Mebakti di Rong Telu

No comment 72 views

Mebakti di Rong Telu

Mebakti di Rong Telu

Hari Rahinan Jagat seluruh umat Hindu Bali melakukan persembahyangan di Sanggah dan Pura pura. Mebakti adalah salah satu rangkaian dalam persembahyangan.

Sahabat saya yg kebetulan soroh Ida Bagus bertanya karena dia mempunyai istri soroh sudra.

Pertanyaannya apakah dia boleh mebakti di sanggah keluarga istrinya?

Kebetulan juga saya punya calon mantu yg dulunya beragama Kristen sekarang memeluk Hindu Bali dan dia menanyakan bagaimana sebenarnya cara mebakti menurut Hindu Bali?.

Sebelum menjawab kedua pertanyaan diatas saya terangkan dulu apa itu Rong Telu ? Apa mantramnya ? dan menerangkan mantram Panca Sembah dan menerangkan sekilas apa itu Hindu Bali atau Gama Tirta atau Gama Bali atau Siwa Buddha atau Siwa Sidhanta.

Hindu Bali dengan ajaran Siwa Buddha atau Siwa Sidhanta adalah sebuah agama yg erat kaitannya dengan Tri Hita Karana. Bagaimana manusia berhubungan dengan alam semesta, sesama mahluk hidup dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Sang Hyang Acintya atau Sang Hyang Parama Kawi atau Brahman dan nama nama lain tentang ke-esa-an Tuhan.

Hindu Bali sebenarnya monoteisme yaitu hanya menyembah satu Tuhan tidak ada yang kedua. Kita dapat liat dalam sloka “Ekam Eva Adwityam Brahman,” artinya Hanya satu tidak ada duanya Ida Sang Hyang Widhi itu. Dari Tuhan sebagai penyebab awal dan akhir ini yg tak terbayangkan dan tak berwujud menjadikan berwujud. Apabila dihubungkan dengan hukum energi Albert Einstein sangat tepat.

Albert Einstein mengatakan bahwa energi dapat berubah menjadi materi yaitu energi lalu berproses lalu menjadi materi. Ini sama percis dengan tattwa Hindu Bali liat saja simbol Ongkara paling atas ada "nada" dan diketahui "nada" adalah getar dan getaran adalah energi. Lalu, liat konsep Tri Purusa dimulai dengan Parama Siwa/energi kemudian berproses menjadi Pencipta, Pemelihara dan Pralina, proses ini disebut dengan Sada Siwa dan terakhir menjadi materi/bhuta dan proses ini disebut dengan Siwa. Jadi kehidupan itu adalah proses dari Siwa yg Sunya menjadi Siwa yang materi dan kembali kepada Siwa atau Sunya.

Siklus Atma atau energi inilah disebut dengan Tri Purusa dari atas kebawah kemudian balik keatas. Atma berasal dari sunya dan wajib kembali ke sunya atau moksa. Apabila tidak mampu moksa maka atma akan berputar putar terus menerus. Perputaran ini disimbulkan dengan segitiga turun dan keatas dan kedua segitiga digabungkan percis seperti lambang bendera negara yahudi yaitu Israel.

Sekarang kita bahas apa itu Rong Telu ? menurut lontar Gong Besi berbunyi :

"Rong Telu ngaran ira Sang Atma, ring kamulan tengen bapanta, nga, paratma. Ring kamulan kiwa ibunta, nga, siwatma. Ring kamulan madya raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi Sang Hyang Tunggal, nunggalang raga.."

Disini disebutkan tentang atma/energi maskulin dan feminim dalam perjalanannya menuju ke dalam atau kembali ke asalnya. Kemudian, kita liat mantram dari proses Penciptaan dan Pemeliharaan yaitu Brahma dan Wisnu.

  • Mantram Upetti/Penciptaan/Brahma ; "Om, I Ba Sa Ta A ya nama Siwa, Om Mang Ung Ang" dan,
  • Mantram Stiti/Pemeliharaan/Wisnu ; "Om, Sa Ba Ta A I Nama Siwa Ya. Om, Ang Ung Mang".

Pertanyaannya kenapa hanya 2 mantram tidak ada mantram peleburan/pralina/siwa ?
karena di Rong Telu yg berstana adalah Iswara ini dapat diliat dari mantramnya yaitu "Brahma Wisnu Iswara Dewam..." ketiganya disebut dengan Tri Murti.

Atma/energi ini apabila belum menyatu maka akan turun naik berputar terus sampai akhirnya kembali ke asalnya atau ke tengah/jro/dalem (Ring kamulan madya raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi Sang Hyang Tunggal, nunggalang raga). Ketika atma diselimuti Panca Maha Bhuta/materi maka atma menjadi Jiwatman jadi Rong Telu itu adalah Atma atau Brahman atau Tuhan bisa diliat dari mantram "Brahman Atman Aikyam".

Sekarang kita bahas apa tujuan mebakti?
tujuannya adalah untuk menyucikan badan dan pikiran. Dengan menyucikan badan dan pikiran maka laku akan menjadi lebih baik atau menjadi pribadi yg bijaksana.

Kebijaksanaanlah yg menghantar atma kembali menuju asalnya (moksa). Untuk dapat menuju ke asal maka kita wajib mengetahui proses datang dan kembalinya. Dengan kata lain kita wajib mengetahui jati diri kita sendiri yaitu dari mana kita datang, untuk apa kita disini dan kemana kita akan pulang. Proses perjalanan atma/energi inilah yg diterangkan oleh Rong Telu dan mantram Panca Sembah.

Coba perhatikan mantram Panca Sembah dari sembah pertama sampai kelima. Disini diterangkan dari atma/kosong/energi menuju ke Brahman/kosong/energi. Sembah pertama mantramnya "Om Atma/kosong/energi..." kemudian sembah kedua "...Parama Siwa ditya/Brahman/kosong/energi.." lalu sembah ketiga "...Ardhanaresvari/setengah laki setengah perempuan.." selanjutnya "....Dewa Dewi Maha Sidhi/laki perempuan.." dan terakhir "...Parama Cintya/Brahman/kosong/energi".

Kalo dikupas mantram diatas adalah tentang perjalanan atman diawali pembersihan atma/energi kemudian menadapatkan pengetahuan tentang asal muasal kita. Diawali dengan Brahman bagai sinar matahari lalu dari diri-Nya berproses menjadi Ardhanarasvari/setengah maskulin dan setengah feminim kemudian menjadi maskulin dan feminim/Purusa Pradana/Dewa Dewi lalu kembali menjadi Brahman/energi asal.

Dari hal diatas maka dapat disimpulkan bahwa Rong Telu adalah Atma atau Brahman kemudian dengan mebakti kita diajarkan akan jati diri kita agar supaya dapat kembali pulang ke asal. Itulah sebabnya Rong Telu dikenal dengan "Kemulan" atau kembali ke asal. Makanya dalam mebakti tidak ada permohonan disitu tetapi penuh rasa syukur akan pembelajaran/tuntunan yg diberikan Tuhan kepada kita. Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah Guru Utama atau Guru Swadhyaya.

Rong Telu bukanlah tempat leluhur di stanakan melainkan tempat atma yg yang kembali ke asalnya. Akan timbul pertanyaan kenapa roh keluarga kita dilinggihkan di Rong Telu?
Jawabannya ritual ini agar keturunannya dapat selalu ingat dan hormat kepada leluhurnya dengan melaksanakan puja leluhur. Puja leluhur dilaksanakan setelah Panca Sembah selesai dengan mendoakan mereka agar mendapatkan tempat yang baik kepada Tuhan. Sesungguhnya dalam Hindu Bali tidak ada menyembah selain Ida Sang Hyang Widhi Wasa tetapi dalam menyembah Tuhan selalu dibarengi dengan puja/penghormatan/mendoakan semua ciptaan Tuhan.

Dari sekian sudah dibahas diatas maka dapat dijawab pertanyaan diatas tadi yaitu bolehkah mebakti di Rong Telu yg berlainan soroh?
Jawabanya sangat boleh karena Rong Telu adalah stana Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Kemudian pertanyaan kedua bagaimana mebakti menurut Hindu?
jawabannya adalah Panca Sembah dengan menerima pelajaran dari-Nya tentang kehidupan dengan rasa syukur dan mendoakan seluruh ciptaan Tuhan. (oleh Putu Agus Yudiawan)

author