita:

  1. Memperpanjang kehidupan (āyuḥ sattva)
  2. memberikan kekuatan untuk kesehatan (bala ārogya)
  3. menimbulkan rasa senang dan menimbulkan kepuasan dalam menikmatinya (sukha prīti vivardhanāḥ)
  4. penuh sari/nutrisi (rasyāḥ)
  5. berlemak (snigdhāḥ)
  6. tahan lama (sthiraḥ)
  7. menyenangkan hati (hṛdyāḥ)

Disamping 7 syarat tersebut, ada beberapa kreteria makanan yang patut dicermati, seperti:

  • Dipersembahkan dahulu sebelum dikonsumsi (1.41; 3.13; dan 4.30)
  • Tidak menjadikan makanan sebagai beban dalam artian selalu menikmati makanan yang disajikan (6.16-17)

Tentu akan ada pertanyaan tentang Makanan Satwika,

apakah mengkonsumsi minuman keras (miras) atau minuman yang berAlkohol bisa dikategorikan makanan Satwika?

Jawabannya:
Tergantung si penikmat makanan... berikut ini contoh sloka berkenaan dengan konsumsi miras tersebut:

ubhau madhvāsavakṣiptāvubhau candanarūṣitau ।
sragvinau varavastrau tau divyābharaṇabhūṣitau ॥
.5

"(Aku melihat) keduanya (Krishna dan Arjuna) mabuk dengan Madhvâsava (minuman keras manis yang terbuat dari madu), keduanya dihiasi dengan pasta cendana, diikat, dan mengenakan pakaian mahal dan ornamen indah"

Kisah tersebut diutarakan oleh sanjaya kepada Prabhu Dhritarashtra dalam Mahabharata, tepatnya dalam Udyoga Parwa (Mahabharata 5.59.5). Yang patut disimak, apakah minuman beralkohol yang dikonsumsi oleh Sri Krishna tersebut termasuk makanan Satwika?

uccāvacān mṛgāñ jaghnur medhyāṃś ca śataśaḥ paśūn |
surā maireya pānāni prabhūtāny abhyahārayan ||
27
gāyanākhyāna śīlāś ca naṭā vaitālikās tathā |
stuvantas tān upātiṣṭhan sūtāś ca saha māgadhaiḥ ||
28

"ratusan rusa dari berbagai jenis dan hewan bersih dibunuh. Dan anggur dari berbagai jenis dan sari pohon yang memabukkan dikumpulkan dengan berlimpah"

Kisah penyembelihan ratusan hewan untuk perayaan pesta pernikahan yang diselenggarakana oleh keluarga raja Matsya dan Pandawa ini tertuang dalam Virata Parwa subbagian Go-harana Parva (Mahabharata 4.67.27-28), apakah mengkonsumsi daging hewan dan konsumsi anggur yang juga dihadiri Sri Krishna tersebut merupakan makanan Satwika?

kembali ke 7 syarat makanan satwika diatas, apakah setelah mengkonsumsi minuman beralkohol baik berupa Tetabuhan Arak, berem, tuak, anggur (wine) dll tersebut memiliki nutrisi yang dapat memberi efek positif bagi kesehatan? apakah setelah meminumnya dapat menimbulkan rasa bahagia dan terpuaskan? apakah minuman tersebut tahan lama dalam artian saat mengkonsumsinya tidak dalam masa expired?

apabila Sri Krishna bergembira dalam menikmati minuman beralkohol (miras) tersebut dan tidak mengganggu kesehatannya, tentu MIRAS tersebut masuk dalam kategori Makanan Satwik, namun bila hanya saat menikmati merasa senang, kemudian mabuk dan menyebabkan masalah dengan kesehatannya, maka minuman beralkohol tersebut BUKAN makanan satwika.


Berikut ini Sloka Bhagawad Gita yang berhubungan dengan Makanan, diantaranya: BG 1.41, BG 3.13, BG 4.20, BG 1.16, BG 6.17 dan BG 17.8.

patanti pitaro hy eṣāṁ lupta-piṇḍodaka-kriyāḥ ||1.41

leluhurnya (pitaraḥ) pasti (hi) merosot jatuh (patanti) akibat terhentinya (lupta) pelaksanaan (kriyāḥ) persembahan makanan (piṇḍa) dan air (udaka) dari keturunannya (eṣām).

yajña-śiṣṭāśinaḥ santo mucyante sarva-kilbiṣaiḥ |
bhuñjate te tv aghaḿ pāpā ye pacanty ātma-kāraṇāt ||
3.13

orang bijak (santaḥ) mengkonsumsi (aśinaḥ) sisa yadnya (yajña śiṣṭa) dibebaskan (mucyante) dari semua dosa (sarva kilbiṣaiḥ). Tetapi (tu) dia (ye) yang menyiapkan makanan (pacanti) untuk kepentingan sendiri (ātma-kāraṇāt) mereka (te) orang berdosa (pāpaḥ) yang menikmati (bhuñjate) dosanya (agham).

apare niyatāhārāḥ prāṇān prāṇeṣu juhvati | 4.30

orang lainnya (apare) mempersembahkan pengorbanan (juhvati) puasa [brata] (niyata) makanan (āhārāḥ), nafas (prāṇān) yang menjadi energi kehidupan (prāṇeṣu),

nāty-aśnatas 'tuyogo 'sti nacaikāntamanaśnataḥ | 6.16

tetapi (tu) Yoga (yogah) bukan untuk (na asti) orang yang makan (asnatah) berlebihan (ati), juga (ca) bukan (na) untuk orang yang menghindari makan [puasa] (anasnatah) sama sekali [terlalu] (ekantam),

yuktāhāra-vihārasya yukta-ceṣṭasyakarmasu | 6.17

orang moderat (cestasya) mengatur (yukta) kesenangan [hobby] (viharasya) dalam makanan (ahara) dengan mengelola (yukta) pelaksanaan kewajiban (karmasu),

āyuḥ-sattva-balārogya-sukha-prīti-vivardhanāḥ |
rasyāḥ snigdhāḥ sthirā hṛdyā āhārāḥ sāttvika-priyāḥ ||
17.8

Memperpanjang kehidupan (āyuḥ sattva) memberikan kekuatan (bala) untuk kesehatan (ārogya) meningkatkan [menimbulkan] (vivardhanāḥ) rasa bahagia [senang] (sukha) dan kepuasan dalam menikmati (prīti), penuh sari [nutrisi] (rasyāḥ) berlemak (snigdhāḥ) tahan lama (sthiraḥ) dan menyenangkan hati (hṛdyāḥ) disebut makanan satwika (āhārāḥ sāttvika) yang enak (priyaḥ).

author