Melangkah Dalam Weda

No comment 102 views

Melangkah Dalam Veda

Jangan kecil hati bila kita dituduh tidak paham veda (india) hanya karena tidak bisa menghapal ayat ayat sucinya, TAPI banggalah karena kita melangkah bersama veda itu dalam keseharian kita secara nyata, tidak berteori saja.

apakah sih veda itu ?

Dari suku katanya, veda berarti "pengetahuan" bila di persempit lagi "pengetahuan tentang kebenaran".

Nah, ketika kita menjalankan ritual agama Hindu Bali yang selama ini kita diajarkan oleh tetua kita, ambillah yang paling sederhana (nistaning nista): maturan saiban atau yadnya sesa, ketika kita selesai memasak. Mungkin kita tidak akan pernah di beritau oleh tetua kita, di veda bagian apa (sloka berapa) hal itu diajarkan? tapi kita bisa gali veda (pengetahuan apa yang ada di dalam tradisi itu bagi kehiduan di dunia ini).

Sejak kecil kita di ajarkan agar setelah kita memasak dan sebelum kita makan, maka kita lakukan dulu ritual yadnya sesa yaitu membanten nasi. Secara tatwa ini maknanya "sebelum kita menikmati apa yg kita makan, kita wajib mengucapkan sukur pada Ida Shang Hyang Widhi Wasa yang telah memberi kita rejeki dan menciptakan segala alam, kerena Beliau-lah sumber sebab dan akibat apapun di dunia ini".

kemudian kalo kita lihat, apa saja bahan yg di pakai ? Ada nasi, ada garam dan ada daun.

Saat kita membuat banten nasi ini kita perlu daun. daun yang kita pakai ini bisa kita beli ke pedagang. pedagang dapat daunnya dari petani. artinya ada rejeki juga bagi pedagang dan petani. Andaikata kita tidak bisa beli, kita bisa minta ke tetanga, sehingga kita harus berkomunikasi dengan tetangga, harus akur dengan tetangga.

Ini lah SUSILA kita kepada sesama manusia dalam hubungan horisontal, dan ini sebuah pengetahuan akan kebenaran untuk selalu menjaga hubungan baik dengan sesama manusia "tatwam asi"

Setelah banten jadi kita disuruh meletakkan banten itu ke tempat tempat yg dianggap vital dirumah kita , di sumur, cangkem pawon (dapur), selekak, pelinggih penunggu karang, pelinggih surya, pelinggih rong tiga, pelinggih taksu, pelangkiran dll, disini di "paksa" peduli dengan lingkungan alam sekitar kita.

Bila sumurnya kotor harus kita bersihkan dulu, kalau selekak kita kotor kita bersihan dulu, kalo penunggu kita kotor, kita bersihkan dulu. Jelas sekali ini sebuah veda, sebuah kebenaran sejati, untuk hidup sehat dan nyaman lingkungan harus bersih.

Setelah tempatnya bersih kita letakkan banten kita, kemudian datang semut mengerumuni nasi yang kita haturkan. Mereka mendapat makanan untuk melanjutkan kehidupan. Selanjutnya, ada jamur tricoderma hidup di nasi yg kita haturkan. Jamur ini lah yang menghambat penyakit-penyakit yang menyerang tanaman lain, sehingga alam bisa berbunga, berbuah dan akan menjadi makanan manusia dan hewan.

Bukankah ini sebuah siklus kehidupan yang benar ?

Bukankah ini sebuah pegetahuan tentang kehidupan ?

Bukankah ini sebuah Veda - sebuah pengetahuan Kebenaran Yang Abadi-Sanatana Dharma?

Leluhur tidak mendokrin kita di Bali dengan ayat ayat suci, kita di ajak "berenang" bersama ayat ayat suci itu.

Inilah konsep TRI SADAKA yang mencangkup Tri Loka Bhur, Bwah, Swah - Alam Semesta, Alam Manusia dan Alam Tuhan, Acintya/Suwung. TRI SADAKA-Lah Konsep Dasar setiap Ritual dan Upakara di Bali agar 3 Alam ini selalu harmonis.

lalu apakah membuat BANTEN ini SUSAH ?? RUMIT ?? BOROS ??

itu kembali tanyakan saja ke hati masing masing. Coba bayangkan kalo leluhur kita seperti Rsi Markandya, Empu Kuturan, Empu Lutuk, Dhang Hyang Nirartha dll mengajarkan kita bernyanyi saja sebelum makan? Atau berjoget saja sebelum makan?

apa manfaat nyanyian itu pada orang lain? Pada tetangga?

apa manfaat itu pada alam sekitar kita ?

apa manfaat nyanyian itu pada semut, pada tricoderma?

silakan di nalar

akhirnya saya hanya bilang:

mungkin benar kita orang bali tidak hapal ayat ayat veda tapi kita melangkah berkata dan berpikir dalam veda itu tanpa kita merendahkan orang lain, Tanpa kita sadari, sungguh sebuah anugrah bisa menjadi orang bali yang diwariskan ajaran veda yg suci!

[oleh Ariadi Putra - bukan surya]

author