Menyibak Rahasia Taksu Leluhur Bali

No comment 36 views

Menyibak Rahasia Taksu
Leluhur Bali

Istilah taksu adalah salah satu istilah paling populer di Bali, sekaligus salah satu istilah yang paling misterius. Konon taksu ini merupakan rahasia kenapa dahulu Bali menjadi magnet yang menarik manusia dari segala penjuru dunia untuk tertegun menikmati keindahannya.

Tapi, apakah sejatinya yang disebut taksu itu? Bagaimana Taksu bisa diwujudkan dan bagaimana taksu bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari?

Karya seni yang memikat akan disebut me-taksu, lukisan yang membuat jatuh cinta konon karena me-taksu, tarian yang menghipnotis karena taksu-nya tinggi, manusia yang karismatik adalah manusia yang memiliki taksu. Demikianlah istilah taksu dipergunakan secara sangat luas di berbagai bidang kehidupan di Bali.

Arti Kata Taksu

Entah apa definisi taksu sebenarnya. Padanan tepatnya dalam Bahasa Indonesia pun sulit ditemukan. Taksu bisa dideskripsikan sebagai satu daya magnetis yang menyebabkan seseorang atau satu hal menjadi demikian karismatik, memiliki daya tarik yang demikian besar. Taksu adalah pengalaman rasa, karenanya menjelaskan taksu dengan kata-kata akan menjadi satu hal yang tidak mudah.

Bagi saya, taksu berkaitan dengan satu dari lima karmendriya, yaitu caksu indriya atau indera penglihatan. Taksu mungkin erat kaitanya dengan penglihatan, meski yang lebih banyak merasakan getarannya adalah rasa.

Orang yang dirinya, pertunjukannya atau karyanya me-taksu adalah orang yang “memperlihatkan” sesuatu yang kemudian “dilihat” orang lain. Di sini kemudian ada dua hal yang perlu dikaji;

Pertama, bagaimana seseorang “memperlihatkan” sesuatu (penyabab), disini kita perlu mengkaji alasan dan motivasi yang melandasi orang Bali dalam melakukan segala aktifitasnya, motivasi para pelukis dalam melukis, motivasi penari menari dan seterusnya. Kedua, bagaimana seseorang ‘melihat’ sesuatu itu (akibat).

Dengan kata lain, taksu adalah akibat, dan untuk mengetahui sebab yang memunculkan akibat itu maka kita perlu menelaah bagaimana para leluhur Bali melakukan segala hal yang dilakukannya, apa yang memotivasi dan menjadi dasar utama para leluhur berkesenian atau bahkan melakukan aktifitas hariannya, baik secara terusrat dalam berbagai lontar maupun tersirat dalam berbagai tulisan dan tindak tanduk orang Bali.

Rahasia Membangkitkan Taksu

Jika kita tengok berbagai judul lontar kita akan mendapati ternyata lontar-lontar di Bali salah satunya adalah lontar yang berkaitan dengan profesi; misalkan saja para petani akan mengacu pada Lontar Dharma Pemaculan, para arsitek akan mengacu pada Lontar Asta Kosala-Kosali, para penabuh mengacu pada Lontar Prakempa atau Aji Gurnita, dalang punya Dharma Pedalangan, pandé besi punya Dharma Kepandéan.

Semua profesi punya pegangan lontarnya masing-masing, dan semua pegangan tersebut memiliki satu benang merah; bagaimana menggunakan profesi tersebut sebagai sebuah PERJALANAN SPIRITUAL, bagaimana menjadikan setiap gerak dan laku sebagai upaya untuk merealisasikan KETUHANAN DALAM DIRI. Dengan kata lain, setiap bentuk profesi adalah YOGA bagi yang menjalaninya.

Para pelukis yoganya adalah melukis, para penari menari sebagai bentuk sadhana, para penabuh mengekspresikan spiritnya melalui Gambelan, dan demikian seterusnya.

Profesi dan aktifitas bukan sebatas “payuk jakan” atau panggung ego, namun sebaliknya menjadi sarana untuk melampaui ego dengan berbagai ajaran yang dilandasi oleh sikap “ngayah”.

Taksu muncul saat seseorang menggunakan profesi tersebut sebagai sebuah PERJALANAN SPIRITUAL, bagaimana menjadikan setiap gerak dan laku sebagai upaya untuk merealisasikan KETUHANAN DALAM DIRI. Dengan kata lain, setiap bentuk profesi adalah YOGA bagi yang menjalaninya.

Jadi jelas, mereka tidak melakukan sesuatu dengan spirit ke-ego-an namun spirit ke-tuhan-an. Karena spiritnya berbeda, maka gerak langkahnya pun berbeda, seperti mobil yang beda supirnya akan beda cara berkendaranya.

Ada “kuasa yang lebih besar” yang selalu dilibatkan dalam setiap gerak tindak manusia Bali, dan mungkin inilah yang menyebabkan tubuh dan pikirannya mengekspresikan sesuatu yang juga “lebih besar”, ekspresi yang kemudian oleh orang lain bukan hanya nampak indah di mata, namun seolah berkomunikasi dengan jiwa mereka, sebab yang sedang bereskpresi pun bukan ego namun Sang Jiwa itu sendiri.

Bisa jadi, inilah salah satu alasan yang menjadikan Bali dikenal memiliki taksu yang sedemikian besar di seluruh dunia, dan meredupnya taksu tentu akan menjadi salah satu alasan meredupnya pesona Bali di dunia, sebab tidak ada lagi daya magnetis yang menarik kehadiran seseorang untuk berkunjung ke Bali. Kenapa taksu bisa meredup? Tentu karena spirit yang melandasi tidak lagi sama, sebagaimana dipaparkan di atas.

Dari paparan di atas, kita kemudian bisa mengikuti jejak para leluhur dalam bidang profesi yang kita tekuni, dalam keseharian kita menjalani sesuatu, yaitu bukan sebatas melakukan segala hal yang kita lakukan sebagai aktifitas harian, rutinitas atau sekedar hanya dilandasi semangat materiil (egoistik) semata, namun dengan semangat Catur Yoga, dengan semangat ngayah. Dengan demikian bukan hanya kita bisa melakukan segala sesuatu dengan hati yang damai, dengan bahagia dan nyaman, namun kita pun bisa menghadirkan lebih banyak kebahagiaan pada orang lain dan sekitar.

author