Mpu Gni Jaya

No comment 615 views

Mpu Gni Jaya

Mpu Gni Jaya merupakan Betara Kawitan bagi sentana Pasek sanak pitu atau Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR).

Diceritakan pada Sukra, Kliwon Tolu Sasih ke-5 Isaka 70 di bumi terjadi hujan yang amat deras, angin besar, lalu menurunkan putra dari Gunung Tolangkir, dan juga pada Sasih ke-6 Isaka 113 meletus lah Gunung Tolangkir dan lahirlah Bhatara Putrajaya, Bhatari Dhanuh, Bhatara Gnijaya. Adik dari Dewi Danuh bernama Bhatara Mahadewa. Dewi Danuh berparhyangan di Batur, Bhatara Gnijaya berparhyangan di Gunung Lempuyang. Kemudian pada Anggara Kliwon Julungwangi sasih ke-2, Isaka 118, Bhatara Mahadewa bersama saudaranya beryoga menciptakan Brahmana pandita yang bernama Mpu Mahameru, Mpu Ghana dan Mpu Kuturan. Dan Mpu Pradah datang ke Gunung Semeru serta memuja Bhatara Pasupati. Juga Bhatara Mahadewa berputra Bhatara Ghana dan Bhatari Manik Geni diperistri oleh Mpu Gnijaya. Kemudian para putra Bhatara Pasupati datang ke Bali.

Diceriterakan Sri Aji Herlangga di Daha, didatangi oleh Ida Bhatara Gnijaya serta diikuti oleh Ida Bhatara Mpu Mahameru, Ida Bhatara Mpu Ghana, Ida Bhatara Mpu Kuturan, dan Ida Bhatara Mpu Pradah, untuk menyampaikan keadaan di Bali.

Mpu Gnijaya pergi ke Bali hari Kamis, Paing bulan (sasih) Kasa, Isaka 1079 (tahun 1157 M) berjumpa dengan adik-adiknya kemudian bersama-sana memuja ke Besakih. Para Mpu itu telah menetap di masing-masing desa hanya Mpu Gnijaya pergi balik ke Bali dan Jawa. Mpu Mahameru di Besakih, Mpu Kuturan di Silayukti, Mpu Ghana di Gelgel.

Diceriterakan Ida Bhatara Mpu Gnijaya mempersunting Ida Bhatari Manik Geni menurunkan:

  1. Bethara Mpu Ketek,
  2. Bethara Mpu Kanandha,
  3. Bethara Mpu Wiranjana,
  4. Bethara Mpu Witadharma,
  5. Bethara Mpu Raga-Runting,
  6. Bethara Mpu Prateka, dan
  7. Bethara Mpu Dangka.

Karena bersaudara tujuh disebut Sanak Pitu. Ketujuh orang Mpu putra Mpu Gnijaya masing-masing telah mempunyai keturunan. Para Mpu itu mengungsi ke Tumapel, Pasuruhan, dan Keling karena keangkuhan tindak-tanduk Prabu Dangdang Gendis. Setelah Bali ditaklukkan oleh Majapahit, maka Gajah Mada mengutus Mpu Dwijaksara serta sanak saudaranya datang ke Bali untuk mengatur pulau Bali.

Bhisama Kawitan

Kamu Pasek dan bendesa, jangan lupa akan kahyangan sesembahanmu, seperti yang berada di Gunung Lempuyang, di Besakih, di Silayukti (Padang Bai) beserta di Gelgel Dasar Buana. bila kamu sampai lupa akan kahyangan sesembahanmu, semoha kamu tidak rukun bersaudara, tidak henti-hentinya tertimpa kesulitan, tak putus-putusnya bertikai sesama saudara, bayak memiliki keterampilan kerja, namun kurang penghasilan.

Demikianlah pesanku, kepada kamu sekalian keturunanku (generasiku), yang sudah dicantumkan pada prasasti, yang kamu anut bersama. kamu tidak boleh menentang sabdaku, amat berbahaya, jangan sekali-kali kamu melupakannya.

apabila kamu menerima dan taat akan sabdaku, semoga kamu panjang umur, menikmati martabat mulia, memiliki keterampilan yang berarti, setiap yang diucapkan akan menjadi kenyataan, dihormati di dunia ini, dikasihi para dewata, karena kamu orang bijaksana, memiliki keterampilan utama, bertingkah laku yang sopan, lihai di dalam hal pemecahan masalah.

Pura Kawitan

Pura Kawitan semua warga Pasek Sanak Sapta Rsi adalah di Lempuyang Madya.

Tapi sesuai Bisama Ida Bhatara Kawitan, semua warga Pasek wajib juga menyungsung Pura Khayangan lainnya yang masih diantaranya Pura Besakih, Pura Dasar Bhuana dan Pura Silayukti.

Kenapa harus menyungsung Pura-pura tersebut…?

Mari kita kembali ke Babad Kawitan. Ida Hyang Pasupati yang berstna di Gunung Mahameru memerintahkan putra beliau Hyang Gnijaya Ke Bali untuk menata kembali kehidupan disana. Hyang Gnijaya kemudian berstana di Gunung Tohlangkir berputra 5 orang.

  1. Ida Bhatara Kawitan (Mpu Gnijaya) yang kemudian membangun Pesraman di Tampurhyang/Lempuyang (Lempuyang Madya)
  2. Ida Mpu Semeru yang kemudian membangun Pesraman di Besakih
  3. Ida Mpu Kuturan yang kemudian membangun Pesraman di Silayukti
  4. Ida Mpu Ghana yang kemudian membangun Pesraman di Dasar Gelgel
  5. Ida Mpu Bradah tinggal di Tanah Jawi.

Dari empat bersaudara yang bertempat tinggal di bali tersebut, hanya Ida Mpu Gnijaya saja yang memiliki keturunan. Sehingga Ida Bhatara Kawitan Menurunkan Bisamanya agar tetap ingat dengan Leluhur dan saudara bliau, diantaranya dengan ingat dan tetap menyungsung tempat pasraman dari saudara-saudara bliau. Adapun Pasraman tersebut kemudian dibangun Pura, yang kemudian dijadikan Pura Khayangan Jagat dan sampai sekarang wajib untuk kita sungsung…

Menurut salah satu Babad, ditemukan pula bahwa Ida Mpu Semeru tidak memiliki putra biologis, tetapi beliau memiliki putra dari hasil yoga-samadi beliau, yang kalau tidak salah kemudian menurunkan Pasek Kekayon diantaranya Pasek Kayu Selem dan saudara-saudara beliau…

Jangan berputus asa tentang kawitan. Memuja kawitan itu perlu karena meliputi tiga dari Pancasrada yaitu: Widhi Tattwa, Atma Tattwa, dan Punarbhawa.

Sama seperti kita sekarang, bagaimana sakit hatinya jika anak kandung kita tidak mengakui kita sebagai ayahnya? atau tidak tahu bahwa kitalah ayahnya?

Kawitan berasal dari kata "Wit" artinya asal-usul. Bhisama leluhur yang dimuat di Prasasti antara lain berbunyi sebagai berikut:

"itulah hukumnya bagi orang-orang yang tidak tahu kawitan; bagi mereka yang demikian itu akan tertimpa kesusahan seperti "sabe asanak" (berkelahi antar keluarga), "tanpegat agering" (sakit terus menerus tanpa sebab yang jelas), "katemah dening bhuta kala dengen" (diganggu pikiran yang tidak pernah tenang), "surud kawibawaan" (tidak punya wibawa/ kharisma), "surud kawisesan" (bodoh, malas dan kata-katanya tidak berarti), "kelangenan tan genah" (hidup boros sehingga menjadi miskin), "sedina anangun yuda neng pomahan" (tidak pernah rukun dengan anak-istri), "rame ing gawe kirang pangan" (banyak kerjaan tetapi hasilnya kurang/ tidak memadai)

Bhisama Kawitan Ratu Pasek

Tetaplah berbakti kepada Kawitan, tidak berarti lalu membangkitkan fanatisme soroh. Ingatlah kita satu darah, satu Kawitan.

Sekilas Cerita Babad Pasek

Zaman bahari tatkala nusa Bali dan Lombok masih berkeadaan goncang, sebagai perahu di atas lautan selalu goyang dan oleng. Nusa Bali dan Lombok ketika itu hanya ada gunung di Bali, bagian Timur gunung Lempuyang namanya. Bagian selatan gunung Andakasa, bagian Barat gunung Watukaru, bagian Utara Gunung Mangu namanya dan pula gunung Bratan. Sebab itu mudahlah oleh Hyang Haribhawana menggoyangkan nusa ini.

Dengan demikian bhatara Pasupati sangat belas kasihan melihat halnya pulau Bali ini, maka berkenanlah Bhatara membongkar sebagian lereng gunung Mahameru, dibawa ke Pulau Bali dan Lombok, si Badawang nala diperintahkan diam bertahan di pangkal gunung, Sang Anantabhoga dan Naga Basuki menjadi tali gunung itu, sedang Naga Taksaka menerbangkan. Diturunkan di Bali pada hari Kamis Keliwon wuku Merakih, sasih kedasa (April) bulan mati (tilem), rah 1, tanggek 1, tahun Caka 11.

Setelah beberapa tahun lamanya rusaklah nusa Bali, pada hari Kamis Keliwon wuku Telu, sedang hari Purnama raya, sasih Kasa (Juli), rah 7, tenggek 2, tahun Caka 27, ketika itu hujan sangat lebat disertai angin topan guruh kilat bersambungan, akhirnya terjadi gempa bumi disertai suara dentuman – dentuman sehingga dua bulan lamanya hujan saja, akhirnya meletus gunung Agung (Tolangkir) keluar air salodaka (air belerang) dari sana.

Setelah beberapa tahun antaranya, maka pada hari Selasa Keliwon wuku Kulantir, sasih Kalima (Nopember), kebetulan bulan Purnama, tahun Caka 31, meletus, pula gunung Agung itu, maka tampak keluar Bhatara Hyang Putrajaya disertai adiknya Bhatari Dewi Danu, turun menuju Besakih, terus menetap bertempat di sana disebut Parhyangan bergelar Hyang Mahadewa. Bhatara Dewi Danu berparhyangan di Ulu Danu Batur dan Bhatara Hyang Genijaya berparhyangan di Gunung Lempuyang.

Demikianlah riwayatnya pada zaman bahari, ketika Bhatara itu berangkat ke Bali diutus Hyang Pasupati, dengan sabdanya
Anakku bertiga kamu Mahadewa, Danu, dan Genijaya tidak lain hanya engkaulah kusuruh pergi ke Bali menjadi Pujangga orang Bali”.

Demikianlah sabda Hyang Pasupati lalu tiga Bhatara aitu datang menyembah, katanya:
Ya Tuhanku Bhatara, bukan karena kami akan menolak perintah Bhatara, hanya kami perlu kemukakan bahwa kami masih dalam keadaan anak - anak belum dewasa, tentunya kami tidak tahu jalan mana yang harus kami tempuh”.

Jawab Hyang Pasupati:
Anakku, janganlah bersusah hati, aku akan memberi engkau wahyu, supaya segala kehendakmu itu kesampaian hendaknya, sebab engkau adalah anakku sekarang”.

Setelah itu maka Bhatara tiga itu diberi yoga, ditempatkan dengan gaib didalam kelapa gading, kemudian berjalanlah mereka itu melalui dasar laut dengan segera tiba di gunung Tolangkir berparhyangan di Besakih. Demikianlah riwayatnya.

Diceritakan pula Bhatara Hyang Pasupati di Gunung Himalaya, memberikan nasehat kepada para Mpu semuanya, katanya:
Cucuku semua, dengarkanlah nasehatku kepada cucuku sekalian, bahwa aku telah memberi izin kepadamu sekalian untuk ke Bali, melaksanakan yoga disana, menyertai anakku Hyang tiga itu”.

Dalam antara itu diceritakan pula orang – orang yang bertapa di lereng Gunung Tolangkir yang berlanjut timbulnya raja yang memerintah pulau Bali. Konon permulaan penjelmaan raja ini diperintahkan oleh Tuhan untuk menjelma dimasukkan ke dalam selubung buah kelapa. Setelah duduk sebagai raja, digelari Shri Aji Masula – Masuli. Ketika itu sangat sejahtera masyarakat Bali, karena raja itu selalu melakukan Dharma keparamerthan, cinta bakti kepada dewa – dewa dan kawitan – kawitan.

Hal ini didengar oleh Shri Aji Mayadanawa, tentang halnya orang Bali semua, suka ria hatinya mempersembahkan Widhi – Widhana pujawali. Kemudian ia menuju ke desa Manikmao. Raja ini berhenti dengan maksud menanti orang – orang Bali yang akan pergi ke Besakih. Kemudian datanglah orang – orang Bali berduyun – duyun laki perempuan, bersama anak cucunya yang masih digendong, membawa sesaji untuk persembahan.

Raja Mayadanawa berkata:
Hai engkau orang Bali, akan pergi kemana engkau membawa sesaji persembahan sangat lengkap?

Orang – orang Bali menjawab:
“Ya, Tuhanku, kami sekalian pergi ke Pura Besakih, ke Dalempuri, mempersembahkan bakti kepada Bhatari!

Raja bersabda pula:
O, ya, engkau sekalian pergi ke Dalem? Apa yang engkau minta disana?

Kami minta tirtha sarining tuwun (sari tanam – tanaman) supaya makmur dan menjadi tanam – tanaman kami dan minta keselamatan diri supaya mandapat umur panjang
demikian jawab orang – orang Bali.

Raja Mayadanawa menjawab dengan berang serta menghardik:
Jika demikian halmu, aku tidak mengijinkan, jangan engkau kesana, sesungguhnya akulah Dalem Jati di Dalempuri dan di Besakih tidak ada dewa, tidak ada dalem disana, aku diberi bakti, aturi aku saji – saji."

Dengan hal yang demikian itu, tidak seorangpun yang berani meneruskan perjalanannya, semua kembali dengan rasa sedih. Ketika itu terjadi pada tahun Caka 896.

Perbuatan Mayadanawa itu didengar oleh Hyang Mahadewa, yang kemudian ia mohon izin pada Bhatara Pasupati untuk menghancurkan si Mayadanawa. Akhirnya terjadilah peperangan yang sangat panjang. Maka datanglah saatnya Shri Mayadanawa dibinasakan dalam pertempuran serta pula maha patihnya yang bernama Kalawong. Hal itu terjadi dipangkung Patas di sana mereka berdua menjadi tawulan batu padas. Dari seluruh sendi tulangnya mengalir darah yang tiada hentinya sehingga merupakan anak kali. Maka darah itu dikutuk oleh Bhatara Whai Mala yang sekarang dinamai Tukad Petanu. Dan lagi sebabnya ada yang disebutkan Tirtha Empul dan Whai Cetik, dahulu ketika laskar dewa - dewa dalam keadaan tertekan dalam perang yang banyak menemui ajalnya di Tegal Pegulingan, karena kena air racun atas upayanya Mayadanawa dengan Kalawong, ketika itu mengertilah Bhatara bahwa laskarnya kena tipu muslihat musuh, segera Bhatara melakukan yoga dengan memancangkan panji – panjinya (umbul – umbulnya), maka keluarlah Tirtha Amertha yang sangat besar dan mujarab menghidupkan kembali para laskar dewa yang telah meninggal.

Demikian riwayatnya dahulu diwarisi sampai sekarang.

Setelah beberapa tahun selang dari peperangan itu, Bhatara Pasupati bersabda kepada para Panca Pandita, katanya:
Cucuku sekalian, dengarlah kataku ini! Janganlah engkau lupa terhadap bathin ketuhanan yang menjadi pokok kependetaan terutama ajaran kemoksaan dan ajaran – ajaran filsafat. Kemudian apabila ada turun – turunanmu, anak cucumu, sampaikan juga nasehatmu kepadanya, supaya mereka ingat akan tugas dharmanya terhadap ke-Tuhanan dan kependetaan. Jangan hendaknya anak cucumu lupa dan tidak setia pustaka suci, bukanlah keturunanmu jika lupa akan dharmanya, moga – moga mereka susut menurun menjadi ksatria. Dan yang penting harus diperingatkan, supaya selalu diselenggarakan tempat – tempat pemujaan kepada kawitan – kawitannya (leluhurnya) demikian pula tentang pujawalinya sampai kemudian hari”. Demikian sabda Bhatara Pasupati, maka seluruh Panca Pandita itu diperciki tirtha Amertha baiknya."

Di lain pihak diceritakan Mpu Genijaya pergi ke Bali menumpang perahu dari daun kiambang (kapu – kapu), memakai layar daun pangi, pada hari Kamis Keliwon masa Kadasa tanggal satu (Pratipada gukla) tahun caka 1079 (muka purwatadik witangcu).

Tidak diceritakan panjang lebar betapa hal di dalam perjalanan, pada suatu ketika tibalah di Pantai Nusa Bali yaitu di Cilayukti. Maka terlihat oleh adiknya Mpu Kuturan, bahwa kakaknya datang. Dengan tergopoh – gopoh Mpu turun menjemput kakaknya di pantai, dengan sujud menyembah lalu berkata:
“Selamat datang kakak pendeta, silahkan masuk ke dalam Parhyangan”.

Mpu Genijaya mengangguk mengiakan seraya berkata
Marilah kita bersama –sama”,

demikian katanya lalu tangannya dituntun oleh adiknya menuju Parhyangan. Setelah sampai dalam parhyangan lalu masing – masing duduk di tempat yang telah tersedia. Selama dalam parhyangan pendeta berkakak adik itu tiada putus – putusnya bercakap – cakap memperbincangkan ajaran agama dan filsafat mengenai Ketuhanan.

Setelah beberapa hari lamanya di Silayukti, besok paginya pergilah Mpu Genijaya diiringi adiknya Mpu Kuturan menuju ke Dasar. Demi terlihat oleh Mpu Gana bahwa kakaknya datang, maka dengan tergopoh – gopoh menyongsong seraya menyembah, katanya:
Silahkan paduka kakak pendeta masuk bersama adik Mpu Kuturan”.

Dengan bertuntunan tangan bertiga pendeta berkakak beradik itu masuk dalam parhyangan.
Silahkan kakak pendeta duduk – duduk"
katanya Mpu Gana.

"Marilah adikku berdua, bersama – sama duduk dengan kakak!"
kata Mpu Gnijaya

Setelah sama – sama duduk di tempatnya masing – masing dalam parhyangan, maka mulailah pembicaraan yang mengenai ajaran kebatinan, sampai kepada ajaran kemoksaan. Memang demikian seharusnya bagi orang - orang yang telah menduduki derajat Pendeta.

Besoknya pagi – pagi Mpu Genijaya pergi ke Besakih diiringi oleh dua orang adiknya Mpu Gana dan Mpu Kuturan. Setelah tiba, mereka langsung menuju parhyangan tempatnya Mpu Semeru, bahwa kakaknya datang disertai oleh dua orang adiknya, maka sangatlah gembira hatinya seakan – akan mendapat percikan tirtha amertha seraya bersujud mencakupkan tangan menyembah disertai dengan ucapan weda jaya – jaya
selamat datang”.

Demikian pula kakaknya membalas dengan weda jaya – jaya, selamat, suara genta seakan – akan kumbang mencari madu bunga. Setelah itu maka Mpu Semeru berkata:
Kakak Pendeta silahkan duduk bersama – sama adik berdua”.

"Marilah sama- sama kita duduk adik – adik sekalian, kakak mengijinkan"
Jawab Mpu Genijaya.

Setelah sama – sama duduk Pendeta empat itu, maka Mpu Semeru bertanya:
Kapankah kakak pendeta turun ke Bali? Siapa yang mengiring?"

Kakak sendiri saja tidak ada pengiring, turun di Cilayukti lebih dulu, kemudian ke Dasar, akhirnya datang kemari”.
Selanjutnya terus mareka bercakap – cakap tentang hal ilmu bathin, filsafat keTuhanan, RegWeda dan Yajur Weda, sampai juga kepada satuan – satuan huruf suci (Wijaksara).

Kemudian daripada itu tibalah hari Purnama Kapat, yaitu patirthan Bhatara Putrajaya, lalu pendeta empat itu menghaturkan puja wali. Tidak diceritakan betapa ramainya suasana yajna itu dan sekalian orang sama girang menghaturkan sembah.

Babad Bali merupakan cerita kehidupan yang diyakini nyata adanya (itihasa), namun Babad ini belakangan sering terjadi kesimpang siuran akibat sedikitnya ada bukti otentik. Untuk membuktikan kebenaran dari cerita Babad ini agak sulit, seperti halnya cerita purana di India, setiap Babad secara umum tentu mengagungkan pemilik (judul) babad. Hal itulah sebabnya beberapa cerita babad agak tidak singkron/nyambung bila disanding dengan babad lain. Untuk itu, dalam Gama Bali hanya mengisahkan cerita-cerita umum saja.

author