Pelarian Spiritual

No comment 86 views

Pelarian Spiritual

Belakangan dapat kita saksikan, orang bali yang menadadak Spiritual, dengan berpakian putih-putih, ada juga dengan selempang poleng seperti halnya wastra dugul, bahkan ada yang lehernya dililit selempang dengan berbagai rajah tulisan. Ada yang sering komat-kamit merapalkan Japa Mantra, ada yang bernyanyi sambil tepuk tangan. Ada juga yang suka mengumbar ayat-ayat suci, dikit-dikit bicara "menurut kitab anu", copas dan menyebarkan sloka-sloka weda di media sosial. banyak istilah-istilah muncul belakangan ini, mulai dari jro mangku, jro dasar, jro-jro lainnya yang katanya "Ngiring", entah ngiring pikayun (ikut pikiran saja dalam artian suka-suka ga jelas), ngiring-iringan (alias ikut-ikutan) ataukah benaran miring (tidak waras).

Apakah ini alikang gumi?

Bagi orang bali yang awam, akan menganggap hal tersebut sebuah kemajuan spiritual. Namun berbeda dengan orang bali yang kritis, mereka akan dipandang miring, dianggap gejala gangguan jiwa atau penyakit psikis yang istilah balinya bebaian atau kedewan-dewan.

"Ta, edan matembang mwang anambat dewà, sa...."

Lontar Usadha Buduh

Petikan lontar usada buduh tersebut mengkategorikan seseorang sebagai orang yang tidak waras alias gila apabila kemana-mana selalu menyebut-nyebut nama Tuhan. Sigmund Freud, pernah mengatakan bahwa Cara beragama yang salah dapat menyebabkan pemeluknya mengalami Gangguan Jiwa. Cara beragama yang salah membuat kita tidak lagi berfikir realistis, membuat kita menolak realitas. Bila sudah demikian, baginya agama seakan-akan mengajarkan penyelesaian permasalahan dengan cepat, mengatasi persoalan dengan mudah.

Jiwa-jiwa yang labil akibat tekanan persoalan hidup, kurangnya pemahaman agama, himpitan ekonomi, broken home, keluarga tidak harmonis ini seringkali menjadi sasaran pihak tak bertanggung jawab. Orang yang belum memiliki mental mapan atau citra diri yang kuat, lebih mudah dibuai rayuan perkumpulan berkedok spiritual.

Banyak kaum Spiritual dadakan ini terkesan hanya mencari tempat "maseliahan" ajang refreshing, merasa di ringankan beban hidupnya. Mereka mulai bergaul dengan sesamanya, kemudian merasa menjadi lebih agamais dengan lari dari kenyataan, meninggalkan tanggung jawab sosial baik kepada keluarga dan lingkungannya lewat mengEklusifkan dirinya. Niat Eskapisme karena akan mendalami ilmu agama, malah terjebak aliran sesat yang memicu gangguan jiwa. Besar kemungkinan paham yang dirasa menyamankan dirinya sangat bertentangan dengan keyakinan yang ada di dalam keluarga atau masyarakat. Sebenarnya, Hal ini tidak saja terjadi pada masyarakat Hindu Bali saja, melainkan hampir terjadi di seluruh masyarakat dunia.

Penyimpangan-penyimpangan bisa kita perhatikan, misalkan "mangku" atau jro yang ngiring tanpa memiliki Pura Ayahan yang jelas dan diakui adat setempat. Trus dimana mereka berkegiatan? Pemangku ini akan keliling tirthayatra dari pura ke pura, agar dapat ngayah di pura-pura yang mereka sukai. Jadi jangan heran bila ada umat yang sembahyang di suatu pura akan ketemu rombongan pemangku, jro-jro yang dikatakan "ngiring" dengan pakian gahol layaknya ABG gahol ngayah dipura tersebut. atau dengan sulinggih dengan pakian dan berprilaku tidak patut, ber-make-up tebal, memakai perhiasan bagai "naga banda", menggunakan tongkat komando atau ornamen lainnya sebagai pengganti teteken (tongkat sebagai alat bantu jalan bagi orang tau), apalagi bernyanyi ramai-ramai seperti paud tamasya yang teriak-teriak menyebut nama tuhan, inilah yang disebut Asulinggih karena melanggar sesana kawikon, ikut-ikutan berprilaku seperti kebanyakan orang.

Apakah mereka tidak paham tradisi bali dan weda?

tidak juga. Banyak dari mereka bahkan mengikuti diklat dan kursus keAGAMAan, sehingga secara teori mereka semua hafal. namun, hafal teori belum tentu mampu dan paham.

Ini dibuktikan semakin banyaknya kasus-kasus yang menimpa rombongan itu. Mulai dari penipuan, perselingkuhan, pelecehan seksual hingga kriminalitas lainnya.

Beranjak dari itu pakem Yama-Niyama dan Dharma Sesana sudah diabaikan, yang artinya hafal teori namun tidak mampu mempraktekannya. Sehingga muncullah selentingan lucu "Fuck Boy jalur kadewan-dewan" .

jadi jangan heran bila Spiritual bisa menjadi SpiritKual alias "Nakal", dari Sulinggih (berada diposisi yang benar) bisa menjadi ASUlinggih (tidak berada di posisi yang benar menurut ajaran dharma).

author