Mengapa Orang Bali harus Beryadnya?

No comment 1290 views

Mengapa Orang Bali harus Beryadnya?

Mengapa Orang Bali harus Beryadnya (melaksanakan ritual agama)?

Disebutkan dalam kitab Rg Weda X.71.11 :

Segeh Agung dan Kawisan

Ream tvah posagste pupusvam Goyatram tvo gayati savavarisu
Brahmatvo vadati jatavidyam Yadnyasyamatram vi mimita u tvah

Rg Weda X.71.11

Seorang bertugas mengucapkan seloka-seloka Weda, seorang melakukan nyanyian-nyanyian pujian dalam Sakwari, seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda, mengajarkan isi Weda, yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci (Yajna).

Demikianlah cara mengungkapkan ajaran Weda adalah dengan yajna. Pengungkapannya dalam bentuk symbol-simbol atau niyasa.Simbol-simbol ini untuk mempermudah menghayati ajaran Weda.

Ayam yajήo bhuvansya nặbhih

Yajurveda XXIII.62

“Pengorbanan (Yajna) ini adalah pusatnya alam semesta”

Ojasca me, sahasca me, atma ca me,
Tanusca me, sarma ca me
Warma ca me, yajnena kalpantam

Yajurveda XVIII.3

“Dengan sarana persembahan (yajňa)” semoga kami memperoleh sifat-sifat yang berikut ini : kemuliaan, kejayaan, kekuatan rohaniah, kekuatan jasmaniah, kesejahteraan dan perlindungan”

Jiotisca me, svasca me, Yajnena kalpantam,

Yajurveda XVIII.1

“Semoga kami mencapai pencerahan dan kebahagiaan dengan sarana pengorbanan (yajňa)”.

Satyambrihadh rtam ugram diksa tapo
Brahma yajna prithivim dharayanti

Atharwa Weda XXI.1.1

Kebenaran, hukum abadi yang agung dan penyucian diri pengendalian
diri, doa dan ritus (Yajna) inilah yang menegakkan bumi.

Chandogya Upanisad XXIII. I. menegaskan hal-hal sebagai berikut : ,,Ada tiga kewajiban yang harus dilakukan yaitu berkurban, mempelajari Veda dan berdana (bersedekah); Itu adalah tugas utama.

Kemasyuran bali disamping karena keindahan alam dan lingkungannya, juga karena daya cipta budi daya masyarakat bali sendiri. Masyarakat bali pranata atau patuh seirama untuk memenuhi hokum-hukum alam. Kepranataan ini mematuhi ajaran yang disabdakan oleh betara siwa sebagaimana termaksud dalam kitab sucinya, yang tersimpan rapi dalam kepustakaan lontar, melalui tuntunan pustaka-pustaka sucinyaitu masyarakat bali memperoleh inspirasi yang tinggi untuk mengolah hidup dan kehidupannya, sehingga tercipta peradaban yang diwariskan dari generasi ke generasi. Inti kehidupan yang hendak didambakan dalam lingkungan penciptaan peradaban itu, dimaknai agar lahir,hidup dan matinya kelak dapat membuka jagat lawangan, yaitu bali keasal kembali kejati diri yang asli, menyatu dengan betara siwa(moksa).

bali dikenal dengan istilah PANITI GAMA TIRTA PAWITRA, penuntun hidup yang suci bersih agar mencapai kemurnian dalam kehidupan lahir batin, ajaran inilah menyelamatkan ajaran SIWA-BUDHA yang memuliakan SURYA CANDRA dari mana datangnya kemilau sinar dan mengalirnya titik air kehidupan itu sendiri. Ajaran yang manunggalkan kemuliaan akasa raya (siwa purusa) dan bumi pertiwi (budha pradana), meme-bapa (ibu-bapak) yang paling hakiki untuk mencipta di peselang, pusat penciptaan melangsungkan dan mengajekan kehidupan itu sendiri. Inilah cita-cita mulia manusia bali itu, ini membuat bali berbeda dengan dunia yang lainnya, yaitu berprilaku mulia. Usaha secara sekala(nyata dan tampak bagian-bagiannya) dan niskala (tak nyata dan tiada terbagi atau terbantah) diberikan korban suci, agar alam sekala dan niskala berjalan harmonis, yang pada gilirannya memberikan kerahayuan jagat berserta isinya.

Satyam brhad rtam ugra diksa tapo brahma yajnah prthivim dharayanti, sa no bhutasya bhavyasya patni, urum lokam prithivim nah krnotu

Atharvaveda Weda XII.1.1

Artinya Kebenaran, kejujuran yang agung, hukum-hukum alam yang tidak bisa diubah, pengabdian diri, tapa (pengekangan diri), pengetahuan persembahan (yajna ) yang menopang bumi. Bumi senantiasa melindungi kita. Semoga bumi menyediakan ruangan yang luas untuk kita.

hyang Buddha tan pahi siwa rajadewa.rwaneka dhantu winuwus, wara Buddha wiswa,bhinneki rakwa ring apan kena parrwa nosen, mangka jinatwa lawan siwatattwa tunggal, bhineka tunggal ika tan hana dharma magrwa..

Kekawin sutasoma(12.a)

tuhan Buddha tidak berbeda dengan tuhan siwa, mahadewa di Antara para dewa. Keduanya dikatakan mengandung banyak unsur, Buddha yang mulia adalah kesemestaan, bagaimana beliau yang boleh dikatakan tak terpisahkan dapat begitu saja terpisahkan menjadi dua, sebab jiwa jina dan siwa adalah satu, memiliki ciri berlainan, tetapi adalah satu.

Pentingnya yadja korban suci/ mengupacarai pulau bali ( dalam lontar dwi jendra tattwa, 50a:4;51b:1,2), sangyang siwa aditya bersabda :

  1. Keadaan pulau bali manaka tidak sempurna melakukan upacara sama dengan kerbau, sapi, manusia jadi kotor.
  2. Kalau kurang banyak melakukan upacara dibali maka dewata membuat penyakit, sakit yang tidak terobati, penyakit merajalela, usada(pengobatan) dan mantra tidak bertuah lagi.
  3. Yang menyebabkan penyakit di daerah bali ini, tiada lain ditebarkan oleh hyang maha dewa, karena masyarakat tidak melakukan upacara, dan tidak pernah menghaturkan pekelem kerbau dan sapi. Masyarakat tidak pernah asuci laksana (mensucikan diri ), membersihkan dirinya.

Ih: sira sang umara yadnya, rengenan rumuhun pewarah ira dewi tapeni, yan sira makyun anangun yadnya, elingakna rumuhkun den apened, apanyadnya adruwe tattwa, yan yadnyantara tan manut ring tattwania, tan bina kadi wong wuta,mangkana juga kang yadnya adruwu sesana..

Lontar tapeni yadnya ( ida betara dalem )

kita umat hindu senang membuat upakara, dengarkan dulu nasehatKU dewi tapani, dengarka dulu baik-baik, karena upakara itu memiliki tattwa, kalau upakarannya tidak sesuai dengan petunjuk tattwanya tidak ubahnya seperti orang buta, demkian juga upakaranya tidak mengandung etika, kalau tidak sesuai dengan etikannya, sama juga seperti orang bisu dan tuli dan ingat juga bahwa upakara itu memiliki tempat sesuai dengan bagiannya, kalau tidak sesuai dengan tempatnya, dikatakan upakara yang berhamburan, tidak ada bedanya seperti membuat upakara kemudian dibuang ditengah jalan.

Dalam lontar tapeni yadja upakara terbagi menjadi utama,madiya dan alit, masing-masing terbagi menjadi utama yang utama, utama madiya dan utama alit, begitu juga madiya dan alit disesuaikan dengan desa kala patra dan kemampuan serta iklas dalam beryadya.

PIAGAM RAJA PURANA BESAKIH

Dewa dan Batara yang bersemayam di puncak Gunung Agung. Batara bersabda, "Hai kamu manusia taatilah titahku! Piagam ini telah direstui oleh para Dewa Nawasanga.

"Hai kamu manusia mayapada, jangan engkau durhaka kepadaku. Jika engkau tidak memelihara pura-pura di Besakih persemayaman para Dewa masing-masing(pelinggih suci) dan kalau ada yang rusak tidak kamu perbaiki, tidak bakti, dan beryadja semoga kamu bertikam-tikaman dengan keluargamu dan semoga engkau binasa, martabatmu akan surut dan menderita serta jauh dari keselamatan". Sabda Batara Nawasanga kepada para umat penganut Siwa dan Buda dan para catur wangsa.

Dalam kitab markandiya purana dan agastiaparwa

Maha rsi markandiya datang ke bali dengan kedua kalinya mendapatkan wahyu betara siwa Aditya melakukan penanaman panca datu dan yadja kurban suci dengan menanamkan ajaran dimana mengunakan lambang warna merah putih sebagai pengider yang digantung dan dipasang keliling sepanjang tepi atap bangunan bangunan suci sebagai simbul siwa adiya.

Maha resi agastia penganut aliran siwa dari india selatan, dengan piagam prasasti janggal pada pasal 12 bab I, tulisan yang tergores diatas batu hitam terdapat didaerah jawa timur yang bertahun saka 682=760 masehi, datang ke bali, dan pemujaan maha resi agastia dilakukan setiap tahun yang disebut maga maha nawawi, dimana melakukan korban suci.
Maha resi kuturan, maha resi bradah, maha resi sangkul putih, maha resi manik angkeran dan maha resi lainnya yang datang kebali, mengunakan sarana upakara.

BALI ADALAH PULAU BEBALI=BANTEN,

BALI DISEBUT AGAMA SIWA SIDANTHA DIMANA AJARAN DISEBUT PANITI GAMA TIRTA PAWITRA

author