Menelusuri Jejak Bangsa Kita

No comment 653 views

Menelusuri Jejak Bangsa Kita
Menelusuri Jejak Penanaman Rasa Rendah Diri Bangsa

Menelisik Legenda Gunung Semeru

Pertanyaan yang paling mendasar adalah: Benarkah Gunung Semeru yang ada di Jawa Timur itu dipindahkan dari India?

Bagi saudara sebangsa yang biasa menelusuri sejarah bangsa ini, tentunya kisah tentang pemindahan Gunung Semeru dari India ke Jawa bukanlah sebuah kisah yang baru. Namun, seberapa banyak diantara kita yang menerima kisah itu secara berantai, dan seberapa banyak yang merujuk kepada sumber kisah tersebut? Sejauh penelusuran ini, ternyata kisah pemindahan Gunung Semeru itu berasal dari sebuah karya sastra yang berjudul Tantu Panggelaran, karya sastra ini muncul pada tahun 1557 Çaka adalah 1635 CE, atau setelah Majapahit sirna 1478CE.

Berikut saya kutipkan cuplikan isi karya sastra Tantu Panggelaran yang saya temukan di Web;

"...Yata matangnyan hengang henggung hikang nusa Jawa, sadala molah marayegan, hapan Tanana sang hyang Mandarparwwata, nguniweh janma manusa. Yata matangnyan mangadeg bhatara Jagatpramana, rep mayugha ta sira ring nusa Yawadipa …; yata matangnya hana ri Dihyang ngaranya mangke, tantu bhatara mayugha nguni kacaritanya... Malawas ta bhatara manganaken yugha, motus ta sira ri sang hyang Brahma Wisnu magawe manusa. …."

Uduh kamu kita hyang dewata kabeh, rsigana, curanggana, widyadara, gandarwwa, laku pareng Jambudipa, tanayangku kita kabeh, alihakna sang hyang Mahameru, parakna ring nusa Jawa, makatitindih paknanya marapwan apageh mari enggangenggung ikang nusa Jawa, lamun tka ngke sang hyang Mandaragiri. Laku, tanayangku kabeh!

Dinyatakan bahwa pada saat itu pulau Jawa masih berguncang ke sana ke mari, selalu bergerak berpindah-pindah sebab tidak ada gunung-gunung (Tanana sang hyang Mandaraparwwata), bahkan belum ada manusia (nguniweh janma manusa), maka batara Jagat pramana (nama lain batara Guru) bersemadi (mayugha) di pulau Jawa, di Dihyang tepatnya, sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama Dieng. Setelah Batara Guru selesai melakukan semadi, kemudian memerintahkan hyang Brahma dan Wisnu untuk menciptakan manusia (motus ta sira ri sang hyang Brahma Wisnu magawe manusa). Selanjutnya dipaparkan tentang perintah Batara Guru memindahkan Gunung Mahameru yang berasal dari Jambudwipa (=India) ke pulau Jawa untuk dijadikan sebagai tindihnya, agar pulau Jawa berhenti bergerak berpindah-pindah.

Ada kejanggalan dalam karya Sastra tersebut, pada mulanya disebut “Tanana sang hyang Mandaraparwwata” (tidak ada gunung-gunung), namun kemudian disebutkan bahwa “Yata matangnyan mangadeg bhatara Jagatpramana, rep mayugha ta sira ring nusa Yawadipa …; yata matangnya hana ri Dihyang ngaranya mangke, tantu bhatara mayugha nguni kacaritanya.” Jadi, ketika di Jawa disebut tidak ada gunung-gunung, namun Bhatara Jagatpramana (sebutan lain untuk Bhatara Guru) bertapa di tempat yang sekarang disebut Dihyang, sekarang disebut Dieng. Sebuah kontradiksi, tidak ada gunung-gunung tetapi ada Dihyang, dalam bahasa Kawi, Di yang berarti tempat atau gunung, Hyang yang berarti yang pernah hidup (kata Hyang bukan hanya terbatas untuk Dewa-Dewa).

Kejanggalan lainnya, jika dikatakan setelah Bhatara Guru selesai melakukan Yoga, kemudian memerintahkan hyang Brahma dan Wisnu untuk menciptakan manusia (motus ta sira ri sang hyang Brahma Wisnu magawe manusa). Artinya kejadian itu sudah terjadi cukup lama.

  • Benarkah pulau Jawa berpindah-pindah sejak zaman dahulu kala?
  • Sehingga perlu memindahkan Puncak Gunung Semeru dari India ke Jawa?

Mari kita lihat ilustrasi dari para ahli geografi tentang pergerakan lempeng benua, perhatikan posisi India dan posisi Indonesia (dalam hal ini khusunya Jawa) :

Peta Dunia Purba

Peta kondisi Bhumi 94 Juta tahun yang lalu

Peta kondisi Bhumi 66 Juta tahun yang lalu

Peta kondisi Bhumi 66 Juta tahun yang lalu

Peta kondisi Bumi versi lain

Peta kondisi Bumi versi lain

Peta kondisi dunia 50,2 Juta tahun yang lalu

Peta kondisi dunia 50,2 Juta tahun yang lalu

Peta kondisi dunia antara 45 Juta sampai 15 Juta tahun yang lalu

Peta kondisi dunia antara 45 Juta sampai 15 Juta tahun yang lalu

Mulai terbentuknya Pegunungan Himalaya sejak 10 Juta tahun yang lalu

Mulai terbentuknya Pegunungan Himalaya sejak 10 Juta tahun yang lalu

Dwipantara 23.750 tahun yang lalu

Dwipantara 23.750 tahun yang lalu

Setelah mengamati peta dunia sejak 94 Juta tahun yang lalu, kita bisa lihat, Jawa yang terombang-ambing (berpindah-pindah), ataukah India? Padahal, pengunungan Himalaya baru mulai terbentuk muncul menjulang semakin tinggi secara bertahap tidak lebih tua dari 10 Juta tahun yang lalu.

Sedangkan selama ini, sebagian besar orang yang melakukan penelusuran sejarah dan ajaran leluhur bangsa ini begitu mudah mempercayai bahwa Jawa dan Nusantara ini yang terombang-ambing. Bahkan kondisi terombang-ambing itu dianggap sebagai simbolis yang menyatakan bahwa Nusantara (khususnya Jawa) tidak memiliki ajaran atau pengetahuan, dan dianggap tidak punya jati diri!

Dasar pemikiran yang mengarahkan bahwa dibawanya Gunung Semeru dari India ke Jawa menjadi kisah dibawanya ajaran India ke Jawa adalah kalimat berikut:

“Hana ta brahmāna sakeng Jambuddipa, sang hyang Tkěn-wuwung aranya; anggaganacara anūtta lari sang hyang Mahāmeru.”

Kutipan ini mengisahkan tentang hadirnya seorang brahmana berasal dari India yang bernama Teken-wuwung ke pulau Jawa pada saat ia mengikuti pemindahan gunung Mahameru.

Namun, lebih lengkapnya adalah sebagai berikut:

Hana ta brahmāna sakeng Jambuddipa, sang hyang Tkěn-wuwung aranya; anggaganacara anūtta lari sang hyang Mahāmeru. Manwan ta tejā putih: “Ika pawitra nggoning sang hyang” lingnira. Anger ta sira luhurning thirtha mili maring Sukāyajnā; tuminghal ta sang hyang Içwara:
Jah sang brahmāna” … “haywa sira hangher hing ruhuring kene. Tunggal hikang bañu hiki, sugyan kita rinangkusa, acěpěl tikang bañu. Pamet hunggon maneh, hangruhuri dahat kita”.

Ndah paksa tinaggehan sang brahmāna; kewalya juga tanangga, … metu cirinya tan yogya. Awamana ri sang pandita, …, angising taya ring bañu:
Kadi wruhanira sang panddita” lingnira “Yan mamyāngising ring lwah.

… tuminghal ta bhatareçwara:
Uduh, rinangkusa hikang brahmāna, keli tahine sne. Ih, waluya ta ko, bañu, pareng natare dang hyang Tkěn-wuwung!

…. Mwajar dang hyang Tkěn-wuwung:
Ih, bañu mili maring natar, ising mangan tayang mami, huni wus lepas keli, mangke ta munggwing natar. ,,,. Ih, çakti tmen sang pāndita!

Rěp datang dang hyang Tkěn-wuwung ri kahanan sang hyang Içwara:
Uduh sangtabya ranak sang pāndita; …. Mapa kalinganya?

Sumahur bhatāra Içwara:
Ah, rinangkusa tan sipi dahat, harih, ….
Lah, sang brahmāna yan ahyun warahen, lamun si kita haywa salah rūpa; den tunggal kang warnna; pawiku kita hiri kami, manandanga hupakāra bhatāra, matangnyan tunggal kang warnna.
Uduh, bhagawan yan mangkana, pwangkulun.

Wilaça laksana ning wiku; rěp sdang sinangaskāra sang brahmāna, kinen çiwopakārana; inaranan mpu Siddayogi. Winarah ring upadeça de bhatareçwara.

Memang ada Brahmana yang disebut bernama Teken-wuwung datang ke pulau Jawa pada saat ia mengikuti pemindahan gunung Mahameru. Namun ketika tindakan sang brahmana menyalahi tatanan masyarakat dan lingkungan setempat, maka ia harus menyesuaikan diri dengan budaya yang berada di lingkungan tempat tinggalnya. Tatanan masyarakat yang disesuaikan adalah sang brahmana disucikan kembali oleh pendeta Siwa sebagai seorang wiku di tanah Jawa kemudian disebut sebagai Mpu Sidayogi.

Kejanggalannya adalah jika dikatakan di Nusantara (khususnya tanah jawa) tidak memiliki ajaran, tidak memiliki Jati Diri, dan kemudian kedatangan Brahmana Teken-wuwung adalah yang disebut menyatakan masuknya ajaran India ke Jawa, kenyataannya justru Teken-wuwung mendapatkan teguran agar menyesuaikan diri dengan budaya dan adat istiadat yang sudah ada di tempat yang baru didatanginya. Disebutkan juga, bahwa untuk membayar kesalahannya, Teken-wuwung sampai harus disucikan kembali oleh seorang Wiku Siwa (Wiku yang mendalami ajaran Siwa).

Dalam karya sastra Tantu Panggelaran ini juga mencatat lima tingkatan metamorfosis tingkat kesucian kehidupan seorang manusia yang disebut Pancagati Sangsara, berikut kutipannya:

Mojar ta bhatāra Guru:
Kapan ta kang manusa limpada sakeng pañcagati sangsara? Dawning makāryya mandala panglpasana pitarapāpa. Antuk aning manusa mangaskara hayun wikuha; matapa sumambaha dewata, dewata suměngkaha watěk hyang, watěk hyang suměngkāha siddārsi, siddārsi suměngkāha watěk bhatāra. Lena sakerikā hana pwa wiku sasar tapabratanya; tmahanya tumitis ing rāt, mandadi ratu cakrawarthi wiçesa ring bhuwana, wurungnya mandadi dewata. Matangnyan wuwurungan dewata prabhu cakrawarthi, apan tmahan ing wiku sasar tapabratanya hika. Matangnyan ta kita, hyang Wisnu, pangaskārani kanyu!

Jadi yang disebut Pancagati Sangsara yaitu:

  1. Manusia
  2. disucikan menjadi wiku,
  3. lalu disucikan lagi hingga mencapai tataran Dewa,
  4. kemudian disucikan lagi mencapai tataran Sidaresi, dan
  5. terakhir disucikan menjadi Bhatara.

Disebutkan juga di atas, bahwa setelah mencapai tataran dewa, barulah mencapai tataran watak para Hyang (yang pernah hidup/manusia-manusia terdahulu).

Sekarang, apa yang umum kita gunakan dan pahami dalam keseharian?

Bukankah kita sering menyamakan antara tataran Dewa dengan Bhatara? Padahal pada masa jauh sebelumnya, Dewa dan Bhatara adalah beda tingkatan.

Di India hingga saat ini tidak lumrah menggunakan kata BHATARA, mereka hanya lumrah menyebut DEWA.
Sedangkan kita di Nusantara sejak dahulu kala sangat umum menyebut Bhatara, dan jarang menyebut Dewa, kecuali ketika dalam 30-40 tahun terakhir ketika arus India minded mulai menjalar masuk semakin dalam, dan tanpa mengetahui tentang Pancagati Sangsara kita dengan mudah digiring untuk menyamakan antara tataran Bhatara dengan Dewa.

Pancagati sangsara ini sebagian juga diartikan sebagai ajaran Buddha oleh para peneliti, padahal dalam literatur Pancagati Sutta, samsara (perjalanan kehidupan) yang dilalui bukanlah seperti pemahaman di atas, tapi sebagai berikut:

  1. Niraya (The suffering states)
  2. Tiracchāna yoni (The animal womb)
  3. Petti visaya (The realm of departed)
  4. Manussa (Humans)
  5. Deva (Gods)

Setelah ulasan di atas, tentang beberapa kejanggalan nyata dari isi karya sastra Tantu Panggelaran, sekarang saya mencoba menawarkan pandangan dari sisi yang berbeda. Jika seperti disebutkan dalam karya sastra tersebut bahwa Puncak Gunung Semeru dipindahkan dari India ke Nusantara (khususnya Jawa)....,

  • kenapa begitu mudahnya kita mengartikan dibawanya ajaran India kesini?
  • Kenapa tidak berpikir terbalik?
  • Kenapa tidak berpikir bahwa puncak ajaran yang ada di India SESUNGGUHNYA ada di sini!
  • Lalu buat apa melakukan perjalanan Tirtha Yatra ke India?
  • Apakah perjalanan itu hanya untuk legalisasi proyek penghabisan anggaran yang diambil dari pajak rakyat Indonesia?!
  • Dengan dasar cara pandang yang berbalik inilah saya pun mulai berpikir ulang tentang kisah-kisah lainnya. Seperti, benarkah Rsi Agastya, Rsi Markandeya dan Rsi-Rsi lainnya yang disebut berasal dari India datang ke Nusantara untuk menyebarkan ajaran India kesini?
  • Ataukah beliau, Rsi Agastya, Rsi Markandeya dan lainnya tersebut datang kesini untuk mencari dan belajar tentang puncak ajaran yang tidak ada di India?

Puncak ajaran yang tidak sempat dibawa atau di copas ke India ketika eksodus penduduk Nusantara 12.000 tahun yang lalu ketika banjir besar melanda tanah ini. Contoh lain dari abad ke 7CE, bahwa ada tokoh yang berasal dari Swarnadwipa (Sumatera) yang dikenal dengan nama Dharmakirti disebut sebagai pelopor Bhuddist Logic di Universitas Nalanda, India dan pemahaman beliau juga mempengaruhi cara pandang para pengikut ajaran Brahmic. Ada juga yang menyebutkan bahwa cara pandang logika dari Dharmakirti juga mempengaruhi cara pandang Adi Shankara pada abad ke 8CE (788CE-820CE). Contoh lain adalah kisah Atisha yang juga belajar sampai ke Swarnadwipa dan membawa ajaran-ajaran rahasianya ke Tibet.

Dengan demikian, dapat dilihat bahwa sang penulis Tantu Panggelaran sebenarnya menulis karya sastra tersebut dalam sebuah tekanan. Tekanan untuk menuliskan bahwa ajaran yang ada di Nusantara ini lebih rendah, bahwa ada ajaran yang lebih baik yang didatangkan dari India. Namun sang penulis itu cukup cerdik menyelipkan “silib” dan “sindir” dalam karya sastranya dengan menyertakan kejanggalan-kejanggalan yang telah saya uraikan sebelumnya. Mari kita berpikir ulang, dengan kata kunci “wolak walike zaman”, mari kita belajar melihat adakah sudut pandang terbalik dari setiap kisah yang ada disini? Kita tidak bisa hanya terpaku pada cara membaca, meneliti dan mengkaji karya sastra peninggalan leluhur Nusantara ini dengan patokan cara penelitian orang barat. Sebagai perbandingan, orang barat memiliki dasar metodologi penelusuran dan penelitian dalam 4 kerangka utama, yaitu : Index, Code, Symbol dan Sign. Sedangkan peninggalan leluhur kita tidak cukup hanya menggunakan ke empat dasar tersebut, sebab leluhur punya cara sendiri, logika berpikir sendiri yang tidak sama dengan ilmuwan barat. Jika membaca pengetahuan Timur dengan cara Barat pasti akan menemukan kesulitan, selain itu, pesan-pesan yang disampaikan pun bisa jadi justru menjadi tidak terlihat oleh yang membaca, sebab metode pendekatan pemahamannya tidak ketemu.

Cara metodologi leluhur kita disebut Sapta Panta, yaitu:

  1. Silib : sesuatu yang diselipkan.
  2. Sindir : ada pada cerita-cerita yang berupa sindiran.
  3. Sampir : sesuatu yang ditempelkan, bisa melalui bentuk, nama, lokasi dsb.
  4. Siloka : ada pada kalimat-kalimat atau kata yang menunjukkan perumpamaan/analogi.
  5. Sandi : kode-kode yang terdapat pada punden-punden berupa angka yang harus dihitung lewat sederet rumus.
  6. Sasmita : kepekaan rasa (bathin) dalam membaca dan mengakses data dan informasi, baik yang diterima dari dalam diri (strain DNA) maupun yang diakses dari luar saat mencapai Samadhi atau pun Channelling.
  7. Sunyata : kemampuan membaca benda dan peristiwa yang sudah mewujud di depan mata, atau kemampuan membaca dan menemukan titik-titik yang saling berhubungan dalam sebuah peristiwa yang abstrak sehingga dapat menentukan apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Daftar rujukan:

  • Dwipayana, Aagn Ari. Mitos Indianisasi. Bali: Bali Post. 21 September 2007.
  • Johns, A.H. From Buddhism to Islam: an Interpretation of the Javanese Literature of the Transition Author. Comperative Studies in Society and History. Vol. 9. No. 1 (Oct , 1966), pp. 40-50. Published: Cambridge University Press.
  • http://www.jstor.org/stable/177836
  • Lestari, Novia. Swarloka di Gunung Pananggungan. Malang: copyright@2005-2009 IMPALA UNIBRAW. http://www.impalaunibraw.or.id/artikel/25-lingkungan/14-swarloka di-gunung pananggungan.html-22k. 29 Mei 1976.
  • Pigeaud, Theodoor Gautier Thomas. De Tantu Panggelaran. Nederland: „s – Gravenhage. Boek en Steendrukkerif voorheen H L Smits. 1924.
  • Poerbatjaraka, R.M.Ng. Kapustakan Djawi. Jakarta: Djambatan. 1952.
  • Roro, Alessandra Lopez Y. Siva in Java: The Majestic Great God and the Teacher. Ars Orientalis, Vol. 33 (2003), pp. 180-196. Published: Freer Gallery of Art. The Smithsonian Institution and Departement of the History of Art, University of Michigan. http://www.jstor.org/stable/4434277
  • Santiko, Prof. Dr. Hariani. Majapahit, Suram Sinarmu. Jakarta: Kompas. 14 Januari 2009.
  • Sedyawati, Prof. Dr. Edi. Tantu Panggelaran Dan Manikmaya: Bandingan Kosmogoni. Seminar Jawa Kuno, di FIB UI. 2001
  • Widyadharma, Pandita S. Intisari Agama Buddha. Jakarta: Cetiya Vatthu Daya. 1999
  • http://ainia79.blogspot.com/2012/11/ffhj.html

Silahkan teman-teman yang mungkin belum pernah melihat dari sudut pandang yang saya sajikan ini untuk mendalaminya terlebih dahulu.

Matur Suksma

Wong Adi Parashakti ya namah swaha… Jaya Mahabhali…

Parokshaghana Dirghantara…

author