Nandurin Karang Awak, Bercocok Tanam Dalam Diri

No comment 24 views

Nandurin Karang Awak
Bercocok Tanam Dalam Diri

Tabik pakulun, dumogi ten kena upadrawa.

Ada sebuah kalimat yang sangat indah dari hasil pemikiran salah satu tokoh legendaris di Bali, Ida Pedanda Made Sidemen (1858-1984),  dalam salah satu karya sastra beliau, Kakawin Salampah Laku,

“Tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin”

Kalau kita tidak punya tanah perkebunan untuk dipanen (tong ngelah karang sawah), panen lah hasil bercocok tanam di dalam diri (karang awake tandurin).

Bagi saya ini merupakan sebuah kalimat yang sangat membesarkan hati, sebab meski seorang anak desa, saya bukanlah anak petani , karena kedua orang tua saya tidak punya tanah pertanian untuk bercocok tanam, sehingga tentu melegakan karena saat mereka yang telah bercocok tanam di tanahnya bisa memanen hasil kerja kerasnya, saya yang tidak memiliki tanah pertanian atau perkebunan masih bisa memanen hasil bercocok tanam di dalam diri.

Namun, anda tentu sudah tau, panen adalah hasil, dan untuk mendatangkan hasil harus ada usaha yang diberikan terlebih dahulu. Sebelum panen, perlu bercocok tanam dahulu.

Hal ini kemudian membawakan sebuah perenungan,

Apakah saya sudah merawat sawah di dalam diri dengan baik?

Apakah saya sudah menanam bibit yang baik di dalam diri?

Apakah saya sudah memberikan pupuk yang semestinya terhadap tanaman di dalam diri saya sendiri?

Kalimat tersebutbenar-benar membawa pada instrospeksi diri yang sangat mendalam, dan tentu saja sangat memberdayakan. Karena sebagaimana dalam bercocok tanam, apa yang ditabur dan dirawat maka itulah yang dituai, demikian pula di dalam diri,

Bibit apa yang sudah saya tanam di dalam diri (dan rawat) selama ini?

Menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut tidaklah sulit, tinggal lihat apa yang saat ini kita tuai dalam keseharian kita, melalui perilaku, kata-kata dan perasaan yang kita ekspresikan, itulah hasil bercocok tanam kita di dalam diri.

Menyedihkan melihat orang yang menanam bibit kebencian di dalam dirinya, kemudian dengan sangat rajin merawat bibik kebencian tersebut dan memberinya pupuk-pupuk yang membuat bibit kebencian tersebut tumbuh subur setiap harinya.

Sama menyedihkannya melihat orang yang dala dirinya bercocok tanam berbagai tumbuhan beracun yang kemudian menggerogotinya dari dalam.

Tumbuhan beracun seperti keputus asaan dan rasa diri lemah dan tidak mampu yang terpelihara dengan baik dengan setiap hari merenungi hal-hal yang tidak mampu dilakukan (sehingga luput melihat hal yang masih mampu dilakukan), tumbuhan pemakan semangat yang terpelihara dengan baik dengan terus menerus menyesali kegagalan, dan tumbuhan beracun lain yang menghancurkan diri dari dalam dan lama kelamaan mengekspresikan kehancuran tersebut keluar.

Mari merenung sejenak, tumbuhan beracun apa yang (tanpa sadar) telah kita tanam dan  berikan pupuk setiap harinya dalam diri anda?

Mungkin, tidak semua orang sadar bahwa dia telah dengan sengaja menanam dan bahkan merawat tumbuhan beracun dalam dirinya. Beberapa orang mungkin berniat menanam berbagai tumbuhan yang memberdayakan, namun tumbuhan memberdayakan tersebut cepat layu dan mati karena digerogoti berbagai hama penyakit dalam diri.

Beberapa orang ingin mengupayakan hal-hal baik dalam hidupnya,berusaha menanamkan ke dalam dirinya berbagai pemikiran “positif” dan memberdayakan untuk membuatnya bisa hidup lebih bahagia dan lebih baik dari sebelumnya. Namun entah kenapa, tidak lama berselang dia kehilangan semangat, dia kehilangan semua visi perbaikan dan pembaikan yang sebelumnya dimiliki dan kembali ke pola-pola lama yang menggeogotinya dari dalam.

Wajar jika kemudian muncul ekspresi kalimat, “menjadi baik itu sulit”, “berubah itu sulit”, dan frase sejenis.

Namun, kembali yang perlu direnungi hanyalah bibit yang ditanam dan diberikan pupuk setiap harinya, lalu berbagai hama penyakit yang (kebetulan) telah ada di sekitarnya.

Diriku Adalah Tanah Pertanianku, dan Aku Akan Menjadi Petani yang Baik

Menjadi metafora yang menghadirkan kesejukan dan sangat memberdayakan memperlakukan diri sendiri sebagai tanah sawah dan melihat semua perlakukan, pemikiran dan input informasi kita sebagai sebuah aktifitas bercocok tanam di dalam diri. Sehingga tentu mengerikan jika melihat orang yang terus menerus memasukkan hal-hal yang sangat “beracun” ke dalam dirinya, entah dari berbagai berita yang disaksikan, buku yang dibaca, video yang didengarkan dan tayangan yang dikonsumsi. Semua itu akan menjadi pupuk  dan bibit yang kemudian akan menumbuhkan berbagai pola piker, pola perilaku dan pola emosi tertentu.

Sikap, pemikiran dan perilaku yang diulang secara terus menerus ibarat sebuah pohon yang dipelihara secara terus menerus. Kemudian dia akan berakar kuat dan berbuah dengan sendirinya. Bahkan beberapa pohon akan menjadi terlalu besar dan terlalu kuat untuk dirobohkan. Inilah kenapa seseorang memiliki “karakter” tertentu yang sepertinya sangat sulit dirubah, sulit dikendalikan dan dihilangkan, bahkan saat setelah dia tau perilaku tersebut sangat merugikan dirinya.

Ada seorang yang sekali melakukan penundaan. Lalu mengulanginya sampai berkali-kali, sehingga jalur neurotransmitter untuk perilaku penundaan menjadi begitu kuat. Menjadi pohon besar yang sulit dirobohkan. Pohon penundaan ini  tentu akan berbuah berbagai penyesalan, hilangnya berbagai kesempatan, dan hal-hal sejenis.

Sampai sejauh ini, saya ingin menyimpulkansecara sederhana pembahasan kita mengenai nandurin karang awak, memanen hasil bercocok tanam di dalam diri.

Pertama, berbagai input yang anda berikan kedalam diri anda akan menjadi bibit-bibit atau pupuk-pupuk yang kemudian akan membuat anda memanen hasil yang sesuai.

Kedua, Pemikiran, perasaan dan perilaku yang diulang secara terus menerus akan menjadi pohon besar yang berakar kuat ke dalam sehingga sulit dirobohkan (inilah kenapa berubah itu sulit).

Ketiga, mungkin beberapa orang berusaha menanam berbagai bibit kebaikan, bibit pohon yang memberdayakan, yang diharapkan akan mendatangkan berbagai kebaikan dan pembaikan dalam diri dan kehidupannya, namun bibit-bibit ini begitu mudah layu dan mati bahkan sebelum sempat berbuah, seperti orang yang menyerah sebelum sempat mengecap hasil kerja kerasnya. Hal ini diakibatkan karena berbagai “hama” yang ada di sekitar perkebunan diri yang tidak disadari, sisi gelap, toic emotions, self sabotage atau dengan istilah apapun anda suka menyebutnya, sehingga salah satu tugas seorang yang ingin bercocok tanam di dalam dirinya juga adalah dengn rajin membersihkan berbagai racun dan hama yang akan menghambat dan bahkan membunuh berbagai bibit kebaikan yang ditananam.

Lalu, terakhir ada satu hal yang menurut saya terlalu penting untuk diabaikan. Kadang, dalam bercocok tanam berbagai kendala akan bermunculan, selain hama dan racun yang disebuatkan sebelumnya, ada cuaca buruk yang bisa jadi akan meluluh lantakan semua hasil kerja keras anda. Serupa pula dengan upaya dalam hidup untuk mentangkan kebaikan dan kesuksesan, kadang akan menemukan berbagai kendala dan halangan.

Bagaimana semua halangan tersebut diatasi dan bagaimana anda menjaga tanaman anda agar tidak layu dan mati sebelum berbuah akan menjadi factor yang sangat menentukan.

Mulai sekarang, jika anda melihat orang atau pribadi yang menurut anda sukses dan mencapai hal-hal besar dalam dhidupnya, renungilah ini,

Bibit apa yang ditanam dan dipeliharanya sedari dulu sehingga membuatnya  memanen buah-buah yang membanggakan ini? Bagaimana dia mengatasi berbagai “cuaca buruk”  dan “hama” yang sempat menghadangnya?

Mungkin masih banyak yang bisa disampaikan berkaitan dengan “nandurin karang awak”, berbagai renungan dan instrospeksi diri tentang bagaimana kita bisa memperlakukan diri sendiri dan kehidupan kita agar kita memanen buah yang diinginkan. Namun saya percaya, anda bisa merenunginya sendiri dengan jauh lebih sesuai dengan konteks kehidupan anda.

Mari, menjadi petani yang baik, yang memelihara karang sawahnya dengan baik, dan memastikannya berbuah dengan subur dan sesuai harapan, dan bukan hanya anda yang akan menikmati buah manisnya, orang-orang terdekat anda pun akan ikut menikmatinya.

Dan, saya berdoa semoga anda yang saat ini sedang dilanda cuaca buruk, anda yang saat ini masih berfokus membersihkan hama dan tanaman beracun bisa segera melaluinya, dan bisa segera memanen hasil yang diinginkannya. Matur Suksma.

author