Mulia Karena Maaf

No comment 78 views

Mulia Karena Maaf

Mulia Karena Maaf
Catatan Untuk Generasi Muda Bali

Maaf. Ini kata mudah diucapkan, tentu. Tapi coba baca cerpen berjudul Ketika Kentongan Dipikul di Bale Banjar, karya cerpenis Nyoman Rasta Sindu? Di situ, dalam konflik batin mengharu –biru, hati yang beku membatu, adakalanya orang tak mudah menjadi pemaaf. Rasta Sindhu, cerpenis kelahiran Denpasar, 31 Agustus 1943 ini, mengisahkan tragik batin itu penuh pergolakan jiwa, saat mana maaf tak dibalas maaf. Sesal, pedih, dan sedih tetap mengganjal. Di titik itu, mata air kebaikan ditutup rapat-rapat, tak dibiarkan mengalir, untuk jenak memberi kesejukan, pencerahan.

Bermula dari kedatangan Made Otar, utusan ayah Gung Gede Lila, bangsawan kolot yang tidak menyetujui perkawinan sang anak. Otar datang menemui Gung Gede Lila, hendak menyampaikan pesan permohonan maaf majikankan. Tapi lacur, hati Gung Gede Lila keburu membatu. Pada hal tiga hari menjelang, jenazah sang ayah hendak diaben. Lila teringat kejadian tiga tahun silam, kala prahara hidup itu muncul, dan sang ayah tak lagi mengakui Gung Lila sebagai anak. Ia dibuang karena melanggar tata adab kaum bangsawan. Dianggap mengotori keningratan puri karena berani menyunting seorang perempuan jaba yang tidak sederajat.

Sayang, betapapun kukuh tata adab feodal itu tak mampu memutus kekuatan cinta Gung Gede Lila pada Sulastri, seorang wanita jaba yang sangat ia cintai. Cinta pun bertasbih akhirnya, tanpa restu keluarga Gung Gede Lila menikahi Sulastri. Keberangan, murka hati memuncak di keluarga puri, Lila dibuang, sang ayah tak lagi mengakuinya sebagai anak. Sebelum meninggal, Sang ayah sadar, ia ingin anaknya pulang ke puri, ia ingin dimaafkan.

Tapi hati sang anak tidak kuasa dilekuk, Gung Gede Lila tak hendak pulang. Made Otar, utusan bangsawan puri itu pulang dengan tangan hampa. Ini membuat keluarga puri sedih. Kendati hanya dalam wujud jenazah, kesempatan terakhir Gung Gede Lila bisa bertemu sang ayah tak digubris, hati Gung Lila benar-benar membatu.

Tepat di hari pengabenan, saat kentongan di bale banjar berbunyi -- tak beberapa lama jenazah sang ayah hendak dibakar, Lila tetap tercenung di rumah. Guncangan dasyat bergolak di benak saat iring-iringan pengantar jenazah lewat di depan rumahnya. Entah apa kata hati mereka, entah apa pula omongan orang-orang, sang ayah pun diaben tanpa kata maaf Gung Gede Lila. Api pembakaran pelan-pelan memusnahkan jasad ayah Gung Gede Lila. Rasa sesal pun dibawa mati, peluk cium doa sang anak tak turut menyertai kepergiannya.

Sungguh tragis, memang. Tapi Lila seakan tidak menyesal, ia tetap merasa telah dibuang, karena sang ayah tak lagi mengakui sebagai anak. Sekali lagi Gung Gede Lila merasa tak ada kewajiban pulang ke puri, apalagi memaafkan. Baginya semua telah selesai. Dan Nyoman Rasta Sindhu merasa cukup menghentikan alur cerita sampai di sini, pada titik ketika kentongan di bale banjar berbunyi. Pengarang seakan menyisakan rasa penasaran, sedih, kenapa hati Gung Gede Lila begitu membatu, kenapa ia tidak bersambut menerima permohonan maaf ayah kandung sendiri?

Tapi lewat cerita ini Nyoman Rasta Sindhu hendak memberi pesan tentang orang-orang yang menutup pintu maaf di hati. Tentang orang-orang yang gandrung menemukan harga diri di luar kebajikan batin. Kekuasaan, kawangsan, kekayaan, harga diri, titel, adalah sejumlah godaan di mana orang sering dibikin lupa pada kearifan hidup. Orang cenderung lalai bersyukur, berterimaksih – untuk menyadari sepenuhnya, apapun kondisi hidup menimpa hari ini, entah mewujud dalam kemiskinan, kekayaan, sakit, kebahagiaan, keberuntungan merupakan bentuk di mana alam senantiasa menguji hidup itu untuk selalu bertumbuh, meningkat menuju kepenuhan.

Dan jika pun gunung ego diri itu tidak mudah ditundukkan, ia senantiasa mesti dimaknai sebagai retret pendewasaan. Sayang banyak orang tak mudah menyadarinya, hingga banyak orang tak berdaya oleh kekuasaan, kekayaan, ketampanan, dan sebagainya. Inilah yang menjadi sebab senantiasa muncul konflik dalam hidup sehari-hari -- karena di titik ini orang tak kuasa memaafkan diri-sendiri. Karenanya apabila tak pernah berdamai dengan diri-sendiri, tidak mudah lalu memaafkan orang lain Bukankah segala yang indah, kepolosan, kemurnian, kedamaian, kebahagiaan lahir bila seseorang bisa berdamai dengan diri sendiri.

Indah jika orang mampu melepas dendam dan kebencian. Sebab jika kekuatan perusak itu mencengkram senantiasa, benih kearifan hidup akhirnya enggan bertumbuh. Putik-putik hidup mudah terbakar, tak ubahnya rumput kering, dan orang akhirnya jauh dari hasrat merawat, memelihara, dan mengayomi. Kebencian, dendam, dan amarah adalah sisi gelap dalam hidup. Ia sesungguh tak dapat ditampik, karena selalu dekat, hadir dalam hidup. Sisi-sisi inilah kadang menimbulkan mendung di langit keluarga-keluarga-- di mana banyak keluarga lupa merawat harapan hidup. Bukankah harapan itu sejatinya tak lain dan tak bukan untuk menemukan kebahagiaan lahir batin – karenanya setiap kehadiran, apapun problem itu sebaiknya menjadi mementun penyadaran hati.

Teramat fatal jika kebencian dipelihara, resikonya memutus tali kasih kehidupan, mengempang aliran cinta, memotong putik-putik harapan hidup. Di wilayah ini tidak ada sesuatu yang bisa melahirkan senyum, tentu. Yang lahir cuma prahara batin, ketakutan, kebingungan, kegelisahan, kepiluan, dan hati nan gersang. Lalu apa untungnya jika orang- orang suka menabur kebencian, kecuali ia ditakdirkan menistakan benih kehidupan itu sendiri.

Pahami, tidak ada sesuatu berjalan lurus dalam hidup ini. Pun tidak ada sesuatu yang disebut mujizat. Setiap tindakan menimbulkan reaksi sebanding. Jika seseorang menghadapi persolan dengan hati teduh, kesejukan pun pasti memeluk. Jika orang jadi pemaaf, ia tak cuma dimaafkan penerima maaf, tapi seluruh benang hidup, seluruh jejaring yang menyokong hidup pun turut memaafkan. Orang bijak sekaliber Gandhi, bapak pencerah India, merasakan betul hikmat memaafkan itu – hingga ia dengan tulus dan rendah hati memaafkan mereka yang coba membunuhnya. “Kita ini anak-anak sang Mahapencipta, semua bersaudara,” tulis sang sanatani India ini.

Sadari, tidak ada seseorang yang lahir ke dunia ini dengan tujuan jahat. Setiap kelahiran merupakan momen perbaikan harkat -- maka apapun bentuk pelayanan hidup itu merupakan bagian dari memaafkan. Ini kemudian, kenapa teks-teks klasik semisal kitab Sarasamuccaya, karya Rsi Wararuci pun bertutur indah tentang kesempatan lahir kembali. Bahwa hidup ini sejatinya momen memperbaiki kekeliruan karma masa silam. Sebab hanya di titik hidup ini perbuatan baik atau buruk bisa dilakukan. Apakah Anda akan mempergunakan kesempatan hidup ini lebih bermakna bagi semesta? Semua terserah Anda.

Soalnya kini bagaimana jadi pemaaf di zaman serba berjejal, gelisah dalam carut-marut hidup? Menerima, menyadari apa adanya ajakan paling sempurna, tentu. Jika toh dirasa tidak mudah, semua terpaan hidup hendaknya dimaknai sebagai momentum pengingat untuk terus-menerus melakukan upaya penyadaran diri. Yang buruk dan yang baik semua punya makna dan guna.

Tentang indahnya memaafkan, Wararuci mewejangkan nasihat indah bagi seorang penyabar dan pemaaf. Bahwa kesabaran merupakan kekayaan maha utama, emas permata bagi mereka yang jaya atas kekuasaan nafsu. Mareka yang telah sampai di titik ini, kemuliaanya tak tertandingi, tentu. Orang yang demikian itu tak ada bedanya dengan bumi. “Jika tidak ada seorang penyabar, niscaya tidak ada kepastian dalam persahabatan,” tulis Wararuci. di Kutipan dari tulisan Wayan Westa dalam buku Bali Sprit (2014)

author