Menyoal Indianisasi Ala Coedes

No comment 47 views

Menyoal Indianisasi Ala Coedes

Menyoal Indianisasi Ala Coedes

Perdebatan tentang sejarah masuknya kebudayaan Hindu-Buddha di Asia Tenggara memang terus terjadi. Namun terdapat perbedaan cara pandang dalam penulisan sejarah tersebut: cara pandang yang pertama melihat sejarah dan kebudayaan kuno di Asia tenggara dari kacamata India dan Cina.

Sementara cara pandang yang kedua mendudukkan Asia Tenggara sebagai pihak yang aktif dalam proses asimilasi kultural tersebut. Artinya Indianisasi atau Cinanisasi tidak dilakukan oleh orang India atau Cina, melainkan dibawa secara aktif oleh “orang dalam” itu sendiri ketika mereka menyusuri negeri-negeri tersebut.

Pertanyaannya, apa implikasi dari kedua cara pandang tersebut?

Menurut saya, cara pandang dalam melihat sejarah memang sangat berdampak pada cara kita melihat diri sendiri. Ketika peneliti kolonial menganggap kebudayaan kuno Asia Tenggara dimulai dari India atau Cina, maka kita menganggap diri sebagai pihak yang tidak aktif, menerima begitu saja, tanpa tedeng aling-aling—sebuah proyek Indianisasi dan Cinanisasi tersebut. Selain itu, kita melihat kebudayaan asing lebih adi luhung, lebih beradab, superior, sementara diri sendiri sebagai pihak yang inferior.

Saya tertarik dengan cara pandang sejarawan Prof. Merle Calvin Ricklefs yang meninggal akhir tahun 2019 lalu. Dalam bukunya A New History of Souteast Asia (sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia), ia bersama kawan-kawannya memberi catatan tentang resiko dari cara pandang cendekiawan kolonial yang melihat sejarah dan kebudayaan kuno Asia Tenggara dari kacamata India dan Cina.

Pertama, kita menganggap budaya asing mendominasi dan lebih luhur dari kebudayaan yang dipengaruhinya. Kedua, masuknya unsur asing ini dipandang sebagai penentu dari dimulainya sejarah Asia tenggara, dan terakhir Negara-negara Asia Tenggara sudah lama dianggap sebagai salinan Cina dan India yang lebih tidak sempurna.

Salah satunya yang dimaksud adalah karya George Coedes yang berjudul The Indianized of Southeast Asia. Dalam edisi bahasa Indonesia buku Coedes yang berjudul Les Etats hindouises d’Indochine et d’Indonesie diterjemahkan dengan judul Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha.

Dalam buku ini Coedes memang memulai penelusuran tentang pengaruh Hindu-Buddha di Asia Tenggara. Bahkan di awal bukunya Coedes menggunakan istilah “Indianisasi” untuk menyebut tersebarnya kebudayaan India.

Menurut Coedes, pelaut-pelaut India yang berlayar ke Indocina dan Nusantara memang tidak menyebarkan agama. Mereka tertarik pada sumber daya alam yang dimiliki. Namun, mereka disambut oleh masyarakat lokal, dan di titik inilah Indianisasi menjadi tak terhindarkan. Proses ini sekaligus memberi warna dasar bagi kebudayaan dan kepercayaan rakyat Asia Tenggara. Di sini sebenarnya Coedes memaparkan bahwa narasi sejarah Asia Tenggara dimulai sejak kedatangan kebudayaan India.

Kebudayaan India kemudian menjadi katalis bagi perubahan sosial, politik, kebudayaan bahkan ekonomi. Bahkan dari pembahasannya—sebagaimana dikritik Ricklefs—dapat diambil kesimpulan bahwa pada dasarnya yang membentuk dan mendefinisikan Asia Tenggara sebagai kawasan adalah kebudayaan India. Anggapan ini diperkuat dengan lenyapnya Vietnam dan Filipina dari kajiannya.

Berbeda dengan Coedes, sejarawan yang juga konsen pada studi Jawa ini mendudukkan Indianisasi yang dipahami dalam konteks Asia Tenggara sejajar dengan proses yang terjadi di sub benua India sendiri. Artinya memang terjadi sinkretisasi di dalamnya. Sanskerta menjadi bahasa ritual dan kesusastraan, sementara bahasa lokal tetap digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga terjadi di Bali. Roh leluhur dan dewa lokal tidak dihilangkan, tetapi dimasukkan ke dalam sistem teologi Hindu yang lebih luas.

Indianisasi di Asia Tenggara sendiri dimulai pada awal masehi. Saat itu unsur-unsur kebudayaan India menyebar ke timur. Namun Ricklefs dan koleganya menilai bahwa proses Indianisasi tersebut juga belum begitu jelas. Tidak terdapat kerangka waktu yang tepat soal itu. Namun prasasti Sanskerta pertama dari Vo Canh di Vietnam Selatan berasal dari abad ke-3 Masehi.

Pertanyaannya siapa pelaku atau “aktor intelektual” penyebaran tersebut? Apakah pelaut India—sebagaimana dibahas Coedes?

Memang sebelumnya, kita dicekoki teori-teori yang berpusat pada ksatria, waisya, termasuk brahmana dalam proses Indianisasi tersebut. Mereka-mereka ini dianggap yang menyebarkan kebudayaan mereka di Asia Tenggara. Sekali lagi, pihak Asia Tenggara berada dalam posisi menerima begitu saja. Hipotesis ini cenderung berasumsi bahwa orang India yang datang ke Asia Tenggara dengan membawa serta kepercayaannya untuk masyarakat lokal yang mau menerima. Padahal, belum tentu demikian. Cara pandang ini justru menegasikan dinamika dan konflik di dalamnya.

Di sini Ricklefs dkk membuat hipotesa yang lain. Ia menyatakan bahwa kebanyakan orang Asia Tenggara adalah penjelajah laut kawakan, terutama yang berasal dari negeri melayu. Kita pernah mendengar ungkapan: nenek moyangku seorang pelaut.

Bisa jadi dan tidak mustahil apabila mereka menjadi pihak “aktif” yang membawa pulang kebudayaan India ke tanah airnya. Melalui argumentasi ini, Ricklefs dkk ingin mengatakan bahwa orang Asia adalah pihak yang berinisiatif dalam proses asimilasi kultural tersebut, bukan melihatnya sebagai penerima pasif yang hanya menyambut datangnya kebudayaan India.

Saya tertarik dengan hipotesa ini, karena memang Indianisasi adalah fenomena yang rumit dan luas dengan berbagai sudut pandang. Namun hipotesa ini membawa implikasi lain yakni kita menganggap diri yang aktif dalam proses percampuran, asimilasi, atau sinkretisasi kultural tersebut. Bukan pihak yang pasif menerima segala sesuatu dari luar.

Meskipun ada data sejarah yang menunjukkan kita sebagai “penerima”, namun, sekali lagi, bukan penerima yang pasif. Hal ini dibuktikan dengan adanya genius yang melakukan pengolahan unsur-unsur kebudayaan asing menjadi kuat nuansa lokalnya. Tidak salah jika cendekiawan Belanda van Leur mengatakan bahwa unsur India hanyalah pelapis tipis di atas kebudayaan lokal.

Pertanyaan selanjutnya, masihkah kita sebagai pihak yang aktif tersebut? Tabik, (oleh I Gusti Agung Paramita)

author