Pelit Itu Dosa

No comment 518 views

Pelit Itu Dosa

Paasako matsyaghaati ca vyaadhah saakunikas tathaa
Adaataa karsakas ca iava pancat te sama bhaginah. (Parasara Dharmasastra II.10).
Seorang pasaka (orang yang menangkap binatang dengan memasang jerat) nelayan, pemburu, penangkap burung, orang pelit dipandang sama dan sama juga kualitas dosanya.

HIDUP di dunia ini memang tidak dapat menghindar sama sekali dari perbuatan dosa. Dosa itu hanya dapat dikurangi dan dilemahkan dengan lebih banyak berbuat yang baik seperti melakukan punia dan bhakti. Punia artinya melakukan kebajikan, sedangkan bhakti melakukan pemujaan pada Tuhan dan Dewa Pitara atau leluhur yang telah suci.

Bahkan dalam Manawa Dharma Sastra III.68 dinyatakan bahwa tiap kepala keluarga memiliki lima tempat pembunuhan. Lima tempat pembunuhan itu adalah tempat memasak, batu pengasah, sapu, lesung dengan alunya, tempayan tempat air. Pemakaian lima alat itu menimbulkan dosa.

Namun dalam Manawa Dharma Sastra III.69 dinyatakan bahwa untuk menebus dosa terhadap pemakaian lima alat itu tiap kepala keluarga diajarkan agar melakukan Panca Yadnya tiap hari.

Panca Yadnya tiap hari berwujud Yadnya Sesa yang di Bali disebut masaiban. Yadnya dalam wujud simbolis dengan makanan yang dimasak hari itu sebelumnya disisihkan sedikit dan dijadikan simbol persembahan sebagai wujud Panca Yadnya yang terkecil. Hal ini dimaksudkan untuk mengimbangi dosa pembunuhan di lima tempat tersebut.

Negara maju seperti Amerika Serikat sudah memiliki Undang-undang Hak-hak Asasi Hewan. Meskipun tidak dilarang memakan dagingnya, hewan itu harus diperlakukan dengan perasaan yang halus. Tidak dibenarkan memperlakukan hewan dengan semena-mena. Karena itu di AS kalau menyakiti hewan dengan semena-mena pasti ditangkap apabila diketahui oleh petugas negara. Dalam sloka Parasara Dharmasastra yang dikutip di atas dinyatakan bahwa pelit itu juga termasuk dosa, sama dengan menyiksa binatang. Meskipun tergolong dosa yang ringan.

Orang pelit itu adalah orang yang sudah mendapat karunia dari Tuhan berupa rezeki lebih dari yang lain. Namun rezeki itu lebih banyak hanya untuk memenuhi keinginannya sendiri. Perolehan rezeki lebih banyak dari yang lain itu adalah suatu peluang yang diberikan oleh Tuhan untuk menolong mereka yang masih dalam keadaan kekurangan. Pada zaman modern sekarang ini sesungguhnya sudah lebih banyak tercipta peluang mendapatkan rezeki. Kalau dibandingkan dengan zaman ekonomi masih mengandalkan sistem ekonomi agraris semata.

Mengapa masih ada kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan, karena masih ada yang pelit dan tidak adil dalam mendistribusikan rezeki tersebut. Mendapatkan rezeki lebih dari orang lain sering tidak dijadikan kesempatan melakukan dana punia kepada orang yang lebih miskin atau lebih membutuhkan. Bahkan banyak pihak mendapatkan rezeki lebih banyak melalui jalan yang tidak adil, memeras mereka yang kedudukan sosialnya lebih lemah. Bahkan ada yang mendapatkan rezeki lebih banyak itu melalui cara-cara jahat. Rezeki yang lebih banyak sering dirasakan sedikit meskipun secara nominatif mereka sudah jauh lebih banyak memiliki harta benda dari yang lain. Namun hal itu dirasakan masih jauh dari cukup. Karena itu, niat untuk berdana punia pun tidak muncul dalam diri. Orang seperti inilah tergolong pelit. Rezeki yang diperolehnya tidak dikelola berdasarkan kesadaran budi, lebih banyak menggunakan gejolak hawa nafsu.

Sifat pelit banyak menimbulkan kesenjangan ekonomi dan sosial, yang dapat menjadi pemicu timbulnya perbuatan-perbuatan dosa. Sifat pelit membunuh tumbuhnya keseimbangan hidup di tengah kehidupan bersama dalam masyarakat. Penderitaan akan dirasakan lebih pedih di hadapan orang yang serba berlebihan oleh mereka yang kecil. Namun akan terobati kalau mereka yang memiliki rezeki lebih itu mau menginvestasikan kelebihan untuk membuka peluang rezeki pada mereka yang lebih kecil. Misalnya kalau mereka yang tergolong kaya itu mau berbelanja di warung rakyat kecil, tidak selalu ke pasar swalayan, bahkan sampai ke luar negeri. Hal itu akan dirasakan pula sebagai sesuatu yang baik dan sebagai suatu punia.

author