Memuja Dewa dan Tuhan di Bali

No comment 2593 views

Memuja Dewa dan Tuhan di Bali

Dalam ajaran Gama Bali, Tuhan dipanggil dengan Sang Hyang Widhi Wasa, yang Maha Kuasa. Di dalam tattwa, Sang Hyang Widhi Wasa digambarkan sebagai Bhatara Siwa Natharaja, (perhatikan gambar acintya). Bhatara Siwa adalah perwujudan Tuhan Yang Esa, sumber segala yang ada, berada di mana-mana. la mempunyai aspek vertikal dan aspek horizontal. Aspek vertikal ialah aspeknya yang makin tinggi makin halus yang berakhir pada aspeknya sebagai sunya, alam sepi yang tidak dapat digambarkan. Orang-orang yang mendekatkan diri melalui nirwtti marga yaitu jalan kelepasan ingin merealisasikan aspek Tuhan sebagai sunya dalam dirinya. Bagi masyarakat umum akan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui aspek horizontalnya. Aspek horizontal ialah aspek Tuhan ke samping, aspek Tuhan yang berada di mana-mana. Dalam ajaran Saiwa Tattwa la digambarkan sebagai Dewata nawasanga yaitu sembilan manifestasi Tuhan sebagai Bhatara Siwa, yang mengisi semua penjuru alam semesta.

Sesungguhnya semua dewa yang memenuhi semua penjuru mata angin itu adalah Bhatara siwa sendiri yang terletak di tengah-tengah. pancarannya kesegala arah, menguatkan konsep siwa guru yang melekat pada diriNya, sehingga beliau juga dikenal sebagai Hyang Siwa Aditya, siwa perwujudan surya. Dari Bhatara siwalah semuanya muncul dan kepada-Nya pula akan kembali. la adalah sentrum segala. Jalan yang ditempuh oleh orangeorang kebanyakan untuk mempersembahkan baktinya kepada Tuhan ialah prawrtti marga ialah jalan bakti dengan melaksanakan kewajiban hidup sebaik-baiknya sebagai persembahan kepada Tuhan. Tuhan dipuja sebagai saksi agung akan segala perbuatan manusia di dunia, Tuhan yang memberikan berkah dan hukuman kepada semua makhluk. Di Bali bakti kepada Tuhan seperti tersebut di atas direalisasikan dalam berbagai-bagai bentuk. Untuk orang biasa baktinya diwujudkan dalam bentuk yajna dan sembahyang. Kedua-duanya memerlukan adanya tempat memuja. Sanggah, paibon, kahyangan desa, kayangan jagat adalah tempat-tempat-pemujaan itu.

Pamangku, balian dan sulinggih mengantarkan persembahan orang kepada Tuhan dalam wujud manifestasinya. Saa dan puja sarana pamangku dan sulinggih meyampaikan pemujaan kepada Tuhan. Padewasaan dan rerainan, memainkan peran penting. Pada semua ini ide ajaran iman kepada Tuhan selalu tampak dalam wujud tertentu.

Demikianlah misalnya Bhatara Siwa sebagai Dewata nawasanga diwujudkan dalam bentuk banten caru, pada banten bagia pula kerti dan sebagainya, pada puja astamabaya dan sebagainya, pada Kidung Aji Kembang dan sebagainya, Bhatara Siwa sebagai Panca Dewata itu diucapkan kepada berbagai puja, pada saa, digambarkan dalam aksara pada rerajahan kajang, pada alat upacara dan sebagainya.

Tempat-tempat pemujaan menunjukkan pemujaan Bhatara Siwa sebagai Siwa-aditya pada padmasana atau sanggah surya, Trimurti pada sanggah kemulan, paibon, kahyangan desa, kahyangan jagat dan sebagainya. Sulinggih menjadikan diri beliau sebagai stana Bhatara Siwa waktu membuat tirta. Bhatara Siwa yang membuat tirta. Tempat tirta itu disebut Siwa amba, air Siwa dan peralatan Ida Sulinggih disebut Siwa upakarana. Pemujaan Tuhan pada berbagai tempat dengan berbagai panggilan terhadap Beliau rupanya diilhami oleh ucap Bhuwanakosa.

Kemudian pada Gong Besi, sebuah lontar muda pandangan seperti itu diperluas lagi dengan suasana dan thta letak di Bali. Demikianlah orang Bali menyembah Tuhan sebagai dewanya berbagai tempat seperti di Pura Dalem, Desa, Puseh, Bale agung, Pempatan Agung, Pateluan, Setra, Segara, Gunung Agrung, di sawah, jineng, dapur dan sebagainya. Di samping pada berbagai tempat, Tuhan dipuja sebagai dewa yang "ngyangin" berbagai aspek kehidupan seperti dewa pasar, pertanian, petemakan, kekayaan, kesehatan, kesenian, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Dengan demikian hampir tidak ada aspek kehidupan yang lepas Bari agama Hindu. Dalam pemujaan ini Tuhan dipuja sebagai ista dewata, dewa yang dimohon kehadirannya pada pemuja-Nya, sehingga yang dipuja bukanlah Tuhan yang absolut seperti Brahman dalam Upansad, atau Bhatara Siwa azas segala, namun Personal God, Tuhan yang berpribadi yang menjadi junjungan yang disembah oleh penyembahnya. Ista dewata itu dipandang sebagai tamu yang dimohon kehadiranaNya pada hamba-Nya pada waktu dipuja, untuk menyaksikan sembah bakti umat-Nya. Pura dan tempat-tempat pemujaan lainnya adalah pasimpangan-Nya bukan tempat-Nya, sedang tempat-Nya dikatakan dalam lontar-lontar dengan sebutan "yoganira". Oleh karena Tuhan sebagai "Hyang" dari aspek-aspek kehidupan maka rasa akan kehadirannya sangat dihayati oleh hamba-Nya karena-aspek kehidupan itupun amat dihayatinya.

Suasana, tempat, cara dan sebagainya pemujaan itu adalah suasana, tempat cara, bahan yang cocok dan paling dihayati oleh penyembah-penyembah-Nya.

Ada pakaian, hiasan, banten yang dipersembahkan serasi dengan perasaan dan cita rasa penyembahnya sehingga penghayatannya menyusup ke dalam lubuk hatinya yang terdalam. Apa saja yang dipersembahkan itu adalah sesuatu yang terbaik menurut pandangan penyembah-Nya. Akibat dari semua ini ialah adanya variasi dalam pelaksanaan hidup Gama Bali.

Biar bagaimanapun juga prinsip ajaran agama adalah sama di mana-mana dengan Tuhan Yang Esa namun menampilkan diri dalam berbagai wujud dalam pandangan penyembahnya. Yang abstrak dihayati melalui bentuk.

author