Pandangan tentang Bhagavad Gita

No comment 70 views

pandangan tentang Bhagavad Gita

pandangan tentang Bhagavad Gita

Seorang Kawya yang telah mencapai pencerahan atau sudah memasuki Asrama tertinggi dalam hal spiritualitas, Biksuka Asrama, yaitu Bagawan Wyasa Kresna Dwipayana dengan batin dilevel batin Biksuka bisa menembus zaman yang telah berlalu jutaan tahun dari zaman kehidupan beliau didunia ini, dimana zaman yang bisa ditembus tsb adalah zaman Dwapara atau Dwapara Yuga.

Beliau kemudian menggali ajaran yang diyakini terjadi dizaman tersebut untuk kemudian ditulis dalam bentuk cerita sejarah yang disebut “Itihasa”, dan diberi judul “Mahabarata”.

Isi dari “Itihasa” adalah sari-sari ajaran yang jauh lebih mudah ditangkap manusia, untuk kemudian menjadi dasar dalam ber kehidupan didunia ini, untuk bisa memproses batin untuk mencapai batin yang lepas dari keterikatan, atau “mahardika”.

“Bagavad Gita” ada dalam bagian dari Itihasa Mahabarata tersebut, dan merupakan bentuk percakapan seorang guru (Kresna) dengan murid (Arjuna), yang dapat dikatagorikan sebagai bentuk “upanisad”.

Isi percakapan tersebut merupakan tuntunan bagi umat manusia didalam menjalani kehidupan ini untuk mencapai tingkat pencerahan tertinggi, yaitu terbebasnya Atman dari keterikatan dan kemelekatan karma2 yang diperbuat ketika hidup sebagai manusia.

Sebagai sebuah tuntunan, atau suluh, tentu dibutuhkan “lelaku” atau aktivitas riil yang dilakukan oleh manusia itu sendiri untuk mencapai apa yang tertulis didalam pustaka “Bagavad Gita” ini.

Memang diperlukan aktivitas membaca isi “Bagavad Gita”, untuk memahami jalan-jalan, capaian-capaian, serta hambatan-hambatan yang ditulis oleh Bagawan Wyasa Kresna Dwipayana sebagai pengalaman spiritual beliau didalam Maha Karya “Itihasa Mahabarata” ini.

Tapi dalam langkah spiritual, proses Aguron Guron sangat diperlukan, karena tanpa Guru akan susah memasuki dunia spiritual. Dan bila hanya aktivitas membaca Bagavad Gita belum disebut masuk ke proses spiritual, artinya sampai hapalpun sloka Bagavad Gita, tanpa berguru untuk mencapai apa yang disebut dalam Bagavad Gita, tidak akan bisa menaikkan kualitas batin.

Lebih jauh, bisa diartikan bahwa orang yang tidak tahu atau tdk hapal Isi Bhagavad Gita, bukan berarti mereka tdk paham Weda. Karena untuk meningkatkan kualitas batin, tidak hanya Itihasa Mahabarata saja penuntunnya, tapi masih ada itihasa Ramayana, ada Purana dan upanisad lainnya termasuk rontal-rontal yang ditulis Maha Kawya Nusantara yang menjadi dasar Agama Hindu di Indonesia.

Wedha adalah ajaran yang sangat universal, sehingga tidak hanya pemeluk Agama Hindu yang meyakini atau memakainya. Begitu pula Itihasa Mahabarata, ajarannya diyakini lintas Agama. Dan begitu juga Upanisad Bagavad Gita dipakai tuntunan oleh orang dari berbagai Agama dan Keyakinan. Artinya, mereka yang mengklaim memakai buku Bagvad Gita, tidak otomatis mereka beragama Hindu. Sehingga ada Bagavad Gita yang interpretasi isinya, tidak sesuai dengan Sradha dan Teologi Agama Hindu di Indonesia.

Nah, oleh karena itu, tidak bisa hanya melihat judulnya saja, lantas mengatakan bahwa ajaran suatu keyakinan sama, hanya karena melihat dari judul bukunya saja. Seperti halnya Bagavad Gita terjemahan Prabupada, akan berbeda isinya dengan Bhagavad Gita yang dipakai Departemen Agama RI, sebelum ada intervensi terselubung saat Dirjen Bimas Hindu di jabat oleh oknum yang cendrung mengarah Hare Krsna.

Terjadinya beda interpretasi, karena kualitas batin peterjemah juga beda.

Itu sebagai bukti bahwa di Bali tidak sembarang orang bisa membaca Weda Sruti Samhita. Hanya orang yang punya kwalitas batin di level batin Wanaprasta yang bisa membacanya. Karena kwalitas batin Wanaprasta yang sudah tidak punya kepentingan pribadi atau kelompok yang menyangkut hal-hal non spiritual. (oleh Surya Anom)

author