Manik Angkeran bertemu Bidadari

No comment 56 views

Manik Angkeran bertemu Bidadari

Tidak terasa berapa tahun lamanya beliau bersuami-isteri (Manik Angkeran dengan Ni Luh Warsiki), tatkala hari Pur­nama bulan kesepuluh, Ida Sang Pendeta keluar dari pasraman, membawa tempat air serta seperangkat alat untuk mandi. Memang sudah menjadi kebiasaan beliau, setiap hari baik atau pada hari Purnama- Tilem, selalu beliau bepergian ke Tirtha Pingit untuk mandi. Beliau berjalan naik perlahan sebab merasa senang beliau meli­hat segala bunga yang tumbuh di tepi jurang, serta pula di berbagai tempat di daerah Besakih. Banyak jenis bunganya serta beraneka rupa warnanya. Demikian senang perasaan Ida Sang Pendeta melihat keadaan seperti itu, sampai beliau menggumam bagaikan berbincang dengan bunga itu semua.

Setelah beliau memasuki hutan, terdengar oleh beliau suara burung semakin ramai saling bersahutan, Iaksana menyambut kedatangan Sang Pendeta. Beraneka macam memang suara burung itu. Semua itu menambah gembira hati sang pendeta. Tahu-tahu beliau sudah berada dekat dengan tempat Tirtha Pingit yang akan dituju.

Tiba-tiba beliau berhenti. Karena terlihat oleh beliau seorang wanita sudah ada Iebih dahulu di tempat air suci itu, kemungkinan juga akan mandi. Beliau Sang Pendeta Ialu memperhatikan wanita itu. Demikian cantiknya serta berwibawa wanita itu. Kemu­dian beliau merasa-rasa. Sepertinya beliau sudah pernah bertemu dengan wanita itu, namun tidak ingat Iagi beliau, di mana, siapa gerangan wanita itu. Ingat Iagi, kemudian Iupa kembali. Tatkala itu, wanita itu juga diam menunduk, sepertinya acuh.

Setelah agak Iama mengingat-ingat, juga tidak bisa beliau mengingat, maka didekatinya wanita itu, seraya menyampaikan pertanyaan : ”Inggih, tuan puteri yang bijak, siapakah gerangan tuan puteri ini, kok sendiri di tengah hutan begini. Dari mana tuan puteri, apakah tuan puteri benar manusia, apa -wong samar- orang maya, atau­ kah Dewa ?”

Menjawab wanita itu : ”lnggih Sang Pendeta, yang sangat bijaksana, hamba ini bukanlah manusia maya, dan juga bukan manusia”.

”Kalau demikian, sebenarnya tuan puteri bidadari ?”.

”Ya, benar sekali seperti yang Sang Pendeta katakan, hamba memang bidadari dari sorga”.

          ”Aduh, sudah hamba sangka, tentu tuan puteri adalah Bidadari, karena kagum benar hamba melihat kecantikan paras tuan puteri”.

”Inggih, memang demikian Sang Pendeta. Kalau wanita, kecantikannya yang menyebabkan orang itu kagum. Kalau Iaki-Iaki jelas kebijaksanaan dan keperwiraan­nya yang membuat orang kagum serta bertekuk Iutut di kakinya”. Demikian kata Sang Bidadari.

Ketika mendengar perkataan Sang Bidadari sedemikian itu, seperti terkena sindiran Sang Pendeta. Seraya menyembunyikan rasa gugupnya, Ialu beliau berkata: ”Apa yang mungkin tuan puteri cari, datang ke sini di tengah hutan seorang diri ?”

Menjawab Sang Bidadari : ”Tidak ada yang hamba cari. Kedatangan hamba ke sini, hanya bersenang-senang”.

          ”Apa yang menyebabkan tuan puteri datang ke sini untuk bersenang-senang. Masakkah di Sorga kurang tempat yang indah untuk bersenang –  senang ?”

          ”Ya, memang demikian Sang Pendeta. Di Sorga, memang tidak kurang tempat yang indah. Tetapi sebenarnya sekali, yang membuat hati ini senang, tidak tempat yang indah saja, namun senang atau sedih, suka atau duka, hanya ter­gantung pada hati perasaan kita masing-masing. Kalau seperti hamba, sekarang ini, hanya tempat ini yang paling indah, yang bisa memberikan kesenangan pada perasaan hamba. Sebenarnya Sang Pendeta, bagaikan ditarik hati hamba, jadi berke­inginan hamba untuk datang ke mari, mungkin ada sesuatu hal yang sangat indah di sini”.

Lagi seperti dikenai sindiran, sampai Sang Pendeta menjadi makin gugup, Ialu kemudian beliau berkata Iagi : “Memang betul tuan puteri datang dari Sorga, sangat pintar dan bijak tuan puteri berkata, semakin menjadi kagum hamba kepada tuan puteri”.

“Janganlah berkata demikian Ratu Sang Pendeta. Terlalu banyak I Ratu memuji diri hamba. Sebenarnya sekali, hamba masih terlalu muda”. Demikian Sang Bidadari segera menjawab.

Setelah Iama berbincang-bincang serta keduanya merasa di hati masing­ sudah akrab serta bersemi Iagi rasa cinta, Ialu beliau Sang Pendeta memaksakan dirinya untuk berkata : “Duh Dewa Sang Bidadari, perkenankanlah hamba memohon maaf, kalau-kalau perkataan hamba tidak berkenan di hati, karena tidak bisa sama sekali hamba akan menghentikan perasaan hamba yang mungkin bisa dikatakan kurang baik, namun bisa juga disebut baik sekali”.

Lalu menjawab Sang Bidadari : “Silahkan Sang Pendeta, apa yang akan tuan sampaikan. Hamba bersedia untuk mendengarnya. Jangan Iagi Sang Pendeta merasa ragu dan khawatir”.

Berkata Sang Pendeta : “Duh, Dewa, terlebih dahulu hamba menghaturkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas anugerah Tuan Puteri. Pendek kata hamba ingin mengatakan, jangan sekali Tuan Puteri marah, mudah-mudahan Tuan Puteri berkenan. Ya, begini, diri hamba akan hamba serahkan ke hadapan Tuan Puteri. Namun karena hamba belum bisa ikut ke Sorgaloka mengikuti Tuan Puteri, kalau berkenan, Tuan Puteri akan hamba ajak di sini di dunia, di kawasan Besakih ini, meng­hamba dan mengabdi kepada Ida Bhatara di sini”.

Menjawab Sang Bidadari : “Ya kanda, sebelum hamba menjawab keinginan kanda tersebut, berikan saya menceriterakan terlebih dahulu perihal kita berdua tat­kala berada di Kendran. Sebenarnya, dahulu, sebelum kanda diutus untuk turun ke dunia ini, atas permohonan Ida Danghyang Siddhimantra, dinda sudah memiliki hubungan-bertunangan dengan kanda. Namun setelah kanda turun ke Marcapada ini, dinda masih sendirian berada di Sorgaloka. Lama dinda menunggu kedatangan kanda, tidak juga kanda datang. Itu sebabnya dinda sekarang turun ke dunia mengikuti jejak kakanda, agar bisa segera bertemu dengan kakanda, menyatukan tali asih yang sudah bersemi di Sorgaloka. Karena itu, kalau memang benar ada maksud kakanda akan bersatu dengan dinda, dinda tidak Iagi berpanjang kata, dinda bersedia mendampingi kanda, walaupun di sini di dunia, semasih kakanda berada di sini”.

Setelah mendegar perkataan Sang Bidadari demikian itu, merasa gugup dan terhenyak perasaan Ida Sang Pendeta. Namun di Iain pihak merasa gembira perasaan beliau, seraya berkata : ”Duh, permata hati kanda, I Dewa, dindaku, barang­kali memang betul sekali apa yang dinda katakan baru saja, kanda juga merasa-rasa dengan perihal itu. Namun terasa sangat samar hal itu. Sekali Iagi kanda ingin menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya, karena demikian besar kesetiaan dinda kepada kanda, sampai-sampai dinda mau turun ke dunia ini, meninggalkan semua keindahan yang ada di Sorgaloka. Ya, kalau demikian, kanda sanggup, agar kanda bisa bersama dengan dinda sampai kelak di kemudian hari, ke mana pergi dinda, kanda akan ikut. Namun demikian ada yang kanda ragukan dalam hati kanda, perihal keadaan dinda akan menetap di dunia ini bersama kanda, apakah tidak akan mem­buat ribut di Sorgaloka, ke sana kemari para Dewa mencari dinda. Itu yang sangat kanda khawatirkan di hati, agar tidak karena kanda yang menyebabkan dinda mene­mui kesulitan, apalagi dinda sudah demikian berkenan memberikan anugerah kepada kanda”.

Menjawab Sang Bidadari dengan senyum manis : “Ya kanda, memang sepan­tasnya kanda memikirkan keadaan dinda. Namun jangan kanda merasa khawatir. Sebab dinda sudah memohon pamit kepada Ida Bhatara serta keIuarga dinda semuanya di Sorga, serta dinda sudah mendapatkan ijin dari Ida Bhatara. Memang benar dinda sedikit bersikeras memohon diri kepada Ida Bhatara, karena janji Ida Bhatara dahulu, konon kanda hanya sebentar saja diutus turun ke sini ke dunia. Namun, sesudah kanda selesai diruwat Ida Sang Nagaraja, seyogyanya kanda sudah kembali pulang ke Sorga. Memang kanda sudah dapat pulang sekejap, namun karena keras permohonan Ida Sang Nagaraja, yang sudah berjanji kepada Ida Danghyang Siddhimantra, ayah kakanda, Iagi pula memang kebetulan ada Iain pekerjaan yang harus kanda selesaikan di sini, jadi hambalah yang dikalahkan. Kanda dikembalikan Iagi ke dunia. Karena dinda tidak mau ditinggalkan oleh kanda sedemikian Iama, jadi dinda menghadap Ida Bhatara, memohon agar dinda diperkenankan turun ke dunia ini, mengikuti perjalanan kanda. Mungkin permohonan dinda dianggap pantas, itu sebabnya dinda diberi ijin untuk mohon pamit serta diberikan wara nugraha untuk bisa turun seperti ini ke dunia, tidak Iagi menjalani hal yang sudah Iazim, yakni menjelma sejak bayi seperti kelahiran kanda dahulu. Sebab bila demikian prihalnya, jelas tidak bisa dinda bertemu dengan palungguh kanda, seperti sekarang”.

Memang demikian kagumnya beliau Sang Pendeta pada kadibyacaksuan ­wawasan Sang Bidadari, kemudian beliau bertanya kembali : ”Jadi, kalau demikian halnya, semua perbuatan Kanda di dunia ini sudah dinda ketahui ?”

”Ya, semua dinda ketahui”.

          Baru demikian Sang Bidadari berkata, menjadi merah muka Ida Pendeta akibat malunya. Hal itu diketahui oleh Sang Bidadari. Lalu, seraya tersenyum, Sang Bidadari melanjutkan : ”Namun semua itu merupakan titah atau kehendak dari Ida Bhatara di Sorgaloka. Kanda hanya melaksanakan. Kalau kanda tidak dijadikan anak yang durhaka, tidak bisa kanda akan nyupat– meruwat Ida Sang Nagaraja, sebab tidak Ialu kanda memenggal ekor beliau yang menjadi tempat berkumpulnya angkara. Namun, beliau Sang Nagaraja tidak berhutang supata kepada kanda, karena beliau sudah pula nyupat-menyucikan diri kanda, beliau melebur badan jasmani-stula sarira kanda yang banyak berisikan dosa, kemudian diganti oleh beliau dengan badan jasmani baru seperti sekarang ”.

Sang Bidadari berhenti sebentar, kemudian melanjutkan Iagi : ”Dinda Ianjut­ kan sedikit Iagi. Begini, perihal beliau Ki Dukuh Blatung. Memang beliau sangat sakti, matang sekali dalam hal yoga samadhi. Namun ada kekurangan beliau sedikit. Yaitu, beliau sedikit tìnggi hati dan senang pujian. ltu sebabnya beliau bersedia dìruwat pada api yang keluar dari air kencing kanda. Namun sebenarnya, hal itu merupakan kehendak Ida Bhatara, sebab kalau Ki Dukuh tidak tinggi hati, dan senang pujian, tidak berhasil kanda akan memperlihatkan kesaktian membakar sampah di hutan dengan memakai air kencing, yang menjadi jalan Ki Dukuh untuk moksa. Sebab kalau kanda yang Iangsung bertindak Iebih dahulu, jadi kanda akan dianggap mendahului dan ber­Iaku kurang senonoh. Kesaktian yang kemudian memunculkan hal yang tidak baik, jelas akan hilang keutamaannya”. Demikian kata-kata Sang Bìdadari.

Menjadi semakin kagum Sang Pendeta. Merah warna paras muka beliau sudah sirna. Beliau kemudian berkata dengan manis : ”Ah, muda-mudanya mereka yang ada di Sorgaloka, Iebih bijaksana jika dibandingkan dengan yang ada di dunia. Ya, kalau demikian halnya, menjadi tenang dan hening hati kanda tanpa ganjalan Iagi sekarang. Sekarang, kanda temani dinda menuju Pasraman. Namun jangan sekali disa­makan keadaan di sini dengan di Sorga”.

Cepat berkata Sang Bidadari : ”Janganlah itu Iagi disinggung. Bisa bertemu dengan kanda seperti ini saja, dinda sudah sangat dan Iebih bahagia dibandingkan dengan di Sorgaloka”.

Singkat ceritera, pada akhirnya bersuami-isterilah Ida Sang Pendeta dengan Sang Bidadari, kemudian mengadakan putera Iaki seorang, tampan, berprabawa cerdas, mengagumkan sekali walaupun masih bayi, dinamai Ida Wang Bang Tulusdewa.

author