Ngurip Gni Sakti

5 comments 3672 views

Ngurip Gni Sakti

Ngurip Gni Sakti

Ngurip Gni Sakti ini merupakan latihan lanjutan dari "Pemabah Meditasi Gni Sakti", sehingga syarat umum melaksanakan latihan "Ngurip Gni Sakti" ini adalah telah melaksanakan proses meditasi dan brata "Pemabah Meditasi Gni Sakti". Setelah menjalankan ritual dan melatih metode berikut ini, secara umum Gni Sakti (Gni Rahsyam) dalam diri sudah meurip, hanya saja besar power kobaran Gni dari setiap praktisi tentu berbeda-beda, tergantung ketekunan praktisi melatih dan mentaati aturan-aturan baku yang telah disampaikan sebelum-sebelumnya. Semakin besar power kobaran Gni Sakti Anda, tentu kekuatan kawisesan anda semakin besar/tinggi, sehingga mampu menopang ajian-ajian kawisesan yang akan dipelajari berikutnya.

yang pertama harus dipahami guna ngurip gni sakti adalah memahami ajaran Dasa Aksara. namun dalam materi Ngurip Gni Sakti ini, dasa aksara lebih ditekankan pada praktek spiritual yang terkadang agak menyimpang dari teori yang sudah beredar secara umum. Perbedaan-perbedaan ini hanya bisa dilihat apabila praktisi sudah mampu merasakan fibrasi dari setiap aksara atau mampu melihat keberadaan aksara-aksara suci itu didalam tubuh.

adapun beberapa ritual wajib yang harus dilaksanakan setiap malam setelah melaksanakan latihan Pemabah Meditasi Gni Sakti, diantaranya:

Setelah itu, 33 hari, tambahkan ritual diatas dengan melakukan ritual Homa Dyatmika. Adapun ritualnya:

setelah 7 hari, silahkan lanjutkan dengan menambah ritual Ngurip Gni Sakti dengan menambahkan latihan ritual Meditasi Panca Gni, berikut ini:


Ciri-ciri Gni Rahsya yang sudah me-Urip

Banyak informasi berkenaan dengan Kobaran Gni Rahsya ini. Namun jarang yang ada mau menunjukan kemampuan ini. Hal ini disebabkan adanya aturan "larangan" untuk menunjukan kemampuan ini karena berhubungan dengan "Penugran Bhatari". Secara khusus "rahasia" penugran tidak boleh dipertontokan. Apabila ada yang mengumbar promosi bahwa dirinya memperoleh penugran, tentu itu motifnya nyari uang, dagang spiritual, dagang buka cakra dan lainnya.

Ciri umum orang yang sudah Hidup - meurip Gni Rahsya-nya terlihat dari letupan-letupan lidah api di ujung rambutnya. Cara melihat orang yang sudah mampu ngurip Gni Sakti atau Gni Rahsya yaitu dengan menontonnya saat melaksanakan proses meditasi di malam hari atau di ruangan gelap tanpa sinar. Saat pertengahan meditasinya, diujung rambut didaerah telinganya akan keluar cahaya, kemudian seperti ada bara api yang berterbangan seperti halnya arang ilalang terbakar yang diterbangkan angin. Bagi yang sudah melewati tahapan ini, maka seluruh rambutnya mengeluarkan letupan-letupan api, level ini yang dikenal dengan istilah "pabahan ngendih" - ubun-ubunnya bersinar. Capaian level berikutnya api keluar dari uap nafasnya. bila orang yang sampai pada level uap nafasnya berupa api, saat berjalan dimalam hari, uap-uap nafasnya itu yang dilihat oleh orang lain seperti "Ndih Leak" ataupun kunang-kunang dari kejauah. kemudian takap berikutnya keluar dari sinar matanya, dari telinganya, dari jari-jarinya hingga seluruh tubuhnya mengeluarkan cahaya yang terbuat dari uap (letupan-letupan api kecil). inilah ciri orang yang sudah mencapai tahapan Gni Sakti.

Gni Rahsya yang sudah me-urip merupakan fondasi atau materi dasar sebelum menapakan kakinya di dunia spiritual dibali. Berbekal pengetahuan inilah, seseorang dapat menjadi sosok Brahmana - Wiku sejati, yang nantinya sebagai pemenuhan kewajiban untuk melaksanakan HOMA YADNYA alias Agnihotra. seperti yang dijelaskan dalam artikel Agnihotra di Bali, dimana syarat untuk melaksanakan ritual Homa adalah kemampuan ngurip Gni dengan capaian Gni Sakti tingkat tinggi, karena tidak hanya mampu membuat dirinya bercahaya namun mampu membakar apasaja yang ada dihadapannya, dalam hal ini upakara dalam Kunda Agni Hotra.


Demikian Ritual wajib Ngurip Gni Sakti, dengan melatih ketiga ritual wajib disertai Meditasi Pemabah Gni Sakti, maka Gni Sakti Praktisi sudah Urip secara otomatis. Dengan demikian praktisi sudah bole mempelajari ataupun menjalankan Ilmu Kawisesan lainnya dengan "AMAN". Sangat disarankan, praktisi pada tahap ini mulai melakukan "NARTI", sembahyang ke Khayangan Tiga khususnya Pura Dalem, Pura Prajapati dan Pamuhunan atau Uluning Setra setiap Purnama-Tilem dan Kajeng Klion. Demikianlah Akhir dari Dasar Ilmu Kawisesan Gamabali, semoga bermanfaat.

author