Pandangan tentang Bhagavad Gita

No comment 41 views

Pandangan tentang Bhagavad Gita

Pandangan tentang Bhagavad Gita

Seorang teman, Putu Agus Yudiawan telah menulis perbedaan beberapa “Bhagavad Gita” yang disadur atau diterjemahkan oleh beberapa orang, termasuk hasil tulisan terjemahan dari Sri Srimad A.C Bhaktivedanta Swami Prabhupada, yang menyatakan tulisannya “Bhagavad Gita As It Is”, kemudian dalam edisi bahasa Indonesia menjadi “Bhagavad Gita Menurut Aslinya”.

Saya dari dulu tertarik dengan kata-kata “Menurut Aslinya” ini. Dimana dibenak saya “menurut aslinya” adalah tulisan yang mengacu kepada peninggalan sastra asli dari buah karya Sang Kawya, Ida Bhagawan Wyasa Kresna Dwipayana. Tapi apa yang saya temukan, jangankan rujukan terhadap yang dikatakan “Asli”, sehingga buku ini bisa tercermin menurut rujukan yang asli tersebut. Bahkan peran Sang Maha Kawya inipun menjadi tidak ada sama sekali.

Padahal “Bhagavad Gita” adalah bagian upanisad dari “Itihasa Mahabarata”, dimana Ida Bhagawan Wyasa Kresna Dwipayana ini yang memiliki kualitas batin mencapai pencerahan tertinggi atau dalam bahasa spiritual mencapai “Kebuddhaan”, yang mampu memaparkan kembali suatu kejadian yang diyakini terjadi dimasa yang sangat lampau, zaman Dwapara, dimana zaman tersebut  bahkan berbeda “Yuga” dengan “Yuga” dari kehidupan beliau, zaman Kali. Bahkan beliau memasukkan diri beliau menjadi bagian yang ikut dalam sejarah tersebut .

Lalu bagaimana klaim menurut aslinya bisa diyakini bahwa itu asli dengan mengabaikan sama sekali kepada yang menciptakan?

Membaca awal tulisan Bhagavad Gita yang diterjemahkan oleh Prabupada sebagai berikut :

“Bhagavad Gita” semula disabdakan kepada Dewa Matahari, Vivasvan, oleh Shri Krsna lebih dari 120 juta tahun yang lalu. Sesudah itu, Bhagvad Gita turun temurun melalui garis perguruan raja raja yang suci.

Bhagavad Gita sering dibaca dan diterbitkan sebagai sastra tersendiri, namun Bhagvad Gita juga tercantum sebagai satu babak dalam karya epos sejarah Mahabarata.

Dilain pihak, saya membaca Bhagvad Gita terjemahan Nyoman S. Pendit yang diterbitkan Departemen Agama th 1967, menyatakan sebagai berikut: ....... Keseluruhan isi Kitab Suci Bhagavadgita ini adalah merupakan bagian daripada Bhismaparwa yaitu Buku ke VI epos besar Mahabarata

Dari cuplikan diatas bisa terlihat bahwa ada perbedaan persepsi tentang pemahaman terhadap asal muasal Bhagavad Gita.

Prabupada menyatakan bahwa Bhagavad Gita adalah langsung dari Tuhan yang dalam hal ini diyakini bahwa Shri Krsna adalah Tuhan itu sendiri. Sedangkan Nyoman S. Pendit menyatakan bahwa Bhagavad Gita adalah bagian dari Mahabarata. Lebih jauh beliau menyatakan bahwa Mahabarata termasuk Bhagavad Gita yang ada didalamnya adalah ciptaan Bhagavad Vyasa. Dan dalam sastra ini Bhagavan Vyasa tidak menempatkan Sri Krisna sebagai Tuhan. Sri Krisna adalah Awatara. Dimana Awatara adalah manusia yang dihidupi oleh percikan suci Tuhan yang disebut Atman, dan sejak dari lahir Atman tersebut sudah bersih, bebas dari karma dan punya vibrasi di frekwensi yang sama dengan Paratma Atma, sama dengan Atma para orang suci yang sudah mencapai batin Bhiksuka. Dimana sudah bisa menyebut diri “Aham Brahma Asmi”.

Dan dalam perjalanan hidupnya, para Awatara bebas dari pahala atas karmanya, karena para Avatara lahir membawa misi yang harus diselesaikan dalam periode kehidupannya. Sehingga akhir dari kehidupannya, persis berakhir seperti  manusia biasa, tapi sang Atman kembali manunggal dengan Hyang Widhi.

Pendedahan perbedaan ini bukan untuk mencari salah benar, tapi hanya untuk menunjukkan bahwa label “As It Is” atau “Menurut Aslinya” belum punya bukti bahwa itu sesuai aslinya. Disamping juga untuk menunjukkan bahwa isi Bhagavad Gita yang dipakai dan diyakini umat Hindu di Indonesia bukan yang ditulis oleh Prabupada.

Ini sebagai bukti bahwa Agama Hindu di Indonesia berbeda dengan kepercayaan Kesadaran Krishna atau ajaran Hare Krisna walaupun sama-sama memakai Bhagavad Gita. (oleh Surya Anom)

author