Menentukan Lokasi Rumah Adat Bali

No comment 645 views

Menentukan Lokasi Rumah Adat Bali

dalam penentuan lokasi untuk Membangun Rumah Tradisional Bali ini ada beberapa pertimbangan, salah satu yang sangat penting adalah hindari "karang Panes", seperti tanah yang numbak gang/jalan/sungai, tanah yang berdampingan dengan pura khayangan, tanah yang berhawa panas akibat kurangnya sirkulasi, tananh yang lebih rendah daripada tanah disekelilingnya, tanah yang tidak bisa ditumbuhi oleh tumbuhan maupun hewan dan lain sebagainya.

berikut ini sedikit kupasan dari Lontar Keputusan Sanghyang Anala, yang menjelaskan tentang Hala-Ayuning Palemahan. adapun isinya:

iki ling Ira Bhagawan Wiswakarma, luwire: iki ayuning palemahan; ring pascima manemu labha, ring uttara paribhoga wredhi, palamehan asah madya, palemahan hinang Dewa Ngukuhin lan maambu lalah sihing kanti.

maksudnya:

  • ring pascima manemu labha apabila ada Palemahan (tanah) yang miring ketimur, dengan lokasi agak tinggi sehingga tidak cahaya matahari, tumbuh-tumbuhan dan hewan akan hidup dengan baik, begitupula manusia yang hidup di tempat tersebut.dengan demikian panen raya pasti akan diperoleh, rejeki menjadi lancar.
  • ring uttara paribhoga wredhi apabila ada Palemahan (tanah) yang miring keutara, sering juga disebut wredhi putra. itu artinya tidak kekurangan makan-minum yang memiliki rumah tersebut. adapun sinar matahari yang menerpa tanah tersebut sama baiknya dengan tanah yang miring ketimur.
  • palamehan asah madya apabila Palemahan (tanah pekarangan) yang datar, dimana tanah disamping/sebelahnya tidak ada yang lebih tinggi. tanah seperti itu akan mendapatkan sinar matahari yang cukup begitupula dengan hawa udara dan air. sehingga tumbuhan, hewan dan lainnya bisa tumbuh dengan baik.
  • apabila Palemahan (tanah) miring ketimur, keutara ataupun rata/datar, dan bila dirasakan terasa nyaman "hinang", tentram, terasa suasana kesucian itu sering disebut tempatnya dewahyang, maka orang yang akan menempati tanah tersebut akan menemukan "kertha raharja", hingga nantinya akan berkembang menjadi keluarga besar.
  • maambu lalah sihing kanti apabila ketiga tempat tadi diatas, bila tanahnya dicangkul dengan kedalaman lebih dari 30cm (adepa agung) hingga lebih dalam, bila dicium tananhnya berbau seperti bau cabe (bumbu dapur), itu sangatlah baik untuk ditempati.

iki halaing palemahan, luwire Palemahan sane mawarni ireng makliyab ocem, palemahan tan maren mahyus grah malekpek, palemahan manyeleking, karubuhan lan sandang lawe, sula nyupi, kuta banda, teledu nginyah, karang grah, sandang lawang, boros wong, lan suduk angga.

maksudnya:

  • karang Manyeleking, merupakan karang/palemahan dimana dalam 1 natah rumah memiliki 2 atau lebih sanggah/pamerajan maupun yang berbeda kawitan.
  • Sula Nyupi merupakan tanah palemahan pekarangan yang di itari oleh jalan ataupun gang.
  • Kuta kabanda merupakan tanah pekarangan rumah yang diapit jalan/gang.
  • Teledu nginyah, tanah pekarangan yang dilingkari jalan/gang serta numbak rurung/jalan
  • karang grah merupakan tanah pekarangan yang berdampingan (penyanding) dengan Pura Khayangan,
  • sandang lawang terjadi apabila 2 kepala keluarga dengan satu purusa (ayah) memiliki rumah berseberangan jalan atau rumahnya mengapit gang/jalan, apalagi angkul-angkul (pintu masuk pekarangannya) berhadap-hadapan, itu sangat dihindari.
  • Boros wong adalah tanah pekarangan yang memiliki 2 atau lebih pintu masuk pekarangan (angkul-angkul).
  • Suduk angga merupakan tanah pekarangan yang memiliki tembok pangengker lebih, dimana tembok panyengker tetanganya masuk melewati wilayah pekarangan, menembus tembok panyengker pekarangannya.
author