Pandangan tentang Bhagavad Gita

No comment 39 views

Pandangan tentang Bhagavad Gita

Pandangan tentang Bhagavad Gita

Sang Maha Kawya, Ida Bhagawan Wyasa Kresna Dwipayana, sebagai Maharsi yang sudah mencapai tingkat bisa menyebut diri sebagai “Aham Brahma Asmi”, menulis Itihasa Mahabarata dari penggalian spiritual/batin beliau terhadap suatu sejarah yang terjadi di zaman Dwapara atau Dwapara Yuga.

Buah karya spiritual ini begitu melegenda, dan isinya sebenarnya suluh atau tuntunan untuk kita melakukan olah batin, atau menaikkan spiritualitas manusia, namun banyak yang terjebak justru dengan pemeran yang ada didalam Itihasa tersebut, bukan meneladani petunjuk yang ada.

Menjadikan Sri Krsna sebagai Tuhan satu-satunya, adalah salah satu wujud manusia yang terjebak didalam pemeran tersebut.

Dari penggalian batin Ida Bhagawan yang maha mulia, diceritakanlah kisah dizaman Dwapara, di Barata Warsa, bahwa saat itu Tuhan turun ke dunia mengambil wujud manusia yang beliau katakan sebagai “Awatara”.

Tuhan turun kedunia, bukan berarti secara pisik “Awatara” tersebut adalah Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi. Tapi percikan suci Tuhan yang disebut “Atman” yang menghidupi Sang Awatara sudah tidak mengalami keterikatan dan kemelekatan, seperti halnya Atman Ida Bhagawan Wyasa Kresna Dwipayana ketika itu. Walaupun Ida Bhagawan saat itu sudah bisa mengatakan diri sebagai “Aham Brahma Asmi”, tapi tetap beliau adalah manusia, manusia yang sudah mencapai tingkat batin Biksuka/Sanyasin, begitu juga dengan Awatara Sri Kresna.

Dasar ajaran ini yang dipakai dasar di dalam ajaran Siwa Budha di Nusantara. Sehingga setiap para orang suci atau seniman akan membuka atau menggelar Itihasa Mahabarata, pasti menghaturkan pengaksama kpd Ida Bhagawan Wyasa Kresna Dwipayana, agar tidak kena Cakrabawa dari Sang Maharsi yang Siddhi (sakti, suci dan mulia) ini.

Ketika ada yang hanya memakai dasar cuplikan Upanisad, yaitu Bagavad Gita yang ada dalam bagian Bhisma Parwa. Dan memberi interpretasi yang berbeda, dengan penekanan kepada Sri Kresna, bahwa beliau itu Tuhan, sehingga Arjuna menerima langsung ajaran dari Tuhan. Maka itu adalah ajaran yang berbeda dengan ajaran Hindu Bali atau Hindu di Indonesia. Tidak perlu pembahasan lagi. Karena pembahasan seperti ini adalah pembahasan di level spiritual. Sedangkan saat ini kita bicara Agama. Dan Agama itu adalah level hitam putih yang kelihatan nyata didunia yang bisa ditangkap kemampuan otak.

Hindu Bali atau Hindu di Indonesia, memiliki tiga tingkatan pemahaman, yaitu Agama Pramana, Anumana Pramana dan Praktiyasa Pramana.

Sedangkan definisi Agama yang dipakai di Indonesia adalah level Agama Premana. Sehingga bila beda interpretasi dalam Agama Premana, artinya agama itu berbeda.

Didalam Hindu Bali atau Hindu di Nusantara, bahwa pemahaman Agama Premana sebagai dasar untuk meningkat ke Anumana, sampai Praktiyasa.

Bila Agama Premana berbeda, maka diyakini tidak bakalan bisa melangkah ke Anumana, apalagi praktiyasa.

Dalam catur Asrama, level Brahmacari Asrama adalah level pemahaman melalui Agama Preman. Level Grehasta level pemahaman melalui Agama dan Anumana. Sedangkan level Wanaprasta pemahaman melalui Anumana dan Praktiyasa, serta Sanyasin sudah di Praktiyasa.

Ciri-ciri level sanyasin adalah sudah tidak ada kepentingan cari pengikut atau menyebarkan agama/keyakinan untuk mendapat pengikut. Tapi bisa memberi tauladan, yang cendrung diikuti pejalan Dharma. Beliau bisa sebagai guru, tapi tidak punya keterikatan duniawi antara guru dan murid. Tidak ada keharusan meminta murid-muridnya menyembahnya, apalagi menjadikan beliau sebagai Tuhan untuk dilayani. (oleh Surya Anom)

author