Makna dan Pesan dalam Penjor Galungan

No comment 429 views

Makna dan Pesan dalam Penjor Galungan

Penjor sebagai Sarana Upakara/Upacara

Penjor merupakan sarana upakara "wajib" dipasang di setiap rumah pada saat menyambut Hari Raya Galungan. Selain untuk menyambut hari raya galungan, Penjor juga merupakan sarana pokok dalam upacara lainnya, misalnya menyambut Karya Agung Dewa Yadnya yang biasanya dilaksanakan di Pura Sad Khayangan, Dang Khayangan maupun Tri Khayangan; kelengkapan Sanggah/Bale Pingkupan saat piodalan setingkat madya; juga sebagai sarana pokok saat upacara ma-Biukukung yakni penghormatan kepada dewi sri atas rasa syukut akan panen padi, serta kelengkapan upacara lainya.

Kata "PENJOR" memiliki kesamaan kata dengan Penyor, yang memiliki arti secara umum yaitu Pengajum, atau Pengastawa, kalau dihilangkan huruf “ny” , menjadi kata benda yaitu Penyor yang berarti  sebagai sarana untuk melaksanakan Pengastawa.

Tujuan Pemasangan Penjor

Memasang Penjor bertujuan untuk mewujudkan rasa bakti dan sebagai ungkapan terima kasih kita atas kemakmuran yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan). Bambu yang melengkung adalah gambaran dari gunung tertinggi sebagai tempat yang suci, hiasan Penjor yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, jajan, dan kain adalah wakil dari semua tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan, yang dikaruniai oleh Hyang Widhi Wasa (Tuhan).

Bahan dan cara membuat penjor

Penjor merupakan Simbol Ular NAGA, sehingga dalam menghiasnya sewajarnya menyerupai Naga, dimana kepala naga berada dibawah dan diatas adalah ekornya.

Penjor simbol Naga Basuki
  • penjor haruslah dibuat dari sebatang bambu yang ujungnya melengkung, bambu ini sebagai gambaran "Badan Naga";
  • badan bambu itu dililitkan janur (busung) yang sudah dibuang tulang (lidi-nya), dililit dari badan (kira-kira setinggi kepala pemilik) hingga keujung bambu. lilitan ini bagaikan sabuk (ikatan) yang menggambarkan "kulit Naga";
  • kira-kira sejengkal diatas kepala, bambu dihiasi juga dengan dihiasi dengan janur/daun enau yang muda, dililit hingga terlihat seperti "rambut Naga";
  • dipangkal lilitan janur rambut naga, diisi daun-daunan (plawa) dan dibagian ujungnya diisi hasil bumi, diantaranya Pala bungkah (Umbi-umbian), Pala Gantung (Buah Kelapa, Buah Pisang), Pala Wija (Tebu, Jagung dan Padi), ini gambaran "perut Naga".
  • diujung bambu, digantung "Sampyan Penjor" yang sudah berisi canang sari lengkap dengan porosannya, ini "ekor Naga";
  • Paling bawah, sebagai simbol "kepala Naga" diisi dengan " Sanggah Ardha Candra". Sanggah Penjor "mulut Naga" mempergunakan yang dibuat dari bambu, dengan bentuk dasar persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bentuk bulan sabit. Sanggah ini diisi hiasan dari ujung janur/enau yang tanpa dipangkas sehingga menyerupai "Janggut Naga" dan kain putih-kuning sebagai Wastra-nya. Sebagaimana halnya wajah, sanggah ini dihias seindah mungkin, diisi bunga sisi kanan-kirinya seperti halnya kita mengisi telinga kita dengan bunga. diisi pula gantungan dan lamak.

Makna Penjor

Keberadaan bahan-bahan pembuat penjor tersebut tentu memiliki arti dan filosofinya masing-masing. Berdasarkan lontar Tutur Dewi Tapini menyebutkan :

Ndah Ta Kita Sang Sujana Sujani, Sira Umara Yadnva, Wruha Kiteng Rumuhun, Rikedaden Dewa, Bhuta Umungguhi Ritekapi Yadnya, Dewa Mekabehan Menadya Saraning Jagat Apang Saking Dewa Mantuk Ring Widhi, Widhi Widana Ngaran Apan Sang Hyang Tri Purusa Meraga Sedaging Jagat Rat, Bhuwana Kabeh, Hyang Siwa Meraga Candra, Hyang Sadha Siwa Meraga “Windhune”, Sang Hyang Parama Siwa Nadha, Sang Hyang Iswara Maraga Martha Upaboga, Hyang Wisnu Meraga Sarwapala, Hyang Brahma Meraga Sarwa Sesanganan, Hyang Rudra Meraga Kelapa, Hyang Mahadewa Meraga Ruaning Gading, Hyang Sangkara Meraga Phalem, Hyang Sri Dewi Meraga Pari, Hyang Sambu Meraga Isepan, Hyang Mahesora Meraga Biting..

kutipan lontar Tutur Dewi Tapini

Artinya :

Wahai kamu orang-orang bijaksana, yang menyelenggarakan yadnya, agar kalian mengerti proses menjadi kedewataan, maka dari itu sang Bhuta menjadi tempat/tatakan/dasar dari yadnya itu, kemudian semua Dewa menjadi sarinya dari jagat raya, agar dari dewa semua kembali kepada hyang widhi, widhi widhana (ritualnya) bertujuan agar sang Tri Purusa menjadi isi dari jagat raya, Hyang Siwa menjadi Bulan, Hyang Sadha Siwa menjadi windu (titik O), sang hyang parama siwa menjadi nadha (kecek), Sang Hyang Iswara merupakan makanan, Hyang Wisnu itu semua buah-buahan, Hyang Brahma merukan semua jajan, Hyang Rudra merupakan Kelapa, Hyang Mahadewa merupakan Ruaning Gading, Hyang Sangkara itu dedaunan, Hyang Sri Dewi pada Padi, Hyang Sambu itu Isepan, Hyang Mahesora pada bambu..

Penjor galungan bersifat religius, yang mempunyai fungsi tertentu dalam upacara keagamaan,dan wajib di buat lengkap dengan kelengkapannya, membuat penjor untuk upacara memerlukan syarat tertentu, dan sesuai dengan Sastra Agama, agar tidak berkesan sebagai hiasan saja. Berdasarkan kutipan Lontar Tapini diatas, komponen pokok penjor memiliki makna:

  • Bambu sebagai simbol Dewa Maheswara;
  • Kelapa beserta janurnya simbol Dewa Rudra;
  • Pala bungkah dan pala gantung simbol Dewa Wisnu
  • Daun-daunan (plawa) sebagai simbol Dewa Sangkara;
  • Padi sebagai simbol Dewi Sri;

adapun komponen lainnya:

  • Kain Kuning sebagai simbol Dewa Mahadewa;
  • Daun enau (Jaka) sebagai simbol Dewi Durga;
  • Tebu sebagai simbol Dewa Sambu;
  • Kain putih sebagai simbol Dewa Iswara;
  • Sampian, simbol kekuatan Dewa Parama Siwa
  • Sanggah sebagai simbol Dewa Siwa;
  • Cili, gegantungan, simbol widyadari;
  • Tamiang, sebagai simbol penolak bala atau kejahatan;
  • Lamak, simbol Tribhuana;
  • Upakara sebagai simbol Dewa Sadha Siwa

Untuk Makan, jajan dan Dupa disuguhkan sebagai Sesajen yang diletakkan di Sanggah penjor.

Pesan dari Tetua Bali Kuno
yang disampaikan lewat Upakara Penjor

Orang Bali kuno dalam membuat sebuah ritual sudah tentunya mempunyai maksud dan tujuan logis yang disisipi dalam setiap Upacara Adat, salah satunya dalam bentuk Sarana Penjor.

pertanyaan umum yang terlintas dalam pembuatan penjor adalah:

Kenapa menggunakan bahan dari, Bambu, Kelapa, Pisang, Padi ? apakah banah-bahan itu tidak boleh diubah?

ini merupakan pertanyaan kritis dari generasi melinial bali.

jawabannya..

Bambu, kelapa dan enau merupakan pohon unik, yang secara umum manfaatnya sebagai tumbuhan penyimpan air.

Beberapa penelitian kecil mengungkapkan bahwa sumber-sumber air yang memiliki debit air besar pasti sangat dekat dengan kebun bambu. hal yang sebaliknya terjadi, dimana sumber air yang memiliki debit air yang kecil biasanya jauh dari pepohonan bambu, atau mungkin mengecil setelah rumpun bambu disekitarnya dipangkas. Peneliatian oleh liu (1995), Adkoli (1995), Itsukushima (2016), menyebutkan bahwa peresapan air lebih maksimal apabila tanah sudah tercampur humus dan arang bambu. itulah sebabnya tetua bali menyarankan sebulan setelah galungan yakni saat "Pegatuakan" (buda klion pahang), Penjor dibakar dan ditanam disekitar rumah. saat ditanam arang bambu penjor tersebut diisi canang, dengan maksud untuk mencampur arang dengan bakal pupuk humus dari canang. Peresapan air yang tinggi dapat menanggulangi banjir dan dapat memaksimalkan jumlah debit air dalam tanah.

Hal yang serupa juga menjadi ciri pada pohon kelapa dan enau. semakin tinggi pohon kelapa/enau yang berbuah mengindikasikan terdapat sumber air yang dalamnya setinggi pohon tersebut. Pohon kelapa yang jarang berbuah mengindikasikan jalamnya air tanah masih jauh dari jangkauan akar pepohonan dan jumlah debit airnya kecil.

cara tetua kita agar tetap tergantung dengan pohon kelapa dan enau, disamping kedua komponen pohon ini dijadikan sarana pokok upakara, penggunaan Arak dan Tuak secara tidak langsung mengikat umat hindu bali agar tetap melestarikannya.

adapun pesan yang tertuang dari pemakaian Bambu dan Kelapa serta Enau adalah "Kita disuruh untuk membudidayakan ke-3 pohon tersebut, untuk menjaga debit air agar Bali kedepannya tidak kekeringan".

Penggunaan Pisang, Tebu, Jagung dan Padi berkaitan dengan kelangsungan Pangan.

Padi dan Jagung merupakan makanan pokok masyarakat kita. Pisang merupakan sarana utama upacara, disamping itu pisang membantu pemenuhan gizi dan sebagai makanan pendamping. Tebu disamping mengandung air, juga mengandung glukosa untuk menambah energi saat bekerja keras.

Pisang dapat bertahan hidup disaat musim kering-kemarau. Batangnya yang mengandung air dapi digunakan sebagai perangsang pertumbuhan pepohonan lainnya. caranya batang pisang dipotong-potong dan ditanam disekitar pepohonan yang ditanam.

pesan tetua kita adalah "tetaplah menanam pisang, tebu dan padi, guna menjaga kelangsungan hidup keluarga".

Pemasangan Penjor Galungan

Berkenaan dengan menyambut hari raya Galungan, Penjor sudah terpasang di depan rumah pada hari selasa (anggara wage wuku dunggulan) yang lebih dikenal dengan istilah Penampahan Galungan.

author