Memuja Agni dengan PASEPAN

No comment 976 views

Memuja Dewa Agni dengan PASEPAN

Pasepan adalah Homa Yadnya

Pasepan, salah satu bentuk pemujaan Dewa Agni yang dikenal oleh masyarakat Bali Kuno

Pasepan BaliDi Bali dupa disebut juga PASEPAN yang berasal dari kata ASEP yang artinya ASAP.

Sebelum dupa dalam bentuk HIO (Dupa Batang) populer bagi umat Hindu Bali pada masa lampau pa-DUPA-an ataupun pa-ASEP-an adalah berbentuk tungku tanah liat dengan tangkai dibawahnya, untuk meredam panas dan agar mudah dipegang. Pada tungku tanah liat inilah berbagai kayu yang memiliki aroma harum dibakar dan dicampurkan pula berbagai bahan lain berupa menyan, bunga-bunga harum dll, untuk memperkuat aroma harum. Kayu dibakar dan sangat diupayakan agar yang muncul hanyalah kepulan ASAP dan karena itulah Dupa disebut juga Pa-ASEP-an yang berasal dari kata ASEP (asap).

Entah sejak kapan DUPA HIO digunakan diBali dan siapa yang mempopulerkan pertamakali memang masih menjadi misteri. Ada asumsi yang beranggapan bahwasanya penggunaan Dupa/Hio adalah salah satu bentuk akulturisasi budaya dengan negeri TIONGKOK. Beberapa tulisan menyebutkan bahwasnya prototype (bentuk awal) Dupa telah digunakan oleh peradaban MESOPATMIA 4000 tahun lalu untuk berbagai keperluan ritual keagamaan, tetapi para ahli menyimpulkan bentuk/perinsip dasar dupa telah ada jauh sebelum peradaban Mesopotamia yaitu di peradaban Lembah Sungai SHINDU. Peradaban inilah yang nantinya melahirkan SANATANA DHARMA yang kelak lebih dikenal sebagai HINDU.

Leluhur Bali Kuno tampaknya tidak serta merta menerima langsung setiap budaya baru yang hendak masuk dan berkembang dalam peradaban Bali. Setiap pengetahuan baru selalu dilakukan proses filtrasi terlebih dahulu sebelum diterima. Begitu juga dengan Produk Hio yang dijadikan DUPA oleh leluhur Bali adalah karena memiliki prinsip yang sama dengan DUPA BALI. Itulah salah satu kebijakan leluhur kita di masa lampau yang tetap menerima perkembangan jaman (pengaruh luar) tentunya dengan tetap melakukan seleksi berdasarkan kebijakan lokal.

DUPA dalam ajaran Gama Bali (Hindu) bukan hanya sebagai SARANA penting disetiap Upacara, tetapi adalah juga sebagai salah satu simbol ASTRA (senjata Gaib) yang mewakili kekuatan Dewa Maheswara salah satu bagian dari Panca Rudra. Berada pada kiblat Kelod Kangin (Tenggara) dengan warna Merah Muda (dadu).

Dupa PASEPAN adalah AGNI

Menurut TATTWA GAMA BALI penggunaan Dupa dalam setiap rangkain Upacara adalah mewakili kekuatan AGNI yaitu Dewa API. Disetiap prosesi Upakara diBali selalu menyertakan Agni dengan berbagai wujud misalnya; Linting, Dupa, Api Takep, Obor-obor, Damar Kurung, Damar Sentir, Tatimpug dan lain-lainnya.

Berbagai bentuk AGNI pada sarana upakara dapat dikelompokan menjadi dua yaitu menggunakan Agni yang berwujud NYALA API (linting, Dipa, damar kurung dll) dan Agni yang berwujud ASAP (pasepan, DUPA).

Penggunaan AGNI berwujud Nyala API terlihat pada Banten Pungu-pungu, pada Tebasan Agni Nglayang, AGNI (nyala api) dibuat dari sarana yang disebut Lilit Linting (kapas dipelintir pada tangkai janur).

AGNI dalam Bentuk ASAP tentunya diwakili oleh Dupa dan Pasepan yang lebih mengutamakan kepulan ASAP pada setiap ritual keagamaan.ini banyak dapat kita lihat ritual dikeseharian, baik di canang maupun banten yang selalu menggunakan dupa.

Menurut kitab PRATIMA KOSHA, salah satu gelar Dewa Agni adalah Dhume-Ketu yang artinya Dewa yang memiliki mahkota berupa asap (dhume), maka dari itu tidak ada bedanya antara ASAP dan API, adalah sama-sama MURTHI (perwujudan) Hyang AGNI.

Jargon ada ASAP ada API adalah juga menandakan kaitan antara AGNI dan DHUME yang tiada terpisah.

Ong Ang Astra Kala Gni Rudra ya Namah

adalah Salah satu mantra penting yang digunakan untuk memuja Agni dalam bentuk DUPA yang bermakna sembah pemujaan kehadapan Dewa Agni berwujud sanjata dengan kekuatan KALA dan RUDRA.

Mantram ini khusus diucapkan oleh Dalang Sapuh Leger ketika melakukan Ruwatan Sudha-Mala. Selain menggunakan wujud AGNI sebagai Dhumeketu (Dupa) atribut penting Dalang sebagai simbol AGNI adalah pemakaian Damar Blencong (lampu tradisional khusus untuk pertunjukan wayang).

author