ONG kara

No comment 63 views
ONG kara,5 / 5 ( 1votes )

ONG kara

Ongkara=Omkara adalah Simbol Suci dalam Agama Hindu, Di dalam Upanisad ongkara atau omkara disebut Niyasa artinya alat bantu agar konsentrasi kita menuju kepada Hyang Widhi, serta pemuja mendapat vibrasi kesucian Hyang Widhi. Niyasa atau sarana yang lain misalnya banten, pelinggih, kober, dll. Sebagai simbol suci Niyasa sudah sepantasnya digunakan atau diletakkan pada tempat yang wajar karena disucikan. Pada beberapa kasus di Bali simbol-simbol Hindu pernah digunakan tidak pada tempatnya misal: penggunaan canang sari dengan bola golf diatasnya pada foto sebuah iklan, penggunaan simbol ongkara pada bagian-bagian tubuh yang tidak sepantasnya dll. Perlakuan pada niyasa-niyasa/Simbol Suci yang tidak wajar mungkin karena faktor ketidaktahuan (awidya) atau memang sengaja (rajasika). Mengapa salah satu niyasa berbentuk ongkara/Omkara, karena gambar itulah yang dilihat dalam jnana para Maha Rsi penerima wahyu Hyang Widhi, yang kemudian diajarkan kepada kita turun temurun.

Ongkara dlalam bhuana kosa dan parikrama stava

Sementara teks BHUANA KOSA (XI. 16) menyuratkan bahwa Ukara lenyap di dalam Akara, Akara lenyap di dalam Makara, Makara lenyap di dalam Ardhacandra, Ardhacandra lenyap di dalam Windhu, Windhu lenyap di dalam Nada. Dari Nada muncullah Windhu, dari Windhu muncullah Ardhacandra, dari Ardhacandra muncullah alam semesta. Ketika pertemuan antara kekuatan Siwa Tattwa dan Maya Tattwa bertemu dalam wujud sekala-niskala, dan sehingga Siwa mempunyai kekuatan (Sakti), maka Siwa mempunyai kekuatan dan kemahakuasaan yang disebut Cadusakti dan Asta aiswarya untuk menciptakan dunia dengan segala isinya, dari yang paling halus hingga kasar.

Yang disebut Pranawa adalah proses lenyapnya Okara (dunia seluruhnya) ke dalam Ardhacandra, Ardhacandra ke dalam Windhu, Windhu ke dalam Nada, dan Nada ke dalam Niskala. Demikianlah perputaran Uttpati, Shtiti, Pralina itu berulang menurut hukum kesemestaan alam.

Siwa dilambangkan dengan Ongkara, sementara Buddha dengan Hrih. Di Pura Agung Besakih, Ongkara divisualkan ke dalam dua pelinggih disebut Bale Ongkara terletak di sebelah kanan dan kiri pemedal agung menuju areal Padma Tiga. Bale inti bertiang satu dengan bentuk atap berbentuk bundar kerucut dengan bahan ijuk. Bale ini di masyarakat dikenal dengan nama Bale Undar-andir. Bale semacam ini hanya ada dibangun di Pura Agung Besakih dan di Pura Semeru Agung, Senduro, Lumajang, Jawa Timur.

Pujaparikrama atau Wedaparikramah yang dilaksanakan sebagai sebuah pemujaan Surya Sewana oleh Pendeta Siwa dan Buddha di Bali menggunakan Ongkara di dalam prakteknya. Surya Sewana adalah pemujaan kepada Siwa dalam wujud Surya Aditya. Dalam prosesi membuat tirtha (air suci) pendeta menulis (nyurat) Ongkara di permukaan air yang ada di dalam Siwamba dengan menggunakan alang-alang (kusa).

OM (AUM) merupakan simbol Triaksara: Ang, Ung, Mang yang melambangkan Tri Murti: Brahma, Wisnu, Isvara. Proses nyurat di permukaan air disebut Ongkara Merta. Melalui penyuratan ini, Pendeta menuntun kekuatan Tuhan disebut Siwa agar masuk ke dalam air suci, amrta ini untuk digunakan dalam berbagai keperluan yajna. Begitu Siwa masuk ke dalam air, air ini menjadi tersucikan dan mempunyai kekuatan spiritual. Siwa dituntun agar berkenan turun dari kahyangan dan mengambil tempat duduk di atas air di dalam Siwamba yang telah disucikan melalui peng-ucar-an mantra-mantra. Setelah pengucapan dan nyurat Ongkara dilanjutkan dengan pengucapan Upati Mantra (Utpatti), Astiti (Sthiti) dan Devaperastista (Devaprastista). Penempatan dewa di dalam air ini juga diikuti dengan Kuta Mantra, "Om Om Paramasivadityaya namah".

Ongkara juga dipresentasikan dalam diri seorang Pendeta yang sedang meweda. Begitu juga Siwa Karana, seperti Tri Pada dengan Siwamba dan sesirat di atasnya dalam satu kesatuan dipandang sebagai sebuah Ongkara. Posisi tangan Pendeta ketika memegang ghanta (tangan kiri) juga merepresentasikan Ongkara.

Ongkara di Bali terdiri dari 5 Jenis: Ongkara Gni, Ongkara Sabdha, Ongkara Mrta, Ongkara Pasah dan Ongkara Adu-muka. Penggunaan berbagai jenis Ongkara ini dalam rerajahan sarana upakara pada upacara Panca Yadnya dimaksudkan untuk mendapat kekuatan magis yang dibutuhkan dalam melancarkan serta mencapai tujuan upacara.

Ongkara Gni

Ongkara Sabdha

Ongkara Mrta

Ongkara Pasah

Ongkara Adumuka

Unsur-unsur Ongkara ada 5 yaitu:

Nada,
Windu,
Arda Candra,
Angka telu (versi Bali),
Tarung.
Semuanya melambangkan Panca Mahabutha, unsur-unsur sakti Hyang Widhi, yaitu:

Nada = Bayu, angin, Bintang
Windu = Teja, api, surya/ matahari
Arda Candra = Apah, air, bulan
Angka telu = Akasa, langit, ether
Tarung = Pertiwi, bumi, tanah.

Unsur-unsur Ongkara

Unsur-unsur Panca Mahabutha di alam raya itu dinamakan Bhuwana Agung. Panca Mahabutha ada juga dalam tubuh manusia:

Daging dan tulang adalah unsur Pertiwi
Darah, air seni, air kelenjar (ludah, dll) adalah unsur Apah
Panas badan dan sinar mata adalah unsur Teja
Paru-paru adalah unsur Bayu
Urat syaraf, rambut, kuku, dan 9 buah lobang dalam tubuh: 2 lobang telinga, 2 lobang mata, 2 lobang hidung, 1 lobang mulut, 1 lobang dubur, dan 1 lobang kelamin, adalah unsur Akasa.
Unsur-unsur Panca Mahabutha dalam tubuh manusia disebut sebagai Bhuwana Alit. Dalam kaitan inilah upacara Pitra Yadnya dilakukan ketika manusia meninggal dunia di mana dengan upacara ngaben (ngapen=ngapiin), unsur-unsur Panca Mahabutha dalam tubuh manusia (Bhuwana Alit) dikembalikan/ disatukan ke Panca Mahabutha di alam semesta (Bhuwana Agung). Kesimpulan: Simbol Ongkara adalah simbol ke Maha Kuasaan Hyang Widhi. Simbol Ongkara di Bali pertama kali dikembangkan oleh Maha-Rsi: Ida Bhatara Mpu Kuturan sekitar abad ke11 M, ditulis dalam naskah beliau yang bernama “Tutur Kuturan”

Ongkara Untuk Menuju Sat (Yang Tak Berwujud)

Seperti penjelasan diatas Ongkara merupakan simbol suci untuk mempermudahkan umat manusia untuk menuju Tuhan, SAT(yang tak berwujud) Dari Ongkara muncullah Dwi Aksara yaitu Ang dan Ah. Dwi Aksara juga adalah perlambang Rwabhineda (Dualitas), Ang adalah Purusa (Bapa Akasha) dan Ah adalah Prakerti (Ibu Prtivi).
Pada tahapan berikutnya, dari Dwi Aksara ini muncullah Tri Aksara, yaitu Ang, Ung dan Mang. Dari banyak sumber pustaka, dikatakan bahwa AUM inilah yang mengawali sehingga muncullah OM.

Pada tahapan berikutnya, dari Tri Aksara muncullah Panca Aksara, yaitu SANG, BANG, TANG, ANG, dan ING. Dari Panca Aksara kemudian muncullah Dasa Aksara, yaitu SANG, BANG, TANG, ANG, ING, NANG, MANG, SING, WANG, dan YANG.

Pada arah mata angin, Dasa Aksara terletak berurutan dari Timur = SANG, Selatan = BANG, Barat = TANG, Utara = ANG, dan tengah-tengah/poros/pusat = ING, kemudian Tenggara = Nang, Barat Daya = Mang, Barat Laut = SING, Timur Laut = WANG dan tengah-tengah/poros/pusat = YANG. Ada dua aksara yang menumpuk di tengah-tengah, yaitu ING dan YANG.

Tapak Dara (+) adalah simbol penyatuan Rwabhineda (Dualitas), (|) dan segitiga yang puncaknya ke atas, mewakili Purusa/Bapa Akasha/Maskulin/Al/El/God/Phallus. Sedangkan (-) dan segitiga yang puncaknya ke bawah mewakili Prakerti/Ibu Prtivi/Feminim/Aloah/Eloah/Goddess/Uterus.

Hanya dengan melampaui Rwabhineda (dualitas), menyatukan/melihat dalam satu kesatuan yang utuh/keuTUHAN, maka pintu gerbang menuju Sat akan ditemukan. KeuTUHAN disini, bukan menjadikan satu, namun merangkum semuanya, menemukan intisari dari semua perbedaan yang ada tanpa menghilangkan atau menghapus perbedaan yang ada. Bukan juga merangkul semuanya dalam satu sistem tertentu, bukan juga untuk satu agama tertentu, tapi temukan dan kumpulkanlah semua serpihan kebenaran yang ada di setiap perbedaan yang membungkusnya. Inilah BHINEKA TUNGGAL IKA TAN HANNA DHARMA MANGRWA.

author