Manawa Dharmasastra V

No comment 747 views

Manawa Dharmasastra 5

Manawa Dharmasastra
Manawa Dharmasastra

Arti Manawa Dharmasastra 5

  1. Setelah mendengarkan ketentuan tentang kewajiban seorang Snataka yang diutarakan sedemikian rupa, para rsi bertanya kepada Rsi Brigu yang berjiwa besar yang lahir dari api.
  2. Bagaimana mungkin kematian dapat menguasai Brahmana yang menguasai ajaran suci Weda, dan yang memenuhi tugas mereka yang tełah tuan terangkan ya Maharesi?
  3. Maharesi Brigu, putra Manu menjawab pertanyaan para rsi besar itu Oh dengarkanlah dalam rangka mendapatkan hukuman dari kesalahan apa- pun. Kematian itu berhak memperpendek hidup Brahmana.
  4. Karena melupakan ajaran Weda yang menyeleweng dari peraturan tingkah laku. karena keteledoran dalam melakukan tugas, karena kesalaharn yang dilakukan yaitu dengan memakan makanan terlarang, maka kematian itu berhak memperpendek hidup para Brahmana
  5. Bawang putih, bawang bakung, bawang merah, cendawan dan semua tumbuh-tumbuhan yang berasal dari bahan-bahan busuk, tidak cocok dimakan oleh pendeta
  6. Hendaklah dihindari dengan hati-hati menetesnya cairan merah dari kayu dan getah yang berasal dari takikan, buah celu, dan susu kental dari sapi yang merupakan sisa setelah sapi itu menyusui anaknya.
  7. Nasi yang dimasak dengan biji wijen gandum dicampur mentega, susu dan gula, nasi campur susu dan kueh tepung yang tidak dibuat untuk upacara, daging yang tidak diperciki air suci sewaktu puja mantra diuncarkan, makanan yang disajikan untuk para dewa dan mahluk jahat pemakan daging.
  8. Susu sapi atau binatang beting lainnya yang dalam sepuluh hari setelah binatang itu melahirkan, susu unta, susu dari ternak berkuku satu, susu biri-biri, susu dari sapi yang sedang berahi atau sapi yang mandul
  9. Susu dari semua binatang buas kecuali ketuunan sapi dengan kerbau, susu perempuan dan semua bahan yang sudah menjadi masam haruslah semua ini dihindari.
  10. Diantara semua bahan yang telah menjadi masam, susu asam dan segala makanan yang dibuat darinya boleh dimakan demikian pula makanan yang terbuat dari bunga-bunga susu dari umbi-umbian dan buah-buahan.
  11. Hendaknya ia menghindari burung pemakan daging dan burung-burung yang hidup dirumah rumah dan binatang berkuku satu yang tidak diijinkan acara khusus untuk dimakan dan Tittibha (Parra Jacana)
  12. Burung gereja, Plawa, angsa, itik Brahmana, ayam peliharaan, sebangsa bangau, burung rajjudala, burung belatuk, burung kakak tua dan burung beo.
  13. Burung yang waktu makan mematuk-matukan parunya, burung berkaki jarang, koyasthi, binatang pengais, unggas penyelam yang hidup dari memakan ikan, daging yang datang dari rumah pembantaian dan daging kering.
  14. Burung bangau yang disebut Baka dan Balaka, bunung gagak, Khanjaritaku, binatang yang makan ikam, babi piaraan dan semua macam ikan.
  15. la yang memakan daging apa saja, dinamai pemakan daging dari binatang semacam itu saja tetapi ia yang memakan ikan adalah pemakan dari semua macam ikan. Oleh karena itu hendaknya jangan memakan ikan.
  16. Tetapi ikan yang bernama Pathina dan Rohita boleh dimakan, jika dipakai sebagai sajian untuk para dewa dan para roh leluhur, demikian pula seseorang boleh memakan ikan Rajiwa, Sinhatunda dan Sasalka pada setiap saat
  17. Janganlah hendaknya ia memakan hewan maupun burung yang tak dikenal, walaupun mereka itu masuk dalam golongan binatang yang boleh dimakan, jangan pulalah memakan hewan yang berjari kaki lima.
  18. Binatang landak, tenggiling biawak, badak, kura-kura (penyu) dan kelinci adalah dinyatakan binatang yang boleh dimakan, demikian juga hewan peliharaan yang mempunyai gigi pada satu rahang saja, kecuali unta.
  19. Seorang pendeta (dwijati) yang sengaja memakan cendawan, babi peliharaan, burung putih, ayam peliharaan, bawang merah atau jenis bawang lain, akan menjadi orang yang tak berkasta,
  20. Ia yang sengaja memakan ke-enam macam makanan ini hendaklah melakukan puasa santa pana (kricchara) atau puasa bulan (Candrayana) yang biasa dilakukan oleh para pertapa, jika ia juga tanpa sengaja memakan makanan larangan lainnya, ia hendaknya berpuasa sehari semalam.
  21. Sekali setahun seorang Brahmana harus melakukan puasa kricchara untuk menebus dosa memakan makanan terlarang tanpa disengaja, tetapi jika ia memang dengan sengaja memakan makanan terlarang itu ia harus melakukan puasa yang telah ditentukan khusus untuk itu.
  22. Hewan dan burung yang dianjurkan untuk bisa dimakan, boleh dibunuh oleh Brahmana untuk upacara kurban dan juga untuk diberikan kepada mereka yang patut diberi makan, karena Rsi Agastyapun melakukan hal itu dijaman dulu.
  23. Karena pada masa purba, kue-kue sesajen dibuat dari daging-daging binatang dan burung yang bisa dimakan pada upacara-upacara kurban yang dilakukan oleh para Brahmana dan Ksatria.
  24. Semua makanan keras ataupun lunak yang tersedia boleh dimakan walaupun basi, tetapi setelah dicampur dengan bahan-bahan berlemak, dan demikian pula boleh dimakan sisa-sisa sesajen untuk upacara yadnya.
  25. Tetapi semua makanan terbuat dari beras dan gandum, demikian pula makanan yang dibuat dari susu, boleh dimakan oleh orang-orang dwijati, tanpa dicampur dengan bahan-bahan berlemak, walaupun dibuatnya sudah agak lama.
  26. Dengan demikian sudah diuraikan dengan lengkap macam-macam makanan yang boleh dan yang dilarang untuk di makan oleh para dwijati. Sekarang saya akan mengajukan peraturan-peraturan untuk memakan dan menghindari daging.
  27. Seseorang boleh memakan daging, kalau sudah diperciki air suci ketika puja mantra diuncarkan, kalau para Brahmana ingin agar seseorang itu memakan daging itu, kalau pada waktu seseorang itu sedang mengadakan upacara sesuai dengan hukumnya dan kalau jiwa seseorang itu ada dalam bahaya.
  28. Prajapati (Tuhan Pencipta Mahluk) telah menciptakan seluruh dunia ini adalah untuk mempertahankan kehidupan mahluk yang mempunyai jiwa penting, semua ciptaannya yang bergerak maupun tidak bergerak adalah makanan dari semua mahluk hidup.
  29. Apa yang tanpa kemampuan gerak adalah merupakan makanan bagi yang mampu bergerak, binatang yang tanpa taring, adalah makanan bagi mereka yang mempunyai taring, mereka yang tak bertangan adalah makanan bagi yang bertangan, dan mahluk yang pemalu, menjadi makanan bagi yang berani.
  30. Tukang makan yang setiap harinya menelan segala yang seharusnya menjadi makanannya, tidaklah berbuat dosa adanya, karena Mahapencipta sendiri menciptakan keduanya, yang memakan dan yang dimakan dalam tujuan-tujuan khusus itu
  31. "Pemakaian daging adalah wajar untuk upacara kurban", hal mana dinyatakan sebagai peraturan yang dibuat oleh para dewa, tetapi jika memaksa memakainya dalam kejadian lain adalah peraturan yang cocok untuk para Raksasa.
  32. la yang memakan daging pada waktu ia menghormati para dewa dan leluhur adalah tidak melakukan dosa, apakah mendapat daging itu dengan membeli, atau dia sendiri yang menyembelih binatang itu, atau dapatnya karena menerima pemberian dari orang lain
  33. Seorang dwijati yang tahu hukumnya, haruslah tidak makan daging kecuali memang sudah sesuai dengan hukum, karena jika ia memakannya bertentangan dengan peraturan, ia tidak akan bisa menyelamatkan dirinya sendiri, dan akan dimakan oleh korbannya pada waktu ia meninggal
  34. Setelah meninggalnya, seseorang yang menyembelih kidang dengan harapan keuntungan, dosanya tidaklah sebesar orang yang memakan daging tanpa tujuan-tujuan yang suci
  35. Tetapi seseorang yang memang tugasnya memimpin upacara atau memang tugasnya makan dalam upacara-upacara suci, lalu ia menolak memakan daging, malah setelah matinya ia menjadi binatang selama dua puluh satu kali putaran kelahirannya.
  36. Seorang Brahmana tidak boleh sama sekali memakan daging binatang yang tidak sama sekali disucikan dengan mantra-mantra, tetapi taat pada hukum dahulu kala, ia boleh memakannya, disucikan oleh ucapan-ucapan weda.
  37. Kalau ia ingin sekali akan daging ia boleh membuat binatang dari susu, mentega atau dari tepung dan memakannya, tetapi ia tidak boleh sama sekali membinasakan hidup binatang tanpa sebab-sebab yang sesuai dengan hukum.
  38. Seberapa jumlah bulu dari binatang yang disembelih tanpa alasan-alasan yang sesuai dengan hukum sekian kali pulalah yang membunuh itu akan menderita kematian tak wajar dalam kelahiran-kelahirannya yang akan datang.
  39. Swayambhu telah menciptakan hewan-hewan untuk tujuan upacara kurban, upacara-upacara kurban telah diatur sedemikian rupa untuk kebaikan seluruh bumi ini, dengan demikan penyembelihan hewan untuk upacara bukanlah penyembelihan dalam arti yang lumrah saja.
  40. Tumbuh-tumbuhan semak, pepohonan, ternak burung-burung lain yang telah dipakai untuk upacara, akan lahir dalam tingkat yag ebih tinggi pada kelahiran yang akan datang.
  41. Dengan mengajukan campur madu kepada tamu, pada upacara kurban dan pada upacara menghormati leluhur, tetapi hanya pada kesempatan-kesempatan begini seekor binatang boleh disembelilh, peraturan ini dinyatakan oleh Manu.
  42. Seorang Dwijati yang mengetahui arti sebenarnya dari Weda, menyembelih seekor hewan dengan tujuan-tujuan tersebut diatas menyebabkan dirinva sendiri bersama-sama hewan itu masuk keadaan yang sangat membahagiakan

  43. Seorang Dwijati yang berkeadaan suci apakah ia tinggal dirumahnya sendiri dengan seorang guru ataupun didalam hutan tidak boleh sama sekali menyakiti mahluk lain kalau tidak dibenarkan oleh ajaran Weda, walaupun dia dalam keadaan yang sangat menyedihkan.
  44. Ketahuilah bahwa menyakiti mahluk-mahluk bergerak ataupun tak bergerak yang sudah ditentukan untuk suatu tujuan oleh Weda. bukanlah menyakiti sama sekali, karena dari Wedalah hukum-hukum suci itu asalnya.
  45. dia yang melukai mahluk yang tak berbahaya dengan maksud mendapatkan kepuasan untuk dirinya sendiri, orang itu tidak akan pernah merasakan kebahagiaan, selalu berada dalam keadaan tidak hidup, tidak pula mati.
  46. dia yang tidak menyebabkan penderitaan dalam belenggu atau kematian mahluk hidup tetapi menginginkan keselamatan pada semua mahluk, ia mendapat kebahagiaan yang tanpa akhir.
  47. dia yang tidak menyakiti mahluk apapun, mencapai tanpa usaha berat, segala apa yang dipikirkan, apa yang dikerjakan dan apa yang dicita-citakannya
  48. Daging tidak akan bisa didapat tanpa menyakiti mahluk-mahluk hidup, dan penganiayaan terhadap mahluk hidup adalah suatu halangan/pantangan dalam mencapai kebahagiaan suci, oleh karena itu hendaklah seseorang itu menghindari pemakaian daging.
  49. Setelah mempertimbangkan masak-masak soal asal usul yang menjijikkan dari daging dan kekejaman dalam menyiksa dan membunuh mahluk hidup, hendaknya ia meninggalkan sama sekali kebiasaan memakan daging.
  50. dia yang tanpa menghiraukan peraturan diberikan diatas, tetapi ia tidak memakan daging sebagai Pissaca, disayangi oleh manusia dan tidąk disiksa oleh derita penyakit.
  51. dia yang mengijinkan penyembelihan seekor hewan, ia yang memotongnya, ia yang membunuhnya, ia yang membeli dan menjualnya, ia yang memasakannya, ia yang menyuguhkannya, dan ia yang memakannya semuanya itu patut dianggap sebagai pembunuh binatang.
  52. Tidak ada yang lebih berdosa daripada orang yang tidak menghaturkan sesajen pada para Dewa dan para leluhur, namun ia berusaha memperbanyak kumpulan daging dibadannya dengan daging dari mahluk lainnya - (artinya: sebelum makan, persembahkalah dahulu)
  53. la yang setiap tahun dalam waktu seratus tahun selalu menghaturkan upacara kurban kuda (Aswameda), dan orang yang tidak makan daging sama sekali - menerima pahala yang sama atas perbuatan-perbuatan mereka yang suci itu
  54. Dengan hidup dari buah-buahan dan umbi-umbian serta dengan memakan makanan yang cocok untuk para pertapa dihutan, seseorang itu tidak memperoleh pahala sebesar pahala yang diterima dari pantangan-pantangan memakan daging sama sekali.
  55. "Mamsah" yang berarti daging. pada hakekatnya dinyatakan oleh orang bijaksana berarti "'saya dia" yaitu dia yang dagingnya saya telan dalam hidup ini, menelan saya dikemudian hari
  56. Tidak ada apa-apanya jika memakan daging, meminum minuman keras dan melakukan perzinahan karena hal-hal itu memang hal yang alamiah pada diri mahluk hidup, tetapi pengekangan diri terhadap Semuanya itu membawakan pahala yang sangat besar.
  57. Sekarang saya akan menyampaikan cara penyucian untuk jenazah dan penyucian benda-benda sesuai dengan yang ditentukan untuk keempat golongan manusia.
  58. Kalau seorang bayi telah tumbuh gigi, atau bayi yang belum tumbuh gigi meninggal tetapi sudah mendapat upacara memperkuat ubun-ubun (sudakarana) atau sudah didwijatikan, maka seluruh keluarganya terkena cuntaka, demikian pula halnya pada waktu lahirnya sang bayi.
  59. Sudah ditentukan bahwa diantara hubungan keluarga sapinda, cuntaka yang disebabkan kematian akan berlangsung selama 10 hari atau sampai tulang-tulangnya dikumpulkan atau selama 3 hari ataupun hanya 1 hari saja.
  60. Tetapi yang dipandang sebagai hubungan sapinda itu berakhir sampai turunan ketujuh dalam garis menaik dan menurun; hubungan samanodaka berakhir kalau asal usul serta nama keluarga yang ada dahulu adalah tidak dikenal lagi.

-bersambung-----

author