Pandangan tentang Bhagavad Gita

No comment 270 views

Pandangan tentang Bhagavad Gita

Pandangan tentang Bhagavad Gita

Bhagavan Wyasa Kresna Dwipayana, adalah maha Kawya yang punya kemampuan batin di level Bhiksuka Asrama yang paling tinggi. Sehingga beliau mampu masuk secara batin ke jaman yang sudah berlalu dari kehidupan beliau.

Disana beliau dapat memetik suatu drama kehidupan, kemudian ditulislah Itihasa Mahabarata.

Kalau kita yakin dengan kualitas batin beliau sebagai manusia Siddhi, maka tentu kita meyakini hasil karya beliau sebagai suatu Itihasa adalah kebenaran.

Dikatakan tulisan ini ditulis oleh Ganesha adalah sebuah cerita spiritual atau dikenal dengan Purana.

Untuk level manusia yang belajar Agama di level Agama Premana sampai Anumana Premana, harus punya keyakinan atau Sradha untuk meningkatkan kualitas batin mempelajari sastra suci ini. Tapi bila Shraddha tidak kita miliki maka otomatis sastra suci ini tidak bermanfaat, atau hanya sebuah cerita populer biasa.

Hindu Bali memiliki Shraddha yang berbeda dengan Hare Krisna. Sehingga orang Hindu Bali mempelajari Bagavad Gita tulisan Prabupada, pasti tidak akan bisa bermanfaat menaikkan kualitas batinnya dari pemahaman Agama Premana untuk naik ke Anumana dan sampai dipuncak pemahaman yaitu Praktiyasa Premana.

Tentang tulisan As It Is yang ditulis Prabupada, ini menunjukkan beliau masih berjalan di level Agama Premana, dan batin beliau masih di batin Grahasta, belum bisa melepas keterikatan duniawi dan masih bekerja dengan pamerih. Artinya di batin Wanaprasta saja belum. Apalagi di batin Biksuka, tentu masih sangat jauh.

Penulisan As It Is didalam kitab suci adalah menunjukkan kebodohan, keragu raguan dan keserakahan dari penulisnya. Dia bodoh, tidak memahami bahwa sastra suci bukan buku bacaan biasa yang harus diisi segala bentuk pemanis untuk menarik pembaca, seperti merek Bhagavad Gita As It Is.

Dia ragu, karena tidak yakin bahwa sastra suci sejenis Bhagavad Gita akan otomatis menarik orang untuk membaca bila batin seseorang sudah mencapai dilevel ketertarikan terhadap sastra suci sekelas Bhagavad Gita.

Dia serakah, karena ingin memperoleh banyak pengikut, sehingga memberi penekanan bahwa ini asli, sehingga kelompoknya mendapat banyak pengikut. Sedangkan sastra suci Bagavad Gita bukan mencari kuantitas pembaca, tapi kualitas batin pembaca.

Nah sebagai penganut Agama Hindu Bali, dengan kualitas ajaran yang diwariskan leluhur, untuk mencapai pembebasan, kenapa harus meracuni diri dengan tiga racun duniawi yaitu kebodohan, keragu-raguan dan keserakahan. Atau kenapa harus mengikuti orang yang sudah teler (mabuk) dengan tiga racun dunia ini.

Mari ajegang Agama, Adat, Tradisi dan Budaya Bali di Bali, di Buana Agung dan Buana Alit. (oleh Surya Anom)

author