Meningkatkan Mutu Umat Melalui Pemahaman Yang Benar Terhadap Simbol Acintya

Meningkatkan Mutu Umat Melalui Pemahaman Yang Benar Terhadap Simbol Acintya
(PERSPEKTIF SIWA SIDDHANTA)

Oleh
I Gusti Made Widya Sena
Dosen pada Fakultas Brahma Widya IHDN Denpasar

Abstract

God is very difficult to understand with eyes. In order to know God, His nature, and His personification, use of various symbols can be helpful, which suggests the unification of two elements, namely the physical and spiritual ones.

Acintya is the symbol or manifestation of God ‘s Omnipotence. It is the “unimaginable” that turns to be the “imaginable” through potraits, reliefs, or statues. All of these symbols are manifestation of the Acintya that takes the form of the dance of Shiva Nataraja, as the depiction of the Omnipotence of God, to bring in the actual symbol of the “Unthinkable “ that have a meaning that people are in a situation where emotions religinya very close with God.

Keywords: Theology, Acintya, Siwa Siddhanta, Siwa Nataraja

I. Pendahuluan

Kehidupan sebagai manusia merupakan hidup yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya, hal ini dikarenakan selain memiliki tubuh jasmani, manusia juga memiliki unsur rohani. Kedua unsur ini tidak dapat dipisahkan dan saling melengkapi diantara satu dengan lainnya. Layaknya garam di lautan, tidak dapat dilihat secara langsung tapi terasa asin ketika dikecap.

Jasmani manusia difungsikan ketika melakukan berbagai macam aktivitas di dunia, baik dalam memenuhi kebutuhan hidup (kebutuhan pangan, sandang dan papan), reproduksi, bersosialisasi dengan makhluk lainnya, dan berbagai aktivitas lainnya, sedangkan tubuh rohani difungsikan dalam merasakan, memahami dan membangun hubungan dengan Sang Pencipta, sehingga ketenangan, keindahan dan kebijaksanaan lahir ketika penyatuan diantara kedua unsur ini berjalan selaras, serasi dan seimbang.

Tuhan akan sangat sulit sekali jika dipahami secara kasat mata, untuk itu pengetahuan akan Tuhan melalui sifat, pribadi dan personifikasiNya melalui jalan penggunaan berbagai simbol-simbol Tuhan dapat membantu manusia dalam memahami Tuhan yang tidak terbatas menuju pada penyatuan kedua unsur ini, yakni penyatuan jasmani dan rohani.

Bhakti kepada Tuhan dengan menggunakan berbagai simbolNya merupakan salah satu ajaran dalam Siwa Siddhanta yang dikenal dengan konsep Saguna Brahman. Lahirnya konsep Acintya pada berbagai media, utamanya penggambaran Acintya di padmasana sebagai Tuhan yang tidak terpikirkan dalam pemujaan keseharian yang dilakukan oleh umat Hindu di Indonesia merupakan salah satu bentuk begitu tingginya rasa keindahan manusia dalam memahami Tuhan. Pemahaman yang benar akan konsep teologi Agama Hindu, khususnya simbol Acintya perspektif ajaran Siwa Siddhanta sangat perlu dikedepankan dalam mencapai satyam, sivam dan sundaram (kebenaran, kebaikan dan keindahan).

II. Pembahasan.

III. SIMPULAN

Sang Paramatman (Hyang Widhi) termasuk Sang Atman itu sendiri memiliki sifat tidak dapat dipikirkan atau dipahami. Jadi, sebagai suatu istilah, “Acintya” mengandung makna sebagai penyebutan salah satu sifat Kemahakuasaan Tuhan.

Acintya sebagai simbol atau perwujudan dari Kemahakuasaan Tuhan itu sendiri. Bahwa apa yang sebenarnya “tidak dapat dipikirkan” itu ternyata “bisa diwujudkan” melalui media penggambaran, relief atau pematungan.

Kesemua bentuk simbol Acintya yang diwujudnyatakan itu dengan mengambil bentuk tarian Siwa Nataraja mengandung makna sama yaitu sebagai penggambaran dari kemahakuasaan Tuhan, dengan mewujudnyatakan simbol yang sebenarnya “tidak terpikirkan” itu memiliki makna agar umat berada pada situasi di mana emosi religinya sangat dekat dengan Tuhan.

Sumber:
Sena, I. G. M. W. (2016). MENINGKATKAN MUTU UMAT MELALUI PEMAHAMAN YANG BENAR TERHADAP SIMBOL ACINTYA (PERSPEKTIF SIWA SIDDHANTA). Jurnal Penjaminan Mutu, 2(1), 1-13.

author