Mpu Bradah

No comment 45 views
Mpu Bradah,5 / 5 ( 1votes )

Mpu Bradah (Pradah)

Mpu Bradah adalah adik dari Mpu Gni Jaya. Mpu Bradah merupakan Betara Kawitan para Brahmana wangsa (Babad Brahmana) dan Ksatrya wangsa (Babad Dalem) di bali.

Mpu Bradah dua orang laki – laki, yaitu:

  1. Mpu Siwagandu, dan
  2. Mpu Bahula.

Itulah semua keturunan Brahmana, tingkah laku dan bathinnya sesuai dengan kawitannya. Apabila salah seorang dari keturunannya itu melanggar nasehat Bhatara Kawitan, maka ia akan kena kutuk tidak dapat berlaku dalam jalan yang benar (mungpang selaku lampah) dan lagi selalu menurun derajatnya menjadi orang hina.

Diceritakan Sang Mpu Bradah turun ke Bali dengan maksud akan datang menghadap kakaknya di Cilayukti, berhasrat hendak mengetahui bukti – bukti kekuasaan bathin kakaknya. untuk itu beliau menyeberangi lautan dengan menjalankan ilmunya yang bernama Bhasundari Antah Siksa, setelah itu meluaplah air laut. Tiba-tiba datang seekor Kura-kura besar serta dikutuknya bila mana bertelur di tengah lautan.

Tidak direntang panjang betapa halnya dalam perjalanan, dikisahkan telah tiba di Cilayukti dengan berperahu kayu pelud yang hanya segenggam panjangnya. Mpu Kuturan seraya katanya:
Adikku selamat datang, silahkan duduk”.

Ya paduka kakak pendeta, maksud saya datang menghadap ini adalah ingin mengetahui kekuasaan bathin paduka kakak paduka, jika boleh harap diperlihatkan kepada saya."

Jawab Mpu Kuturan:
Jika demikian maksud adik baiklah kakak penuhi hasrat adik. Itu di sana ada seekor ayam baru bertelur tiga butir”.

Terima kasih jika demikian"
kata Mpu Bradah.

Lalu Mpu Kuturan mengeluarkan kekuasaan batin hatinya, yaitu ditarik dengan kekuatan bathin telur itu, maka dengan seketika itu tiga butir telur itu datang dengan sendirinya kehadapan Sang Maharani. Oleh karena itu Mpu Kuturan tiga butir telur itu ditaruh bertumpuk tiga, lalu bertanya:
Adikku, coba terka apakah nanti lahir dari masing – masing telur ini?"

Baiklah”,
jawab adiknya, seraya menenangkan bathinnya untuk mempersatukan ketajaman pandangan jiwanya ke dalam telur itu. Tiada lama antaranya Mpu Bradah berkata:
Kakak Pendeta, telur yang tempatnya teratas saya dengar suaranya menyerupai angsa, kiranya angsalah yang lahir dari padanya”.

Jawab kakaknya:
Tidak, naga keluar dari dalamnya
Tiada lama antaranya, telur yang dibicarakan tadi pecah, lalu keluar anak angsa dari dalamnya.

Mpu Kuturan berkata pula:
Adik, coba terka telur yang ditengah ini, apa nanti lahir dari dalamnya?

Baiklah kakak pendeta”,
jawab Mpu Bradah. Sebaiknya saya menerka telur terbawah lebih dulu. Gagak putih akan keluar dari dalamnya. Tiba – tiba telur tadi pecah, keluar seekor Gagak putih dari dalamnya, sekejap mata itu telah mulai belajar terbang di udara.

Kata Mpu Kuturan pula:
Adik, kini masih sebutir, coba terka lagi!

Jawab adiknya:
Ya kakak pendeta, telur ini akan melahirkan dua ekor naga”.

Sekejap itu telur yang ketiga (di tengah) itu pecah keluar dua ekor naga yang buas, mulutnya menganga hebat dahsyat, taringnya tampak tajam – tajam, culanya berapi – api mengkilat – kilat lalu terbang ke udara turun di Besakih. Demikian ceritanya.

Setelah selesai peristiwa yang mentakjubkan itu, lalu Mpu Bradah bersemadi sejenak mencipta dengan kekuatan ilmu aji Basundari dan ketajaman pemandangan, kelihatan olehnya butir telur mengambang di tengah lautan sebelah timur Gunung Silayukti.
"Apabila tidak keberatan, coba persatukan pandangan bathin, apa gerangan lahir dari padanya nanti".

Baiklah kanda coba permintaan adinda
Jawab Mpu Kuturan seraya mengumpulkan dan semusatkan bathinnya dengan ilmu aji Antasiksa guhjawijaya,
"akan keluar dari dalamnya pancawarna".

Mpu Bradah berkata:
Tidak”.

Tiba – tiba pecah telur itu, keluarlah dari dalamnya hujan bunga panca warna harum semerbak memenuhi udara.

Mpu Bradah berkata pula:
Wah benar kakak, coba yang lainnya diterka lagi!”.

jawab Mpu Kuturan,
Adikku telur yang di tengah air tirtha Kamandalu airnya”.

Tiba – tiba pecah telur yang ditengah itu. Seketika itu bergelora samudra itu, karena kaluarnya air tirtha Kamandalu bertempatkan kendi manik.

Mpu Bradah berkata pula:
Kakak pendeta telur yang masih sebutir lagi yang tempatnya terbawah, apa gerangan keluar dari dalamnya, cobalah diterka baik – baik!

Mpu Kuturan menjawab:
Adikku, telur yang terbawah itu Badawangnala lahir dari padanya”.

Baru pecah telur itu, memang benar lahir seekor Badawangwala dari dalamnya bersayap gerinsing wayang, berbulu pitala sutra yang sangat mentakjubkan. Ketika itu timbul benci hatinya Mpu Bradah, lalu mengucapkan kutuk katanya.
Hai kamu Bedawangnala! Karena engkau ia jatuh ke Bumi, dari sejak ini sampai kemudian tidak boleh engkau bertelur dalam lautan moga – moga engkau dimakan ikan besar, salahmu durhaka kepadaku”.

Demikianlah sabda Mpu Bradah sangat manjurnya. Itulah sebabnya bangsa penyu bertelur di daratan pantai laut dan banyak makhluk lahir dari padanya misalnya menjadi ular, penyu, empas, dan kura – kura. Beberapa hari antaranya, tibalah hari Kamis Wage dan Jumat Kliwon Wuku Sungsang, yaitu Sugihan Jawa dan Bali, maka beliau itu turut melakukan hari sugihan manik itu. Ketika itu pertama kali dirayakan hari Sugihan Jawa dan Bali. Yang disebut Sugihan Manik atau Ulihan Jawa, hari Kamis Wage, sedangkan Sugihan atau Ulihan Bali, hari Jumat Keliwon Sungsang.

Tiada diceritakan betapa kehidupan selanjutnya, pada suatu hari pulang Mpu Bradah itu ke Jawa, setelah mohon diri kepada kakaknya Mpu Kuturan. Setelah meninggalkan padang lalu pergi ke Gelgel menju Dasar bhuwana. Tidak disebutkan apa pembicaraannya di Gelgel, setelah mohon diri daripada kakaknya disana lalu pergi ke Besakih, kemudian dari Besakih menuju Gunung Lempuyang. Setelah selesai mohon diri kepada kedua kakaknya ini, maka Mpu Bradah melanjutkan perjalannya ke Jawa berparhyangan di Pejarakan.

Babad Bali merupakan cerita kehidupan yang diyakini nyata adanya (itihasa), namun Babad ini belakangan sering terjadi kesimpang siuran akibat sedikitnya ada bukti otentik. Untuk membuktikan kebenaran dari cerita Babad ini agak sulit, seperti halnya cerita purana di India, setiap Babad secara umum tentu mengagungkan pemilik (judul) babad. Hal itulah sebabnya beberapa cerita babad agak tidak singkron/nyambung bila disanding dengan babad lain. Untuk itu, dalam Gama Bali hanya mengisahkan cerita-cerita umum saja.

author