Memperluas Cakrawala Berpikir

No comment 2802 views

Memperluas Cakrawala Berpikir

Mengenali Pikiran

Kita semua hingga diusia kali ini, pasti menggunakan apa yang disebut pikiran. Hal yang paling mendasar adalah mengenali apakah pikiran itu. Posisi pikiran begitu penting, pikiran adalah hasil dari kerja otak yang memproses berbagai data yang didapat dari indera-indera. Apa pun yang kita dapat dari sekitar kita, yang ditangkap oleh indera-indera kita pasti akan disampaikan ke otak dan akan menjadi catatan yang akhirnya akan disimpan sebagai ingatan, proses ini pasti terjadi sekalipun kita tidak menyadarinya. Data-data yang masuk dan tersimpan, disadari atau tidak tetap akan mempengaruhi proses berpikir kita dalam menerima dan menyikapi data-data baru yang sedang atau akan kita temukan. Data-data yang pernah masuk dan tersimpan kemudian sudah kita anggap sebagai sebuah kebenaran akan membentuk “Sistem Kepercayaan Diri (Self Belief System)". Dari Sistem Kepercayaan inilah kemudian yang akan membentuk “Sistem Pertahanan Diri (Self Defence System)".

Data-data yang kita peroleh sangat dipengaruhi oleh lingkungan kita, dimana kita tinggal, bahkan sejak masih di dalam kandungan. Seorang ibu hamil yang sering berada dalam lingkungan kedamaian, akan membawa sifat sang Bayi yang akan lahir itu lebih condong ke sifat yang damai. Begitu juga jika selama kehamilannya sering berada dalam suasana yang sibuk, bergerak serba secepat mungkin, maka akan membawa sifat sang Bayi yang akan lahir itu lebih condong ke sifat yang aktif, bahkan sangat mungkin menjadi hyper aktif. Semua yang dilakukan oleh orang disekitar bayi yang sedang dikandung, yang dapat mempengaruhi kuat kepada sang ibu, pasti juga akan terekam dan tersimpan dalam ingatan sang bayi sebagai data permulaan atau dasar. Itulah sebabnya dalam tradisi-tradisi kita di Nusantara selalu diajarkan untuk menjaga sikap dan tingkah laku selama tahapan beralngsungnya kehamilan, mulai dari kedua orang tua sang bayi hingga siapa pun yang berhubungan langsung dengan kedua orang sang bayi. Jadi tradisi-tradisi itu bukanlah mitos, tapi sangat logis.

Perubahan keadaan yang dirasakan sang bayi ketika terlahir ke dunia ini juga akan memunculkan Sistem Pertahanan Diri (SPD). Muncul dan bereaksinya SPD itu karena perubahan keadaan, perubahan kenyamanan yang dirasakan. SPD tersebut muncul atas interaksi indera-indera dengan keadaan yang baru yang kemudian diproses dalam otak sang bayi kemudian membandingkan dengan data-data yang tersimpan dalam DNA. Ya, DNA menyimpan begitu banyak data yang dikemas rapi, data yang di dapat dari pengalaman yang pernah direkam oleh orang-orang tua kita, oleh leluhur-leluhur kita, bahkan sejak permulaan dimulainya keberadaan manusia di muka bhumi. Beberapa data yang tersimpan dalam DNA secara otomatis juga sudah dimuat dalam otak kita sebagai data awal. Dimana hal ini pun dipicu oleh aktivitas sang ibu dalam menghadapi persalinan. Dengan begitu cepatnya proses pengolahan data ini, hasilnya, hanya dalam hitungan detik setelah bayi keluar dari kandungan akan melakukan SPD dengan cara menangis untuk memulai paru-parunya menghirup dan menghembuskan udara. Gerak proses data yang berdasarkan data-data yang muncul dari DNA ini sering juga disebut sebagai “keleteg hati” (insting). Jadi sejak kita di dalam kandungan, pikiran pun sudah bekerja memproses data-data yang ditangkap oleh indera-indera kita.

Masuk ke pengalaman setelah berada di luar kandungan, sang bayi pun terus mengumpulkan data-data. Ketika ia lapar atau haus, bayi pun akan bereaksi, reaksi terkuat dari sang bayi ketika kebutuhannya untuk menghilangkan rasa lapar atau haus adalah menangis. Dengan ia menangis, maka akan ada pihak di luar dirinya yang akan datang membantunya untuk memenuhi kebutuhannya itu. Proses dari ia akhirnya harus menangis agar datang pihak yang membantunya pun terekam sebagai data baru, yang kemudian sangat mungkin akan dia gunakan sebagai bahasa awal dalam berkomunikasi dengan pihak lain di luar dirinya. Jika ada orang tua yang memperhatikan dengan seksama tangisan bayi tersebut, maka akan dapat dibedakan, mana tangisan karena lapar atau haus, mana tangisan karena dia buang air, merasa terganggu dsb.

Sekilas uraian di atas adalah tentang bagaimana proses pengumpulan data sudah sejak dini kita kumpulkan yaitu ketika otak kita mulai terbentuk dan mulai bekerja di dalam kandungan. Dan proses pengumpulan data itu terus berjalan hingga seumur hidup kita. Sehingga dalam dunia psikologi ada disebut usia-usia emas dalam pendidikan anak. Secara garis besar, usia emas tersebut akan kami pecah menjadi dua bagian besar, yaitu usia 0 sampai 5 tahun adalah usia yang sangat penting bagaimana kita menyiapkan mereka dalam menghadapi perbedaan-perbedaan yang akan dia hadapi dalam kehidupan. Kemudian usia 5 sampai 10 tahun adalah usia yang sangat menentukan tingkat keberhasilan mereka dalam menghadapi kehidupan ini. Jika di usia kali ini, atau di atas usia 20 tahun kita menemukan bagaimana kacaunya kehidupan kita, maka sangat perlu di telusuri bagaimana proses pengumpulan data awal kita ketika usia yang menentukan tersebut, yaitu sejak di dalam kandungan hingga usia 10 tahun. Dengan mengenali proses pengumpulan data awal ini, kita akan lebih mudah menelusuri dimanakah  yang perlu di benahi pada data yang kita punya. INGAT, hanya untuk membenahi bagaimana data yang kita punya agar kita dapat membenahi kehidupan yang sedang kita jalani, bukan terjebak di masa lalu apalagi untuk mencari-cari kesalahan orang lain di luar diri kita atau pun menyalahkan diri sendiri. Hanya terima dan Sadari.

Sistem Kepercayaan Diri

Kejadian, informasi dan data apa pun yang sama atau serupa secara berulang-ulang dan atau sering yang ditangkap oleh indera-indera akan membentuk Sistem Kepercayaan Diri (SKD). Sebuah SKD yang paling sederhana adalah nama yang kita sandang, yang diberikan oleh orang-orang sekitar kita sejak kita masih bayi. Sebab, pada dasarnya kita terlahir ke dunia ini tanpa nama, kita hanyalah sesosok bayi mungil yang sering juga diumpamakan sebagai kertas kosong yang siap di isi tulisan. Dalam terminologi yang lebih baru, bayi adalah seperangkat komputer super canggih yang siap diisi data-data dan juga piranti lunak (software). Kembali ke nama kita sebagai salah satu SKD yang dibentuk sejak tahapan permulaan keberadaan kita di kehidupan ini. Dengan pengulangan-pengulangan data yang sama yang digunakan untuk memanggil kita, hingga pada pengulangan yang ke sekian kalinya (minimal 3x), kita pun akan menganggap bahwa data itu adalah “tentang” memanggil kita. Sehingga kita pun dikemudian hari akan mengidentikkan bahwa diri kita adalah “itu”. Nama kita itu, adalah salah satu contoh dari sekian banyaknya SKD yang telah tercipta dan dianggap sebagai kebenaran oleh pikiran kita. SKD-SKD yang kita kumpulkan sejak masih di dalam kandungan itu selalu dalam kondisi siaga dalam alam Bawah Sadar (BS) kita. Setiap kali ada kata kunci yang masuk ke pikiran sadar kita melalui indera-indera kita otomatis akan diproses oleh pikiran kita. Sekalipun kita tidak menyadari proses tersebut, proses tersebut tetap berjalan, proses tersebut bekerja di BS kita. Terkadang, karena begitu cepatnya proses pengolahan data tersebut dan tanpa kita sadari, kita menyebutnya sebagai “tiba-tiba”. Padahal, tidak ada yang tiba-tiba, semua ada proses yang medahuluinya, hanya disadari atau tidak.

Sistem Kepercayaan Diri akan membentuk kenyataan seperti apa yang sering kita pikirkan secara sadar atau pun Bawah Sadar. Ketika kita sampai pada titik pertanyaan “Kenapa hidup ku seperti ini?”, “Mengapa hal ini terjadi berulang-ulang kali kepada ku?”, dan sebagainya, maka yang perlu di cek adalah SKD yang kita punya, kecenderungan-kecenderungan yang kita bawa di dalam alam BS. Sebab SKD yang kita punya di BSD kita, yang mempunyai kecenderungan paling kuat atau dominan, akan otomatis memancarkan gelombang dan getaran keluar tubuh kita.

Gelombang dan getaran ini juga disebut sebagai gelombang dan getaran pikiran. gelombang dan getaran yang memancar ini akan dipancarkan ke semesta dan kemudian akan merespon kembali dengan gelombang dan getaran yang serupa. Rangkuman hasil interaksi atau pancaran pikiran kita ini dalam beberapa terminologi disebut sebagai “Hukum Sebab Akibat” atau “Law of Attraction”. Apa pun yang kita kirimkan ke luar akan kembali kepada kita, ini adalah hukum alam, hukum yang tidak bisa kita menolaknya atau mengubah hasil akhirnya kecuali kita mengubah atau merancang ulang tentang apa yang akan kita kirimkan ke luar, sehingga hasil yang akan kembali ke kita pun akan sesuai dengan yang kita harapkan. SKD ini cakupannya begitu luas, mulai dari yang terkecil seperti nama kita, tentang benar-salah atau baik buruk yang kita temukan selama pengalaman hidup kita, sampai pada doktrin dan dogma dari agama atau kepercayaan apa pun yang kita anut sejak bertahun-tahun sebelumnya.

Dari sedikit penjelasan tentang pikiran dan Sistem Kepercayaan Diri yang semuanya berproses baik secara sadar atau pun bawah sadar, diharapkan kita akan sedikit lebih mengenali siapa diri kita sendiri, bagaimana diri kita sendiri. Dengan kata lain, agar kita lebih mengenali bagaimana pola dasar cara berpikir kita. Dengan mengenali pola dasar cara berpikir diri sendiri, kita dapat mengetahui dimana pola yang perlu dibenahi. Selanjutnya, kita akan lebih mengenali potensi yang kita punya untuk menentukan ingin seperti apa kita ke masa depan, ingin menuju arah mana kita ke depan. Hal ini sesungguhnya sangat mendasar. Tanpa memahami benar tentang pikiran kita sendiri yang tidak lain adalah yang membentuk kita menjadi seperti kali ini, maka kita tak mungkin bisa menentukan seperti apa yang kita inginkan di kemudian hari. Seperti kata-kata bijak yang mengatakan begitu pentingnya mengenali diri sendiri, atau bagaimana pentingnya berpikir yang baik dan benar. Dengan mengenali proses kita berpikir dan kecenderungan-kecenderungan data yang kita punya sejak dalam kandungan inilah kita akan menuju sebagai orang-orang yang menguasai pikirannya, benar-benar menjadi orang yang berpikir, bukan lagi menjadi orang-orang yang otomatis digiring oleh pikirannya sendiri yang berdasarkan data-data serapan dari pihak lain yang tersimpan dan telah menjadi SKD di bawah sadar kita yang belum tentu baik untuk diterapkan, bahkan sangat mungkin justru mempersulit kehidupan kita selama ini dan ke depannya nanti.

Orang-orang yang kita temui dalam hidup, siapa pun mereka,

entah menyenangkan atau menyakitkan adalah hasil proyeksi pikiran kita sendiri, dan keberadaan mereka akan membantu kita menemukan siapa diri kita, dan akan jadi apa diri kita di kemudian hari.

Masing-masing dari kita, hingga seperti apa keberadaan kita kali ini sangat terkait dengan kecenderungan-kecenderungan yang sering kita temukan sebelumnya. Seseorang yang kali ini menjadi preman, seseorang yang menjadi religius, spiritualis, theis, atheis dan sebagainya adalah terkait erat dengan data-data apa yang sering dan berulang kali ditemukannya di masa sebelumnya. Orang yang sejak kecil hidup di lingkungan premanisme, sudah sangat wajar jika nantinya akan menjadi seorang preman. Begitu juga dengan orang-orang yang hidup di lingkungan-lingkungan yang lainnya. Namun itu semua tetap dapat di ubah, semua itu dapat diprogram ulang dengan mengisi data-data baru, data-data dengan kecenderungan-kecenderungan yang baru. Memang hal ini memerlukan kerja ekstra, ketekunan dan kesadaran penuh dalam setiap momen. Itulah sebabnya, tetua-tetua terdahulu sering menggunakan kata “eling lan waspada” (sadar/ingat dan waspada). Ya, dengan selalu sadar dan waspada terutama kepada pikiran kita sendiri, kita akan lebih mudah merubah arah pikiran kita untuk bergerak sesuai dengan yang kita inginkan. Selalu menyadari tentang apa tujuan awal kita, waspada tentang data-data yang muncul dari kecenderungan-kecenderungan yang muncul dari bawah sadar kita. Perlahan tapi pasti, setiap kita menyadari munculnya kecenderungan-kecenderungan yang tidak sesuai dengan tujuan awal kita, maka data itu pun akan mulai diabaikan oleh bawah sadar kita, kemudian mengisinya dengan data yang baru yang lebih sesuai dengan keadaan terkini.

Tak ada kesalahan-kesalahan,

tak ada kebetulan-kebetulan,

seluruh peristiwa adalah karunia yang terjadi agar kita belajar darinya.

Dengan mengenali pikiran kita sendiri, serta mengenali Pola Dasar Cara Berpikir kita sendiri yang sudah membentuk Sistem Kepercayaan pada diri kita masing-masing, diharapkan setiap diri kita masing-masing dapat membuka ruang cakrawala berpikir semakin terbuka dan luas. Sebab kebenaran itu tidak hanya muncul dari satu sistem kepercayaan, adanya perbedaan sistem kepercayaan dalam setiap individu adalah kenyataan yang terbentuk dari data pengetahuan apa yang diserap sebelumnya. Dengan demikian pikiran kita pun menjadi lebih terbuka dalam menyikapi perbedaan sudut pandang, bahkan mau melihat sejenak dari sudut pandang yang berbeda untuk memahami perbedaan yang ada, dan bukan sebagai hakim karbitan yang tidak menyadari pola dasar berpikirnya sendiri.

author