Makna Gending BIBI ANU

No comment 2182 views

Makna Gending BIBI ANU

Sebagian besar dari orang Bali pasti pernah mendengar atau pernah menyanyikan Gending Bali - Pupuh Pucung, yaitu: BIBI ANU, syairnya gampang dan mudah dimengerti karena menggunakan padanan kata yang sangat sederhana. lagu ini biasanya dinyanyikan oleh "meme" ataupun "dadong" sambil mengendong bayi agar segera tertidur. Dengan dekapan kasih sayang yang tulus dari ibu dan alunan lembut nyanyian ini, si bayi pun tanpa sadar terlelap didalam alam mimpinya.

tembang bibi anu ini juga dilantunkan saat manusa yadnya, Upacara macolongan, ritual usia anak tiga bulan versi wariga Bali atau 105 hari. Ada upacara melingkari lesung (lambang kehidupan) dengan berbagai sesajen. Ibu sang bayi mula-mula menggendong "anak-anakan", yaitu sebuah simbol anak dibuat dari hati pisang (pusuh dalam bahasa Bali). Sedangkan sang jabang bayi digendong oleh keluarga yang lain. Nah, agar ritual lebih berkesan dan tradisi terus dijaga, maka ada yang menembangkan pupuh Pucung di bawah ini. Sesuaikan kata-katanya, jika bayi itu perempuan sebut "ayu", jika lelaki sebut "bagus".

Bibi Anu
EEEO

Lamun payu luas manjus
EEEEOOIO

Antenge tekekang
IEOOIIA

Yatnain ngaba masui
AAIOIIIA

Tiuk puntul
OOIO

Bawang anggon pasikepan
OOIIAIOI

keterangan untuk notasi gambelan:

  • U : DUNG,
  • A : DANG,
  • I : DING,
  • O : DONG
  • E : DENG

Dari cerita orang tua pasti dikatakan ini kidung untuk para wanita yang sedang hamil, dimana untuk menjaga kehamilan dari serangan niskala, wanita hamil hendaknya bila bepergian terutama mandi (ke sungai) diharapkan membawa pisau tumpul, bawang dan mesui.

namun setelah sempat membaca teks aslinya di Gedong Krtya, ternyata kata "yatnain ngaba mesui" aslinya adalah yatnain ngaeb musuhe, sehingga bila direnungkan dega menghubungkan makna gramatikal dan etimologynya, ternyata kidung atau pupuh ini membawa pesan bukan saja untuk orang hamil tetapi pesan bagi semua umat manusia yang mendambakan kedamaian.

Bibi Anu
Bibi (meme, ibu, cening)
Anu (sire je = anu sing tawang)

lamun payu luas manjus
Manjus =mresihin dewek.
Luas manjus, yan ngrereh sane mewasta kesucian
Cening-cening ajak mekejang, sire je cening, yan yakti tulus cening ngreeh sane mewaste kadyatmikan

Antenge tekekang Yatnain ngaba masui
Anteng = wates ring sor lan ring luhur, genahne ing Madhya;
yatna = elingang nyen; masui = meseh;
Mangde cening uning ring sane mewaste sor singgih, elingang nyen kija-keija cening makte meseh, makte satru sane kewastanin sadripu

Tiuk puntul Bawang anggon pasikepan
tiyuk puntul = kari doh saking pangewruhan;
bawang= bhawa = bawa = solah, parisolah pesikepan,
sekadi prabote, cening kari polos, konden tegep nawang isin gumi, ane ncen wayah, ane ncen sujati, mangkin wibawa anggen sanjata..

Bibi Anu

lamun payu luas mandus

antenge tekekang

yatnain ngaba mesui

tiyuk puntul

bawang anggen sesikepan

Simbul "Bibi" pada baris pertama, dimaksudkan untuk mereka pengemban fungsi Brahmana (menjaga luhurnya peradaban) yang mana dalam keseharian rumah tangga lebih banyak dilaksanakan oleh para Ibu kaum per"EMPU"an, yang dengan penuh tanggung jawab "Ngempu" kehidupan keluarga lewat yadnya, keteduhan rasa sayang, kesabaran dan ketulusan Cinta Kasih.

Kebulatan tekad untuk melakukan "yadnya" juga sering membangkitkan "keberanian" yang luar biasa bagi seorang Ibu yang bersedia mengalirkan seluruh air matanya demi sang anak untuk memberikan susu, pengorbanan, elusan, kesiapan hidup-mati dan lain-lain hanya bisa diberikan oleh seorang ibu, yang menjadi bernilai "Utama"/Agung", sehingga pada kaum per"EMPU"an ini juga dipersembahkan sebuah gelar kehormatan "WaniTa" (Wani=keberanian, Ta=Utama).

Makna yang dengan sempurna dititipkan dalam frasa "Luas Manjus" berfungsi sebagai penjaga peradaban (keutamaan hidup) itulah maka mereka diharapkan senantiasa melakukan ziarah spiritual untuk Penyucian diri (Tirtha Yatra). Sebuah Tirtha yatra akan sungguh menjadi upaya penjernihan jika dilakukan dengan kemampuan mawas diri secara terus menerus. Sikap mawas diri berarti kemampuan untuk menciptakan ruang kontemplasi pada seluruh bangun aktifitas dan lingkup kehidupan kita.

Maka benar uangkapan pada baris berikutnya yang mengingatkan kita untuk "nekekang anteng" menjada sikap dan indria namun sekaligus juga waspada/awas pada segala fenomena, media dimana sebuah kontemplasi bisa terlaksana, lagi-lagi sebuah pesan yang terkemas apik pada ungkapan "yatnain ngabe masui".

Sadar akan kekurangan diri terutama dibidang ke"adnyanaan", ketumpulan rasa, keterbelengguan duniawi, dan keterbatasn hidup lainnya di satu sisi dan tuntutan untuk senantiasa menjadi penjaga gerbang peradaban manusia di sisi lain, maka upaya mengasah diri menuju tercainya "Pencerahan"/"Sunya" haruslah dilakukan. Perjalanan panjang mengurai makna hidup sesungguhnya akan mengantarkan kita pada tingkat "kepolosan total" yang juga berarti "Sunya" tanpa ikatan material, tanpa kesumpekan ambisi, sifat angkara lainnya. Lakukanlah Tirtha yatra itu seperti kita mengupas bawang, selapis demi selapis sampai akhirnya kita sampai pada inti yang justru "sunya" dari segala keinginan, bebas dari rasa suka maupun duka, Moksah yang sesungguhnya. Pesan terakhir ini tersimpan rapi pada baris penutup Sucita Subidi diatas.

Wahai pemuda dan pemudi (bibi anu),
jika dirimu mencari kesujatian diri (lamun payu luas mandus).
Maka kerja keras dan disiplin lah (antenge tekekang),
jika kamu kerja keras dalam bekerja maka kelak dirimu sejahtera (Mas).
Jika kamu kerja keras dalam menimba ilmu maka kelak dirimu pintar (Sui).
Jika kamu sejahtera dan pintar, maka pintar-pintarlah membawa lidah (tiuk puntul) sebagai wibawamu (bawang) itulah sebagai bekal dalam mengarungi kehidupanmu (pasikepan)

Sehingga dapat dipahami bahwa kidung BIBI ANU ini mengajak kita ketika ingin mencari kesucian yang hakiki, kita harus memiliki sadhana yang tinggi. Selalu waspada terhadap musuh yang ada di dalam diri kita yang setiap saat dapat menggoda kita, Kemajuan spiritual yang telah diraih jangan dipakai membodohi orang lain tapi dipakai untuk melindungi, melayani. Dan dalam berinteraksi dengan yang lain sikap welas asih dan kasih sayang harus menjadi dasarnya.

lagu bali ini juga mengajarkan agar selalu mawas diri dan senantiasa menyucikan diri, dunia ini luas dan jangan sampai terpengaruh hal-hal yang buruk

Mengingat begitu dalam makna lagu bali tersebut dan berisi petuah yang sangat tinggi, maka selayaknya lagu tersebut dinyanyikan untuk anak-anak pada masa awal perkembangannya di dunia ini. Mungkin sang bayi kecil belum bisa memahami kata kata dalam lagu tesebut tetapi ia akan mampu menagkap makna di balik lagu tersebut. Hal ini sesuai dengan ilmu modern dimana dipercaya bahwa bayi semasih di dalam kandunganpun sudah mampu menangkap getaran-getaran suara dari luar. Maka para orang tua disarankan untuk memperdengarkan musik klasik untuk bayi yang ada di dalam kandungan. Apalagi setelah si bayi keluar maka mereka juga diharapkan bisa menagkap getaran atau nasehat yang disampaikan dalam lagu tersebut.

Luar biasa, dari sebuah lagu pendek yang sederhana tetua Bali telah memberikan sebuah ajaran mulia untuk menuntun kita dalam menjalani kehidupan ini. Terlebih lagi kita sudah diajarkan sejak usia yang begitu dini. Sebuah cara pendidkan yang sanagt halus dan mendalam. Hebatnya leluhur kita orang Bali, yang selalu bisa memberikan nasihat bahkan menyelipkannya di tembang bali.

author