Manusia Bodoh bicara Kasta

No comment 291 views

Manusia Bodoh bicara Kasta

Manusia Bodoh bicara Kasta

Seorang oknum dokter di Palembang dan saya tidak tau apakah dia dokter spesialis atau dokter umum atau dokter hewan atau dokter Weda. Postingan dia selalu tendensius dan provokatif menyudutkan ajaran Hindu Bali dan menjelekkan tradisi dan adat di Bali.

Baginya tradisi dan adat di Bali tidak mengikuti jaman dan cendrung menyusahkan masyarakat Bali. Sekarang dia sudah berani masuk ke soroh orang Bali yaitu Pasek dengan tujuan apa lagi?

kalo tidak untuk mengadu soroh Pasek dengan soroh lainnya dan berujung membela kelompok PHDI yang telah terpapar akut sakkhi, iskcon/hare krishna dan sampradaya.

Dia mengklaim dirinya paham sloka sloka weda tetapi selalu tafsirnya jauh dari kebenaran. Dia hanya menelan mentah mentah sloka secara textual sehingga makna sesungguhnya menjadi kabur dan sesat.

Kalo sloka weda saja dia tidak paham bagaimana mungkin dia mampu memahami lontar dan bhisama leluhur?

Kekisruhan antara Hindu Bali dan sampradaya terutama iskcon/hare krishna semakin panas disebabkan salah satunya oleh manusia manusia seperti Nyoman Mudi.

Mereka beranggapan hapal sloka sloka weda adalah kaum agamis. Kebanyakan orang-orang Bali yang tinggal diluar Bali justru tidak paham adat, tradisi, budaya dan gama Bali sama sekali tidak paham hakekat Siwa Buddha dan Siwa Sidhanta.

Ketidakpahaman mereka lalu mulai mengkritisi bahkan menjelekkan ajaran leluhurnya sendiri. Ibarat orang orang bodoh menyalahkan sebuah kebenaran sejati. Dia bicara lontar lontar tentang soroh dimana dia menafsirkan sangat keliru dan sangat berpotensi memecah belah umat sedharma di Bali.

Kalo dia paham soal soroh dengan baik yang merujuk kepada Catur Warna tentu dia akan sangat malu membuat postingan seperti diatas. Soroh dicetuskan oleh leluhur orang Bali sudah sangat sesuai dengan Catur Warna dan benar. Leluhur kita bukan orang sembarangan mereka adalah lokal jenius yang membuat konsep demi kebaikan keturunannya agar supaya selalu harmonis sepanjang masa.

Soroh dicetuskan karena leluhur kita paham bahwa setiap manusia mempunyai swaguna masing masing yang berbeda tapi saling mendukung demi persaudaraan yang kuat dan harmonis ini pertama. Kedua, leluhur kita menghendaki agar prati sentananya selalu ingat dengan leluhurnya. Ketiga, dengan mengingat leluhur akan mengetahui jati diri kita masing masing dan inilah jalan utama menuju kesadaran penuh akan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Kalo kita merujuk pada Yajur Weda dan Bhagawad Gita dikatakan bahwa Catur Warna adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisah pisahkan. Semuanya saling terkait dan menguatkan dalam perjalanan hidup menuju Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma.

Brahmana keluar dari mulut Brahma disimbolkan dengan bundar. Kemudian Ksatrya keluar dari kedua tangan dan Wesya keluar dari perut ini adalah badan disimbolkan segi empat, lalu terakhir Sudra keluar dari kedua kaki-Nya ini disimbolkan segitiga.

Semua ini adalah simbol manusia apabila lingkaran, segi empat dan segitiga dijadikan satu. Maka akan terbentuk manusia lagi duduk bersila artinya manusia sedang bersemadi kepada Tuhan.

Dari pusar kebawah adalah segitiga disini disebut Sudra maka apabila dikaitkan dengan dengan konsep penciptaan Hindu Bali jelas sekali semua tercipta dari api (bhuta). Dibawah pusar ada alat kelamin apabila kedua maskulin dan feminim bersatu maka terjadilah pembuahan sel telur lalu lahirnya bayi ini proses penciptaan. Sama dengan istilah penciptaan alam semesta dari kosong kemudian panas yang dahsyat ketika purusa dan prakerti (maya) menyatu terjadilah ledakan maha dahsyat dan terciptalah alam semesta. Dan ini sama percis dengan teori Big Bang secara ilmiah.

Semua manusia berawal dari Sudra kemudian dalam perjalanan hidupnya manusia belajar dan bekerja lalu menapaki Wesya, Ksatrya dan terakhir pencapaian Brahmana. Inilah tujuan hidup manusia dari lahir hingga kembali ke asal. Ada yang mampu mencapainya ada juga yang tidak, akan sangat tergantung dari usaha dan karma dari manusia itu sendiri.

Jadi, saya harap kamu Dokter Nyoman Mudi tolong jangan lagi kamu bermain main untuk melecehkan ajaran Hindu Bali. Semakin banyak kamu bicara sloka dan lontar semakin banyak kebodohan kamu perlihatkan di sosial media.

Kasihanilah dirimu sendiri jangan sampai orang lain kasian melihat kebodohanmu. Orang semacam pak Nyoman Mudi dianggap tokoh Hindu Nasional?

Pantas sudah rusak semuanya sehingga dulu Hindu Nusantara yang terkenal harmonis dan damai sekarang menjadi dogmatis dan berpolemik.

Kamu mau tau referensinya baca sloka dibawah ini :

"Caturwarnyam maya srishtam Guna karma wibhagasah, Tasya kartaram api mam Vidhdhy akartaram avyayam"

Bhagavad-Gita IV.13

"Catur Warna adalah ciptaan-Ku menurut pembagian kwalitas kerja, Meskipun aku sebagai penciptanya, ketahuilah aku mengatasi gerak dan perubahan"

"Brahmanaksatriavisam Sudranam ca paramtapa, Svabhavaprabhavair gunaih"

Bhagawad-gita XVIII.41

"Arjuna, tugas-tugas adalah terbagi menurut sifat, watak kelahirannya sebagaimana halnya brahmana, ksatriya, waisya dan juga sudra"

"Brahmano asya mukham asid, bahu rajayah krtah, uru tadasya yad vaisyah, padhyamsudro ajayata"

Yayur Weda XXXI.11

Brahmana adalah MulutNya, ksatria adalah lengan-lenganNya, weisya adalah paha perutNya dan sudra adalah kaki-kakiNya.

"Brahmane brahmanam, ksatraya rajanyam, marudbhyo vaisyam, tapase sudram"

Yayur Weda XXX.5

"Brahmana diciptakan untuk pengetahuan, para ksatria untuk perlindungan, para weisya untuk perekonomian dan para sudra untuk pekerja jasmaniah"

"Rucam no dhehi brahmanesu, rucam rajasu nas krdhi, rucam visyesu sudresu mayi dhehi ruca rucam"

Yayur Weda XVIII.48

"Ya Tuhan, bersedialah memberikan kemuliaan pada para brahmana, para ksatria, para weisya dan para sudra. semoga engkau melimpahkan kecemelangan yang tidak habis-habisnya kepada kami".

Sekali lagi berhentilah koar koar tentang sloka dan lontar sebelum kamu mumpuni!

author