Panca Sradha – Keimanan Gama Bali

No comment 2006 views

Panca Sradha - Pokok Keimanan Gama Bali

Pokok-pokok keimanan dalam Gama Bali dibagi menjadi lima bagian yang disebut dengan Panca Sradha, yaitu percaya adanya Tuhan (Hyang Widhi), percaya adanya Atman, percaya adanya Hukum Karma Phala, percaya adanya Punarbhawa (Reinkarnasi/ Samsara) dan percaya adanya Moksa.

Dalam Gama Bali ada lima keyakinan dan kepercayaan yang disebut dengan Panca sradha. Pancasradha merupakan keyakinan dasar umat Gama Tirtha di Bali. Kelima keyakinan tersebut, yakni:

  1. Widhi Tattwa - percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala aspeknya
  2. Atma Tattwa - percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk
  3. Karmaphala Tattwa - percaya dengan adanya hukum sebab-akibat dalam setiap perbuatan
  4. Punarbhava Tattwa - percaya dengan adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi)
  5. Moksa Tattwa - percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan tujuan akhir manusia

Berbekal Panca Sradha yang diserap menggunakan Tri Pramana ini, perjalanan hidup sesorang menuju ke satu tujuan yang pasti. Ke arah kesempurnaan lahir dan batin yaitu Jagadhita dan Moksa. Ada 4 (empat) jalan yang bisa ditempuh, jalan itu disebut Catur Marga.

A. Percaya Adanya Tuhan (Brahman) - Widdhi Tattwa

Percaya terhadap Tuhan (Hyang Widhi) mempunyai pengertian "yakin dan percaya" terhadap Tuhan itu sendiri. Yakin dan percaya ini merupakan pengakuan atas dasar keyakinan bahwa sesungguhnya Tuhan itu ada, Maha Kuasa, Maha Esa dan Maha Segala-galanya. Hyang Widhi ialah ia yang kuasa atas segala yang ada ini. tidak ada apapun yang luput dari kuasa-Nya.

Hyang Widhi yang disebut juga Brahman, adalah Ia yang kuasa atas segala yang ada ini. Tidak ada apapun yang luput dari Kuasa-Nya. Hyang Widhi tunggal adanya. Karena Tuhan tidak terjangkau oleh pikiran, MAKA orang membayangkan bermacam-macam sesuai dengan kemampuannya.

Panggilannya bermacam-macam, Ia dipanggil Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara dan Siwa sebagai pemralina alam semesta dengan segala isinya, banyak lagi panggilannya yang lain. Ia Maha Tahu, berada di mana-mana. Karena itu tak ada apapun yang dapat kita sembunyikan di hadapan-Nya.

Tuhan (Hyang Widhi) adalah sumber dan awal serta akhir dan pertengahan dari segala yang ada.

Yang Maha Kuasa, yang tak terjangkau oleh pikiran, yang gaib dipanggil dengan berbagai nama sesuai dengan jangkauan pikiran, namun Ia hanya satu, Tunggal adanya.

Orang-orang menyembah dengan bermacam-macam cara pada tempat yang berbeda-beda. Kepada-Nya orang menyerahkan diri dan mohon perlindungan dan petunjuk-Nya agar ia menemukan jalan terang dalam mengarungi hidup ini.

 

B. Percaya Adanya Atman - Atma Tattwa

Atman adalah percikan kecil dari Paramatman (Hyang Widhi/Brahman). Atman di dalam badan manusia disebut Jiwatman, yang menyebabkan manusia itu hidup. Bila Atman meninggalkan badan orang-pun mati, tubuh-pun hancur kembali kepada asalNya. Indria tak dapat bekerja bila tak ada atman.

Misalnya telinga tak dapat mendengar bila tak ada atman, mata tak dapat melihat bila tak ada atman, kulit tak dapat merasakan bila tak ada atman. Atman itu berasal dari Sang Hyang Widhi Wasa, bagaikan matahari dengan sinarnya. Sang Hyang Widhi Wasa sebagai matahari dan atma-atma sebagai sinar-Nya yang terpencar memasuki dalam hidup semua makhluk.

Atman dengan badan, laksana kusir dengan kereta. Kusir adalah Atman yang mengemudikan dan kereta adalah badan. Demikian Atman itu menghidupi sarwa prani (makhluk) di alam semesta ini

Jiwatman dapat dipengaruhi oleh karma, hasil perbuatan di dunia ini. Karena itu Atman tidak akan selalu dapat kembali kepada asalNya yaitu Parama Atman (Brahman/Hyang Widhi).

Menurut ajaran Gama Bali Jiwatman orang yang meninggal itu dapat naik ke sorga atau jatuh ke neraka. Orang-orang yang berbuat buruk jatuh ke neraka. Di neraka Jiwatman itu mendapat siksaan. Namun orang-orang suci yang tidak terikat lagi pada ikatan dunia akan sampai ke dalam alam kelepasan (Moksa). Demikianlah atman itu menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini).

 

C. Percaya adanya Hukum Karma Phala

Karmaphala terdiri dari dua kata yaitu karma dan phala, berasal dari bahasa Sanskerta. "Karma" artinya perbuatan dan "Phala" artinya buah, hasil, atau pahala. Jadi Karmaphala artinya hasil dari perbuatan seseorang.

Apapun yang diperbuat oleh manusia membawa akibat.

Akibat itu ada yang baik dan ada yang buruk. Akibat yang baik memberikan kesenangan, sedang akibat yang buruk memberikan kesusahan. Oleh karena itu seseorang harus berbuat baik karena semua orang menginginkan kesenangan dan hidup tenteram. Buah dari perbuatan (karma) itu disebut phala. Buah perbuatan itu tidak selalu langsung dapat rasakan atau dinikmati.

Tangan yang menyentuh ES seketika dingin, namun menanam padi harus menunggu berbulan-bulan untuk memetik hasilnya. Setiap perbuatan akan meninggalkan bekas. Ada bekas yang nyata, ada bekas dalam angan dan ada yang abstrak. Bekas-bekas ini disebut "karmawasana".

Karma phala dapat digolongkan menjadi tiga macam didasarkan atas waktu sesuai dengan saat dan kesempatan dalam menerima hasilnya, yaitu :

Dengan mengetahui ajaran ini kita didorong untuk berbuat baik. Berbuat baik ini kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita bekerja dengan baik karena kita yakin semua itu mengantarkan kita kepada kerahayuan.

 

D. Percaya adanya Punarbhawa/Reinkarnasi/Samsara

Jiwa atau roh itu tidak selamanya di neraka ataupun di sorga, Ia lahir lagi ke dunia ini. Kelahiran kembali ke dunia ini disebut Punarbawa atau penitisan kembali (reinkarnasi)

Di dalam Weda disebutkan bahwa “Penjelmaan jiwatman yang berulang-ulang di dunia ini atau di dunia yang lebih tinggi disebut Samsara (lingkaran kelahiran). Kelahiran yang berulang-ulang ini membawa akibat suka dan duka. Samsara atau Punarbhawa ini terjadi oleh karena Jiwatman masih dipengaruhi oleh kenikmatan, dan kematian diikuti oleh kelahiran”.

Reinkarnasi memiliki hubungan yang erat dengan Karma yang mana keduanya merupakan suatu proses yang terjalin erat satu sama lain. Reinkarnasi dapat dikatakan sebagai kesimpulan atas semua karma yang telah didapat dalam suatu masa kehidupan. Baik buruknya karma yang dimiliki seseorang akan menentukan tingkat kehidupannya pada reinkarnasi berikutnya.

Bagaimana kelahirannya tergantung pada karma wasana-nya Kalau ia membawa karma yang baik, lahirlah ia menjadi orang yang berbahagia, berbadan sehat dan berhasil cita-citanya. Sebaliknya bila ia membawa karma yang buruk ia lahir menjadi orang yang menderita. Kelahiran kembali ini adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Orang tidaklah tetap menjadi penghuni neraka atau sorga. Ia harus meningkat menjadi nirbanapada, alam kelepasan atau Moksa.

Demikianlah uraian kitab Sarasamuccaya tentang hikmah penjelmaan kita.

Dengan keyakinan terhadap reinkarnasi ini dan hubungannya dengan karma, maka umat harus sadar bahwa kehidupan sekarang ini merupakan kesempatan yang baik untuk memperbaiki diri demi kehidupan yang lebih baik pada masa datang.

E. Percaya Adanya Moksa

Bila seseorang terlepas dari ikatan dunia, ia mencapai Moksa, artinya kelepasan. Inilah tujuan terakhir pemeluk Gama Bali, yakni “Moksartham jagadhitaya ca iti dharma”, mencapai kebahagiaan semasa hidup dan saat meningal menyatu dengan Tuhan.

Orang yang telah mencapai Moksa tidak lahir lagi ke dunia, karena tidak ada apapun yang mengikatnya. la telah bersatu dengan Paramatma (Atman yang tertinggi atau Sang Hyang Widhi).

Moksa adalah kebebasan dari keterikatan benda-benda yang bersifat duniawi dan terlepasnya Atman dari pengaruh maya serta bersatu kembali dengan sumber-Nya, yaitu Brahman (Hyang Widhi) dan mencapai kebenaran tertinggi, mengalami kesadarn dan kebahagiaan yang kekal abadi yang disebut Sat Cit Ananda.

Bila air sungai telah menyatu dengan air laut, maka air sungai akan kehilangan identitasnya. Tidak ada perbedaan lagi antara air sungai dengan air laut. Demikimanlah juga halnya Atman yang mencapai Moksa telah menyatu dengan Brahman atau Paramatman. Pada saat itulah orang mengatakan "Aham Brahma Asmi", artinya "Aku adalah Brahman".

author