Menolak Hare Krisna

No comment 84 views

Menolak Hare Krisna

Menolak

Menurut kamus, kata menolak memiliki lebih dari 1 makna, dia bisa berarti menangkis, mengelak, mendorong, menghalau, tidak menerima dan banyak lagi lainnya.

Kalimat menolak lupa misalnya, jelas menitipkan makna ketiadaan niat seseorang untuk melupakan suatu kejadian yang pernah terjadi. Lantas, upaya apa yang dibangun agar kelupaan itu tak terjadi?

Yang lumrah, biasanya penyegaran ingatan akan dilakukan, yang artinya, pikiran secara berkelanjutan diajak mengingat-ingat, mengulang detail setiap lembaran keadaan yang tak sudi untuk dilupakan itu. Semakin sering diingat, semakin detail mengulang, maka kelupaan tentu tak terjadi. Pada pilihan lainnya, ekspresi keluar juga dimunculkan, entah deklarasi di depan umum, orasi penyampaian niat tak mau melupakan, yang pada intinya memgajak agar keluapaan tak terjadi.

Pun demikian dengan diksi "Menolak Hare Krishna" apakah upaya yang dibangun akan sama dengan diksi "menolak lupa"? Gambaran besarnya tentu sama. Karena tak memerima keberadaan Hare Krishna, maka segala pikiran, tindakan dan kata-kata akan diarahkan untuk meniadakan hare krishna.

Langkah paling umum yang beberapa saat ini menguat bisa ditemukan di media sosial, melakukan seruan agar hare krishna tidak diterima, tentu didukung oleh berbagai macam dalil. Apakah cara ini tepat? Entahlah, kenyataannya, perdebatan sengit sedari dulu tak menunjukkan hasil signifikan, yang menolak tetap bernarasi, sebaliknya yang ditolak semakin kokoh menancapkan akarnya bahkan jauh meresep pada tanah-tanah subur bumi (baca: ormas keumatan, kampus-kampus, cendikiawan bahkan orang yang katanya disucikan). Belum lagi tak sedikit yang tertawa riang, melihat "pertikaian" krama Bali ini, seakan meringankan tugas berat mereka untuk menguasai pulau mungil ini.

Lalu, apa jalan lainnya yang bisa diupayakan? Mirip dengan cara menolak lupa di atas, dengan mengajak pikiran untuk mengingat dan mengulang. Mengingat dan mengulang di sini bermaksud mempelajari ulang secara detail apa yang diyakini selama ini di Bali, entah membedah ulang teologinya, menerjemahkan kembali segala bentuk ritus, adat dan lainnya agar lebih mudah dipahami. Bila semakin banyak yang memahami apa itu Bali, tanpa ditolakpun (bernarasi), tentu jualan aliran tak akan pernah laku di tanah Bali.

Persoalannya lantas, sejauh mana para cendikiawan Bali mau mengambil peran sebagai pengingat itu? Alih-alih sudi berbagi, dalih "aguron-guron" sedemikian kental terasa, entah memang juga tak paham, atau memang pelit. Prinsip aguron-guron itu memang penting, namun diera digital ini, era yang memerlukan kecepatan disegala lini kehidupan, memaksa kita agar tak lagi memilih cara-cara feodal, cara-cara kaku, jangan sampai ketika nanti benar tumbang, baru lahir penyesalan, mirip tumbangnya Majapahit karena merasa diri paling kuat, paling mampu. Tentu bukan bermaksud menyalahkan para cendikiawan, namun senyatanya keadaan ini harus segera disikapi, bukan sekedar bernarasi ikut melakukan penolakan. (oleh Windhu Segara, pengamat tradisi bali)

author