Menolak Hare Krishna

No comment 244 views

Menolak Hare Krishna

Menolak Hare Krishna (HK)

Bhakta HK memuja Gurunya (Prabhupada)

Perdebatan sengit bergulir di medsos. Seteru antara penganut Hare Krisna dengan masyarakat yang kukuh dalam keyakinan, keluhuran orang Bali. Mereka saling caci, mereka saling hina. Saya kurang mengikuti intens perseteruan itu. Sebab saya merasa tidak ada "logos" yang menyala dari seteru itu. Namun sekali-kali saya mengikuti dengan rasa cemas. Khawatir bila terjadi bentrokan fisik.

Debat mereka berkelindan diantara Bhagawad Gita, Weda dan klaim-klaim lain yang saya anggap mubasir. Sering tafsir Gita dibenturkan dengan ritual masyarakat Bali yang dalam penilaian penganut HK dianggap tamasik, bahkan tak jarang mengecilkan arti ritual-ritual itu. Ini sungguh membuat orang Bali panas karena keyakinan mereka direndahkan.

Pertanyaan kemudian, betulkan orang-orang yang memilih kesadaran Krisna itu adalah orang-orang yang tidak paham akan ajaran leluhurnya? Sebagian kecil saya anggap betul, namun sebagain besar saya melihat ajaran ini didesakkan dengan sadar oleh para elite HK, para petinggi lembaga keagamaan untuk menjebak orang-orang awam, bahwa HK adalah jalan penyelematan satu-satunya. Ini citra dan keyakinan yang telah dibangun bertahun-tahun. Memaksa setiap orang harus dibebaskan di jalan kesadaran Krisna. Ini keliru tentu.

Apakah Hindu Bali begitu miskin sehingga ia perlu dikonversi ke jalan HK?

Saya pikir tidak. Bali memiliki kekayaan teks sastra agama begitu melimpah, baik itu menyangkut jalan karma kanda dan jnana kanda-- jalan kerja dan jalan ilmu. Soalnya kemudian, hambatan pertama memahami teks-teks Bali adalah kegagapan pada teks dan kegagapan pada aksara. Inilah tembok besar itu. Celah ini kini direbut HK dan sampradaya lainnya. Mereka menyajikan ajaran-ajaran praktis di tengah kehausan rohani. Sementara para akademisi Hindu gagal membahasakan agama dengan segar karena ia juga mengalami kegagapan teks, bahasa, dan aksara.

Saya sendiri setelah memahami sedikit tentang Bali, membaca teks-teksnya menolak HK semurni-murninya. Bagi saya HK terlalu miskin perihal apa yang disebut Sukarno: berketuhanan dan berkebudayaan. Terlalu naif bila orang Bali membiarkan dirinya termakan doktrin sempit tentang Tuhan. Karena bagi orang Bali bertuhan juga berarti berkebudayaan. Lihat segala jenis ritual dan tradisi di seluruh Bali itu, kendati berangsur-angsur dianggap berat sejatinya ia adalah sejenis yoga sosial. Upacara menggerakkan seluruh sirkum kehidupan Bali, baik secara ekonomi, spiritual, dan kekerabatan--- walau di sana-sini mesti ada yang ditafsir ulang.

Meng-HK-kan Bali berarti memunggungi keluhurannya. Bayangkan, di tanah air bernama Bali kita makan, minum, bekerja, beranak-pianak, hingga berak lalu kita mengagungkan kebudayaan bertuhan yang jauh. Inilah yang disebut 'alpaka" guru, tidak memuliakan tanah dimana kita diberi hidup. Ber-Tuhan bagi orang Bali bukan cuma mengejar Tuhan yang tak tampak-- namun juga menghaluskan seluruh intensitas hidup di jalan kebudayaan, di mana seluruh daya budi lalu merasakan semesta Tuhan, entah di jalan Karma Kanda dan Jnana Kanda. Entah di jalan seni dan tradisi. Seluruh pengabdian di jalan hidup adalah jalan menyadari Tuhan. Inilah alasan orang Bali memuliakan siwa dwara, pintu Tuhan di kepala yang disebut "pabahan". Orang Bali membawa serta Tuhan-nya kemana pun ia pergi. Dan ini yang diwanti- wanti leluhur, jangan sembarang menyerahkan kepala, artinya jangan sembarang menyerahkan keyakinan. Karena alasan ini saya menolak HK. (oleh Wayan Westa, Penulis Kebudayaan)

author